Berikut ini adalah 5 Kategori dari 17 Kategori Penyumbang PDRB Kabupaten Brebes Tahun 2010
1) A Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 42,44 persen;
2) G Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sebesar 18,73 persen;
3) C Industri Pengolahan sebesar 11,28 persen;
4) I Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 4,39 persen; dan
5) F Konstruksi sebesar 4,07 persen.
Posting by Mohammad Nurdin
Cari Blog Ini
Jumat, 19 Januari 2018
Analisis PDRB Produksi Kab. Brebes 2010-2016 : Rata-rata Pertumbuhan
Dilihat dari laju pertumbuhan ekonomi per sektor, terlihat bahwa pertumbuhan Sektor Sekunder dan Sektor Tersier di atas rata-rata (pertumbuhan ekonomi) Kabupaten Brebes. Sedangkan Sektor Primer tumbuh di bawah rata-rata.
Berikut ini adalah rata-rata pertumbuhan ekonomi menurut sektor selama periode 2011-2016 :
1. Rata-rata pertumbuhan PDRB adalah sebesar 5,55 persen per tahun;
2. Rata-rata pertumbuhan Sektor Primer adalah sebesar 3,43 persen per tahun;
3. Rata-rata pertumbuhan Sektor Sekunder adalah sebesar 8,79 persen per tahun; dan
4. Rata-rata pertumbuhan Sektor Tersier adalah sebesar 6,44 per tahun.
Posting by Mohammad Nurdin
Kamis, 18 Januari 2018
Analisis PDRB Produksi Kab. Brebes 2010-2016 : Kontribusi adhb
Bila dilihat dari sektornya maka kontribusi terbesar adalah sektor Primer yang pada tahun 2016 sebesar 42,81 persen disusul Sektor tersier sebesar 38,10 persen dan Sektor Sekunder sebesar 19,09 persen. Dari grafik terlihat kecenderungan sebagia berikut :
1. Kontribusi Sektor Primer cenderung menurun dari 44,42 persen pada tahun 2010 menjadi 42,81 persen pada tahun 2016.
2. Kontribusi Sektor Tersier juga menurun dari 40,09 persen pada tahun 2010 menjadi 38,10 persen pada tahun 2016.
3. Berbeda dengan kedua sektor di atas, kontribusi Sektor Sekunder cenderung meningkat dari 15,50 persen pada tahun 2010 menjadi 19,09 persen pada tahun 2016.
Posting by Mohammad Nurdin
Analisis PDRB Produksi Kab. Brebes 2010-2016 : Pengelompokan Sektor
PDRB Kabupaten Brebes Menurut Lapangan Usaha (PDRB Produksi) terbagi atas :
17 Kategori yaitu :
1) A Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan;
2) B Pertambangan dan Penggalian;
3) C Industri Pengolahan;
4) D Pengadaan Listrik dan Gas;
5) E Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang;
6) F Konstruksi;
7) G Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor;
8) H Transportasi dan Pergudangan;
9) I Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum;
10) J Informasi dan Komunikasi;
11) K Jasa Keuangan dan Asuransi;
12) L Real Estate;
13) M,N Jasa Perusahaan;
14) O Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib;
15) P Jasa Pendidikan;
16) Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial; dan
17) R,S,T,U Jasa lainnya
54 Sub Kategori yaitu :
A Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan
1 Pertanian, Peternakan, Perburuan dan Jasa Pertanian
1) a. Tanaman Pangan;
2) b. Tanaman Hortikultura Semusim;
3) c. Perkebunan Semusim;
4) d. Tanaman Hortikultura Tahunan dan Lainnya;
5) e. Perkebunan Tahunan;
6) f. Peternakan;
7) g. Jasa Pertanian dan Perburuan;
8) 2 Kehutanan dan Penebangan Kayu;
9) 3 Perikanan;
B Pertambangan dan Penggalian
10) 1 Pertambangan Minyak, Gas dan Panas Bumi;
11) 2 Pertambangan Batubara dan Lignit;
12) 3 Pertambangan Bijih Logam;
13) 4 Pertambangan dan Penggalian Lainnya;
C Industri Pengolahan
14) 1 Industri Batubara dan Pengilangan Migas;
15) 2 Industri Makanan dan Minuman;
16) 3 Pengolahan Tembakau;
17) 4 Industri Tekstil dan Pakaian Jadi;
18) 5 Industri Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki;
