Cari Blog Ini

Rabu, 13 November 2019

Terjemahan Kitab Nashaihul Ibad - Menjadi Santun dan Bijak : Bab 3

Dalam bab ini terdapat 37 nasihat; delapan diantaranya berupa Hadits, sedang sisanya atsar, yang masing-masing terdiri dari 4 point.

1. EMPAT NASIHAT BEKAL KE AKHIRAT
Rasulullah S.A.W pernah bersabda kepada Abu Dzar Al-Ghifari R.A:
"Wahai Abu Dzar,
1. Perbaharui perahumu, karena lautan itu sangat dalam;
2. Carilah perbekalan yang lengkap, karena perjalanan itu sangat jauh;
3. Kurangilah beban, karena rintangan itu amatlah sulit untuk diatasi; dan
4. Ikhlaslah dalam beramal, karena yang menilai baik dan buruk adalah Dzat Yang Maha Melihat."
Perbaharuilah perahumu maksudnya perbaikilah niatmu dalam setiap beramal agar engkau memperoleh pahala dan selamat dari siksa Allah.
Kurangilah beban maksudnya janganlah banyak-banyak engkau mengambil keduniaan.
Diserupakannya akhirat dengan lautan yang dalam, perjalanan yang jauh, dan rintangan yang amat sulit untuk diatasi, karena banyaknya kesulitan dan rintangan yang mesti dilewati untuk bisa sampai kepada kebahagiaan akhirat.
Abu Sulaiman Ad-Darani berkata: "Beruntunglah orang yang dalam hidupnya benar-benar hanya mengharapkan ridha Allah." Ucapan Ad-Darani ini mengacu pada sabda Nabi S.A.W yang ditujukan kepada Mu'adz R.A:
"Ikhlaskan niat, niscaya engkau akan menerima balasan amalmu meskipun amalmu itu sedikit."
Seorang penyair barkata:
Manusia wajib bertobat
namun meninggalkan dosa itu lebih wajib lagi
Sabar dalam menghadapi musibah itu sulit
namun hilangnya pahala sabar itu lebih sulit lagi
Perubahan zaman itu memang sesuatu yang aneh
namun kelalaian manusia lebih aneh lagi
Peristiwa yang akan datang terkadang terasa dekat
namun kematian itu lebih dekat lagi
Anas R.A meriwayatkan bahwa: "Pada suatu hari Rasulullah S.A.W keluar rumah. Sambil memegang tangan Abu Dzar beliau bersabda: "Wahai Abu Dzar, tahukah engkau bahwa di hadapan kita ada rintangan yang amat sulit untuk diatasi, yang tidak akan bisa melewatinya, kecuali orang yang ringan? Lantas ada seorang lelaki berkata: 'Ya Rasulullah, apakah engkau punya makanan untuk sehari?' Lelaki tadi menjawab: 'Punya!' Rasulullah S.A.W lalu bertanya: 'Apakah engkau punya makanan untuk besok?' Ia menjawab: 'Punya!' Beliau bertanya lagi: 'Apakah engkau punya makanan untuk lusa?' Ia menjawab: 'TIdak!' Beliau lantas bersabda: 'Apakah engkau memiliki makanan buat jatah sampai tiga hari, maka engkau termasuk orang-orang yang berat.'"

2. EMPAT PERKARA BAIK DAN YANG LEBIH BAIK
Sebagian ahli bijak berkata: "Ada empat perkara yang nilainya baik, namun ada empat perkara lain yang nilainya jauh lebih baik lagi, yaitu:
1. Adanya rasa malu pada kaum lelaki adalah baik, namun yang lebih baik lagi bila rasa malu itu ada pada kaum wanita.
2. Adil pada setiap orang itu baik, namun rasa keadilan yang dimiliki oleh pemerintah itu jauh lebih baik lagi.
3. Tobatnya kakek-kakek itu baik, namun yang lebih baik lagi adalah tobatnya kaum muda.
4. Bermurah hatinya kaum kaya itu baik, namun yang lebih baik lagi adalah bermurah hatinya kaum fakir miskin."

