Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label rumah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rumah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Desember 2023

LAPORAN SURVEI PERUSAHAAN PETERNAKAN DAN RPHTPH KABUPATEN BREBES TA 2020


Tujuan dari pembuatan laporan ini adalah sebagai bentuk pertanggungjawaban untuk
kegiatan Survei LAPORAN SURVEI PERUSAHAAN PETERNAKAN DAN RPHTPH tahun 2020.
Selain itu juga penyusunan laporan ini juga untuk juga menyajikan kinerja pengumpulan dan
pengolahan data survei ini. Responden survei ini adalah Rumah Potong Hewan (RPH) dan Tempat
Potong Hewan (TPH) selama periode satu tahun. Pemotongan ternak di luar RPH/TPH didata melalui
pendataan keurmaster (tenaga paramedik pemerintah yang telah mengikuti pelatihan tentang uji
daging yang bertugas di RPH dan tempat jagal). Mulai Tahun 2013 BPS tidak melaksanakan kembali
pendataan keurmaster sehingga informasi pemotongan ternak dalam laporan ini hanya mencakup
pemotongan ternak di RPH/TPH.

Laporan lengkap bisa dilihat pada link berikut ini :

Klik Di Sini !

 

Posting by Mohammad Nurdin

Selasa, 28 Juli 2020

SEJARAH RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD) BREBES

Rumah Sakit Umum Daerah Brebes adalah rumah sakit milik Pemerintah Daerah Kabupaten Brebes yang merupakan daerah perbatasan antara Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Barat dan didirikan pada tahun 1954. RSUD Brebes memiliki luas lahan 3,99 Ha atau 39.900 m2, dengan luas bangunan 14.114 m2. Pada awal berdirinya hanya memiliki 2 bangsal yaitu bangsal umum dan bangsal bersalin. Dimana didalamnya terdapat 25 tempat tidur. Selain 2 bangsal RSUD Brebes waktu itu dilengkapi dengan poliklinik dan ruang obat. Berdasarkan Keputusan Bupati Kepala Daerah Brebes No : 061/02611/1983 tentang susunan organisasi dan tata kerja RSUD Brebes termasuk dalam kategori Rumah Sakit type D. Seiring peningkatan kinerja layanan, kurun waktu sepuluh tahun kemudian  berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Tanggal 9 Januari 1993 No: 009-H/SKI/1993. RSUD Kabupaten Brebes telah memenuhi syarat menjadi RSUD kelas C, dan pada tahun 1998 memperoleh sertifikat akreditasi penuh dari Departemen Kesehatan RI. 

Rabu, 27 November 2019

Fenomena Ekonomi 2019 : Brebes Jadi Tuan Rumah Porsenitas Lintas Daerah

Peluncuran Porsenitas dibarengi dengan momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-91 tahun 2019 di lapangan Desa Malahayu, Kecamatan Banjarharjo, Brebes, Senin (28/10).
Dalam acara peluncuran juga ditampilkan maskot Wa Itong berupa badut sebagai representasi hewan itik. Wa Itong mengenakan busana adat brebesan berwarna hitam berkancing dan ikat kepala serta tangan kanan menunjukan simbol jempol teracung. Porsenitas itu sendiri bakal digelar pada 27-29 November 2019.
"Maskot ini kami diberi nama Wa Itong," ujar Bupati Brebes Idza Priyanti.

Kamis, 08 Oktober 2015

Pendapatan Nasional : Tabel-tabel Produk Domestik Bruto (Lapangan Usaha)