19) 6 Industri Kayu, Barang dari Kayu dan Gabus dan Barang Anyaman dari Bambu, Rotan dan Sejenisnya;
20) 7 Industri Kertas dan Barang dari Kertas, Percetakan dan Reproduksi Media Rekaman;
21) 8 Industri Kimia, Farmasi dan Obat Tradisional;
22) 9 Industri Karet, Barang dari Karet dan Plastik;
23) 10 Industri Barang Galian bukan Logam;
24) 11 Industri Logam Dasar;
25) 12 Industri Barang dari Logam, Komputer, Barang Elektronik, Optik dan Peralatan Listrik;
26) 13 Industri Mesin dan Perlengkapan YTDL;
27) 14 Industri Alat Angkutan;
28) 15 Industri Furnitur;
29) 16 Industri pengolahan lainnya, jasa reparasi dan pemasangan mesin dan peralatan;
D Pengadaan Listrik dan Gas
30) 1 Ketenagalistrikan;
31) 2 Pengadaan Gas dan Produksi Es;
32) E Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang;
33) F Konstruksi;
G Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor
34) 1 Perdagangan Mobil, Sepeda Motor dan Reparasinya;
35) 2 Perdagangan Besar dan Eceran, Bukan Mobil dan Sepeda Motor;
H Transportasi dan Pergudangan
36) 1 Angkutan Rel;
37) 2 Angkutan Darat;
38) 3 Angkutan Laut;
39) 4 Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan;
40) 5 Angkutan Udara;
41) 6 Pergudangan dan Jasa Penunjang Angkutan, Pos dan Kurir;
I Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum
42) 1 Penyediaan Akomodasi;
43) 2 Penyediaan Makan Minum;
44) J Informasi dan Komunikasi;
K Jasa Keuangan dan Asuransi
45) 1 Jasa Perantara Keuangan;
46) 2 Asuransi dan Dana Pensiun;
47) 3 Jasa Keuangan Lainnya;
48) 4 Jasa Penunjang Keuangan;
49) L Real Estate;
50) M,N Jasa Perusahaan;
51) O Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib;
52) P Jasa Pendidikan;
53) Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial; dan
54) R,S,T,U Jasa lainnya
2 Jenis yaitu :
1) Sektor Barang (A, B, C, D, E dan F); dan
2) Sektor Jasa (G, H, I, J, K, L, M, N, O, P, Q, R, S, T dan U)
3 Jenis yaitu :
1) Sektor Primer (A dan B);
2) Sektor Sekunder (C, D, E dan F); dan
2) Sektor Tersier (G, H, I, J, K, L, M, N, O, P, Q, R, S, T dan U)
Posting by Mohammad Nurdin
17 Kategori yaitu :
1) A Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan;
2) B Pertambangan dan Penggalian;
3) C Industri Pengolahan;
4) D Pengadaan Listrik dan Gas;
5) E Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang;
6) F Konstruksi;
7) G Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor;
8) H Transportasi dan Pergudangan;
9) I Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum;
10) J Informasi dan Komunikasi;
11) K Jasa Keuangan dan Asuransi;
12) L Real Estate;
13) M,N Jasa Perusahaan;
14) O Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib;
15) P Jasa Pendidikan;
16) Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial; dan
17) R,S,T,U Jasa lainnya
54 Sub Kategori yaitu :
A Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan
1 Pertanian, Peternakan, Perburuan dan Jasa Pertanian
1) a. Tanaman Pangan;
2) b. Tanaman Hortikultura Semusim;
3) c. Perkebunan Semusim;
4) d. Tanaman Hortikultura Tahunan dan Lainnya;
5) e. Perkebunan Tahunan;
6) f. Peternakan;
7) g. Jasa Pertanian dan Perburuan;
8) 2 Kehutanan dan Penebangan Kayu;
9) 3 Perikanan;
B Pertambangan dan Penggalian
10) 1 Pertambangan Minyak, Gas dan Panas Bumi;
11) 2 Pertambangan Batubara dan Lignit;
12) 3 Pertambangan Bijih Logam;
13) 4 Pertambangan dan Penggalian Lainnya;
C Industri Pengolahan
14) 1 Industri Batubara dan Pengilangan Migas;
15) 2 Industri Makanan dan Minuman;
16) 3 Pengolahan Tembakau;
17) 4 Industri Tekstil dan Pakaian Jadi;
18) 5 Industri Kulit, Barang dari Kulit dan Alas Kaki;
19) 6 Industri Kayu, Barang dari Kayu dan Gabus dan Barang Anyaman dari Bambu, Rotan dan Sejenisnya;
20) 7 Industri Kertas dan Barang dari Kertas, Percetakan dan Reproduksi Media Rekaman;
21) 8 Industri Kimia, Farmasi dan Obat Tradisional;
22) 9 Industri Karet, Barang dari Karet dan Plastik;
23) 10 Industri Barang Galian bukan Logam;
24) 11 Industri Logam Dasar;
25) 12 Industri Barang dari Logam, Komputer, Barang Elektronik, Optik dan Peralatan Listrik;
26) 13 Industri Mesin dan Perlengkapan YTDL;
27) 14 Industri Alat Angkutan;
28) 15 Industri Furnitur;
29) 16 Industri pengolahan lainnya, jasa reparasi dan pemasangan mesin dan peralatan;
D Pengadaan Listrik dan Gas
30) 1 Ketenagalistrikan;
31) 2 Pengadaan Gas dan Produksi Es;
32) E Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang;
33) F Konstruksi;
G Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor
34) 1 Perdagangan Mobil, Sepeda Motor dan Reparasinya;
35) 2 Perdagangan Besar dan Eceran, Bukan Mobil dan Sepeda Motor;
H Transportasi dan Pergudangan
36) 1 Angkutan Rel;
37) 2 Angkutan Darat;
38) 3 Angkutan Laut;
39) 4 Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan;
40) 5 Angkutan Udara;
41) 6 Pergudangan dan Jasa Penunjang Angkutan, Pos dan Kurir;
I Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum
42) 1 Penyediaan Akomodasi;
43) 2 Penyediaan Makan Minum;
44) J Informasi dan Komunikasi;
K Jasa Keuangan dan Asuransi
45) 1 Jasa Perantara Keuangan;
46) 2 Asuransi dan Dana Pensiun;
47) 3 Jasa Keuangan Lainnya;
48) 4 Jasa Penunjang Keuangan;
49) L Real Estate;
50) M,N Jasa Perusahaan;
51) O Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib;
52) P Jasa Pendidikan;
53) Q Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial; dan
54) R,S,T,U Jasa lainnya
2 Jenis yaitu :
1) Sektor Barang (A, B, C, D, E dan F); dan
2) Sektor Jasa (G, H, I, J, K, L, M, N, O, P, Q, R, S, T dan U)
3 Jenis yaitu :
1) Sektor Primer (A dan B);
2) Sektor Sekunder (C, D, E dan F); dan
2) Sektor Tersier (G, H, I, J, K, L, M, N, O, P, Q, R, S, T dan U)
Posting by Mohammad Nurdin
Selasa, 14 November 2017
Bonus Demografi : Akan Menjadi Peluang atau Bencana di Indonesia?
Oleh : Sari Ayutyas SST
Indonesia telah mengalami transisi demografi. Hal ini terindikasi dari hasil sensus penduduk tahun 2000 yang memberikan fakta keberhasilan program KB secara signifikan. Hasil SP2000 menunjukkan bahwa jumlah penduduk di bawah 15 tahun tidak bertambah dari jumlah sekitar 60 juta di tahun 1970-1980an menjadi sekitar 63-65 juta saja. Berbeda halnya dengan penduduk usia 15-64 tahun yang pada tahun 1970 berjumlah sekitar 63-65 juta berkembang dua kali lipat pada tahun 2000 menjadi sekitar 133-135 juta. Fakta yang serupa juga ditunjukkan oleh hasil SP2010, penduduk usia 15-16 tahun pada tahun 2010 mencapai 157 juta jiwa meningkat sekitar 16 persen dari tahun 2000. Usia porduktif ini mendominasi 66 persen dari jumlah penduduk pada tahun 2010. Adapaun transisi demografi yang ditandai dengan kenaikan dua kali lipat jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun), penundaan pertumbuhan penduduk usia muda (di bawah 15 tahun ) dan semakin sedikit jumlah penduduk usia tua (di atas 64 tahun) sebagaimana yang terlihat dari dua hasil Sensus Penduduk tersebut biasa dikenal sebagai Bonus Demografi (Demographic Devident).
Kondisi ini juga lazim disebut Jendela Kesempatan (Windows Of Oppurtunity) bagi suatu negara untuk melakukan akselerasi ekonomi dengan menggenjot industri manufaktur, infrastruktur, maupun UKM karena berlimpahnya jumlah angkatan kerja. Banyak negara menjadi kaya karena berhasil memanfaatkan jendela peluang bonus demografinya untuk meningkatkan pendapatan per kapita negara.
Bagaimana Indonesia memaknai dan memanfaatkan Bonus Demografi yang ada? Jika melihat fakta yang ada, Indonesia diperkirakan akan mencapai puncak “bonus demografi” tahun 2017 sampai dengan tahun 2019 pada gelombang pertama dan 2020-2030 pada gelombang bonus demografi kedua, artinya komposisi jumlah penduduk dengan usia produktif 15-64 tahun mencapai titik maksimal dibandingkan dengan penduduk usia non produktif (0-14 tahun dan 65 tahun ke atas). Bonus demografi yang terjadi di Indonesia memberikan makna bahwa terdapat kenaikan jumlah angkatan kerja yang potensial. Namun perlu ditegaskan bahwa bonus demografi tidak memberikan dampak signifikan jika negara minim melakukan investasi sumber daya alam (human capital investment). Bonus demografi bisa berubah menjadi gelombang pengangguran massal dan semakin menambah beban anggaran negara. Keberhasilan dalam memanfaatkan jendela peluang ini tergantung bagaimana pemerintah Indonesia dapat mensinergikan bonus demografi yang diperoleh untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara. Sebentar lagi BPS akan melakukan SP2020, bagaimana perkembangan bonus demografi? Kita nantikan hasil SP2020.
Sumber : Intern BPS
Posting by Mohammad Nurdin
Indonesia telah mengalami transisi demografi. Hal ini terindikasi dari hasil sensus penduduk tahun 2000 yang memberikan fakta keberhasilan program KB secara signifikan. Hasil SP2000 menunjukkan bahwa jumlah penduduk di bawah 15 tahun tidak bertambah dari jumlah sekitar 60 juta di tahun 1970-1980an menjadi sekitar 63-65 juta saja. Berbeda halnya dengan penduduk usia 15-64 tahun yang pada tahun 1970 berjumlah sekitar 63-65 juta berkembang dua kali lipat pada tahun 2000 menjadi sekitar 133-135 juta. Fakta yang serupa juga ditunjukkan oleh hasil SP2010, penduduk usia 15-16 tahun pada tahun 2010 mencapai 157 juta jiwa meningkat sekitar 16 persen dari tahun 2000. Usia porduktif ini mendominasi 66 persen dari jumlah penduduk pada tahun 2010. Adapaun transisi demografi yang ditandai dengan kenaikan dua kali lipat jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun), penundaan pertumbuhan penduduk usia muda (di bawah 15 tahun ) dan semakin sedikit jumlah penduduk usia tua (di atas 64 tahun) sebagaimana yang terlihat dari dua hasil Sensus Penduduk tersebut biasa dikenal sebagai Bonus Demografi (Demographic Devident).
Kondisi ini juga lazim disebut Jendela Kesempatan (Windows Of Oppurtunity) bagi suatu negara untuk melakukan akselerasi ekonomi dengan menggenjot industri manufaktur, infrastruktur, maupun UKM karena berlimpahnya jumlah angkatan kerja. Banyak negara menjadi kaya karena berhasil memanfaatkan jendela peluang bonus demografinya untuk meningkatkan pendapatan per kapita negara.
Bagaimana Indonesia memaknai dan memanfaatkan Bonus Demografi yang ada? Jika melihat fakta yang ada, Indonesia diperkirakan akan mencapai puncak “bonus demografi” tahun 2017 sampai dengan tahun 2019 pada gelombang pertama dan 2020-2030 pada gelombang bonus demografi kedua, artinya komposisi jumlah penduduk dengan usia produktif 15-64 tahun mencapai titik maksimal dibandingkan dengan penduduk usia non produktif (0-14 tahun dan 65 tahun ke atas). Bonus demografi yang terjadi di Indonesia memberikan makna bahwa terdapat kenaikan jumlah angkatan kerja yang potensial. Namun perlu ditegaskan bahwa bonus demografi tidak memberikan dampak signifikan jika negara minim melakukan investasi sumber daya alam (human capital investment). Bonus demografi bisa berubah menjadi gelombang pengangguran massal dan semakin menambah beban anggaran negara. Keberhasilan dalam memanfaatkan jendela peluang ini tergantung bagaimana pemerintah Indonesia dapat mensinergikan bonus demografi yang diperoleh untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara. Sebentar lagi BPS akan melakukan SP2020, bagaimana perkembangan bonus demografi? Kita nantikan hasil SP2020.
Sumber : Intern BPS
Posting by Mohammad Nurdin
Minggu, 12 November 2017
Brexit Selesai, Ekonomi Brebes Melambat
Oleh : Mohammad Nurdin
Kepala Seksi Neraca Wilayah dan Analisis Statistik BPS Kab. Brebes
Tahun 2015 perekonomian brebes tumbuh sangat tinggi hampir 6 persen. Namun pada tahun 2016 perekonomian Brebes hanya mampu tumbuh di bawah 5 persen. Dalam istilah ekonomi makro berarti ini terjadi perlambatan. Lalu kira-kira apa yang membuat hal ini terjadi? Kita akan coba urai benang kusut ini satu per satu.
Apa itu Enterprise Architecture?
Belum lama saya diminta untuk mengisi daring survei di instansi saya, BPS tentang Enterprise Architecture. Lalu saya cari tahu apa itu Enterprise Architecture. Berikut penjelasan Enterprise Architecture oleh ramadhantriyanto dalam blognya :
Enterprise Architecture adalah proses menerjemahkan visi dan strategi suatu bisnis ke perubahan yang lebih efektif dengan cara membuat, mengomunikasikan, dan meningkatkan kebutuhan kunci, prinsip dan model yang mendeskripsikan keadaan perusahaan pada masa depan dan memastikan perusahaan untuk berevolusi menjadi lebih baik (Wikipedia, 2012).
Enterprise Architecture menurut Pusat Riset Sistem Informasi di Massachusetts Institute of Technology adalah aspek yang spesifik dari bisnis suatu perusahaan:
Enterprise Architecture adalah tentang mengorganisasikan proses bisnis dan infrastruktur teknologi informasi yang diintegrasikan dan distandarisasi tergantung kepada visi misi dan model operasional perusahaan. Model operasional adalah model yang paling cocok dengan integrasi dan standarisasi proses bisnis untuk mendistribusikan produk atau layanan perusahaan kepada konsumen
Kata Enterprise digunakan karena cakupan dari Enterprise Architecture meliputi:
Sektor organisasi publik maupun pribadi
Keseluruhan bisnis atau perusahaan
Bagian dari perusahaan yang besar
Gabungan dari beberapa perusahaan/ joint venture
Operasi bisnis berbasis outsourcing
Perusahaan multinasional
Tujuan dari penggunaan Enterprise Architecture dalam perusahaan adalah untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi bisnis dari perusahaan itu sendiri. Penggunaan Enterprise Architecture ini juga termasuk inovasi dalam struktur organisasi perusahaan, integrasi proses bisnis, kualitas dan ketepatan waktu dari informasi bisnis, serta memastikan bahwa investasi untuk teknologi informasi dalam perusahaan dapat dipertanggungjawabkan.
Salah satu metode dalam menggunakan informasi untuk meningkatkan fungsional bisnis, seperti dijelaskan dalam TOGAF (dibahas di bagian berikutnya), melibatkan pengembangan suatu “Architectural Vision” yang menunjukkan sebuah “target” yang harus dicapai perusahaan di masa depan. Jika visi ini dapat dipahami dengan baik, akan lebih mudah membuat semacam “batu loncatan” yang mengilustrasikan sebuah proses perubahan dari keadaan sekarang menjadi keadaan yang ditargetkan. “Batu loncatan” ini dalam Enterprise Architecture disebut juga “transitional architecture”.
Perkembangan teknologi yang pesat baru-baru ini memberikan efek yang baik pada Enterprise Architecture. Enterprise Architecture mendefinisikan apa yang perusahaan lakukan, siapa yang menjalankan perusahaan secara individual, bagaimana fungsional perusahaan akan berjalan, dan bagaimana data-data perusahaan akan disimpan dan dimanfaatkan. Biaya investasi dan operasional teknologi informasi akan berkurang dengan manfaat yang sama, dan keakuratan dan kecepatan sistem teknologi informasi akan meningkat. Bagaimanapun, pengembangan sistem Enterprise Architecture dan perawatannya tetaplah harus dilakukan. Membangun sebuah sistem Enterprise Architecture dapat menghabiskan waktu dan biaya investasi yang tak sedikit, termasuk juga fase-fase dimana perkembangan proyek pembangunan Enterprise Architecture berjalan lambat dan membuat frustasi banyak perusahaan, dimana implementasi sistem bahkan belum terealisasi. Jika sistem ini tidak diperbaharui dan dirawat secara berkala, manfaat-manfaat yang telah disebutkan diatas tidak akan dicapai dengan maksimal.