3. EMPAT PERKARA JELEK DAN YANG LEBIH JELEK
Sebagian ahli bijak mengatakan: "Ada empat perkara jelek, namun masih ada empat perkara lain yang lebih jelek lagi, yaitu:
1. Perbuatan dosa yang dilakukan oleh kaum muda itu jelek, namun yang lebih jelek lagi adalah perbuatan dosa yang dilakukan oleh kakek-kakek.
2. Sibuk dengan segala macam urusan duniawi bagi orang yang bodoh itu jelek, namun yang lebih jelek bila yang menyibukkan diri dengan urusan duniawi itu orang 'Alim.
3. Malas beribadah itu bagi kaum awam itu jelek, namun yang lebih jelek lagi bila malas beribadah itu dilakukan kalangan ulama dan santrinya. 4. Berlaku sombong bagi orang kaya adalah jelek, namun yang lebih jelek lagi adalah berlaku sombongnya orang fakir."
Rasulullah S.A.W bersabda:
"Barang siapa yang bertambah ilmunya namun tidak bertambah kezuhudannya terhadap dunia, maka ia tidak bertambah dari Allah, kecuali tambah jauh."

4. EMPAT FAKTOR KESELAMATAN
Rasulullah S.A.W bersabda:
1. "Bintang-bintang itu adalah faktor keselamatan bagi penghuni langit. Apabila bintang-bintang itu berjatuhan, maka penghuni langit akan tertimpa bencana.
2. Ahli baitku adalah faktor keselamatan bagi umatku. Apabila ahli baitku lenyap, maka umatku akan tertimpa bencana.
3. Aku adalah faktor keselamatan bagi para sahabatku. Apa bila aku mati, maka para sahabatku akan tertimpa bencana.
4. Gunung-gunung itu adalah faktor keselamatan bagi penduduk bumi. Jika gunung-gunung itu lenyap, maka penduduk bumi akan tertimpa bencana."

5. EMPAT FAKTOR KESEMPURNAAN
Abu Bakar Ash-Shiddiq R.A berkata:
"Empat hal akan menjadi sempurna apabila didukung oleh empat hal yang lain, yaitu:
1. Kesempurnaan shalat adalah dengan dua kali sujud Sahwi bila ada bagian yang terlupakan darinya saat mengerjakannya.
2. Kesempurnaan puasa Ramadhan adalah dengan zakat fitrah.
3. Kesempurnaan ibadah haji adalah dengan membayar dam/fidyah.
4. Kesempurnaan iman adalah dengan jihad di jalan Allah."
Dalam masalah mengeluarkan zakat fitrah, Allah berfirman:
"Dan bagi mereka yang mampu (untuk membayar fidyah), maka hendaklah mereka membayarkannya dengan memberi makan kepada orang miskin." (QS. Al-Baqarah (2):184)
Memberi makan dalam ayat ini maksudnya memberikan zakat fitrah.
Dalam masalah membayar dam/fidyah bagi orang yang menunaikan ibadah haji, adalah jika memang ada sebab yang mewajibkannya atau mensuhakannya; atau tanpa ada sebab sebagai langkah kehati-hatian saja.

