Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label inflasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inflasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 November 2015

Publikasi BPS Kabupaten Brebes 2015 : Indeks Harga Konsumen dan Inflasi Brebes 2014

Berikut ini Publikasi BPS Kab. Brebes yaitu Indeks Harga Konsumen dan Inflasi Brebes Tahun 2014 yang diriis awal tahun 2015. Publikasi tersebut dapat didownload pada alamat atau link di bawah ini :

Klik Di Sini !

Posting by Mohammad Nurdin

Kamis, 01 Januari 2015

Informasi Statistik Bulan Januari 2015 : Data Sebagai Landasan Pembangunan Yang Kokoh

BPS melakukan tiga jenis kegiatan yaitu sensus, survei, dan kompilasi administrasi untuk menghasilkan data dasar sebagai landasan pengambilan kebijakan pembangunan nasional.
Beberapa data penting adalah sebagai berikut :
- Inflasi Oktober 2014 sebesar 0,47 persen
- Defisit perdagangan luar negeri Indonesia pada Bulan September 2014 sebesar 270 juta Dollar Amerika
- Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) triwulan III tahun 2014 sebesar 5,01 persen
- Pada tahun 2013 di Indonesia sebagian besar rumah tangga pertanian adalah mengusahakan pertanian pada subsektor tanaman pangan (padi/palawija) yaitu sebanyak 17,73 juta rumah tangga
- Persentase penduduk miskin di Indonesia sebesar 11,25 persen
- Tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Indonesia sebesar 5,94 persen

Sumber : BPS

Posting by Mohammad Nurdin

Minggu, 22 Januari 2012

Perkembangan Harga-harga Di Kabupaten Brebes Tahun 2010

Laju inflasi meningkat pada tahun 2010
Inflasi Brebes pada kurun waktu 2008-2010 cenderung berfluktuasi, mencapai 2 digit pada tahun 2008, menurun di tahun 2009 dan kembali naik pada tahun 2010.
Perubahan IHK selama tahun 2010 atau yang lebih dikenal dengan inflasi di Kabupaten Brebes sebesar 6,04 persen. Inflasi sebesar itu karenakan adanya perubahan IHK pada Kelompok Bahan Makanan sebesar 17,09 persen; kelompok Sandang 9,05 persen; kelompok Perumahan 4,67 persen; kelompok Makanan Jadi 1,78 persen; kelompok Pendidikan 1,63 persen; kelompok Transportasi 1,62 persen serta kelompok Kesehatan 0,60 persen.
Bila dibandingkan inflasi tahun lalu, inflasi tahun 2010 secara umum cenderung meningkat, dimana pada tahun 2008 besarnya inflasi mencapai  11,81 persen.
Secara umum selama tahun 2010, terjadi inflasi yang cenderung rendah, kecuali pada bulan Juni, justru terjadi deflasi yaitu sebesar minus 0,66 persen.
*** Tahukah Anda
Inflasi terbesar terjadi pada kelompok Bahan Makanan dimana terjadi inflasi17,09 persen.
Dengan mengambil tahun dasar 2007 (2007=100), Indeks Harga Konsumen (IHK) Brebes hingga bulan Desember 2010 tercatat sebesar 128,49. Nilai IHK tertinggi terjadi pada kelompok Bahan Makanan yaitu sebesar 150,34. Hal ini menunjukkan bahwa kelompok Bahan Makanan mengalami kenaikan harga yang relatif cepat dibandingkan kelompok lain. Sementara kelompok pengeluaran yang mempunyai nilai IHK terendah adalah kelompok Transportasi yaitu sebesar 175,22.
Sumber : brebeskab.bps.go.id

Posting by Mohammad Nurdin

Senin, 18 April 2011

Catatan Inflasi Brebes 2010 (3)

Inflasi selama Tahun 2010 (Januari – Desember) 2010 di Brebes adalah sebesar 6,04 persen sama besar dengan inflasi di kota Purwokerto tetapi lebih rendah dibandingkan inflasi Indonesia dan Jawa Tengah dalam periode yang sama yang masing-masing sebesar 6,96 persen dan 6,88 persen. Sebagian besar kota-kota di Pulau Jawa mengalami inflasi tinggi daripada Brebes yaitu sebagai berikut : Yogyakarta 7,38 persen, Surabaya 7,33 persen, Semarang 7,11 persen, Tegal 6,73 persen, Cirebon 6,70 persen, Jakarta 6,21 persen, Serang 6,18 persen. Sedangkan yang mengalami inflasi lebih rendah daripada Brebes adalah Bandung 4,53 persen. Hal tersebut dapat dilihat pada gambar di atas.

Sumber Data : BPS Kabupaten Brebes, Indeks Harga Konsumen dan Inflasi Kabupaten Brebes 2010, Brebes, 2011

Posting by Mohammad Nurdin

Catatan Inflasi Brebes 2010 (2)

Selama Tahun 2010 (Januari – Desember) inflasi Brebes sebesar 6,04 persen. Hal ini berarti lebih tinggi daripada tahaun lalu yang sebesar 4,25 persen meski masih terkendali (inflasi satu dijit atau one digit inflation) dan di atas sedikit target Pemerintah yaitu inflasi 5 persen plus minus 1. Dalam sepuluh tahun terakhir inflasi tahun ini merupakan inflasi terendah keempat setelah tahun 2003, 2009, dan 2004 yang berturut-turut sebesar 1,38 persen, 4,25 persen, dan 5,83 persen. Lihat gambar di atas.

Selama tahun 2010, dari bulan Januari hingga Desember 2010, kota Brebes mengalami inflasi sebesar 6,04 persen. Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks pada semua kelompok barang dan jasa. Kelompok barang dan jasa yang mengalami kenaikan indeks harga adalah sebagai berikut : kelompok bahan makanan 17,09 persen, kelompok sandang 9,05 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 4,67 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 1,78 persen, kelompok transpor,komunikasi dan jasa keuangan 1,63 persen, kelompok kesehatan 0,60 persen, dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga 0,54 persen. Tidak ada kelompok komoditi yang mengalami penurunan indeks harga.

