Cari Blog Ini

Senin, 23 Agustus 2010

Mahkota Cinta


Novel Mahkota Cinta

Karya : Habiburrahman El Shirazy

Berikut ini adalah prolog pembuka cerita Novel Mahkota Cinta. Latar belakang tempat kejadian adalah di Negeri Jiran Malaysia dengan liku-liku hidup para ekspatriat asal Indonesia, atau yang dikenal sebagai TKI (Tenaga Keja Indonesia) dan TKI (Tenaga Kerja Wanita). Tokoh cerita dalam novel ini adalah seorang pemuda bernama Ahmad Zul yang mencoba peruntungan di Malaysia dengan Siti Martini, seorang TKW yang bekerja di Malaysia. Ceritanya adalah sebagai berikut :

Mata pemuda itu memandang ke luar jendela. Lautan terhampar di depan mata. Ombak seolah menari-nari riang. Sinar matahari memantul-mantul keperakan. Dari karcis yang ia pegang, ia tahu bahwa feri yang ia tumpangi bernama Lintas Samudera. Tujuan feri yang bertolak dari pelabuhan Batam itu adalah pelabuhan Johor Bahru.

Ia memejamkan mata seraya meneguhkan hatinya. Ia meyakinkan dirinya harus kuat. Ya, sebagai lelaki ia harus kuat. Meskipun ia merasa kini tidak memiliki siapa- siapa lagi. Bagi seorang lelaki cukuplah keteguhan hati menjadi teman dan penenteram jiwa. la kembali menegaskan niat, bahwa ia sedang melakukan pengembaraan untuk mengubah takdir.

Mengubah nasib. Seperti saran Pak Hasan, ia harus beraniberhijrah dari satu takdir Allah ke takdir Allah lain yang lebih baik. Feri Lintas Samudera terus melaju ke depan.

Singapura semakin dekat di depan, dan Batam semakin jauh di belakang. Namun, Lintas Samudera tidak hendak menuju Singapura, tapi menuju pelabuhan Johor Bahru, Malaysia.

"Baru pertama ke Malaysia ya Dik?" tanya perempuan muda yang duduk di sampingnya. Perempuan itu memakai celana jin putih dan jaket ketat biru muda.

Rambutnya diikat kucir kuda. Ia menaksir usia perempuan itu sekitar tiga puluhan lebih.

"Iya Mbak. Mbak juga yang pertama?" jawabnya balik bertanya.

"Tidak. Saya sudah empat tahun di Malaysia."

"Berarti sejak tahun 2000 ya Mbak."

"Tidak. Sejak awal 2001."

"Kerja ya Mbak?"

"Iya Dik. Kalau adik, mau kerja? Atau mau sekolah?"

Ia berpikir sejenak. Ia tidak tahu pasti. Ke Malaysia mau bekerja atau mau sekolah. Sesungguhnya selama ini ia merantau dari satu daerah ke daerah lain, selain untuk bertahan hidup juga demi mencari takdir yang lebih baik.

"Kok malah bengong Dik."

"E... tidak, saya ke Malaysia mungkin untuk dua-duanya. Ya untuk cari kerja dan untuk sekolah lagi."

"Baguslah. Sudah ada pandangan mau kerja di mana? Atau sudah ada agen yang mengurus semuanya."

"Belum sih Mbak. Nanti saya cari di sana saja. Mbak kerja di mana?"

"Saya kerja di sebuah kilang di kawasan Subang Jaya. Kalau adik mau, saya bisa bantu. Saya punya banyak teman yang bisa membantu. O ya kenalkan, nama saya Siti Martini. Biasa dipanggil Mar atau Mari."

Perempuan muda itu mengulurkan tangan kanannya.

Pemuda itu juga mengulurkan tangannya dan menjabat tangan perempuan muda itu.

"Terima kasih. Nama saya Ahmad Zul. Oleh teman-teman saya selama ini saya biasa dipanggil Zul Einstein."

"Wah keren sekali. Memang namanya Zul Einstein?"

"Ya tidak Mbak. Saya diberi nama tambahan

Einstein oleh teman-teman saya karena mereka melihat saya banyak melamun. Ya saya terima saja. Kalau tidak terima ya tetap akan dipanggil begitu. Jadi, panggil saja saya Zul Mbak."

"Ya baik. Saya panggil Dik Zul. Gitu ya," kata perempuan muda itu sambil melepaskan jabatan tangannya.

"Jadi Mbak kerja di kilang minyak ya Mbak?"

Perempuan muda itu malah tertawa kecil.

"Kamu memang masih asli Indonesia. Kilang itu artinya pabrik. Di Indonesia disebut pabrik. Sedangkan di Malaysia disebut kilang. Jadi bukan bermakna kilang minyak.

Saya kerja di kilang kertas di kawasan Subang Jaya. Itu maknanya saya kerja di pabrik kertas."

"O begitu ya."

Ingin tahu kelanjutan cerita ini? Anda bisa beli novelnya di took terdekat di kota Anda atau Anda bisa download di sini. Klik di sini


Tidak ada komentar:

Posting Komentar