6. EMPAT KEUTAMAAN AMALAN SUNNAH
'Abdullah bin Mubarak berkata:
1. "Barang siapa yang setiap harinya melakukan shalat sunnah Rawatib 12 raka'at, maka ia benar-benar telah menunaikan telah menunaikan haknya shalat.
2. Barang siapa berpuasa sunnah setiap bulan tiga hari, maka ia benar-benar telah menunaikan haknya puasa.
3. Barang siapa membaca Al-Qur'an setiap hari 100 ayat, maka ia benar-benar telah menunaikan haknya membaca Al-Qur'an.
4. Barang siapa bershadaqah setiap hari Jum'ah sedirham, maka ia benar-benar telah menunaikan haknya shadaqah."
Yang dimaksud dengan shalat sunnah Rawatib 12 raka'at di sini perinciannya adalah sebagai berikut:
- 2 raka'at sebelum shalat Subuh;
- 2 raka'at sesusah shalat Zuhur;
- 2 raka'at sesudah shalat Zuhur;
- 4 raka'at sebelum shalat 'Ashar; dan
- 2 raka'at sesudah shalat Maghrib;
Mengenai shalat sunnah 4 raka'at sebelum 'Ashar, Nabi S.A.W pernah bersabda:
"Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada orang yang mengerjakan shalat sunnah 4 raka'at sebelum shalat 'Ashar."
Beliau S.A.W juga mengerjakan shalat sunnah 4 raka'at sebelum 'Ashar ini dengan 2 raka'at salam 2 raka'at salam.
Dalam riwayat Thabarani disebutkan:
"Barang siapa yang mengerjakan shalat sunnah 4 raka'at sebelum shalat 'Ashar, niscaya Allah mengharamkan tubuhnya untuk disentuh api neraka."
Mengenai shalat sunnah Rawatib yang 12 raka'at, Nabi S.A.W pernah bersabda:
"Tidaklah seorang hamba mengerjakat shalat (Rawatib) sebanyak 12 raka'at hanya karena Allah dalam setiap harinya, melainkan Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di surga." (HR. Muslim)
Beliau S.A.W juga mengerjakan shalat sunnah 4 raka'at sebelum 'Ashar ini dengan 2 raka'at salam 2 raka'at salam.
Dalam riwayat Thabarani disebutkan:
"Barang siapa yang mengerjakan shalat sunnah 4 raka'at sebelum shalat 'Ashar, niscaya Allah mengharamkan tubuhnya untuk disentuh api neraka."
Mengai shalat sunnah Rawatib yang 12 raka'at, Nabi S.A.W pernah bersabda:
"Tidaklah seorang hamba mengerjakan shalat (Rawatib) sebanyak 12 raka'at hanya karena Allah dalam setiap harinya, melainkan Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah disurga." (HR. Muslim)
Dalam riwayat Imam At-Tirmidzi disebutkan bahwa shalat sunnah yang 12 raka'at itu adalah sebagai berikut:
- 4 raka'at sebelum shalat Zhuhur;
- 2 raka'at sesudah shalat Zuhur;
- 2 raka'at sesudah shalat Maghrib;
- 2 raka'at sesudah shalat Isya'; dan
- 2 raka'at sebelum shalat Subuh.
Dalam riwayat Thabarani disebutkan:
"Barang siapa melakukan shalat sunnah sebanyak 4 raka'at sebelum shalat Zhuhur, maka seakan-akan ia melakukan shalat Tahajjud pada malam harinya sebanyak 4 raka'at. Barang siapa melakukan shalat 4 raka'at sesudah shalat 'Isya, maka seakan-akan ia melakukan shalat 4 raka'at pada malam Kadar."
Oleh karena itu, Ibnu Mas'ud R.A mengatakan: "Tidak ada shalat sunnah pada siang hari yang bisa mengimbangi (pahala) shalat Tahajjud, selain shalat sunnah 4 raka'at sebelum Zhuhur. Keutamaan shalat sunnah 4 raka'at sebelum Zhuhur dibandingkan shalat sunnah siang hari lainnya bagaikan shalat berjama'ah dengan shalat sendirian. Rasulullah S.A.W juga biasa mengerjakannya dengan memperlama ruku' dan sujud.
Beliau bersabda:
"Sesungguhnya saat sekarang ini adalah saat terbukanya pintu langit. Karenanya, aku merasa senang jika pada saat sekarang ini amal shalihku naik ( ke hadapan Allah)."
Adapun yang dimaksudkan dengan puasa tiga hari setiap bulan adalah puasa pada hari putih, yaitu tanggal 13, 14, dan 15 bulan Hijriyah, kcuali pada bulan dzulhijjah (karena tanggal 13 pada bulan tersebut termasuk hari Tasyrik -edt). Oleh karena itu, khusus untuk bulan Dzulhijjah hadi putihnya adalah tanggal 14, 15, dan 16. Hikmah disunnahkannya puasa tiga hari pada setiap bulan adalah karena satu kebagikan itu dilipatgandakan sebanyak sepuluh kali, sehingga jika seorang muslim berpuasa tiga hari pada setiap bulannya, maka seolah-olah ia telah berpuasa sebulan penuh pada setiap tahunnya. Demikianlah penjelasan dalam At-Tuhfah.
Membaca tujuh surah Munjiyat dalam setiap hari adalah hal yang utama. Adapun ketujuh surat Munjiyat itu adalah: Surat As-Sajjadah, Surat Yaa siin, Surat Fushshilat, Surat Ad-Dukha, Surat Al-Waki'ah, Surat Al-Hasyr, dan Surat Al-Mulk.
Di samping itu, dianjurkan juga pada waktu pagi dan sore hari untuk membaca ayat dan surat berikut sebanyak tiga kali:
1. Beberapa ayat dari permulaan surat Al-Hadid;
2. Beberapa ayat terakhir dari surat Al-Hasyr;
3. Surat Ikhlas; dan
4. Surat Al-Mu'awwidzatain, yaitu surat Al-Falak dan surat An-Naah.