Dari inflasi tahun kalender (Januari – Desember) 2010 yang sebesar 6,04 persen, andil/sumbangan inflasi pada tahun ini dari terbesar menuju terkecil adalah berturut-turut sebagai berikut : kelompok bahan makanan 3,55 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 1,11 persen, kelompok sandang 0,70 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,43 persen, kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan 0,19 persen, kelompok pendidikan, rekreasi, dan olah raga 0,03 persen, dan kelompok kesehatan 0,03 persen. Tidak ada kelompok komoditi yang yang memberikan andil negatif terhadap inflasi selama tahun 2010.

Sepuluh komoditas barang dan jasa yang memberikan andil inflasi terbesar selama Tahun 2010 (Januari – Desember) adalah berturut-turut sebagai berikut : beras 1,08 persen, cabe merah 0,79 persen, jeruk 0,38 persen, emas perhiasan 0,30 persen, bahan bakar rumah tangga 0,25 persen, tukang bukan mandor 0,19 persen, tarip listrik 0,18 persen, tarip air minum pikulan 0,16 persen, kacang panjang 0,14 persen, dan tomat sayur 0,14 persen. Sedangkan sepuluh komoditas yang memberikan andil inflasi negatif atau deflasi terbesar adalah berturut-turut sebagai berikut : pisang 0,10 persen, sabun cream detergen 0,05 persen, semangka 0,05 persen, bensin 0,04 persen, kelapa 0,04 persen, daging kambing 0,03 persen, apel 0,03 persen, bumbu masak jadi 0,03 persen, cat tembok 0,02 persen, dan sabun mandi 0,02 persen.

Sumber Data : BPS Kabupaten Brebes, Indeks Harga Konsumen dan Inflasi Kabupaten Brebes 2010, Brebes, 2011

Posting by Mohammad Nurdin

Catatan Inflasi Brebes 2010 (1)

Kondisi umum harga konsumen aneka barang dan jasa di Kabupaten Brebes selama Tahun 2010 menunjukkan kenaikan harga-harga yang cukup stabil dibandingkan tahun lalu. (lihat gambar di atas). Keadaan seperti ini tidak terlepas dari pengaruh berbagai kebijakan yang dikeluarkan baik oleh Pemerintah Pusat maupun oleh Pemerintah Daerah. Di samping momen-momen tertentu yang turut punya andil besar dalam perubahan harga seperti momen tahun baru 2010, tahun ajaran baru pendidikan 2010/2010, bulan puasa (Ramadhan) sampai dengan hari raya Idul Fitri 1430 H yang pada tahun ini jatuh pada bulan Agustus - September 2010, dan musim.

Sumber Data : BPS Kabupaten Brebes, Indeks Harga Konsumen dan Inflasi Kabupaten Brebes 2010, Brebes, 2011


Posting by Mohammad Nurdin

Kamis, 02 Desember 2010

Pressrelease BPS 1 Desember 2010

NOVEMBER 2010 DI INDONESIA INFLASI 0,60 PERSEN
Pada bulan November 2010 di Indonesia terjadi inflasi sebesar 0,60 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 124,03. Dari 66 kota IHK, 61 kota mengalami inflasi dan 5 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Lhokseumawe 2,64 persen dengan IHK 124,73 dan terendah terjadi di Probolinggo 0,06 persen dengan IHK 127,33. Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Maumere 0,29 persen dengan IHK 135,23 dan terendah terjadi di Balikpapan 0,04 persen dengan IHK 126,39.
Selengkapnya (pdf file) :
http://www.bps.go.id/brs_file/inflasi-01des10.pdf

EKSPOR DARI INDONESIA OKTOBER 2010 MENCAPAI US$14,22 MILIAR
Ekspor Indonesia pada Oktober 2010 mengalami peningkatan sebesar 16,72 persen dibanding September 2010 yaitu dari US$12.181,6 juta menjadi US$14.218,2 juta. Bila dibandingkan dengan Oktober 2009, ekspor mengalami peningkatan sebesar 16,14 persen.
Peningkatan ekspor Oktober 2010 disebabkan oleh meningkatnya ekspor nonmigas sebesar 14,92 persen yaitu dari US$10.098,7 juta menjadi US$11.605,5 juta. Demikian juga dengan ekspor migas yang mengalami peningkatan sebesar 25,44 persen dari US$2.082,9 juta menjadi US$2.612,7 juta. Lebih lanjut peningkatan ekspor migas disebabkan oleh meningkatnya ekspor gas sebesar 72,04 persen menjadi US$1.532,9 juta dan ekspor minyak mentah naik sebesar 1,78 persen menjadi US$873,2 juta. Sedangkan ekspor hasil minyak turun sebesar 38,14 persen menjadi US$206,6 juta. Sementara volume ekspor migas Oktober 2010 terhadap September 2010 (berdasarkan data Pertamina dan BP Migas) untuk gas naik 114,58 persen, sebaliknya ekspor minyak mentah dan hasil minyak masing-masing turun 5,41 persen dan 39,82 persen. Harga minyak mentah Indonesia di pasar dunia naik dari US$76,76 per barel di September 2010 menjadi US$82,26 per barel di Oktober 2010.
Selengkapnya (pdf file) :
http://www.bps.go.id/brs_file/exim-01des10.pdf

WISMAN KE INDONESIA OKTOBER 2010 MENCAPAI 594,7 RIBU ORANG, NAIK 8,68 PERSEN DIBANDING OKTOBER 2009
Secara keseluruhan jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke Indonesia pada Oktober 2010 mencapai 594.654 orang, mengalami kenaikan sebesar 8,68 persen dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya. Begitu pula, jika dibanding September 2010, jumlah wisman Oktober 2010 mengalami kenaikan sebesar 6,12 persen.
Jumlah wisman yang datang melalui 19 pintu masuk utama pada Oktober 2010 mengalami kenaikan 9,49 persen dibanding Oktober 2009 yaitu dari 509.513 orang menjadi 557.845 orang.
Demikian pula, jika dibanding September 2010 jumlah wisman yang datang melalui 19 pintu masuk mengalami kenaikan sebesar 6,73 persen. Sementara itu jumlah wisman yang datang melalui pintu masuk Ngurah Rai pada Oktober 2010 mengalami kenaikan 1,79 persen dibanding bulan yang sama tahun 2009, yaitu dari 225.606 orang menjadi 229.651 orang. Namun, jika dibanding September 2010, jumlah wisman yang datang melalui Ngurah Rai turun 1,23 persen.
Selengkapnya (pdf file) :
http://www.bps.go.id/brs_file/pariwisata-01des10.pdf