Tabel 1. Distribusi PDB Triwulanan Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (Persen), 2000-2014
Tabel 2. Laju Pertumbuhan Kumulatif PDB Menurut Lapangan Usaha (Persen), 2001-2014
Tabel 3. Laju Pertumbuhan PDB Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha (Persen), 2000-2014
Tabel 4. Laju Pertumbuhan PDB Beberapa Negara Menurut Harga Konstan (Persen), 2008-2012
Tabel 5. Laju Pertumbuhan PDB per Kapita Beberapa Negara Menurut Harga Konstan (Persen), 2008-2012
Tabel 6. Laju Pertumbuhan PDB Q ke Q Menurut Lapangan Usaha (Persen), 2001-2014
Tabel 7. Laju Pertumbuhan PDB Y ke Y Menurut Lapangan Usaha, 2001-2014 (Persen)
Tabel 8. Laju Pertumbuhan Produk Domestik Bruto dan Produk Domestik Bruto per Kapita Atas Dasar Harga Konstan 2010, 2011-2014 (persen)
Tabel 9. PDB Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah), 2000-2014
tabel 10. PDB Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah), 2000-2014
Tabel 11. PDB Menurut Jenis Pengeluaran, Produk Nasional Bruto, dan Pendapatan Nasional Atas Dasar Harga Berlaku (Miliar Rupiah), 2000-2013
Tabel 12. PDB Menurut Jenis Pengeluaran, Produk Nasional Bruto, dan Pendapatan Nasional Atas Dasar Harga Konstan 2000 (Miliar Rupiah), 2000-2013
Tabel 13. PDB Per Kapita, Produk Nasional Bruto Per Kapita dan Pendapatan Nasional Per Kapita (Rupiah), 2000-2013
Tabel 14. PDB Triwulanan Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha(Miliar Rupiah), 2000-2014
Tabel 15. PDB Triwulanan Atas Dasar Harga Konstan 2000 Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah), 2000-2014
Tabel 16. Peringkat Indonesia Dibandingkan Negara Lain
Tabel 17. Perkembangan Beberapa Agregat Pendapatan dan Pendapatan per Kapita Atas Dasar Harga Berlaku, 2010-2014
Tabel 18. Perkembangan Produk Domestik Bruto dan Produk Domestik Bruto per Kapita Atas Dasar Harga Konstan 2010, 2010-2014
Tabel 19. [Seri 2010] Distribusi PDB Seri 2010 Triwulanan Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (Persen), 2010-2014
Tabel 20. [Seri 2010] Laju Implisit PDB Seri 2010 Triwulanan terhadap Triwulan Sebelumnya (Persen), 2010-2014
Tabel 21. [Seri 2010] Laju Implisit PDB Seri 2010 Triwulanan terhadap Triwulan yang Sama Tahun Sebelumnya (Persen), 2010-2014
Tabel 22. [Seri 2010] Laju Pertumbuhan PDB Atas Dasar Harga Konstan 2010 Kumulatif (Persen), 2010-2014
Tabel 23. [Seri 2010] Laju Pertumbuhan PDB Atas Dasar Harga Konstan 2010 terhadap Triwulan Sebelumnya (Persen), 2010-2014
Tabel 24. [Seri 2010] Laju Pertumbuhan PDB Atas Dasar Harga Konstan 2010 terhadap Triwulan yang Sama Tahun Sebelumnya (Persen), 2010-2014
Tabel 25. [Seri 2010] PDB Seri 2010 Triwulanan Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah), 2010-2014
Tabel 26. [Seri 2010] PDB Triwulanan Atas Dasar Harga Konstan 2010 Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah), 2010-2014
Tabel 27. [Seri 2010] Distribusi PDB Seri 2010 Triwulanan Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (Persen), 2015
Tabel 28. [Seri 2010] Indeks Implisit PDB Seri 2010 (Persen), 2015
Tabel 29. [Seri 2010] Laju Implisit PDB Seri 2010 (Persen), 2015
Tabel 30. [Seri 2010] Laju Pertumbuhan PDB Seri 2010 (Persen), 2015
Tabel 31. [Seri 2010] PDB Seri 2010 Triwulanan Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah), 2015
Tabel 32. [Seri 2010] PDB Triwulanan Atas Dasar Harga Konstan 2010 Menurut Lapangan Usaha (Miliar Rupiah), 2015

Tabel-tabel bisa diakses pada link berikut ini :


Posting by Mohammad Nurdin

Pendapatan Nasional : Metode Penghitungan


Untuk menghitung angka-angka PDB ada tiga pendekatan yang dapat digunakan, yaitu :

1. Menurut Pendekatan Produksi 
PDB adalah jumlah nilai tambah atas barang dan jasa yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi di wilayah suatu negara dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun). Unit-unit produksi tersebut dalam penyajian ini dikelompokkan menjadi 9 lapangan usaha (sektor) yaitu :
Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan
Pertambangan dan Penggalian
Industri Pengolahan
Listrik, Gas dan Air Bersih
Konstruksi
Perdagangan, Hotel dan Restoran
Pengangkutan dan Komunikasi
Keuangan, Real Estate dan Jasa Perusahaan
Jasa-jasa termasuk jasa pelayanan pemerintah. Setiap sektor tersebut dirinci lagi menjadi sub-sub sektor.


Pendapatan Nasional : Konsep dan Definisi

PENGERTIAN PENDAPATAN NASIONAL

Salah satu indikator penting untuk mengetahui kondisi ekonomi di suatu negara dalam suatu periode tertentu adalah data Produk Domestik Bruto (PDB), baik atas dasar harga berlaku maupun atas dasar harga konstan. PDB pada dasarnya merupakan jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu negara tertentu, atau merupakan jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi. PDB atas dasar harga berlaku menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga yang berlaku pada setiap tahun, sedangkan PDB atas dasar harga konstan menunjukkan nilai tambah barang dan jasa tersebut yang dihitung menggunakan harga yang berlaku pada satu tahun tertentu sebagai dasar.
PDB atas dasar harga berlaku dapat digunakan untuk melihat pergeseran dan struktur ekonomi, sedang harga konstan digunakan untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun.
Dari data PDB dapat juga diturunkan beberapa indikator ekonomi penting lainnya, seperti :


Kamis, 01 Oktober 2015

Jumlah Rumah Tangga Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014 : Tabel 3 Jumalh Rumah Tangga Total


Posting by Mohammad Nurdin

Jumlah Rumah Tangga Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014 : Tabel 2 Jumlah Rumah Tangga Perdesaan



Posting by Mohammad Nurdin

Jumlah Rumah Tangga Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014 : Tabel 1 Jumlah Rumah Tangga Perkotaan



Posting by Mohammad Nurdin

Jumlah Rumah Tangga Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2014 : Ulasan


Berapa jumlah rumah tangga di Provinsi Jawa Tengah? Barangkali ada yang bertanya? berikut jawabannya adalah 9 juta rumah tangga lebih tepatnya 9.009.084 rumah tangga. Ini adalah angka hasil proyeksi penduduk berdasarkan data Sensus Penduduk Tahun 2010 yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik.

Sepuluh kabupaten/kota dengan jumlah rumah tangga terbesar adalah sebagai berikut :
1. Kabupaten Brebes sebanyak 462.950 rumah tangga
2. Kabupaten Cilacap sebanyak 455.541 rumah tangga
3. Kabupaten Semarang sebanyak 441.747 rumah tangga
4. Kabupaten Banyumas sebanyak 438.222 rumah tangga
5. Kabupaten Grobogan sebanyak 389.487 rumah tangga
6. Kabupaten Tegal sebanyak 361.546 rumah tangga
7. Kabupaten Pati sebanyak 358.091 rumah tangga
8. Kabupaten Klaten sebanyak 333.122 rumah tangga
9. Kabupaten Magelang sebanyak 333.076 rumah tangga
10. Kabupaten Pemalang sebanyak 317.586 rumah tangga


Kamis, 22 Januari 2015

Informasi Statistik Bulan April 2015 : Rumah Tangga Pertanian Menurut Subsektor (Hasil ST2013)

Jumlah Rumah Tangga Pertanian Menurut Subsektor (Hasil ST2013)
- Jumlah Rumah Tangga Tanaman Pangan : 17,73 Juta
- Jumlah Rumah Tangga Hortikultura         : 10,60 Juta
- Jumlah Rumah Tangga Perkebunan          : 12,77 Juta
- Jumlah Rumah Tangga Peternakan           : 12,97 Juta
- Jumlah Rumah Tangga Perikanan             : 1,97 Juta
- Jumlah Rumah Tangga Kehutanan            : 6,78 Juta
- Jumlah Rumah Tangga Jasa Pertanian       : 1,08 Juta

Jumlah rumah tangga usaha pertanian hasil ST2013, sebanyak 26,14 juta rumah tangga. Subsektor tanaman pangan mendominasi rumah tangga usaha pertanian (17,73 juta rumha tangga).
Rumah Tangga Usaha Pertanian adalah rumah tangga yang salah satu atau lebih anggota  rumah tangganya  mengelola usaha pertanian dengan tujuan sebagian atau seluruh hasilnya untuk dijual, baik usaha pertanian milik sendiri, secara bagi hasil, atau milik  orang lain dengan menerima upah, dalam hal ini termasuk jasa pertanian.