7. EMPAT JENIS LAUTAN
'Umar R.A mengatakan:
"Lautan itu ada empat macam, yaitu:
1. Lautan dosa, yaitu kecenderungan nafsu kepada keinginan yang tidak sesuai dengan aturan syara';
2. Lautan syahwat, yaitu dorongan untuk mencari kenikmatan jasmaniah;
3. Lautan umur, yaitu kematian; dan
4. Lautan penyesalan, yaitu alam kubur."

8. EMPAT KENIKMATAN BERIBADAH
'Utsman R.A pernah berkata:
"Aku menemukan kenikmatan beribadah dalam Empat hal, yaitu:
1. Ketika mampu menunaikan kewajiban-kewajiban dari Allah;
2. Ketika mampu menjauhi segala sesuatu yang diharamkan Allah;
3. Ketika mampu melakukan 'amal ma'ruf dan mencari pahala dari Allah; dan
4. Ketika mampu melakukan nahi mungkar dan menjaga diri dari murka Allah."

9. EMPAT KEUTAMAAN DAN KEWAJIBAN
"Ada empat perkara yang zhahirnya merupakan keutamaan, sedangkan batinnya merupakan kewajiban, yaitu:
1. Bergaul dengan orang shalih merupakan keutamaan, sedagkan mengikuti jejak langkah mereka adalah suatu kewajiban.
2. Membaca Al-Kur'an adalah keutamaan, sedangkan mengamalkan kandungan Al-Kur'an adalah suatu kewajiban.
3. Ziarah kubur (ke makam orang shalih) itu merupakan suatu keutamaan, sedangkan menyiapkan bekal untuk kehidupan sesudah mati adalah suatu kewajiban.
4. Menengok orang sakit itu adalah suatu keutamaan, sedangkan menyiapkan bekal untuk kehidupan sesudah mati adalah suatu kewajiban.
Berkaitan dengan wasiat di akhir hayat, Rasulullah S.A.W bersabda:
"Orang yang terhalang (untuk mendapatkan pahala) adalah orang yang tidak berwasiat." (HR. Ibnu Majah, dari Anas)
"Barang siapa yang menginggal dunia dalam keadaan sempat berwasiat (kebaikan), berarti dia meninggal di atas jalan yang benar, dalam keadaan menepati Sunnah, dalam keadaan bertakwa, mati syahid, dan mati dalam keadaan diampuni dosa-dosanya."

10. EMPAT FAKTOR DAN BUAHNYA
'Ali R.A pernah berkata:
1. "Barang siapa merindukan surga, maka ia akan bersegera dalam melaksanakan kebaikan.
2. Barang siapa takut siksa neraka, maka ia akan berhenti dari mengikuti hawa nafsunya.
3. Barang siapa meyakini datangnya kematian, maka ia tidak akan terlena dengan kesenangan duniawi.
4. Barrang siapa mengetahui bahwa dunia adalah negeri cobaan, maka semua musibah yang menimpanya akan terasa angin."