NILAI TUKAR PETANI (NTP) di INDONESIA NOVEMBER 2010 SEBESAR 102,89 ATAU NAIK 0,27 PERSEN
NTP yang diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani (dalam persentase), merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di perdesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani.
Berdasarkan hasil pemantauan harga-harga perdesaan di 32 provinsi di Indonesia pada November 2010, NTP secara nasional naik 0,27 persen dibandingkan NTP Oktober 2010, yaitu dari 102,61 menjadi 102,89. Kenaikan NTP pada November 2010 disebabkan kenaikan indeks harga hasil produksi pertanian lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga maupun untuk keperluan produksi pertanian.
Selengkapnya (pdf file) :
http://www.bps.go.id/brs_file/ntp-01des10.pdf

NOVEMBER 2010 HARGA GROSIR DI INDONESIA NAIK 0,36 PERSEN
Berdasarkan hasil pemantauan BPS, pada bulan November 2010 IHPB Umum Nonmigas adalah 176,66 atau naik 0,36 persen dari IHPB Oktober 2010 sebesar 176,02. Kenaikan persentase perubahan IHPB terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks di semua sektor, yaitu Sektor Pertanian 0,53 persen, Kelompok Barang Ekspor Nonmigas 0,47 persen, Sektor Industri 0,32 persen, Kelompok Barang Impor Nonmigas 0,19 persen dan Sektor Pertambangan dan Penggalian 0,11 persen. Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga selama bulan November 2010 antara lain sayur-sayuran, padi/gabah, beras, dan minyak kelapa sawit.
Selengkapnya (pdf file) :
http://www.bps.go.id/brs_file/ihpb-01des10.pdf

AGUSTUS 2010: TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA DI INDONESIA SEBESAR 7,14 PERSEN
Keadaan ketenagakerjaan di Indonesia pada semester kedua tahun 2010 menunjukkan adanya sedikit perbaikan yang digambarkan dengan adanya peningkatan kelompok penduduk yang bekerja, serta penurunan tingkat pengangguran.
Pada bulan Agustus 2010, jumlah angkatan kerja mencapai 116,5 juta orang atau naik sekitar 530 ribu orang dibanding keadaan Februari 2010 dan naik 2,7 juta orang dibanding keadaan Agustus 2009.
Penduduk yang bekerja pada Agustus 2010 bertambah sebesar 800 ribu orang dibanding keadaan Februari 2010, dan bertambah 3,3 juta orang dibanding keadaan setahun yang lalu (Agustus 2010).
Jumlah penganggur pada Agustus 2010 mengalami penurunan sekitar 270 ribu orang jika dibanding keadaan Februari 2010, dan mengalami penurunan 640 ribu orang jika dibanding keadaan Agustus 2009.
Peningkatan jumlah tenaga kerja serta penurunan angka pengangguran telah menaikkan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) sebesar 0,49 persen selama periode satu tahun terakhir.
Selengkapnya (pdf file) :
http://www.bps.go.id/brs_file/naker-01des10.pdf

Posting by Mohammad Nurdin

Selasa, 14 September 2010

Catatan Inflasi Brebes 2009 (3)

Perbandingan Inflasi Antar Kota Di Pulau Jawa Tahun 2009
Inflasi selama Tahun 2009 (Januari - Desember) 2009 di Brebes adalah sebesar 3,96 persen lebih tinggi dibandingkan inflasi Indonesia dan Jawa Tengah dalam periode yang sama yang masing-masing sebesar 2,78 persen dan 3,62 persen. Sebagian besar kota-kota di Pulau Jawa mengalami inflasi lebih rendah daripada Brebes yaitu sebagai berikut : Bandung 2,11 persen, Jakarta 2,34 persen, Tanggerang 2,49 persen, Surakarta 2,63 persen, Purwokerto 2,83 persen, Yogyakarta 2,93 persen, Semarang 3,19 persen, Surabaya 3,39 persen, Malang 3,39 persen, dan Cirebon 4,11 persen. Sedangkan yang mengalami inflasi lebih tinggi daripada Brebes adalah Serang 4,57 persen dan Tegal 5,83 persen.

Sumber : BPS Kab. Brebes, Perkembangan IK dan Inflasi Kab. Brebes 2009, 2009

Posting by Mohammad Nurdin

Catatan Inflasi Brebes 2009 (2)

Perbandingan Inflasi Brebes Tahun 1995 - 2009
Selama Tahun 2009 (Januari - Desember) inflasi Brebes sebesar 3,98 persen. Hal ini berarti relatif stabil dan lebih terkendali (inflasi satu dijit atau one digit inflation). Dalam lima belas tahun terakhir inflasi tahun ini merupakan inflasi terendah ketiga setelah tahun 2003 dan tahun 1999 yang masing-masing 1,38 persen dan 4,02 persen.
Selama tahun 2009, dari bulan Januari hingga Desember 2009, kota Brebes mengalami inflasi sebesar 4,25 persen. Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks pada semua kelompok barang dan jasa. Kelompok barang dan jasa yang mengalami kenaikan indeks harga adalah sebagai berikut : kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 9,85 persen; kelompok sandang 8,29 persen; kelompok kesehatan 5,37 persen; kelompok bahan makanan 4,46 persen; kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga 3,10 persen; dan kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,90 persen. Sedangkan kelompok komoditi yang mengalami penurunan indeks harga adalah Kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 2,17 persen.