Sumber : BPS

Posting by Mohammad Nurdin

Kamis, 01 Januari 2015

Informasi Statistik Bulan Maret 2015 : Distribusi Rumah Tangga Pertanian Menurut Sumber Pendapatan/Penerimaan

Rata-rata pendapatan rumah tangga pertanian sebesar Rp. 26,56 juta per tahun yang berasal dari sektor pertanian Rp. 12,41 juta.
Distribusi rumah tangga menurut sumber pendapatan/penerimaan berdasarkan hasil Sensus Pertanian 2013 (ST2013) adalah sebagai berikut :
1. Usaha di sektor pertanian sebesar 47 persen,
2. Usaha di luar sektor pertanian sebesar 21 persen,
3. Pendapatan/penerimaan lain dan transfer sebesar 13 persen,
4. Buruh pertanian sebesar 12 persen, dan
5. Buruh di luar pertanian sebesar 7 persen
 
Sumber : BPS

Posting by Mohammad Nurdin

Informasi Statistik Bulan Januari 2015 : Data Sebagai Landasan Pembangunan Yang Kokoh

BPS melakukan tiga jenis kegiatan yaitu sensus, survei, dan kompilasi administrasi untuk menghasilkan data dasar sebagai landasan pengambilan kebijakan pembangunan nasional.
Beberapa data penting adalah sebagai berikut :
- Inflasi Oktober 2014 sebesar 0,47 persen
- Defisit perdagangan luar negeri Indonesia pada Bulan September 2014 sebesar 270 juta Dollar Amerika
- Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) triwulan III tahun 2014 sebesar 5,01 persen
- Pada tahun 2013 di Indonesia sebagian besar rumah tangga pertanian adalah mengusahakan pertanian pada subsektor tanaman pangan (padi/palawija) yaitu sebanyak 17,73 juta rumah tangga
- Persentase penduduk miskin di Indonesia sebesar 11,25 persen
- Tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Indonesia sebesar 5,94 persen

Sumber : BPS

Posting by Mohammad Nurdin

Jumat, 11 Maret 2011

Contoh Pantun Jenaka (1)

Berikut ini pantun jenaka yang saya kutip dari penyair.wordpress.com yang entah siapa pemiliknya. Mendatang saya rencanakan ada postingan yang tidak hanya mengutip dari blog lainnya. Ini sebagai pemula. Kalau ada pengunjung yang mendapat manfaat dari postingan ini, ucapan terima kasih selayaknya ditujukan kepada penulis blog yang saya kutip. Berikut pantun-pantun yang dimuat antara lain :

Pantun pertama

Lebuhraya kota bersegi
Tempat temasya dara teruna
Hodohnya ketawa orang tak bergigi
Ibarat kota tiada kubunya

Pantun kedua

Api terang banyak kelkatu
Masuk ke kamar bersesak-sesak
Alangkah geli rasa hatiku
Melihat nenek bergincu berbedak

Pantun ketiga


Ditiup angin bunga semalu
Kuncup daun bila berlaga
Bercakap Melayu kononnya malu
Belacan setongkol dibedal juga

Pantun keempat


Orang Rengat menanam betik
Betik disiram air berlinang
Hilang semangat penghulu itik
Melihat ayam lumba berenang

Pantun kelima


Tanam jerangau di bukit tinggi
Mati dipijak anak badak
Melihat sang bangau sakit gigi
Gelak terbahak penghulu katak

Pantun keenam


Singapura dilanggar todak
Kapal karam di Tanjung Peringin
Orang tua beristerikan budak
Macam beruk mendapat cermin

Pantun ketujuh


Bapa gergasi menebar jala
Pegang tali melintuk-liuk
Masakan pengerusi tak garu kepala
Melihat ahli semua mengantuk

Pantun kedelapan


Gemuruh tabuh bukan kepalang
Diasah lembing berkilat-kilat
Gementar tubuh harimau belang
Nampak kambing pandai bersilat

Pantun kesembilan


Buah salak di rumah Tok Imam
Sirih sekapur pergi menjala
Anjing menyalak harimau demam
Kucing di dapur pening kepala

Pantun kesepuluh


Anak cina menggali cacing
Mari diisi dalam tempurung
Penjual sendiri tak kenal dacing
Alamat dagangan habis diborong

Pantun kesebelas


Biduk buluh bermuat tulang
Anak Siam pulang berbaris
Duduk mengeluh panglima helang
Melihat ayam bercengkang keris

Pantun kedua belas


Buah jering dari Jawa
Naik sigai ke atas atap
Ikan kering lagi ketawa
Dengar tupai baca kitab

Pantun ketiga belas



Pohon manggis di tepi rawa
Tempat datuk tidur beradu
Sedang menangis nenek tertawa
Melihat datuk bermain gundu

Pantun keempat belas


Ceduk air di dalam perigi
Timbanya bertangkaikan suasa
Jikalau kucing tak bergigi
Alamat tikus berjoget berdansa

Pantun kelima belas


Anak dara Datuk Tinggi
Buat gulai ikan tilan
Datuk tua tak ada gigi
Bila makan kunyah telan

Pantun keenam belas


Berderak-derak sangkutan dacing
Bagaikan putus diimpit lumpang
Bergerak-gerak kumis kucing
Melihat tikus bawa senapang

Pantun ketujuh belas


Pokok pinang patanya condong
Dipukul ribut berhari-hari
Kucing berenang tikus berdayung
Ikan di laut berdiam diri

Pantun kedelapan belas


Tanam pinang di atas kubur
Tanam bayam jauh ke tepi
Walaupun musang sedang tidur
Mengira ayam di dalam mimpi

Pantun kesembilan belas


Anak bakau di rumpun salak
Patah taruknya ditimpa genta
Riuh kerbau tergelak-gelak
Melihat beruk berkaca mata

Pantun kedua puluh


Orang menganyam sambil duduk
Kalau sudah bawa ke balai
Melihat ayam memakai tanduk
Datang musang meminta damai

Pantun kedua puluh satu


Hilir lorong mudik lorong
Bertongkat batang temberau
Bukan saya berkata bohong
Katak memikul paha kerbau

Pantun kedua puluh dua


Di kedai Yahya berjual surat
Di kedai kami berjual sisir
Sang buaya melompat ke darat
Melihat kambing terjun ke air

Pantun kedua puluh tiga


Jikalau lengang dalam negeri
Marilah kita pergi ke kota
Hairan tercengang kucing berdiri
Melihat tikus naik kereta

Pantun kedua puluh empat


Senangis letak di timbangan
Pemulut kumbang pagi-pagi
Menangis katak di kubangan
Melihat belut terbang tinggi

Pantun kedua puluh lima


Anak Hindu beli petola
Beli pangkur dua-dua
Mendengar kucing berbiola
Duduk termenung tikus tua

Pantun kedua puluh enam


Punggur berdaun di atas kota
Jarak sejengkal dua jari
Musang rabun, helang pun buta
Baru ayam suka hati

Pantun kedua puluh tujuh


Ketika perang dinegeri Jerman
Ramai askarnya mati mengamuk
Rangup gunung dikunyah kuman
Lautan kering dihirup nyamuk

Pantun kedua puluh delapan


Jual betik dengan kandil
Kandil buatan orang Inggeris
Melihat buaya menyandang bedil
Lembu dan kerbau tegak berbaris

Pantun kedua puluh sembilan


Jemur bijan dengan kulitnya
Jemur di atas pohon lembayung
Hari hujan sangat lebatnya
Lamun Si Pandir mengepit payung

Pantun tiga puluh


Elok rupa pohon belimbing
Tumbuh dekat limau lungga
Elok berbini orang sumbing
Walau marah ketawa juga

Pantun tiga puluh satu


Rumah besar berdinding tidak
Beratapkan daun palas
Badan besar beristeri tidak
Itu tandanya orang pemalas

Pantun tiga puluh dua


Adik nama Comat
Suka beri salam
Budak ketawa kuat
Suka kecing malam

Pantun tiga puluh tiga


Dari Ambun hendak ke Perak
Singgah di Jeram Mengkuang
Si Awang Kenit mencuri kerak
Hidung berbelang terpalit arang

Pantun tiga puluh empat


Biduk lalu kiambang bertaut
Nakhoda Kasap duduk termenung
Gila latah ikan di laut
Melihat umpan di kaki gunung

Pantun tiga puluh lima


Pakai seluar labuh ke bawah
Ikut permatang jalan melenggang
Nampak zahir memang mewah
Tapi hutang keliling pinggang

Pantun tiga puluh enam


Orang Sibu menunggang kuda
Kuda ditunggang patah pinggang
Masih mahu mengaku muda
Padahal cucu keliling pinggang

Pantun tiga puluh tujuh


Tahankan jerat gunakan tali
Pacak kuat biar melekap
Kalau bini suka membeli
Hutang berbaris suami ke lokap

Pantun tiga puluh delapan


Tuan puteri memasang panjut
Dayang tolong menghalau lalat
Kucing tidur bangkit terkejut
Melihat tikus pandai bersilat


Sumber : http://penyair.wordpress.com/2007/05/13/pantun-jenaka/


Posting by Mohammad Nurdin

Apa Itu Pantun?

Beberapa kali anak-anak saya tanya tentang pantun dan contohnya. Apalagi ditambah pekerjaan rumah untuk membuat pantun. Ini menginspirasi saya untuk memuat posting tentang pantun. Referensi saya ambilkan dari ensiklpedia bebas yang online yaitu Wikipedia. Tentu saja menggunakan wikipedia berbahasa Indonesia. Ini merupakan kelebihan ensiklopedia wikipedia karena menggunakan banyak bahasa berbeda dengan ensiklopedia berbayar seperi encarta yang setahu saya hanya tersedia dalam Bahasa Inggris. Berikut penjelasannya :

Pantun merupakan salah satu jenis puisi lama yang sangat luas dikenal dalam bahasa-bahasa Nusantara. Dalam bahasa Jawa, misalnya, dikenal sebagai parikan, dalam bahasa Sunda dikenal sebagai paparikan, dan dalam bahasa Batak dikenal sebagai umpasa (baca: uppasa). Lazimnya pantun terdiri atas empat larik (atau empat baris bila dituliskan), bersajak akhir dengan pola a-b-a-b dan a-a-a-a (tidak boleh a-a-b-b, atau a-b-b-a). Pantun pada mulanya merupakan sastra lisan namun sekarang dijumpai juga pantun yang tertulis.

Semua bentuk pantun terdiri atas dua bagian: sampiran dan isi. Sampiran adalah dua baris pertama, kerap kali berkaitan dengan alam (mencirikan budaya agraris masyarakat pendukungnya), dan biasanya tak punya hubungan dengan bagian kedua yang menyampaikan maksud selain untuk mengantarkan rima/sajak. Dua baris terakhir merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun tersebut.
Karmina dan talibun merupakan bentuk kembangan pantun, dalam artian memiliki bagian sampiran dan isi. Karmina merupakan pantun "versi pendek" (hanya dua baris), sedangkan talibun adalah "versi panjang" (enam baris atau lebih).

Peran pantun
Sebagai alat pemelihara bahasa, pantun berperan sebagai penjaga fungsi kata dan kemampuan menjaga alur berfikir. Pantun melatih seseorang berfikir tentang makna kata sebelum berujar. Ia juga melatih orang berfikir asosiatif, bahwa suatu kata bisa memiliki kaitan dengan kata yang lain.

Secara sosial pantun memiliki fungsi pergaulan yang kuat, bahkan hingga sekarang. Di kalangan pemuda sekarang, kemampuan berpantun biasanya dihargai. Pantun menunjukkan kecepatan seseorang dalam berfikir dan bermain-main dengan kata.

Namun demikian, secara umum peran sosial pantun adalah sebagai alat penguat penyampaian pesan.

Struktur pantun
Menurut Sutan Takdir Alisjahbana fungsi sampiran terutama menyiapkan rima dan irama untuk mempermudah pendengar memahami isi pantun. Ini dapat dipahami karena pantun merupakan sastra lisan.

Meskipun pada umumnya sampiran tak berhubungan dengan isi kadang-kadang bentuk sampiran membayangkan isi. Sebagai contoh dalam pantun di bawah ini:

Air dalam bertambah dalam

Hujan di hulu belum lagi teduh

Hati dendam bertambah dendam

Dendam dahulu belum lagi sembuh

Beberapa sarjana Eropa berusaha mencari aturan dalam pantun maupun puisi lama lainnya. Misalnya satu larik pantun biasanya terdiri atas 4-6 kata dan 8-12 suku kata. Namun aturan ini tak selalu berlaku.
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Pantun

Posting by Mohammad Nurdin