11. EMPAT KEUTAMAAN DIAM
Rasulullah S.A.W bersabda:
1. "Shalat adalah tiang agama, tetapi diam itu lebih utama
2. Shadakah dapat memadamkan murka Rabb, tetapi diam itu lebih utama.
3. Puasa adalah perisai dari siksa neraka, tetapi diam itu lebih utama.
4. Jihad itu puncaknya agama, tetapi diam itu lebih utama."
Nabi S.A.W juga pernah bersabda:
"Diam adalah bentuk ibadah yang paling tinggi." (HR. Dailami, dari Abu Hurairah)
Maksud diam disini adalah diam dari sesuatu yang tidak bermanfaat, baik dalam urusan agama maupun dunia, dan diam dari membalah omongan orang yang mencemooh kita. Nah, diam yang seperti ini termasuk ibadah yang paling tinggi, sebab kebanyakan kesalahan itu timbul dari lisan. Adapun jika seseorang diam karena dia sendiri tanpa ada orang lain yang memotivasnya untuk diam, maka diamnya bukan ibadah.
Rasulullah S.A.W juga perah bersabda:
"Diam itu adalah perhiasan bagi orang 'Alim dan selimut bagi orang bodoh." (HR. Abu Syaikh, dari Muharriz)
"Diam adalah akhlak yang paling utama." (HR. Dailami, dari Anas)
"Diam itu mengandung hikmah yang banyak, tetapi sedikit orang yang lelakukannya." (HR. Kadha'i, dari Anas dan Dailami, dari Ibnu 'Umar)
Oleh karena itu, ada syair yang mengatakan:
Wahai orang yang banyak bicara tanpa guna, kekanglah mulutmu
Sungguh kamu terlalu banyak bicara ke sana dan ke mari
Sungguh kamu telah banyak berperan dalam keburukan
Mulai sekarang diamlah jika kamu ingin menjadi baik
Rasulullah S.A.W juga pernah bersabda:
"Jihad yang paling utama adalah memerangi hawa nafsu karena Allah."

12. EMPAT WAHYU KEPADA NABI BANI ISRAIL
Diriwayatkan bahwa Allah telah memberikan wahyu kepada seorang Nabi dari Bani Israil sebagai berikut:
1. "Kamu diam dari banyak omong kosong karena Aku, sama halnya dengan puasa.
2. Kamu hindarkan anggota badanmu dari hal-hal yang diharamkan demi Aku, sama pahalanya dengan dirimu mengerjakan shalat.
3. Kamu hindarkan dirimu dari ketamakan terhadap kepunyaan orang lain demi Aku, pahalanya sama dengan bershadakah.
4. Kamu cegah dirimu dari mengganggu orang muslim karena Aku, sama pahalanya dengan jihad."

