Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label hamba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hamba. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Mei 2020

Nashaihul Ibad : Tujuh Mati Syahid

Berikut ini adalah tujuh mati syahid yang dikutip dari Kitab/Buku karya Imam Nawawi Al-Bantani yang berjudul “Nashaihul Ibad : Nasihat-nasihat untuk Para Hamba menjadi Santun dan Bijak” pada Bab 6 bagian 9 halaman 336.
Rasulullah SAW bersabda :
"Mati syahid selain orang yang mati di jalan Allah, juga ada tujuh golongan yang termasuk mati syahid, yaitu :
1. mati karena penyakit perut;
2. mati tenggelam;
3. mati karena terserang tumor ganas;
4. mati karena penyakit tha'un;
5. mati terbakar;
6. mati karena karena tertimbun reruntuhan; dan
7. mati karena melahirkan."

Nashaihul Ibad : Sepuluh Teman Iblis

Berikut ini adalah sepuluh teman Iblis yang dikutip dari Kitab/Buku karya Imam Nawawi Al-Bantani yang berjudul “Nashaihul Ibad : Nasihat-nasihat untuk Para Hamba menjadi Santun dan Bijak” pada Bab 8 bagian 28 halaman 460.
“Ibnu ‘Abbas ra berkata :
‘Pada suatu hari Rasulullah SAW bertanya kepada Iblis ‘alaihil la’nah : ‘Berapa temanmu dari kalangan umatku?’

Rabu, 13 November 2019

Terjemahan Kitab Nashaihul Ibad - Menjadi Santun dan Bijak : Bab 3

Dalam bab ini terdapat 37 nasihat; delapan diantaranya berupa Hadits, sedang sisanya atsar, yang masing-masing terdiri dari 4 point.

1. EMPAT NASIHAT BEKAL KE AKHIRAT
Rasulullah S.A.W pernah bersabda kepada Abu Dzar Al-Ghifari R.A:
"Wahai Abu Dzar,
1. Perbaharui perahumu, karena lautan itu sangat dalam;
2. Carilah perbekalan yang lengkap, karena perjalanan itu sangat jauh;
3. Kurangilah beban, karena rintangan itu amatlah sulit untuk diatasi; dan
4. Ikhlaslah dalam beramal, karena yang menilai baik dan buruk adalah Dzat Yang Maha Melihat."
Perbaharuilah perahumu maksudnya perbaikilah niatmu dalam setiap beramal agar engkau memperoleh pahala dan selamat dari siksa Allah.
Kurangilah beban maksudnya janganlah banyak-banyak engkau mengambil keduniaan.
Diserupakannya akhirat dengan lautan yang dalam, perjalanan yang jauh, dan rintangan yang amat sulit untuk diatasi, karena banyaknya kesulitan dan rintangan yang mesti dilewati untuk bisa sampai kepada kebahagiaan akhirat.
Abu Sulaiman Ad-Darani berkata: "Beruntunglah orang yang dalam hidupnya benar-benar hanya mengharapkan ridha Allah." Ucapan Ad-Darani ini mengacu pada sabda Nabi S.A.W yang ditujukan kepada Mu'adz R.A:
"Ikhlaskan niat, niscaya engkau akan menerima balasan amalmu meskipun amalmu itu sedikit."
Seorang penyair barkata:
Manusia wajib bertobat
namun meninggalkan dosa itu lebih wajib lagi
Sabar dalam menghadapi musibah itu sulit
namun hilangnya pahala sabar itu lebih sulit lagi
Perubahan zaman itu memang sesuatu yang aneh
namun kelalaian manusia lebih aneh lagi
Peristiwa yang akan datang terkadang terasa dekat
namun kematian itu lebih dekat lagi
Anas R.A meriwayatkan bahwa: "Pada suatu hari Rasulullah S.A.W keluar rumah. Sambil memegang tangan Abu Dzar beliau bersabda: "Wahai Abu Dzar, tahukah engkau bahwa di hadapan kita ada rintangan yang amat sulit untuk diatasi, yang tidak akan bisa melewatinya, kecuali orang yang ringan? Lantas ada seorang lelaki berkata: 'Ya Rasulullah, apakah engkau punya makanan untuk sehari?' Lelaki tadi menjawab: 'Punya!' Rasulullah S.A.W lalu bertanya: 'Apakah engkau punya makanan untuk besok?' Ia menjawab: 'Punya!' Beliau bertanya lagi: 'Apakah engkau punya makanan untuk lusa?' Ia menjawab: 'TIdak!' Beliau lantas bersabda: 'Apakah engkau memiliki makanan buat jatah sampai tiga hari, maka engkau termasuk orang-orang yang berat.'"