sumber : https://ramadhantriyanto.wordpress.com/2012/09/27/tentang-enterprise-architecture/https://ramadhantriyanto.wordpress.com/2012/09/27/tentang-enterprise-architecture/
Posting by Mohammad Nurdin
Enterprise Architecture adalah proses menerjemahkan visi dan strategi suatu bisnis ke perubahan yang lebih efektif dengan cara membuat, mengomunikasikan, dan meningkatkan kebutuhan kunci, prinsip dan model yang mendeskripsikan keadaan perusahaan pada masa depan dan memastikan perusahaan untuk berevolusi menjadi lebih baik (Wikipedia, 2012).
Enterprise Architecture menurut Pusat Riset Sistem Informasi di Massachusetts Institute of Technology adalah aspek yang spesifik dari bisnis suatu perusahaan:
Enterprise Architecture adalah tentang mengorganisasikan proses bisnis dan infrastruktur teknologi informasi yang diintegrasikan dan distandarisasi tergantung kepada visi misi dan model operasional perusahaan. Model operasional adalah model yang paling cocok dengan integrasi dan standarisasi proses bisnis untuk mendistribusikan produk atau layanan perusahaan kepada konsumen
Kata Enterprise digunakan karena cakupan dari Enterprise Architecture meliputi:
Sektor organisasi publik maupun pribadi
Keseluruhan bisnis atau perusahaan
Bagian dari perusahaan yang besar
Gabungan dari beberapa perusahaan/ joint venture
Operasi bisnis berbasis outsourcing
Perusahaan multinasional
Tujuan dari penggunaan Enterprise Architecture dalam perusahaan adalah untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi bisnis dari perusahaan itu sendiri. Penggunaan Enterprise Architecture ini juga termasuk inovasi dalam struktur organisasi perusahaan, integrasi proses bisnis, kualitas dan ketepatan waktu dari informasi bisnis, serta memastikan bahwa investasi untuk teknologi informasi dalam perusahaan dapat dipertanggungjawabkan.
Salah satu metode dalam menggunakan informasi untuk meningkatkan fungsional bisnis, seperti dijelaskan dalam TOGAF (dibahas di bagian berikutnya), melibatkan pengembangan suatu “Architectural Vision” yang menunjukkan sebuah “target” yang harus dicapai perusahaan di masa depan. Jika visi ini dapat dipahami dengan baik, akan lebih mudah membuat semacam “batu loncatan” yang mengilustrasikan sebuah proses perubahan dari keadaan sekarang menjadi keadaan yang ditargetkan. “Batu loncatan” ini dalam Enterprise Architecture disebut juga “transitional architecture”.
Perkembangan teknologi yang pesat baru-baru ini memberikan efek yang baik pada Enterprise Architecture. Enterprise Architecture mendefinisikan apa yang perusahaan lakukan, siapa yang menjalankan perusahaan secara individual, bagaimana fungsional perusahaan akan berjalan, dan bagaimana data-data perusahaan akan disimpan dan dimanfaatkan. Biaya investasi dan operasional teknologi informasi akan berkurang dengan manfaat yang sama, dan keakuratan dan kecepatan sistem teknologi informasi akan meningkat. Bagaimanapun, pengembangan sistem Enterprise Architecture dan perawatannya tetaplah harus dilakukan. Membangun sebuah sistem Enterprise Architecture dapat menghabiskan waktu dan biaya investasi yang tak sedikit, termasuk juga fase-fase dimana perkembangan proyek pembangunan Enterprise Architecture berjalan lambat dan membuat frustasi banyak perusahaan, dimana implementasi sistem bahkan belum terealisasi. Jika sistem ini tidak diperbaharui dan dirawat secara berkala, manfaat-manfaat yang telah disebutkan diatas tidak akan dicapai dengan maksimal.
sumber : https://ramadhantriyanto.wordpress.com/2012/09/27/tentang-enterprise-architecture/https://ramadhantriyanto.wordpress.com/2012/09/27/tentang-enterprise-architecture/
Posting by Mohammad Nurdin
Langganan:
Postingan (Atom)