13. EMPAT PENYEBAB GELAP DAN TERANGNYA HATI
'Abdullah bin Mas'ud R.A pernah berkata:
"empat hal yang termasuk penyebab gelapnya hati, yaitu:
1. perut yang terlalu kenyang;
2. berteman dengan orang-orang zhalim
3. melupakan dosa yang pernah dilakukan; dan
4. panjang angan-angan.
empat hal yang termasuk penyebab terangnya hati, yaitu:
1. perut lapar karena tindakan hati-hati
2. berteman dengan orang-orang shalih
3. mengingat dosa yang pernah dilakukan; dan
5. tidak panjang angan-angan."
Panjang angan-agan adalah memikirkan dan menanti-nanti yang sulit untuk diraih. Berkaitan dengan panjang angan-angan ini, Rasulullah S.A.W pernah bersabda:
"Sesungguhnya sesuatu yang sangat aku khawatirkan atas kalian ada dua, yaitu: mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Mengikuti hawa nafsu berarti menjauhi kebenaran, sedangkan panjang angan-angan mencerminkan cinta dunia." (HR. Ibnu Abid Dun-ya)
Perut lapar termasuk faktor penerang hati, sebab hal itu dapat mendorong seseorang untuk bersikap waspada dan hati-hati. Mengingat dosa yang pernah dilakukan juga termasuk faktor penerang hati. Mengingat dosa yang pernah dilakukan juga termasuk faktor penerangan hati, sebab hal itu dapat menimbulkan penyesalan atas dosa tersebut.
Abu Thayyib berkata: "Barang siapa yang bergaul dengan delapan golongan, maka Allah akan menambah delapan hal kepadanya, yaitu:
1. Barang siapa bergaul dengan orang kaya, maka Allah akan menambah rasa cintanya kepada keduniaan.
2. Barang siapa bergaul dengan orang fakir, maka Allah akan menambah rasa syukur da ridha terhadap rizki dari Allah.
3. Barang siapa bergaul dengan penguasa/pejabat, maka ia akan bertambah keras hatinya dan takabbur.
4. Barang siapa suka bergaul dengan wanita, maka akan bertambah kebodohan dan syahwatnya.
5. Barang siapa suka bergaul dengan anak-anak, maka ia akan senang bermain.
6. Barang siapa bergaul dengan orang fasik, maka akan bertambah kecenderungannya untuk melakukan kemaksiatan dan menunda-nunda tobat.
7. Barang siapa bergaul dengan orang-orang shalih, maka akan bertambah rasa cintanya dalam menaati Allah.
8. Barang siapa bergaul dengan ulama, maka ia akan bertambah ilmu dan amalnya."

14. EMPAT PENGAKUAN DOSA
Hatim Al-Asham pernah berkata: "Barang siapa mengakui empat hal tanpa ada empat hal yang lain, maka pengakuannya itu adalah dusta, yaitu:
1. Barang siapa mengaku cinta kepada Allah, sementara ia tidak berhenti dari melakukan kemaksiatan dan hal-hal yang diharamkan Allah, maka pengakuannya itu dusta.
2. Barang siapa mengaku cinta kepada Rasulullah S.A.W namun benci kaum fakir, maka pengakuannya itu dusta.
3. Barang siapa mengaku cinta kepada surga, sementara ia tidak mau bershadakah, maka pengakuannya itu dusta.
4. Barang siapa mengaku takut akan siksa neraka, sementara ia tidak berhenti dari berbuat dosa, maka pengakuannya itu dusta."
Sebagian ulama ada yang mengungkapkan syair sebagai berikut:
Bila engkau jadi pendekar, jadilah seperti 'Ali
Bila engkau jadi penyair, jadilah seperti Ibnu Hani
Seperti orang yang mengakui sesuatu yang tidak ada pada dirinya
maka kenyataan akan membuktikan kebohongannya
Rasulullah S.A.W bersabda:
"Jalan menuju ke neraka itu diliputi dengan hal-hal yang disenangi hawa nafsu, sedangkan jalan menuju ke surga diliputi dengan hal-hal yang dibenci hawa nafsu." (HR. Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah)
Dengan kata lain, surga tidak dapat diraih kecuali dengan menempuh berbagai kesulitan dan neraka tidak dapat dimasuki kecuali dengan menuruti kemauan hawa nafsu. Siapa pun yang dapat menerobos penghalang salah satu dari keduanya pasti akan memasukinya.

15. EMPAT ALAMAT CELAKA DAN BAHAGIA
Rasulullulah S.A.W pernah bersabda:
"Tanda orang celaka itu ada empat, yaitu:
1. melupakan dosa-dosa masa lalu, padahal semuanya tercatat dengan rapidan detail di sisi-Nya;
2. selalu mengenang kebaikan masa lalu, padahal belum diketahui diterima Allah atau tidak;
3. dalam soal duniawi selalu memandang ke yang lebih atas; dan
4. dalam soal agama selalu memandang ke yang lebih rendah (ibadah dan ketaatannya kepada Allah)."
Allah berfirman:
'Aku menghendaki dia (dengan memberikan sedikit deduniaan kepadanya dan menolongnya untuk melakukan ketaatan), tetapi ia tidak menghendaki Aku (dengan bersikap ridha dan bersyukur), maka Aku tinggalkan dia.'
Tanda orang bahagia juga ada empat, yaitu:
1. mengingat dosa yang telah lalu;
2. melupakan kebaikan yang pernah ia lakukan;
3. dalam urusan agama senang melihat kepada orang yang lebih tinggi (dalam beribadah dan ketaatannya kepada Allah); dan
4. dalam urusan dunia senang melihat orang yang lebih rendah (sehingga mendorongnya untuk lebih mensyukuri nikmat-Nya)."

