Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label muslim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label muslim. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Juni 2020

Buku : Muslim Pertama : Melihat Muhammad Lebih Dekat

DATA BUKU

Judul: Muslim Pertama: Melihat Muhammad Lebih Dekat
Judul Asli: The First Muslim
Penulis: Lesley Hazleton
Penerjemah: Adi Toha
Editor: Indi Aunullah
Penyelia: Chaerul Arif
Proofreader: Alfiyan Rahendra
Genre: Sejarah
Cetakan: I, Juni 2013
Ukuran: 15 x 23 cm
Tebal: 388 Halaman
ISBN: 978-602-9193-32-9

SINOPSIS
Riwayat hidup Muhammad adalah sejarah paling penting yang hampir tak tertandingi. Sayangnya, dalam keagungan pemujaan namanya, kisah yang intens tentang sang pengibar Islam ini tidak dimengerti secara mendalam. Banyak buku telah ditulis, namun hanya sedikit yang mengupas secara utuh sisi humanistik sang tokoh.
Dalam buku ini, Lesley Hazleton menggambarkan Muhammad dalam suatu cerita yang hidup. Mengurai kisah sang Nabi dalam bingkai sejarah, politik, agama, dan psikologi, ia menampilkan sosok agung ini sebagai manusia seutuhnya, dengan segala kompleksitas dan vitalitasnya. Lebih dari itu, buku ini memaparkan kebangkitan Muhammad: dari lelaki tak berdaya menjadi pemimpin penuh kuasa, dari seorang tak dikenal menjadi pribadi yang namanya terus dikenang, dari sosok tak penting menjadi figur yang pengaruhnya sangat kuat bagi umat manusia. Bagaimana seorang outsider ini akhirnya menjadi insider utama di dunia Arab yang “sakit” kala itu?
Ditulis dengan jernih tanpa tendensi ideologis-politis, Muslim Pertama menyuguhkan narasi yang hidup tentang seorang pria mengagumkan yang berada di antara idealisme dan pragmatisme, iman dan politik, perdamaian dan kekerasan, serta penolakan dan pujian. Dan, buku ini tak hanya menerangi figur sang tokoh, tapi juga warisan pengaruhnya yang terus terasa hingga saat ini.

“Kisah tentang Nabi Muhammad yang sebagian besar tak diketahui. Caranya bertutur sungguh piawai. Ceritanya mudah dipahami dan menarik. Wajib dibaca oleh Muslim dan non-Muslim.”
—Hooman Majd, penulis The Ayatollah Begs to Differ
“Buku ini tidak berniat mendorong pembacanya untuk mencintai atau membenci sang Nabi, tapi untuk memberikan pemahaman yang utuh ihwal Muhammad... Sebuah biografi yang kaya.”
—San Francisco Chronicle
“Hazleton mengupas secara tajam salah satu tokoh paling menarik dan disalahpahami dalam sejarah. Dia menggambarkan seorang pria dengan pribadi yang kompleks, di mana cobaan dan kemenangannya telah mengubah jalan sejarah. Buku yang indah.”
—Reza Aslan, penulis No God but God
“Hazleton telah melakukan hal yang tampak mustahil: mengambarkan secara proporsional pria yang lebih sering berada dalam pemujaan. Buku paling menarik tentang Muhammad yang pernah saya baca.”
—G. Willow Wilson, penulis Alif the Unseen dan The Butterfly Mosque
“Hazleton menangkap titik penting dalam sejarah, dan menuliskannya dengan indah.”
—Imam Feisal Abdul Rauf, The Cordoba Initiative
“Hazleton menulis dengan cemerlang sebuah subjek yang kompleks, di mana politik dan agama saling bersinggungan.”
—More Magazine
“Cerita yang mendalam, tidak hanya tentang perjalanan hidup Muhammad, tetapi juga tentang budaya Arab zaman itu... dengan warna yang kaya tentang tempat kejadian, budaya, dan kondisi penduduknya.”
—The New York Journal of Books
“Sebuah upaya tulus untuk memahami pengalaman Muhammad.”
—Guernica
“Membaca buku ini seakan kita terbawa dalam kehidupan Nabi, yang ajarannya, empat belas abad kemudian, menjadi keyakinan lebih dari satu setengah miliar orang di dunia.”
—The San Francisco Chronicle
“Hazleton menulis dengan keluar dari kebiasaan: melihat Muhammad sebagai manusia fana, seorang pria yang hidup, renta, dan akhirnya mati.”
—The Stranger
“Menarik... pengenalan menawan yang sangat berharga bagi mereka yang mencari pemahaman lebih besar tentang pesan Islam dan utusannya.”
—Publishers Weekly
“Luar biasa! Tulisan yang elegan tentang kehidupan Nabi di tengah pembuatan legenda sang tokoh.”
—Kirkus Reviews
“Tulisan yang indah, buku ini memperlihatkan kehidupan Nabi yang sangat dihormati dan ditiru umat Islam secara keseluruhan.”
—Cornel West, Gurubesar Union Theological Seminary dan Gurubesar Emeritus Princeton University
“Tulisan yang kaya, rinci, dan mengagumkan. Hazleton melukiskan sebuah sejarah yang tak pernah tergambarkan dengan baik.”
—The Seattle Times