Terjemahan Kitab Nashaihul Ibad - Menjadi Santun dan Bijak : Bab 2

Dalam bab ini ada 55 nasehat yang masing-masing terdiri dari 3 point. Tujuh diantaranya berupa Hadist Nabi, sedang sisanya berupa atsar.

1. TIGA HAL YANG HARUS DIWASPADAI
Diriwayatkan dari Rasulullah S.A.W bahwa beliau pernah bersabda:
1. "Barang siapa di pagi hari mengeluhkan kesulitan hidupnya (kepada orang lain), berarti seakan-akan dia mengeluhkan Rabbnya.
2. Barang siapa di pagi hari bersedih karena urusan duniawinya, berarti sungguh di pagi itu dia tidak puas dengan ketetapan Allah.
3. Barang siapa menghormati sesorang karena kekayaannya, sesugguhnya telah lenyaplah duapertiga agamanya."
Melakukan syikayah (pengaduan) atas nasib buruk yang dialami seseorang kepada orang lain termasuk pertanda tidak ridha atas bagian yang telah diberikan oleh Allah.
Kita tidak boleh melakukan syikayah, kecuali kepada Allah, sebab syikayah kepada Allah termasuk bentuk do'a. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam riwat dari 'Abdullah bin Mas'ud R.A bahwa Rasulullah S.A.W bersabda:
"Maukah aku ajarkan kepada kalian beberapa kalimat yang diucapkan oleh Nabi Musa ketika menyeberangi laut bersama Bani Israil? Kami (para sahabat) menjawab: "Tentu saja mau, ya Rasulullah." Beliau bersabda: "Bacalah: 'Alloohumma lakal hamdu wa alaika musytakaa, wa anta musta'aan, wa laa lahula wa laa quwwata illaa billahil 'Aliyyil 'azhiim." (ya Allah, segala puji hanya bagi-Mu; hanya kepada-Mulah kami mengadu; dan hanya kepada-Mulah kami memohon pertolongan. Tiada daya (untuk menjauhi maksiat) dan tiada kekuatan (untuk taat), kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung.)
Al-A'masy berkata: "Sejak aku mendengar do'a tersebut dari saudara kandungku, Al-Asady Al-Kufy yang menerima do'a tersebut dari 'Abdullah R.A, maka aku tidak pernah meninggalkannya."
Al-A'masy juga berkata: "Aku pernah bermimpi didatangi seseorang. Dia berkata: 'Wahai Sulaiman, tambahkanlah pada do'a tersebut kalimat ini:
Dan kami memohon pertolongan kepada-Mu atas segala kesulitan yang ada pada kami dan kami memohon kepada-Mu untuk diberikan kebaikan dalam segala urusan kami."
Orang yang di pagi hari bersedih karena urusan duniawi dikatakan telah membenci Rabbnya, sebab hal ini mencerminkan bahwa dia tidak ridha dengan qadha' Allah, tidak bersabar atas cobaan-Nya dan tidak beriman dengan qadar-Nya, padaha semua yang terjadi di dunia ini adalah atas qadha' dan qadar Allah.
Seseorang dilarang memuliakan orang lain karena hartanya, sebab menurut syari'at, seseorang hanya boleh memuliakan orang lain karena keshalihan dan keilmuannya. Orang yang memuliakan harta di atas segala-galanya berarti telah menghinakan ilmu dan keshalihan.
Syekh 'Abdul Qadir Jailani qoddasalloohu sirrohu (semoga Allah mensucikan rahasianya) dalam pesannya telah mengatakan: "Setiap mukmin tidak boleh lepas dari tiga hal berikut:
1. melaksanakan perintah Allah
2. menjauhi larangan Allah dan
3. menerima qadha' dan qadar."

Terjemahan Kitab Nashaihul Ibad - Menjadi Santun dan Bijak : Bab 1

1. DUA HAL YANG SANGAT UTAMA
Nabi S.A.W bersabda:
"Ada dua perkara yang tidak bisa diungguli keutamaannya oleh yang lain, yaitu:
1. Iman kepada Allah dan
2. Memberi manfaat kepada sesama muslim."
Memberi manfaat kepada sesama muslim bisa dengan ucapan, kekuasaan, harta benda, maupun tenaga.
Dalam Hadist lain Rasulullah S.A.W bersabda:
"Barang siapa berada pada pagi hari tanpa bermaksud menzalimi seorang pun, maka dosa-dosanya diampuni. Barang siapa berada pada pagi hari dan berniat menolong orang yang teraniaya serta memenuhi keperluan orang Islam, maka ia mendapatkan pahala seperti pahala haji mabrur."
"Manusia yang paling dicintai Allah adalah manusia yang paling bermanfaat bagi orang lain. Amal yang paling utama adalah menyenangkan hati orang mukmin dengan cara menghilangkan kelaparan dan kesusahan atau melunasi hutangnya. Ada dua perkara yang sangat kotor dan keji, yaitu: menyekutukan Allah dan menimbulkan kemadharatan bagi kaum muslim."

Kamis, 19 November 2015

Nashaihul Ibad : Empat Faktor Keselamatan

Empat Faktor Keselamatan

Rasulullah saw bersabda :

1. "Bintang-bintang itu adalah faktor keselamatan bagi penghuni langit. Apabila bintang-bintang itu berjatuhan, maka penghuni langit akan tertimpa bencana.
2. Ahli baitku adalah faktor keselamatan bagi umatku. Apabila ahli baitku lenyap, maka umatku akan tertimpa bencana.
3. Aku adalah faktor keselamatan bagi para shahabatku. Apabila aku mati, maka para shahabatku akan tertimpa bencana.
4. Gunung-gunung itu adalah faktor keselamatan bagi penduduk bumi. Jika gunung-gunung itu lenyap, maka penduduk bumi akan tertimpa bencana."


Nashaihul Ibad : Empat Perkara Jelek Dan Yang Lebih jelek

Empat Perkara Jelek Dan Yang Lebih jelek

Sebagian ahli bijak mengatakan : "Ada empat perkara jelek, namun masih ada empat perkara lain yang lebih jelek lagi, yaitu :
1. Perbuatan dosa yang dilakukan oleh kaum muda itu jelek, namun yang lebih jelek lagi adalah perbuatan dosa yang dilakukan oleh kakek-kakek.
2. Sibuk dengan segala macam urusan duniawi bagi orang yang bodoh itu jelek, namun yang lebih jelek lagi bila yang menyibukkan diri dengan urusan duniawi itu orang 'Alim.
3. Malas beribadah bagi orang awam adalah jelek, namun yang lebih jelek lagi bila malas beribadah itu dilakukan kalangan ulama dan santrinya.
4. Berlaku sombong bagi orang kaya adalah jelek, namun yang lebih jelek lagi adalah berlaku sombongnya orang fakir."
Rasulullah saw bersabda :
"Barang siapa yang bertambah ilmunya namun tidak bertambah kezuhudannya terhadap dunia maka ia tidak bertambah dari Allah, kecuali tambah jauh." (HR. dailami)

Nashaihul Ibad : Empat Perkara Baik Dan Yang Lebih Baik

Empat Perkara Baik Dan Yang Lebih Baik

Sebagian ahli bijak berkata : "Ada empat perkara yang nilainya baik, namun ada empat perkara lain yang nilainya jauh lebih baik lagi, yaitu :
1. Adanya rasa malu pada kaum lelaki adalah baik, namun yang lebih baik lagi bila rasa malu itu ada pada kaum wanita.
2. Adil pada setiap orang itu baik, namun rasa keadilan yang dimiliki oleh pemerintah itu jauh lebih baik lagi.
3. Tobatnya kakek-kakek itu baik, namun yang lebih baik lagi adalah tobatnya kaum muda.
4. Bermurah hatinya kaum kaya itu baik, namun yang lebih baik lagi adalah bermurah hatinya kaum fakir miskin."


Jumat, 18 September 2015

Nashaihul Ibad : Empat Perkara Baik dan Yang Lebih Baik

Sebagian ahli bijak berkata : "Ada empat perkara yang nilainya  baik, namun ada empat perkara lain yang nilainya  jauh lebih baik, yaitu :
1. Adanya rasa malu pada kaum lelaki adalah baik, namun yang lebih baik lagi bila rasa malu itu ada pada kaum wanita.
2. Adil pada setiap orang itu baik, namun rasa keadilan yang dimiliki oleh pemerintah itu jauh lebih baik lagi.
3. Tobatnya kakek-kakek itu baik , namun yang lebih baik lagi  adalah tobatnya kaum muda.
4. Bermurah hatinya kaum kaya itu baik, namun yang lebih baik lagi adalah bermurah hatinya kaum fakir miskin."

Keterangan : Nama asli penulis adalah Muhammad Nawawi bin 'Umar Al-Jawi dan dikenal sebagai Muhammad Nawawi Al-Bantani
Syarh Al-Munabbihaat 'Alal Isti'daad Li Yaumil Ma'aad karya Ibnu Hajar Al-Asqalani

Sumber : Imam Nawawi Al-Bantani, Nashaihul Ibad : Nasihat-nasihat Untuk Para Hamba Menjadi Santun dan Bijak, Irsyad Baitus Salam, Bandung, 2005

Posting by Mohammad Nurdin

Jumat, 26 Juni 2015

Nashaihul Ibad : Empat Nasihat Bekal ke Akhirat

Rasulullah SAW pernah bersabda kepada Abu Dzar Al-Ghifari ra :
"Wahai Abu Dzar,
1. perbaruilah perahumu, karena lautan itu sangat dalam;
2. carilah perbekalan yang lengkap, karena perjalanan itu sangat jauh;
3. kurangilah beban, karena rintangan itu amatlah sulit untuk diatasi; dan
4. ikhlaslah dalam beramal, karena yang menilai baik dan buruk adalah Dzat Yang Maha Melihat."
Perbaharui perahumu maksudnya perbaiki niatmu dalam setiap beramal agar engkau memperoleh pahala dan selamat dari siksa Allah.
Kurangilah beban maksudnya janganlah banyak-banyak engkau mengambil keduniaan.
Diserupakan akhirat dengan lautan yang dalam, perjalanan yang jauh dan rintangan yang amal sulit untuk diatasi, karena banyaknya kesulitan dan rintangan yang mesti dilewati untuk bisa sampai kepada kebahagian akhirat.
Abu Sulaiman Ad-Darani berkata : "Beruntunglah orang yang dalam hidupnya benar-benar hanya mengharap ridha Allah." Ucapan Ad-Darani ini mengacu pada pada sabda Nabi saw yang ditujukan kepada Mu'adz ra, "Ikhlaskan niat, niscaya engkau akan menerima balasan amalmu meskipun amalmu cuma sedikit."

Keterangan : Nama asli penulis adalah Muhammad Nawawi bin 'Umar Al-Jawi dan dikenal sebagai Muhammad Nawawi Al-Bantani
Syarh Al-Munabbihaat 'Alal Isti'daad Li Yaumil Ma'aad karya Ibnu Hajar Al-Asqalani

Sumber : Imam Nawawi Al-Bantani, Nashaihul Ibad : Nasihat-nasihat Untuk Para Hamba Menjadi Santun dan Bijak, Irsyad Baitus Salam, Bandung, 2005



Posting by Mohammad Nurdin

Rabu, 24 Juni 2015

Nshaihul Ibad : Tiga Perkara Pencegah Tiga Perkara Lainnya

Malik bin Dinar ra berkata : "Cegahlah tiga perkara dengan tiga perkara yang lain, sehingga engkau benar-benar termasuk orang yang beriman, yaitu :
1. takabur dengan tawadhu';
2. rakus dengan qana'ah; dan
3. hasud dengan sikap santun."
Takabur adalah menganggap diri sendiri lebih mulia dibandingkan orang lain.
Tawadhu' artinya rendah hati.
Hasud adalah keinginan akan hilangnya nikmat yang ada pada orang lain dan berharap agar nikmat itu pindah pada dirinya. Dalam sebuah hadist yang mengancam sikap dengki disebutkan :
"Tidak dapat terhimpun dalam rongga seorang hamba antara iman dan dengki."
Yang dimaksud dengan iman ialah imna kepada taqdir. Sehubungan dengan pengertian yang sama, Muawiyah ra pernah mengatakan :
"Semua orang aku mampu memuaskannya, tetapi orang yang dengki kep[ada keberhasilanku, tidak pernah merasa puas sebelum kesuksesanku lenyap dariku."
Hal yang senada dikatakan pula oleh seorang penyair melalui bait-bait syair berikut :
Semua orang dapat kubeli hatinya
tetapi orang yang dengki kepadaku
amat merepotkanku dan sulit kubeli hatinya
Bagaimana seseorang
dapat membujuk orang yang dengki
melihat keberhasilaku
juka masih belum puas

kecuali lenyapnya keberhasilan itu.

Keterangan : Nama asli penulis adalah Muhammad Nawawi bin 'Umar Al-Jawi dan dikenal sebagai Muhammad Nawawi Al-Bantani
Syarh Al-Munabbihaat 'Alal Isti'daad Li Yaumil Ma'aad karya Ibnu Hajar Al-Asqalani

Sumber : Imam Nawawi Al-Bantani, Nashaihul Ibad : Nasihat-nasihat Untuk Para Hamba Menjadi Santun dan Bijak, Irsyad Baitus Salam, Bandung, 2005

Posting by Mohammad Nurdin

Nashaihul Ibad : Tiga Perumpamaan Ibadah

Ada yang mengatakan bahwa ibadah itu jika diumpamakan sebagai komoditi, maka :
1. tempat pemasarannya adalah berkhalwat (menyendiri);
2. modalnya adalah taqwa; dan
3. keutungannya adalah surga.

Keterangan : Nama asli penulis adalah Muhammad Nawawi bin 'Umar Al-Jawi dan dikenal sebagai Muhammad Nawawi Al-Bantani
Syarh Al-Munabbihaat 'Alal Isti'daad Li Yaumil Ma'aad karya Ibnu Hajar Al-Asqalani

Sumber : Imam Nawawi Al-Bantani, Nashaihul Ibad : Nasihat-nasihat Untuk Para Hamba Menjadi Santun dan Bijak, Irsyad Baitus Salam, Bandung, 2005

Posting by Mohammad Nurdin

Selasa, 23 Juni 2015

Nashaihul Ibad : Tiga Kunci

Abu Sulaiman ad-Darani berkata :
1. "Kunci kebaikan dunia-akhirat adalah takut kepada Allah;
2. kunci dunia adalah kenyang; dan
3. kunci akhirat adalah lapar."

Nashaihul Ibad : Tiga Ciri Lain Orang Berma'rifat

Dzun Nun Al-Mishry berkata : "Ciri lain orang yang berma'rifat kepada Allah adalah :
1. menepati seruan Allah:
2. hatinya bersih; dan
3. amalnya baik dan selalu bertambah."

Keterangan : Nama asli penulis adalah Muhammad Nawawi bin 'Umar Al-Jawi dan dikenal sebagai Muhammad Nawawi Al-Bantani
Syarh Al-Munabbihaat 'Alal Isti'daad Li Yaumil Ma'aad karya Ibnu Hajar Al-Asqalani

Sumber : Imam Nawawi Al-Bantani, Nashaihul Ibad : Nasihat-nasihat Untuk Para Hamba Menjadi Santun dan Bijak, Irsyad Baitus Salam, Bandung, 2005

Posting by Mohammad Nurdin

Nashaihul Ibad : Tiga Ciri Orang Berma'rifat Kepada Allah

Dzun Nun Al-Mishry berkata : "Ciri orang yang berma'rifat kepada Allah ta'ala adalah :
1. selalu mencintai Allah;
2. hatinya selalu melihat kebenaran; dan
3. banyak amal shalihnya."

Keterangan : Nama asli penulis adalah Muhammad Nawawi bin 'Umar Al-Jawi dan dikenal sebagai Muhammad Nawawi Al-Bantani
Syarh Al-Munabbihaat 'Alal Isti'daad Li Yaumil Ma'aad karya Ibnu Hajar Al-Asqalani

Sumber : Imam Nawawi Al-Bantani, Nashaihul Ibad : Nasihat-nasihat Untuk Para Hamba Menjadi Santun dan Bijak, Irsyad Baitus Salam, Bandung, 2005

Posting by Mohammad Nurdin

Senin, 22 Juni 2015

Nashaihul Ibad : Tiga Faktor Cinta dan Takut

Dzun Nun Al-Mishry berkata :
1. "setiap orang yang takut pasti akan menjauh.
2. Setiap orang yang mencintai sesuatu pasti akan memburunya.
3. Setiap orang yang amat dekat dengan Allah pasti akan asing dengan kebanyakan manusia.
Orang yang takut kepada siksa neraka pasti akan banyak beramal shalih supaya bisa menjauh darinya. Orang yang mencintai surga pasti akan banyak beramal shalih supaya bisa meraihnya.

Keterangan : Nama asli penulis adalah Muhammad Nawawi bin 'Umar Al-Jawi dan dikenal sebagai Muhammad Nawawi Al-Bantani
Syarh Al-Munabbihaat 'Alal Isti'daad Li Yaumil Ma'aad karya Ibnu Hajar Al-Asqalani

Sumber : Imam Nawawi Al-Bantani, Nashaihul Ibad : Nasihat-nasihat Untuk Para Hamba Menjadi Santun dan Bijak, Irsyad Baitus Salam, Bandung, 2005

Posting by Mohammad Nurdin

Nashaihul Ibad : Tiga Ma'rifat dan Buahnya

Sebagian ulama ahli bijak berkata :
1. "Barang siapa berma'rifat terhadap Allah, tentu tidak merasa nikmat bergaul dengan makhluk-Nya.
2. Barang siapa berma'rifat terhadap dunia, tentu tidak akan menyukainya.
3. Barang siapa berma'rifat terhadap keadilan Allah, tentu tidak akan terlibat dalam kasus sengketa."

Ma'rifat terhadap dunia maksudnya, memahami bahwa dunia pasti akan lenyap.ma'rifat terhadap keadilan Allah maksudnya benar-benar yakin akan adanya keadilan Allah. Oleh karena itu dia selalu mengalah, sehingga tidak pernah terlibat dalam sengketa.
Al-Hasan Al-Bashri ra telah mengatakan sehubungan dengan pengertian ini bahwa barang siapa mengenal Allah, pasti akan menyukai-Nya; dan barang siapa mengenal dunia, pasti akan membencinya.
Hal yang sama dikatakan oleh Asy-Syafi'i ra melalui bait-bait syair berikut :

Dunia itu
Tiada lain bangkai yang diubah bentuknya
Menjadi rebutan anjing-anjing yang siap melahapnya.
Jika engkau menjauhinya
Berarti engkau beroleh kedamaian dari ahlinya
Tetapi jika engkau ikut merebutnya,
Engkau harus bersaing dengan anjing-anjing lain

Yang mengejarnya

Keterangan : Nama asli penulis adalah Muhammad Nawawi bin 'Umar Al-Jawi dan dikenal sebagai Muhammad Nawawi Al-Bantani
Syarh Al-Munabbihaat 'Alal Isti'daad Li Yaumil Ma'aad karya Ibnu Hajar Al-Asqalani

Sumber : Imam Nawawi Al-Bantani, Nashaihul Ibad : Nasihat-nasihat Untuk Para Hamba Menjadi Santun dan Bijak, Irsyad Baitus Salam, Bandung, 2005

Posting by Mohammad Nurdin

Nashaihul Ibad : Tiga Catatan Dalam Taurat

Wahab bin Munabbih Al-Yamani ra berkata :
"Dalam Kitab Taurat tertulis :
1. Orang yang rakus adalah fakir, meskipun ia memiliki seluruh kekayaan dunia.
2. Orang yang taat kepada Allah akan ditaati manusia, meskipun ia seorang budak.
3. Orang yang qana'ah adalah kaya, sekalipun ia sering kelaparan."

Keterangan : Nama asli penulis adalah Muhammad Nawawi bin 'Umar Al-Jawi dan dikenal sebagai Muhammad Nawawi Al-Bantani
Syarh Al-Munabbihaat 'Alal Isti'daad Li Yaumil Ma'aad karya Ibnu Hajar Al-Asqalani

Sumber : Imam Nawawi Al-Bantani, Nashaihul Ibad : Nasihat-nasihat Untuk Para Hamba Menjadi Santun dan Bijak, Irsyad Baitus Salam, Bandung, 2005

Posting by Mohammad Nurdin

Minggu, 24 Mei 2015

Nashaihul Ibad : Tiga Bukti Cinta Sejati

Rasulullah saw pernah bersabda :
"Bukti cinta sejati itu ada tiga, yaitu :
1. memilih kalam kekasihnya (Al-Qur'an) daripada kalam lain-Nya (hasil produk manusia);
2. memilih bergaul dengan kekasih-Nya daripada bergaul dengan yang lain;
3. memilih keridhaan kekasih-Nya daripada keridhaan yang lain."

Keterangan : Nama asli penulis adalah Muhammad Nawawi bin 'Umar Al-Jawi dan dikenal sebagai Muhammad Nawawi Al-Bantani
Syarh Al-Munabbihaat 'Alal Isti'daad Li Yaumil Ma'aad karya Ibnu Hajar Al-Asqalani

Sumber : Imam Nawawi Al-Bantani, Nashaihul Ibad : Nasihat-nasihat Untuk Para Hamba Menjadi Santun dan Bijak, Irsyad Baitus Salam, Bandung, 2005

Posting by Mohammad Nurdin

Nashaihul Ibad : Tiga Tanda Cinta

Sufyan bin Uyainah ra berkata :

1. "Barang siapa mencintai Allah, maka ia pasti mencintai yang dicinatai Allah.
2. Barang siapa mencintai orang yang dicintai Allah, maka ia akan mencintai karena Allah semata.
3. Barang siapa mencintai sesuatu karena Allah, maka ia akan senang jika amalnya tidak diketahui orang lain."

Keterangan : Nama asli penulis adalah Muhammad Nawawi bin 'Umar Al-Jawi dan dikenal sebagai Muhammad Nawawi Al-Bantani
Syarh Al-Munabbihaat 'Alal Isti'daad Li Yaumil Ma'aad karya Ibnu Hajar Al-Asqalani

Sumber : Imam Nawawi Al-Bantani, Nashaihul Ibad : Nasihat-nasihat Untuk Para Hamba Menjadi Santun dan Bijak, Irsyad Baitus Salam, Bandung, 2005

Posting by Mohammad Nurdin