16. EMPAT TANDA KEIMANAN
Sebagian ahli bijak mengatakan: "Tanda-tanda keimanan kepada Allah itu ada empat, yaitu:
1. taqwa;
2. haya' (punya rasa malu);
3. selalu bersyukur; dan
4. sabar."
Taqwa adalah melaksanakan ketaatan kepada Allah dan menjauhkan diri dari segala macam bentuk kemaksiatan. Ada juga yang mendefinisikan bahwa takwa adalah memelihara semua aturan Islam. Ada lagi yang mendefinisikan bahwa taqwa adalah mengikuti jejak langkah Rasulullah S.A.W, baik dalam ucapan maupun perbuatan.
Haya’ (rasa malu) itu ada dua macam, yaitu:
1. Malu naluri (haya’ nafsaniy), yaitu rasa malu yang dikaruniakan Allah kepada setiap diri manusia, seperti rasa malu kelihatan auratnya atau malu bersenggama di depan orang lain;
2.  Malu imani (haya’ imaniy), yaitu rasa malu yang bias mencegah seseorang dari melakukan perbuatan maksiat kepada takut kepada Allah ta’ala.
Syukur adalah memuji Allah yang selalu memberi kebaikan dengan menyebut-nyebut kebaikan-Nya.
Di antara bentuk sabar adalah tabah dan tidak mengeluh kepada selain Allah ketika mendapat musibah.
Berkaitan dengan pembahasan point ini, sudah seyogyanya bagi kita untuk berdo’a dengan do’a yang pernah dibaca olah Tamim Ad-Dari bin Habib, yaitu do’a yang diajarkan oleh Nabi Khaidir A.S kepadanya sekembalinya Tamim dari suatu tempat akibat dibawa oleh jin. Lafazh do’anya sebagai berikut:
“Ya Allah, jadikanlah kami merasa puas dengan rizki yang Engkau berikan kepada kami; peliharalah kami dari apa yang telah Engkau larang; janganlah Engkau menjadikan kami orang yang membutuhkan pertolongan kepada orang yang telah Engkau jadikan dia tidak membutuhkan kami lagi; kumpulkan kemi kedalam golongan umat Muhammad S.A.W; dan berilah kami minum dari telaganya; jauhkan kami dari perbuatan maksiat; wafatkan kami dalam ketaqwaan; berilah kami ilham untuk senantiasa berdzikir kepada-Mu; jadikanlah kami termasuk ahli waris surga yang penuh kenikmatan; dan bahagiakanlah kami dan janganlah Engkau sengsarakan kami, wahai Tuhan Yang mempunyai Keagungan dan kemuliaan.”
Rasulullah S.A.W pernah bersabda:
“Puncak keimanan itu ada empat, yaitu sabar terhadap hukum, ridha terhadap qadar, ikhlas dalam bertawakal dan berserah diri kepada Allah.” (HR. Abu Nu’aim)

17. EMPAT MACAM PANGKAL
Rasulullah S.A.W bersabda:
“Macam-macam pangkal itu ada empat, yaitu:
1.    Pangkal obat;
2.    Pangkal adab;
3.    Pangkal ibadah; dan
4.    Pagkal harapan,
Pangkal obat adalah sedikit makan, Pangkal adab adalah sedikit bicara. Pangkal ibadah adalah sedikit berbuat dosa. Pangkal harapan adalah sabar.”
Pangkal obat adalah sedikit makan, sebab menjaga diri dari memakan sesuatu yang bisa menimbulkan bahaya atau penyakit lebih baik daripada obat untuk segala macam penyakit.
Pangkal adab adalah sedikit bicara, sebab banyak bicara dapat mengurangi adab.
Pangkal ibadah adalah sedikit berbuat dosa, sebab banyak berbuat dosa akan menghilangkan pahala ibadah.
Berkaitan dengan pangkal harapan adalah sabar, ada yang mengatakan: “Dengan kesabaran engkau akan meraih apa yang engkau cita-citakan. Dengan taqwa besi pun akan lunak.”