Tentang Penulis
Lesley Hazleton adalah jurnalis Timur Tengah yang memfokuskan tulisannya mengenai tema-tema politik dan agama serta sejarah dan peristiwa aktual. Selama dua belas tahun lebih, ia melaporkan tulisannya perihal Timur Tengah dari Yerusalem untuk berbagai media massa ternama seperti Time, New York Times, New York Review of Books, Nation, dan Harper’s. Blog pribadinya, accidentaltheologist.com, memuat pandangan-pandangannya yang agnostik tentang agama, politik, dan kehidupan.
Penyandang gelar Sarjana Psikologi dari Manchester University (1963-66) dan Master Psikologi dari Hebrew University of Jerusalem (1969-71) ini telah menulis banyak buku selain buku ini, antara lain After the Prophet: The Epic Story of the Shia-Sunni Split yang merupakan finalis PEN-USA Book Award, dan Mary: A Flesh and Blood Biography yang memenangi penghargaan Washington Book Award.
Pada 2011, ia menyabet penghargaan Genius Award bidang Sastra dari surat kabar The Stranger, dan pada 2012 ia menerima The Inaugural Scholar-in-Residence di pusat budaya dan masyarakat sipil Town Hall Seattle.
Lahir di Inggris pada 1945, Hazleton akhirnya menjadi warga negara Amerika Serikat pada 1994. Sekarang ini, ia tinggal di Seattle, setelah sebelumnya menetap di Yerusalem selama tahun 1966-1979 dan di Kota New York selama tahun 1979-1992.
“Everything is paradox,” ujarnya, suatu ketika. Dan, “The danger is one-dimensional thinking.”

Sumber : http://alvabet.co.id/index.php?page=shop.product_details&product_id=157&flypage=flypage.tpl&pop=0&option=com_virtuemart&Itemid=71

Tentang Lesley Hazleton juga bisa dilihat di link berikut :
https://en.wikipedia.org/wiki/Lesley_Hazleton


Kamis, 29 Agustus 2019

Berpikir Positif

Berikut ini adalah buku yang sangat bagus yang pernah saya baca yang berjudul :
"Terapi Berpikir Positif : Biarkan Mukjizat dalam diri Anda Melesat, Agar Hidup Lebih Sukses dan Lebih Bahagia"
Karya : Dr. Ibrahim Elfiky, seorang maestro motivator Muslim Dunia.

Posting by Mohammad Nurdin

Rabu, 27 Januari 2016

Ceramah agama oleh Ust. Khalid Basalamah : Minhajulmuslim


Berikut ini kajian Kitab Minhajulmuslim oleh Ust. Khalid Basalamah yang suka saya ikuti.

Diterbitkan tanggal 29 Des 2015
Ceramah agama oleh Ust. Khalid Basalamah : Minhajulmuslim

Chanel Ust. Khalid Basalamah di Youtube:
http://www.youtube.com/user/khalidbas...

E-mail Ust. Khalid Basalamah: mabumaya@yahoo.com
Website: http://www.khalidbasalamah.com

Posting by Mohammad Nurdin

Sabtu, 27 September 2014

Do'a Memohon Kesembuhan Dari Penyakit

Beberapa hari yang lalu, ada anak dari teman saya yang masuk rumah sakit. Usianya sekitar 2 (dua) tahun. Kami, atas nama rombongan dari kantor menjeguk ke rumah sakit sebagai wujud perhatian dan rasa kekeluargaan di lingkungan kerja kami. Tetapi sebetulnya bukan itu yang hendak saya tuliskan di sini. Pada momen tersebut saya ditunjuk secara mendadak untuk memimpin do'a demi kesembuhan penyakit anak teman kami tersebut. Saya, seperti biasa tidak biasa menolak permintaan tersebut. Lalu saya coba baca do'a yang biasa dibacakan sebagian besar muslim di Indonesia (saya tidak tahu bagaimana do'a di luar negeri apalagi di negeri berbahasa Arab. Mungkin do'anya lebih panjang karena hal itu adalah bahasa sehari-hari mereka.

Senin, 11 Juni 2012

Panduan Hidup Muslim - Kelengahan

Kelengahan menambah penyesalan. Kelengahan menghilangkan kenikmatan dan menghalangi pengabdian. Kelengahan menambah kedengkian. Kelengahan akan menambah tercela dan kekecewaan.
Di dalam kitab Zahri Riyadh disebutkan sbb :
Nabi Ya'kub as bersaudara dengan malaikat maut dan suatu ketika malaikat maut datang mengunjunginya.
Berkatalah Ya'kub as kepadanya, "Hai malaikat maut, engkau datang mengunjungi aku atau perlu mencabut nyawaku?"

Jawab malakat maut, "Aku datang berkunjung."
Ya'kub as berkata, "Aku minta engkau mau memenuhi sebuah hajatku."

Panduan Hidup Muslim : Kemenangan Nafsu dan permusuhan Syaithan

Seyogyanya bagi orang yang berakal, mengekang keinginan nafsunya dengan lapar karena kelaparan adalah pengekangan terhadap musuh Allah dan kesuburan syaithan adalah kesenangan nafsu, makanan, dan minuman. Nabi Muhammad SAW bersabda, "Sesungguhnya syaithan berjalan pada anak Adam bersama dengan peredaran darah, mak persempitlah perjalannya dengan lapar."
Sesungguhnya manusia yang paling dekat dengan Allah SWT besok di hari akhir adalah orang yang lama kelaparan dan kehausannya, dan sesungguhnya dosa yang paling besar dan merusak anak Adam adalah keinginan perut. Dengan keinginan perut itu pula, Adam dan Hawa diusir dari perkampungan tetap (surga) kepada perkampungan hina dan miskin (dunia). Allah SWT telah melarang makan buah syajarah, tetapi keinginan nafsu mereka mengalahkannya dan tetap saja mereka makan. Akhirnya tampaklah bagi keduanya aurat-auratnya. Perut adalah sumber segala keinginan nafsu menurut kehendaknya. 

Sabtu, 09 Juni 2012

Cerita Anak : Orang Yang Sanggup Memegang Janji

Nabi Ayub memiliki seorang putra bernama Basyar. Dia merupakan putra Ayub yang memiliki kesabaran.
Pada suatu hari raja yang sudah tua mengumumkan sesuatu. Raja itu merasa sudah tidak berdaya memimpin kerajaan danmencari pengganti dirinya. Raja itu akan menyerahkan kekuasaannya kepada orang yang bertanggung jawab dalammenjalankan amanat umat. Orang itu juga orang yang harus beriman kepada Allah.
Raja itu pun mengumpulkan rakyat untuk memilih siapa yang dapat menjadi raja. Di hadapan rakyatnya, raja berkata, “Siapakah di antara kalian yang sanggup berpuasa pada siang hari dan beribadah pada malam hari dan senantiasa bersabar. Kepada orang itulah aku akan menyerahkan kerajaan ini.”

Senin, 04 Juni 2012

Panduan Hidup Muslim : Riyadhah dan Kesenangan Nafsu

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS Al Hasyr : 18)
Ketahuilah wahai manusia, sesungguhnya nafsu selalu memerintahkan kejahatan (nafsu amarah) adalah lebih memusuhi kepadamu daripada Iblis. Syaithan bisa menjadi kuat menguasaimu hanya dengan pertolongan hawa nafsu dan kesenangan-kesenangannya. Untuk itu janganlah nafsumu menipumu dengan angan-angan kosong dan tipu daya, karena di antara ciri khas nafsu adalah merasa aman, lengah, santai, lambat, dan malas. Jadi semua ajakannya adalah bathil dan segala sesuatu yang timbul darinya adalah tipu daya belaka. Jika engkau puas dengannya dan mengikuti perintahnya, engkau tentu celaka, jika engkau lengah menelitinya engkau tentu tenggelam, dan jika engkau lemah untuk melawannya dan mengikuti saja kesenangannya, tentu dia akan membimbingmu ke neraka. Tidak ada bagi nafsu itu hal-hal yang dapat dikembalikan ke arah kebaikan. Dia adalah pangkal segala bencana dan sumber aib, dan dia tempat simpanan kekayaan Iblis serta tempat berlindung setiap kejahatan yang tidak akan mengetahui nafsu itu kecuali Allah SWT yang menciptakannya.

Sabtu, 10 Maret 2012

Sekilas Tentang James Petras

Siapa James Petras

Berikut ini adalah keterangan tentang Profesor James Petras. Beliau adalah pengarang buku Zionisme dan Keruntuhan Amerika yang di Indonesia diterbitkan oleh Zahra Publishing House.
 
James Petras adalah Profesor Bartle (Emeritus) sosiologi di Binghamton University, New York. Dia adalah penulis dari 64 buku yang diterbitkan dalam 29 bahasa, dan lebih dari 560 artikel dalam jurnal profesional, termasuk American Sociological Review, British Journal of Sosiologi, Penelitian Sosial, Jurnal Kontemporer Asia, dan Jurnal Studi Petani. Dia telah menerbitkan lebih dari 2000 artikel dalam jurnal non-profesional seperti the New York Times, the Guardian, the Nation, Christian Science Monitor, Foreign Policy, New Left Review, Partisan Review, TempsModerne, Le Monde Diplomatique, dan komentarnya yang banyak dilakukan pada internet.

Senin, 27 Februari 2012

Sabar dan Sakit

Panduan Hidup Muslim : Bab 2 - Sabar dan Sakit

Barangsiapa yang ingin selamat dari siksa Allah SWT dan memperoleh pahala dan rahmat-Nya serta masuk ke dalam surga-Nya, hendaklah ia mencegah nafsunya dari kesenangan-kesenangan dunia dan hendaklah ia bersabar atas penderitaan dan bencananya. Allah SWT telah berfirman :
"Allah menyukai orang-orang yang sabar." (QS Ali Imran : 146)


Minggu, 26 Februari 2012

Tujuh Tanda Mukmin Sejati

Panduan Hidup Muslim : Bab 1 - Takut Kepada Allah

Tujuh Tanda Mukmin Sejati


Orang Mukmin sejati adalah orang yang takut kepada Allah SWT dengan semua anggota tubuhnya. Seperti apa yang telah dikatakan oleh Abul-Laits, "Takut kepada Allah SWT akan terlihat tanda-tandanya dalam tujuh macam hal yaitu sebagai beikut :


Kamis, 16 September 2010

Sejarah Singkat Imam Muslim

Berikut ini adalah sejarah singkat Imam Muslim. Hadits yang diriwayatkan oleh dua orang syaikh yaitu Bukhari dan Muslim (murid Bukhari) mempunyai derajat hadits sangat tinggi. Kisah ini saya ambil dari Hadits Web 3.0 Semoga kisah ini bisa memberi inspirasi kita dan memberi semangat untuk mengikuti jejak mereka, para ahlu sunnah. Berikut cerita ini dituturkan :


Imam Muslim dilahirkan di Naisabur pada tahun 202 H atau 817 M. Imam Muslim bernama lengkap Imam Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al Qusyairi an Naisaburi. Naisabur, yang sekarang ini termasuk wilayah Rusia, dalam sejarah Islam kala itu termasuk dalam sebutan Maa Wara'a an Nahr, artinya daerah-daerah yang terletak di sekitar Sungai Jihun di Uzbekistan, Asia Tengah. Pada masa Dinasti Samanid, Naisabur menjadi pusat pemerintahan dan perdagangan selama lebih kurang 150 tahun. Seperti halnya Baghdad di abad pertengahan, Naisabur, juga Bukhara (kota kelahiran Imam Bukhari) sebagai salah satu kota ilmu dan pusat peradaban di kawasan Asia Tengah. Di sini pula bermukim banyak ulama besar.

Perhatian dan minat Imam Muslim terhadap ilmu hadits memang luar biasa. Sejak usia dini, beliau telah berkonsentrasi mempelajari hadits. Pada tahun 218 H, beliau mulai belajar hadits, ketika usianya kurang dari lima belas tahun. Beruntung, beliau dianugerahi kelebihan berupa ketajaman berfikir dan ingatan hafalan. Ketika berusia sepuluh tahun, Imam Muslim sering datang dan berguru pada seorang ahli hadits, yaitu Imam Ad Dakhili. Setahun kemudian, beliau mulai menghafal hadits Nabi SAW, dan mulai berani mengoreksi kesalahan dari gurunya yang salah menyebutkan periwayatan hadits.

Selain kepada Ad Dakhili, Imam Muslim pun tak segan-segan bertanya kepada banyak ulama di berbagai tempat dan negara. Berpetualang menjadi aktivitas rutin bagi dirinya untuk mencari silsilah dan urutan yang benar sebuah hadits. Beliau, misalnya pergi ke Hijaz, Irak, Syam, Mesir dan negara-negara lainnya. Dalam lawatannya itu, Imam Muslim banyak bertemu dan mengunjungi ulama-ulama kenamaan untuk berguru hadits kepada mereka. Di Khurasan, beliau berguru kepada Yahya bin Yahya dan Ishak bin Rahawaih; di Ray beliau berguru kepada Muhammad bin Mahran dan Abu 'Ansan. Di Irak beliau belajar hadits kepada Ahmad bin Hanbal dan Abdullah bin Maslamah; di Hijaz beliau belajar kepada Sa'id bin Mansur dan Abu Mas 'Abuzar; di Mesir beliau berguru kepada 'Amr bin Sawad dan Harmalah bin Yahya, dan ulama ahli hadits lainnya.

Bagi Imam Muslim, Baghdad memiliki arti tersendiri. Di kota inilah beliau berkali-kali berkunjung untuk belajar kepada ulama-ulama ahli hadits. Kunjungannya yang terakhir beliau lakukan pada tahun 259 H. Ketika Imam Bukhari datang ke Naisabur, Imam Muslim sering mendatanginya untuk bertukar pikiran sekaligus berguru padanya. Saat itu, Imam Bukhari yang memang lebih senior, lebih menguasai ilmu hadits ketimbang dirinya.

Ketika terjadi fitnah atau kesenjangan antara Bukhari dan Az Zihli, beliau bergabung kepada Bukhari. Sayang, hal ini kemudian menjadi sebab terputusnya hubungan dirinya dengan Imam Az Zihli. Yang lebih menyedihkan, hubungan tak baik itu merembet ke masalah ilmu, yakni dalam hal penghimpunan dan periwayatan hadits-hadits Nabi SAW.

Imam Muslim dalam kitab shahihnya maupun kitab-kitab lainnya tidak memasukkan hadits-hadits yang diterima dari Az Zihli, padahal beliau adalah gurunya. Hal serupa juga beliau lakukan terhadap Bukhari. Tampaknya bagi Imam Muslim tak ada pilihan lain kecuali tidak memasukkan ke dalam Kitab Shahihnya hadits-hadits yang diterima dari kedua gurunya itu. Kendatipun demikian, dirinya tetap mengakui mereka sebagai gurunya.

Imam Muslim yang dikenal sangat tawadhu' dan wara' dalam ilmu itu telah meriwayatkan puluhan ribu hadits. Menurut Muhammad Ajaj Al Khatib, guru besar hadits pada Universitas Damaskus, Syria, hadits yang tercantum dalam karya besar Imam Muslim, Shahih Muslim, berjumlah 3.030 hadits tanpa pengulangan. Bila dihitung dengan pengulangan, katanya, berjumlah sekitar 10.000 hadits. Sementara menurut Imam Al Khuli, ulama besar asal Mesir, hadits yang terdapat dalam karya Muslim tersebut berjumlah 4.000 hadits tanpa pengulangan, dan 7.275 dengan pengulangan. Jumlah hadits yang beliau tulis dalam Shahih Muslim itu diambil dan disaring dari sekitar 300.000 hadits yang beliau ketahui. Untuk menyaring hadits-hadits tersebut, Imam Muslim membutuhkan waktu 15 tahun.

Mengenai metode penyusunan hadits, Imam Muslim menerapkan prinsip-prinsip ilmu jarh, dan ta'dil, yakni suatu ilmu yang digunakan untuk menilai cacat tidaknya suatu hadits. Beliau juga menggunakan sighat at tahammul (metode-metode penerimaan riwayat), seperti haddasani (menyampaikan kepada saya), haddasana (menyampaikan kepada kami), akhbarana (mengabarkan kepada saya), akhabarana (mengabarkan kepada kami), dan qaalaa (ia berkata).

Imam Muslim menjadi orang kedua terbaik dalam masalah ilmu hadits (sanad, matan, kritik, dan seleksinya) setelah Imam Bukhari. "Di dunia ini orang yang benar-benar ahli di bidang hadits hanya empat orang; salah satu di antaranya adalah Imam Muslim," komentar ulama besar Abu Quraisy Al Hafizh. Maksud ungkapan itu tak lain adalah ahli-ahli hadits terkemuka yang hidup di masa Abu Quraisy.

Reputasinya mengikuti gurunya Imam Bukhari

Dalam khazanah ilmu-ilmu Islam, khususnya dalam bidang ilmu hadits, nama Imam Muslim begitu monumental, setara dengan gurunya, Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhary al-Ju’fy atau lebih dikenal dengan nama Imam Bukhari. Sejarah Islam sangat berhutang jasa kepadanya, karena prestasinya di bidang ilmu hadits, serta karya ilmiahnya yang luar biasa sebagai rujukan ajaran Islam, setelah al-Qur’an. Dua kitab hadits shahih karya Bukhari dan Muslim sangat berperan dalam standarisasi bagi akurasi akidah, syariah dan tasawwuf dalam dunia Islam.

Melalui karyanya yang sangat berharga, al-Musnad ash-Shahih, atau al-Jami’ ash-Shahih, selain menempati urutan kedua setelah Shahih Bukhari, kitab tersebut memenuhi khazanah pustaka dunia Islam, dan di Indonesia, khususnya di pesantren-pesantren menjadi kurikulum wajib bagi para santri dan mahasiswa.

Pengembaraan (rihlah) dalam pencarian hadits merupakan kekuatan tersendiri, dan amat penting bagi perkembangan intelektualnya. Dalam pengembaraan ini (tahun 220 H), Imam Muslim bertemu dengan guru-gurunya, dimana pertama kali bertemu dengan Qa’nabi dan yang lainnya, ketika menuju kota Makkah dalam rangka perjalanan haji. Perjalanan intelektual lebih serius, barangkali dilakukan tahun 230 H. Dari satu wilayah ke wilayah lainnya, misalnya menuju ke Irak, Syria, Hijaz dan Mesir.

Waktu yang cukup lama dihabiskan bersama gurunya al-Bukhari. Kepada guru besarnya ini, Imam Muslim menaruh hormat yang luar biasa. "Biarkan aku mencium kakimu, hai Imam Muhadditsin dan dokter hadits," pintanya, ketika di sebuah pertemuan antara Bukhari dan Muslim.

Disamping itu, Imam Muslim memang dikenal sebagai tokoh yang sangat ramah, sebagaimana al-Bukhari yang memiliki kehalusan budi bahasa, Imam Muslim juga memiliki reputasi, yang kemudian populer namanya sebagaimana disebut oleh Adz-Dzahabi dengan sebutan muhsin dari Naisabur.

Maslamah bin Qasim menegaskan, "Muslim adalah tsaqqat, agung derajatnya dan merupakan salah seorang pemuka (Imam)." Senada pula, ungkapan ahli hadits dan fuqaha’ besar, Imam An-Nawawi, "Para ulama sepakat atas kebesarannya, keimanan, ketinggian martabat, kecerdasan dan kepeloporannya dalam dunia hadits."

Kitab Shahih Muslim

Imam Muslim memiliki jumlah karya yang cukup penting dan banyak. Namun yang paling utama adalah karyanya, Shahih Muslim. Dibanding kitab-kitab hadits shahih lainnya, kitab Shahih Muslim memiliki karakteristik tersendiri, dimana Imam Muslim banyak memberikan perhatian pada ekstraksi yang resmi. Beliau bahkan tidak mencantumkan judul-judul setiap akhir dari satu pokok bahasan. Disamping itu, perhatiannya lebih diarahkan pada mutaba’at dan syawahid.

Walaupun dia memiliki nilai beda dalam metode penyusunan kitab hadits, Imam Muslim sekali-kali tidak bermaksud mengungkap fiqih hadits, namun mengemukakan ilmu-ilmu yang bersanad. Karena beliau meriwayatkan setiap hadits di tempat yang paling layak dengan menghimpun jalur-jalur sanadnya di tempat tersebut. Sementara al-Bukhari memotong-motong suatu hadits di beberapa tempat dan pada setiap tempat beliau sebutkan lagi sanadnya. Sebagai murid yang shalih, beliau sangat menghormati gurunya itu, sehingga beliau menghindari orang-orang yang berselisih pendapat dengan al-Bukhari.

Kitab Shahih Muslim memang dinilai kalangan muhaditsun berada setingkat di bawah al-Bukhari. Namun ada sejumlah ulama yang menilai bahwa kitab Imam Muslim lebih unggul ketimbang kitabnya al-Bukhari.

Sebenarnya kitab Shahih Muslim dipublikasikan untuk Abu Zur’ah, salah seorang kritikus hadits terbesar, yang biasanya memberikan sejumlah catatan mengenai cacatnya hadits. Lantas, Imam Muslim kemudian mengoreksi cacat tersebut dengan membuangnya tanpa argumentasi. Karena Imam Muslim tidak pernah mau membukukan hadits-hadits yang hanya berdasarkan kriteria pribadi semata, dan hanya meriwayatkan hadits yang diterima oleh kalangan ulama. Sehingga hadits-hadits Muslim terasa sangat populis.

Berdasarkan hitungan Muhammad Fuad Abdul Baqi, kitab Shahih Muslim memuat 3.033 hadits. Metode penghitungan ini tidak didasarkan pada sistem isnad sebagaimana dilakukan ahli hadits, namun beliau mendasarkannya pada subyek-subyek. Artinya jika didasarkan isnad, jumlahnya bisa berlipat ganda.

Antara al-Bukhari dan Muslim

Imam Muslim, sebagaimana dikatakan oleh Prof. Mustafa ‘Adzami dalam bukunya Studies in Hadith Methodology and Literature, mengambil keuntungan dari Shahih Bukhari, kemudian menyusun karyanya sendiri, yang tentu saja secara metodologis dipengaruhi karya al-Bukhari.

Antara al-Bukhari dan Muslim, dalam dunia hadits memiliki kesetaraan dalam keshahihan hadits, walaupun hadits al-Bukhari dinilai memiliki keunggulan setingkat. Namun, kedua kitab hadits tersebut mendapatkan gelar sebagai as-Shahihain.

Sebenarnya para ulama berbeda pendapat mana yang lebih unggul antara Shahih Muslim dengan Shahih Bukhari. Jumhur Muhadditsun berpendapat, Shahihul Bukhari lebih unggul, sedangkan sejumlah ulama Marokko dan yang lain lebih mengunggulkan Shahih Muslim. Hal ini menunjukkan, sebenarnya perbedaannya sangatlah sedikit, dan walaupun itu terjadi, hanyalah pada sistematika penulisannya saja, serta perbandingan antara tema dan isinya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar mengulas kelebihan Shahih Bukhari atas Shahih Muslim, antara lain, karena Al-Bukhari mensyaratkan kepastian bertemunya dua perawi yang secara struktural sebagai guru dan murid dalam hadits Mu’an’an; agar dapat dihukumi bahwa sanadnya bersambung. Sementara Muslim menganggap cukup dengan "kemungkinan" bertemunya kedua rawi tersebut dengan tidak adanya tadlis.

Al-Bukhari mentakhrij hadits yang diterima para perawi tsaqqat derajat utama dari segi hafalan dan keteguhannya. Walaupun juga mengeluarkan hadits dari rawi derajat berikutnya dengan sangat selektif. Sementara Muslim, lebih banyak pada rawi derajat kedua dibanding Bukhari. Disamping itu kritik yang ditujukan kepada perawi jalur Muslim lebih banyak dibanding kepada al-Bukhari.

Sementara pendapat yang berpihak pada keunggulan Shahih Muslim beralasan sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar , bahwa Muslim lebih berhati-hati dalam menyusun kata-kata dan redaksinya, karena menyusunnya di negeri sendiri dengan berbagai sumber di masa kehidupan guru-gurunya. Beliau juga tidak membuat kesimpulan dengan memberi judul bab sebagaimana Bukhari lakukan. Dan sejumlah alasan lainnya.

Namun prinsipnya, tidak semua hadits Bukhari lebih shahih ketimbang hadits Muslim dan sebaliknya. Hanya pada umumnya keshahihan hadits riwayat Bukhari itu lebih tinggi derajatnya daripada keshahihan hadits dalam Shahih Muslim.

Karya-karya Imam Muslim

Imam Muslim berhasil menghimpun karya-karyanya, antara lain seperti: 1) Al-Asma’ wal-Kuna, 2) Irfadus Syamiyyin, 3) Al-Arqaam, 4) Al-Intifa bi Juludis Siba’, 5) Auhamul Muhadditsin, 7)At-Tarikh, 8) At-Tamyiz, 9) Al-Jami’, 10) Hadits Amr bin Syu’aib, 11) Rijalul ‘Urwah, 12)Sawalatuh Ahmad bin Hanbal, 13) Thabaqat, 14) Al-I’lal, 15) Al-Mukhadhramin, 16) Al-Musnad al-Kabir, 17) Masyayikh ats-Tsawri, 18) Masyayikh Syu’bah, 19) Masyayikh Malik, 20) Al-Wuhdan, 21) As-Shahih al-Masnad.

Kitab-kitab nomor 6, 20, dan 21 telah dicetak, sementara nomor 1, 11, dan 13 masih dalam bentuk manuskrip. Sedangkan karyanya yang monumental adalah Shahih dari judul singkatnya, yang sebenarnya berjudul, Al-Musnad as-Shahih, al-Mukhtashar minas Sunan, bin-Naqli al-’Adl ‘anil ‘Adl ‘an Rasulillah.

Wafatnya Imam Muslim
Imam Muslim wafat pada Ahad sore, pada tanggal 24 Rajab 261 H. Semoga Allah SWT merahmatinya, mengampuni segala kesalahannya, serta menggolongkannya ke dalam golongan orang-orang yang sholeh. Amiin.

Sumber:

Posting by Mohammad Nurdin