Dari inflasi tahun kalender (Januari - Desember) 2009 yang sebesar 4,25 persen, andil/sumbangan inflasi pada tahun ini dari terbesar menuju terkecil adalah berturut-turut sebagai berikut : kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 2,29 persen; kelompok bahan makanan 0,92 persen; kelompok sandang 0,62 persen; kelompok kesehatan 0,29 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,22 persen; dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga 0,19 persen. Sedangkan kelompok komoditi yang yang memberikan andil negatif terhadap inflasi selama tahun 2009 adalah kelompok transpor,komunikasi dan jasa keuangan sebesar 0,27 persen.

Komoditas barang dan jasa yang memberikan andil inflasi sepuluh terbesar selama Tahun 2009 (Januari - Desember) adalah berturut-turut sebagai berikut : gula pasir 0,85 persen; emas perhiasan 0,40 persen; beras 0,39 persen; nasi 0,35 persen; rokok kretek filter 0,31 persen; rokok kretek 0,28 persen; kontrak rumah 0,25 persen; obat dengan resep 0,20 persen; tarip air minum pikulan 0,17 persen; dan akademi/perguruan tinggi 0,16 persen.

Sedangkan komoditas yang memberikan andil inflasi negatif atau deflasi sepuluh terbesar adalah berturut-turut sebagai berikut : bahan bakar rumah tangga 0,43 persen; bensin 0,33 persen; kangkung dan bawang putih yang masing-masing 0,08 persen; buah apel 0,05 persen; angkutan dalam kota 0,04 persen; bayam 0,04 persen; sabun mandi 0,03 persen; dan kentang 0,02 persen.

Sumber : BPS Kab. Brebes, Perkembangan IHK dan Inflasi Kab. Brebes 2009, 2009

Posting by Mohammad Nurdin

Catatan Inflasi Brebes 2009 (1)

Perkembangan Indeks Harga Kosumen Brebes 2007 - 2009

Kondisi umum harga konsumen aneka barang dan jasa di Kabupaten Brebes selama Tahun 2009 menunjukkan kenaikan harga-harga yang cukup stabil dibandingkan tahun lalu. Keadaan seperti ini tidak terlepas dari pengaruh berbagai kebijakan yang dikeluarkan baik oleh Pemerintah Pusat maupun oleh Pemerintah Daerah. Di samping momen-momen tertentu yang turut punya andil besar dalam perubahan harga seperti momen tahun baru 2009, tahun ajaran baru pendidikan 2009/2010, bulan puasa (Ramadhan) sampai dengan hari raya Idul Fitri 1430 H yang pada tahun ini jatuh pada bulan Agustus - September 2009, dan musim.
Beberapa kebijakan Pemerintah Pusat yang berdampak sangat besar terhadap naik dan turunnya harga-harga seperti kebijakan menurunkan harga bensin dan solar pada tanggal 15 Januari 2009 - pada akhir tahun lalu juga sudah dilakukan penurunan harga bensin dan solar sebanyak dua kali - dan program konversi energi dari minyak tanah menjadi gas elpiji. Program terakhir baru dilaksanakan di Kabupaten Brebes pada tahun 2009 sehingga berdampak pada kenaikan harga minyak tanah dan gas elpiji.

Posting by Mohammad Nurdin

Senin, 02 Agustus 2010

Kondisi Umum Inflasi Brebes 2009

Kondisi perekonomian di Kabupaten Brebes selama Tahun 2009 terlihat cukup stabil. Dalam Tahun 2009 tidak banyak kebijakan baik berskala Nasional maupun Lokal yang berdampak sangat besar. Berbeda dengan tahun lalu yang mengalami tiga kali kenaikan harga bahan bakar minyak (pada tanggal 15 April 2008, 1 Mei 2008, dan 24 Mei 2008) dan dua kali penurunan harga BBM (pada tanggal 1 dan 15 Desember 2008). Namun pada tahun 2009 hanya ada satu kali penurunan harga BBM yaitu pada tanggal 15 Januari 2009.

Data statistik mengenai Indeks Harga Konsumen sangat diperlukan untuk melihat seberapa besar perubahan daya beli masyarakat khususnya masyarakat golongan pendapatan menengah ke bawah yang merupakan mayoritas penduduk. Hal ini sangat berarti bagi para pembuat kebijakan yang dituntut untuk mengantisipasi lonjakan harga dan melemahnya daya beli masyarakat.

Tingkat kenaikan harga secara riil tercermin pada besarnya indeks setiap komoditi atau barang. Agar kenaikan harga dapat dibandingkan dari tahun ke tahun dibutuhkan diagram penimbang pada tahun dasar yang mempergunakan diagram timbang terbaru yang diperoleh dari hasil kegiatan Survei Biaya Hidup tahun 2007.

Perubahan angka indeks menghasilkan besarnya inflasi suatu daerah. Angka inflasi selama satu tahun (Inflasi Tahun Kalender) diperoleh dengan melihat perubahan angka indeks bulan Desember tahun ini terhadap angka indeks bulan Desember tahun sebelumnya. Metode ini dikenal sebagai metode point to point. Selain itu selama satu tahun berjalan, yaitu dari bulan berjalan tahun lalu sampai dengan bulan berjalan tahun ini dapat pula dihitung inflasinya. Angka yang dihasilkan disebut Inflasi Tahun Ke Tahun atau Year on Year. Caranya dengan melihat perubahan IHK bulan berjalan tahun ini terhadap IHK bulan berjalan tahun lalu.

Ketersediaan data IHK yang berkesinambungan diharapkan akan dapat membantu Pemerintah Daerah Kabupaten Brebes dalam pengembangan sektor perekonomian di daerah ini dan meningkatkan kesejahteraan penduduknya.

Posting by Mohammad Nurdin

C. Pengertian Inflasi Menurut BPS (Badan Pusat Statistik)

Berikut ini pengertian inflasi yang versi BPS (Badan Pusat Statistik) yang dalam hal ini diwakili oleh BPS Provinsi Gorontalo, yang nanti akan saya lengkapi dengan pengertian teknis sebagaimana yang ada dalam publikasi kami, Indeks Harga Konsumen dan Inflasi Kabupaten Brebes Tahun 2009. Insya Allah publikasi Indeks Harga Konsumen dan Inflasi Kabupaten Brebes Tahun 2010 akan bisa terbit awal tahun 2011 pada bulan Januari. Berikut pengertian inflasi yang saya kutip :

Inflasi

Inflasi merupakan salah satu indikator penting yang dapat memberikan informasi tentang dinamika perkembangan harga barangdan jasa yang dikonsumsi masyarakat.

Makna inflasi adalah persentase tingkat kenaikan harga sejumlah barang dan jasa yang secara umum dikonsumsi rumah tangga. Ada barang yang harganya naik dan ada yang tetap. namun, tidak jarang ada barang/jasa yang harganya justru turun. Resultante (rata-rata tertimbang) dari perubahan harga bermacam barang dan jasa tersebut, pada suatu selang waktu (bulanan) disebut inflasi (apabila naik) dan deflasi (ababila turun).

Tujuan penyusunan inflasi adalah untuk memperoleh indikator yang menggambarkan kecenderunganumum tentang perkembangan harga. Tujuan tersebut penting dicapai karena dapat dipakai sebagai informasi dasar untuk pengambilan keputusan baik tingkat ekonomi mikro atau makro, baik fiskal maupun moneter.

Pada tingkat mikro, rumah-tangga/masyarakat misalnya, dapat memanfaatkan angka inflasi untuk dasar penyesuaian nilai pengeluaran kebutuhan sehari-hari dengan pendapatan mereka yang relatif tetap. pada tingkat korporasi angka inflasi dapat dipakaiuntuk perencanaan pembelanjaan dan kontrak bisnis. dalam lingkup yang lebih luas (makro)angka inflasi menggambarkan kondisi/stabilitas moneter dan perekonomian.

Secara Umum, hitungan perubahan harga tersebut tercakup dalam suatu indeks harga yang dikenal dengan Indeks harga Konsumen (IHK) atau Costumer Price Index (CPI). Persentase kenaikan IHK dikenal dengan inflasi, sedangkan penurunannya disebut deflasi. bahan dasar penyusunan inflasi adalah Survei Biaya Hidup. SBH diadakan antara 5-10 tahun sekali dan terakhir diadakan pada tahun 2007. Secaranasional paket komoditas untuk 66 kota berkisar antara 284-441 jenis barang dan jasa. Selain paket komoditas, hasil SBH lainnya yang digunakan untuk menghitung inflasi adalahDiagram Timbang (weighting Diagram).

Posting by Mohammad Nurdin

Minggu, 01 Agustus 2010

B. Pengertian Inflasi Menurut BI (Bank Indonesia)

Definisi Inflasi

Secara sederhana inflasi diartikan sebagai meningkatnya harga-harga secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas (atau mengakibatkan kenaikan harga) pada barang lainnya. Kebalikan dari inflasi disebut deflasi.

Indikator yang sering digunakan untuk mengukur tingkat inflasi adalah Indeks Harga Konsumen (IHK). Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat. Sejak Juli 2008, paket barang dan jasa dalam keranjang IHK telah dilakukan atas dasar Survei Biaya Hidup (SBH) Tahun 2007 yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Kemudian, BPS akan memonitor perkembangan harga dari barang dan jasa tersebut secara bulanan di beberapa kota, di pasar tradisional dan modern terhadap beberapa jenis barang/jasa di setiap kota.

Indikator inflasi lainnya berdasarkan international best practice antara lain:

Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB). Harga Perdagangan Besar dari suatu komoditas ialah harga transaksi yang terjadi antara penjual/pedagang besar pertama dengan pembeli/pedagang besar berikutnya dalam jumlah besar pada pasar pertama atas suatu komoditas. [Penjelasan lebih detail mengenai IHPB dapat dilihat pada web site Badan Pusat Statistik www.bps.go.id]

Deflator Produk Domestik Bruto (PDB) menggambarkan pengukuran level harga barang akhir (final goods) dan jasa yang diproduksi di dalam suatu ekonomi (negeri). Deflator PDB dihasilkan dengan membagi PDB atas dasar harga nominal dengan PDB atas dasar harga konstan.

Pengelompokan Inflasi

Inflasi yang diukur dengan IHK di Indonesia dikelompokan ke dalam 7 kelompok pengeluaran (berdasarkan the Classification of individual consumption by purpose - COICOP), yaitu :

  1. Kelompok Bahan Makanan
  2. Kelompok Makanan Jadi, Minuman, dan Tembakau
  3. Kelompok Perumahan
  4. Kelompok Sandang
  5. Kelompok Kesehatan
  6. Kelompok Pendidikan dan Olah Raga
  7. Kelompok Transportasi dan Komunikasi.

Sumber : www.bi.go.id/web/id/Moneter/Inflasi/Pengenalan+Inflasi/

Disagregasi Inflasi

Disamping pengelompokan berdasarkan COICOP tersebut, BPS saat ini juga mempublikasikan inflasi berdasarkan pengelompokan yang lainnya yang dinamakan disagregasi inflasi. Disagregasi inflasi tersebut dilakukan untuk menghasilkan suatu indikator inflasi yang lebih menggambarkan pengaruh dari faktor yang bersifat fundamental.

Di Indonesia, disagegasi inflasi IHK tersebut dikelompokan menjadi:

  • Inflasi Inti, yaitu komponen inflasi yang cenderung menetap atau persisten (persistent component) di dalam pergerakan inflasi dan dipengaruhi oleh faktor fundamental, seperti: Interaksi permintaan-penawaran. Lingkungan eksternal: nilai tukar, harga komoditi internasional, inflasi mitra dagang. Ekspektasi Inflasi dari pedagang dan konsumen
  • Inflasi non Inti, yaitu komponen inflasi yang cenderung tinggi volatilitasnya karena dipengaruhi oleh selain faktor fundamental. Komponen inflasi non inti terdiri dari :
  1. Inflasi Komponen Bergejolak (Volatile Food) : Inflasi yang dominan dipengaruhi oleh shocks (kejutan) dalam kelompok bahan makanan seperti panen, gangguan alam, atau faktor perkembangan harga komoditas pangan domestik maupun perkembangan harga komoditas pangan internasional.
  2. Inflasi Komponen Harga yang diatur Pemerintah (Administered Prices) : Inflasi yang dominan dipengaruhi oleh shocks (kejutan) berupa kebijakan harga Pemerintah, seperti harga BBM bersubsidi, tarif listrik, tarif angkutan, dll.

Determinan Inflasi

Inflasi timbul karena adanya tekanan dari sisi supply (cost push inflation), dari sisi permintaan (demand pull inflation), dan dari ekspektasi inflasi. Faktor-faktor terjadinya cost push inflation dapat disebabkan oleh depresiasi nilai tukar, dampak inflasi luar negeri terutama negara-negara partner dagang, peningkatan harga-harga komoditi yang diatur pemerintah (administered price), dan terjadi negative supply shocks akibat bencana alam dan terganggunya distribusi.

Faktor penyebab terjadi demand pull inflation adalah tingginya permintaan barang dan jasa relatif terhadap ketersediaannya. Dalam konteks makroekonomi, kondisi ini digambarkan oleh output riil yang melebihi outputpotensialnya atau permintaan total (agregate demand) lebih besar dari pada kapasitas perekonomian. Sementara itu, faktor ekspektasi inflasi dipengaruhi oleh perilaku masyarakat dan pelaku ekonomi dalam menggunakan ekspektasi angka inflasi dalam keputusan kegiatan ekonominya. Ekspektasi inflasi tersebut apakah lebih cenderung bersifat adaptif atau forward looking. Hal ini tercermin dari perilaku pembentukan harga di tingkat produsen dan pedagang terutama pada saat menjelang hari-hari besar keagamaan (lebaran, natal, dan tahun baru) dan penentuan upah minimum regional (UMR). Meskipun ketersediaan barang secara umum diperkirakan mencukupi dalam mendukung kenaikan permintaan, namun harga barang dan jasa pada saat-saat hari raya keagamaan meningkat lebih tinggi dari komdisi supply-demandtersebut. Demikian halnya pada saat penentuan UMR, pedagang ikut pula meningkatkan harga barang meski kenaikan upah tersebut tidak terlalu signifikan dalam mendorong peningkatan permintaan.

Sumber : www.bi.go.id/web/id/Moneter/Inflasi/Pengenalan+Inflasi/disagregasi.htm

Pentingnya Kestabilan Harga

Kestabilan inflasi merupakan prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan yang pada akhirnya memberikan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pentingnya pengendalian inflasi didasarkan pada pertimbangan bahwa inflasi yang tinggi dan tidak stabil memberikan dampak negatif kepada kondisi sosial ekonomi masyarakat.

  • Pertama, inflasi yang tinggi akan menyebabkan pendapatan riil masyarakat akan terus turun sehingga standar hidup dari masyarakat turun dan akhirnya menjadikan semua orang, terutama orang miskin, bertambah miskin.
  • Kedua, inflasi yang tidak stabil akan menciptakan ketidakpastian (uncertainty) bagi pelaku ekonomi dalam mengambil keputusan. Pengalaman empiris menunjukkan bahwa inflasi yang tidak stabil akan menyulitkan keputusan masyarakat dalam melakukan konsumsi, investasi, dan produksi, yang pada akhirnya akan menurunkan pertumbuhan ekonomi.
  • Ketiga, tingkat inflasi domestik yang lebih tinggi dibanding dengan tingkat inflasi di negara tetangga menjadikan tingkat bunga domestik riil menjadi tidak kompetitif sehingga dapat memberikan tekanan pada nilai rupiah.

Sumber : www.bi.go.id/web/id/Moneter/Inflasi/Pengenalan+Inflasi/pentingnya.htm

Posting by Mohammad Nurdin

A. Pengertian Inflasi Menurut sumber Wikipedia

Berikut ini pengertian inflasi yang saya kutip dari wikipedia sebagai bahan pembanding, meskipun secara teoritis tetap sama. Sebelum saya akan menerangkan pengertian dari definisi teknis mulai dari tahap pencacahan di lapangan, pengawasan/pemeriksaan, editing/coding, pengolahan/data entry, tabulasi tabel IHK (Indeks Harga Konsumen) dan Inflasi, hingga pressrelease atau BRS (Berita Resmi Statistik). Pengertian Inflasi menurut Wikipedia adalah sbb :

Inflasi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Dalam ilmu ekonomi, inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (kontinu) berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat adanya ketidak lancaran distribusi barang.[1] Dengan kata lain, inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu. Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan tinggi-rendahnya tingkat harga. Artinya, tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu menunjukan inflasi. Inflasi adalah indikator untuk melihat tingkat perubahan, dan dianggap terjadi jika proses kenaikan harga berlangsung secara terus-menerus dan saling pengaruh-mempengaruhi. Istilah inflasi juga digunakan untuk mengartikan peningkatan persediaan uang yang kadangkala dilihat sebagai penyebab meningkatnya harga. Ada banyak cara untuk mengukur tingkat inflasi, dua yang paling sering digunakan adalah CPI dan GDP Deflator.

Inflasi dapat digolongkan menjadi empat golongan, yaitu inflasi ringan, sedang, berat, dan hiperinflasi. Inflasi ringan terjadi apabila kenaikan harga berada di bawah angka 10% setahun; inflasi sedang antara 10%—30% setahun; berat antara 30%—100% setahun; dan hiperinflasi atau inflasi tak terkendali terjadi apabila kenaikan harga berada di atas 100% setahun.

Penyebab Inflasi

Inflasi dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu tarikan permintaan (kelebihan likuiditas/uang/alat tukar) dan yang kedua adalah desakan(tekanan) produksi dan/atau distribusi (kurangnya produksi (product or service) dan/atau juga termasuk kurangnya distribusi).[rujukan?] Untuk sebab pertama lebih dipengaruhi dari peran negara dalam kebijakan moneter (Bank Sentral), sedangkan untuk sebab kedua lebih dipengaruhi dari peran negara dalam kebijakan eksekutor yang dalam hal ini dipegang oleh Pemerintah (Government) seperti fiskal (perpajakan/pungutan/insentif/disinsentif), kebijakan pembangunan infrastruktur, regulasi, dll.

Inflasi tarikan permintaan (Ingg: demand pull inflation) terjadi akibat adanya permintaan total yang berlebihan dimana biasanya dipicu oleh membanjirnya likuiditas di pasar sehingga terjadi permintaan yang tinggi dan memicu perubahan pada tingkat harga. Bertambahnya volume alat tukar atau likuiditas yang terkait dengan permintaan terhadap barang dan jasa mengakibatkan bertambahnya permintaan terhadap faktor-faktor produksi tersebut. Meningkatnya permintaan terhadap faktor produksi itu kemudian menyebabkan harga faktor produksi meningkat. Jadi, inflasi ini terjadi karena suatu kenaikan dalam permintaan total sewaktu perekonomian yang bersangkutan dalam situasi full employment dimanana biasanya lebih disebabkan oleh rangsangan volume likuiditas dipasar yang berlebihan. Membanjirnya likuiditas di pasar juga disebabkan oleh banyak faktor selain yang utama tentunya kemampuan bank sentral dalam mengatur peredaran jumlah uang, kebijakan suku bunga bank sentral, sampai dengan aksi spekulasi yang terjadi di sektor industri keuangan.

Inflasi desakan biaya (Ingg: cost push inflation) terjadi akibat adanya kelangkaan produksi dan/atau juga termasuk adanya kelangkaan distribusi, walau permintaan secara umum tidak ada perubahan yang meningkat secara signifikan. Adanya ketidak-lancaran aliran distribusi ini atau berkurangnya produksi yang tersedia dari rata-rata permintaan normal dapat memicu kenaikan harga sesuai dengan berlakunya hukum permintaan-penawaran, atau juga karena terbentuknya posisi nilai keekonomian yang baru terhadap produk tersebut akibat pola atau skala distribusi yang baru. Berkurangnya produksi sendiri bisa terjadi akibat berbagai hal seperti adanya masalah teknis di sumber produksi (pabrik, perkebunan, dll), bencana alam, cuaca, atau kelangkaan bahan baku untuk menghasilkan produksi tsb, aksi spekulasi (penimbunan), dll, sehingga memicu kelangkaan produksi yang terkait tersebut di pasaran. Begitu juga hal yang sama dapat terjadi pada distribusi, dimana dalam hal ini faktor infrastruktur memainkan peranan yang sangat penting.

Meningkatnya biaya produksi dapat disebabkan 2 hal,yaitu

kenaikan harga,misalnya bahan baku dan kenaikan upah/gaji,misalnya kenaikan gaji PNS akan mengakibatkan usaha-usaha swasta menaikkan harga barang-barang.

Penggolongan Inflasi

Berdasarkan asalnya, inflasi dapat digolongkan menjadi dua, yaitu inflasi yang berasal dari dalam negeri dan inflasi yang berasal dari luar negeri. Inflasi berasal dari dalam negeri misalnya terjadi akibat terjadinya defisit anggaran belanja yang dibiayai dengan cara mencetak uang baru dan gagalnya pasar yang berakibat harga bahan makanan menjadi mahal. Sementara itu, inflasi dari luar negeri adalah inflasi yang terjadi sebagai akibat naiknya harga barang impor. Hal ini bisa terjadi akibat biaya produksi barang di luar negeri tinggi atau adanya kenaikan tarif impor barang.

Inflasi juga dapat dibagi berdasarkan besarnya cakupan pengaruh terhadap harga. Jika kenaikan harga yang terjadi hanya berkaitan dengan satu atau dua barang tertentu, inflasi itu disebut inflasi tertutup (Closed Inflation). Namun, apabila kenaikan harga terjadi pada semua barang secara umum, maka inflasi itu disebut sebagai inflasi terbuka (Open Inflation). Sedangkan apabila serangan inflasi demikian hebatnya sehingga setiap saat harga-harga terus berubah dan meningkat sehingga orang tidak dapat menahan uang lebih lama disebabkan nilai uang terus merosot disebut inflasi yang tidak terkendali (Hiperinflasi).

Berdasarkan keparahannya inflasi juga dapat dibedakan :

Inflasi ringan (kurang dari 10% / tahun)

Inflasi sedang (antara 10% sampai 30% / tahun)

Inflasi berat (antara 30% sampai 100% / tahun)

Hiperinflasi (lebih dari 100% / tahun)

Mengukur inflasi

Inflasi diukur dengan menghitung perubahan tingkat persentase perubahan sebuah indeks harga. Indeks harga tersebut di antaranya:

Indeks harga konsumen (IHK) atau consumer price index (CPI), adalah indeks yang mengukur harga rata-rata dari barang tertentu yang dibeli oleh konsumen.

Indeks biaya hidup atau cost-of-living index (COLI).

Indeks harga produsen adalah indeks yang mengukur harga rata-rata dari barang-barang yang dibutuhkan produsen untuk melakukan proses produksi. IHP sering digunakan untuk meramalkan tingkat IHK di masa depan karena perubahan harga bahan baku meningkatkan biaya produksi, yang kemudian akan meningkatkan harga barang-barang konsumsi.

Indeks harga komoditas adalah indeks yang mengukur harga dari komoditas-komoditas tertentu.

Indeks harga barang-barang modal

Deflator PDB menunjukkan besarnya perubahan harga dari semua barang baru, barang produksi lokal, barang jadi, dan jasa.

Dampak Inflasi

Pekerja dengan gaji tetap sangat dirugikan dengan adanya Inflasi.

Inflasi memiliki dampak positif dan dampak negatif- tergantung parah atau tidaknya inflasi. Apabila inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh yang positif dalam arti dapat mendorong perekonomian lebih baik, yaitu meningkatkan pendapatan nasional dan membuat orang bergairah untuk bekerja, menabung dan mengadakan investasi. Sebaliknya, dalam masa inflasi yang parah, yaitu pada saat terjadi inflasi tak terkendali (hiperinflasi), keadaan perekonomian menjadi kacau dan perekonomian dirasakan lesu. Orang menjadi tidak bersemangat kerja, menabung, atau mengadakan investasi dan produksi karena harga meningkat dengan cepat. Para penerima pendapatan tetap seperti pegawai negeri atau karyawan swasta serta kaum buruh juga akan kewalahan menanggung dan mengimbangi harga sehingga hidup mereka menjadi semakin merosot dan terpuruk dari waktu ke waktu.

Bagi masyarakat yang memiliki pendapatan tetap, inflasi sangat merugikan. Kita ambil contoh seorang pensiunan pegawai negeri tahun 1990. Pada tahun 1990, uang pensiunnya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, namun di tahun 2003 -atau tiga belas tahun kemudian, daya beli uangnya mungkin hanya tinggal setengah. Artinya, uang pensiunnya tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebaliknya, orang yang mengandalkan pendapatan berdasarkan keuntungan, seperti misalnya pengusaha, tidak dirugikan dengan adanya inflasi. Begitu juga halnya dengan pegawai yang bekerja di perusahaan dengan gaji mengikuti tingkat inflasi.

Inflasi juga menyebabkan orang enggan untuk menabung karena nilai mata uang semakin menurun. Memang, tabungan menghasilkan bunga, namun jika tingkat inflasi di atas bunga, nilai uang tetap saja menurun. Bila orang enggan menabung, dunia usaha dan investasi akan sulit berkembang. Karena, untuk berkembang dunia usaha membutuhkan dana dari bank yang diperoleh dari tabungan masyarakat.

Bagi orang yang meminjam uang dari bank (debitur), inflasi menguntungkan, karena pada saat pembayaran utang kepada kreditur, nilai uang lebih rendah dibandingkan pada saat meminjam. Sebaliknya, kreditur atau pihak yang meminjamkan uang akan mengalami kerugian karena nilai uang pengembalian lebih rendah jika dibandingkan pada saat peminjaman.

Bagi produsen, inflasi dapat menguntungkan bila pendapatan yang diperoleh lebih tinggi daripada kenaikan biaya produksi. Bila hal ini terjadi, produsen akan terdorong untuk melipatgandakan produksinya (biasanya terjadi pada pengusaha besar). Namun, bila inflasi menyebabkan naiknya biaya produksi hingga pada akhirnya merugikan produsen, maka produsen enggan untuk meneruskan produksinya. Produsen bisa menghentikan produksinya untuk sementara waktu. Bahkan, bila tidak sanggup mengikuti laju inflasi, usaha produsen tersebut mungkin akan bangkrut (biasanya terjadi pada pengusaha kecil).

Secara umum, inflasi dapat mengakibatkan berkurangnya investasi di suatu negara, mendorong kenaikan suku bunga, mendorong penanaman modal yang bersifat spekulatif, kegagalan pelaksanaan pembangunan, ketidakstabilan ekonomi, defisit neraca pembayaran, dan merosotnya tingkat kehidupan dan kesejahteraan masyarakat.

Peran bank sentral

Bank sentral memainkan peranan penting dalam mengendalikan inflasi. Bank sentral suatu negara pada umumnya berusaha mengendalikan tingkat inflasi pada tingkat yang wajar. Beberapa bank sentral bahkan memiliki kewenangan yang independen dalam artian bahwa kebijakannya tidak boleh diintervensi oleh pihak di luar bank sentral -termasuk pemerintah. Hal ini disebabkan karena sejumlah studi menunjukkan bahwa bank sentral yang kurang independen -- salah satunya disebabkan intervensi pemerintah yang bertujuan menggunakan kebijakan moneter untuk mendorong perekonomian -- akan mendorong tingkat inflasi yang lebih tinggi.

Bank sentral umumnya mengandalkan jumlah uang beredar dan/atau tingkat suku bunga sebagai instrumen dalam mengendalikan harga. Selain itu, bank sentral juga berkewajiban mengendalikan tingkat nilai tukar mata uang domestik. Hal ini disebabkan karena nilai sebuah mata uang dapat bersifat internal (dicerminkan oleh tingkat inflasi) maupun eksternal (kurs). Saat ini pola inflation targeting banyak diterapkan oleh bank sentral di seluruh dunia, termasuk oleh Bank Indonesia.

Referensi

Barro, Robert J. Macroeconomics

Brown, A. World Inflation Since 1950

Case, Karl E. and Fair, Ray C. Principles of Macroeconomics

Bureau of Labor Statistics

Kieler, Mads The ECB's Inflation Objective

George Reisman, Capitalism: A Treatise on Economics (Ottawa : Jameson Books, 1990), 503-506 & Chapter 19 ISBN 0-915463-73-3

Murray N. Rothbard, What has government done to our money? ISBN 0-945466-10-2. Good introduction to Austrian school's view on money, inflation etc.

“Ekspektasi kenaikan harga ini antara lain bisa disebabkan adanya kekhawatiran konsumen terhadap kenaikan tarif-tarif komoditas yang dikendalikan pemerintah, seperti BBM, listrik, serta ketidaklancaran distribusi barang dan/atau berkurangnya ketersediaan barang atau jasa sebagai akibat mahalnya biaya transportasi atau miniminya infratstruktur yang memadai,”

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Inflasi

Posting by Mohammad Nurdin

Pengantar Pengertian Inflasi

Berikut ini akan saya diuraikan pengertian inflasi sesuai tugas yang dibebankan kepada saya selaku Kepala Seksi Statistik Distribusi BPS Kabupaten Brebes. Tulisan ini sebagai sumbangan dan sebagai sarana berbagi ilmu dan informasi. Sebelum membahas inflasi seperti yang biasa saya kerjakan, maka terlebih dahulu saya kutipkan pembahasan Inflasi yang telah pernah dimuat di internet yaitu sbb :

  • A. Pengertian Inflasi Menurut sumber Wikipedia
  • B. Pengertian Inflasi Menurut BI (Bank Indonesia),
  • C. Pengertian Inflasi Menurut BPS (Badan Pusat Statistik) yang dalam hal ini diwakili oleh BPS Provinsi Gorontalo.
  • D. Pengertian Teknis Inflasi di BPS (Khususnya di BPS Kabupaten Brebes)

Selamat menikmati tulisan berseri tentang inflasi ini.

Semoga menambah wawasan Anda tentang Inflasi.

Posting by Mohammad Nurdin