18. EMPAT PERMATA
Rasulullah S.A.W bersabda:
“Ada empat permata pada diri anak Adam yang dapat dihilagkan dengan empat perkara lainnya. Keempat permata tersebut adalah:
1.    Akal,
2.    Agama,
3.    Haya’/rasa malu; dan
4.    Amal shalih.
Kemarahan dapat menghilangkan akal (sehat), Hasud (dengki) dapat menghilangkan agama. Tamak dapat menghilangkan haya’ (rasa malu), Ghibah (mengumpat) dapat menghilangkah amal shalih.”
Akal adalah permata rohani ciptaan Allah yang diletakkan pada diri manusia, sehingga manusia bisa mengetahui perkara yang haq dan yang bathil.
Agama adalah aturan Allah yang mengajak orang berakal sehat untuk menerima segala yang dibawa oleh Rasul.
Hasud adalah mengharapkan lenyapnya kenikmatan yang ada pada orang lain.
Berkaitan dengan perihal marah, Rasulullah S.A.W bersabda:
“Wahai Mu’awiyah, jauhilah olehmu marah, karena marah dapat merusak iman sebagaimana pahitnya shabr (bratawali) merusak manisnya madu.” (HR. Baihaqi)
Berkaitan dengan perihal hasud, Rasulullah S.A.W bersabda;
“Jauhilah kalian hasud, karena hasud dapat menghapus (pahala) kebaikan sebagaimana api membakar kayu.” (HR. Abu Dawud)
Sebuah syair mengatakan:
Katakanlah kepada orang yang senantiasa dengki kepadaku:
“Tahukah kamu, kepada siapakah kamu tidak sopan?
Kamu tidak sopan kepada Allah dengan takdir-Nya
Jika kamu iri dengan nikmat yang telah diberikan-Nya kepadaku
Karena itu, Tuhanku selalu mengabulkan permintaanku
Sedang pintu permintaan bagimu semuanya tertutup.”
Ghibah adalah menyebut-nyebut kejelekkan orang lain dibelakangnya dan kejelekan itu memang betul adanya. Apabila kejelekkan yang disebut-sebutkan itu tidak ada padanya, maka itu berarti tuduhan dusta. Jika menyebut-nyebut kejelekkan orang lain itu dilakukan dihadapannya, itu disebut memaki.

19. EMPAT HAL YANG LEBIH BAIK DARIPADA SURGA
Rasulullah S.A.W bersabda:
“Di surga ada empat hal yang lebih baik daripada surga itu sendiri:
1.    Kekal di surga lebih baik daripada surga;
2.    Pelayanan malaikat di surga lebih baik daripada surga;
3.    Bertetangga dengan para nabi di surga lebih baik daripada surga; dan
4.    Keridhaan Allah di surga lebih baik daripada surga
Begitu pula halnya di neraka ada empat hal yang lebih jelek daripada neraka itu sendiri, yaitu:
1.  Kekal di neraka lebih jelek daripada neraka;
2.  Cemoohan dari para malaikat juru siksa terhadap orang kafir di neraka lebih jelek daripada neraka;
3.  Bertetangga dengan setan di neraka lebih jelek daripada neraka; dan
4.  Murka Allah di dalam neraka lebih jelek daripada neraka.”
Penghuni surga akan dilayani oleh para malaikat. Oleh sebab itu, dikatakan adanya pelayanan malaikat terhadap penghuni surga dan hal ini menunjukkan bahwa ahli surga itu lebih mulia derajatnya daripada malaikat.

dikutip dari :
http://technologi-support.blogspot.com/2013/11/terjemahan-kitab-nashaihul-ibad-menjadi.html


Posting by Mohammad Nurdin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar