2. Bumi Kauthara Champa
3. Warta dari Majapahit
4. Swan Liong
5. Wandhan Kuning
6. Kidang Telangkas
7. Nawangwulanlam
8. Karang Jambu
9. Pendatang dari Champa
10. Kambojapura
11. Telik Sandi Ayutthaya
12. Bantuan Panglima Kambojapura
Relevankah Aku Di Hatimu?
Hatiku Milikmu
Laskar Pelangi




Novel Mahkota Cinta
Karya : Habiburrahman El Shirazy
Berikut ini adalah prolog pembuka cerita Novel Mahkota Cinta. Latar belakang tempat kejadian adalah di Negeri Jiran Malaysia dengan liku-liku hidup para ekspatriat asal Indonesia, atau yang dikenal sebagai TKI (Tenaga Keja Indonesia) dan TKI (Tenaga Kerja Wanita). Tokoh cerita dalam novel ini adalah seorang pemuda bernama Ahmad Zul yang mencoba peruntungan di Malaysia dengan Siti Martini, seorang TKW yang bekerja di Malaysia. Ceritanya adalah sebagai berikut :
Mata pemuda itu memandang ke luar jendela. Lautan terhampar di depan mata. Ombak seolah menari-nari riang. Sinar matahari memantul-mantul keperakan. Dari karcis yang ia pegang, ia tahu bahwa feri yang ia tumpangi bernama Lintas Samudera. Tujuan feri yang bertolak dari pelabuhan Batam itu adalah pelabuhan Johor Bahru.
Ia memejamkan mata seraya meneguhkan hatinya. Ia meyakinkan dirinya harus kuat. Ya, sebagai lelaki ia harus kuat. Meskipun ia merasa kini tidak memiliki siapa- siapa lagi. Bagi seorang lelaki cukuplah keteguhan hati menjadi teman dan penenteram jiwa. la kembali menegaskan niat, bahwa ia sedang melakukan pengembaraan untuk mengubah takdir.
Mengubah nasib. Seperti saran Pak Hasan, ia harus beraniberhijrah dari satu takdir Allah ke takdir Allah lain yang lebih baik. Feri Lintas Samudera terus melaju ke depan.
Singapura semakin dekat di depan, dan Batam semakin jauh di belakang. Namun, Lintas Samudera tidak hendak menuju Singapura, tapi menuju pelabuhan Johor Bahru, Malaysia.
"Baru pertama ke Malaysia ya Dik?" tanya perempuan muda yang duduk di sampingnya. Perempuan itu memakai celana jin putih dan jaket ketat biru muda.
Rambutnya diikat kucir kuda. Ia menaksir usia perempuan itu sekitar tiga puluhan lebih.
"Iya Mbak. Mbak juga yang pertama?" jawabnya balik bertanya.
"Tidak. Saya sudah empat tahun di Malaysia."
"Berarti sejak tahun 2000 ya Mbak."
"Tidak. Sejak awal 2001."
"Kerja ya Mbak?"
"Iya Dik. Kalau adik, mau kerja? Atau mau sekolah?"
Ia berpikir sejenak. Ia tidak tahu pasti. Ke Malaysia mau bekerja atau mau sekolah. Sesungguhnya selama ini ia merantau dari satu daerah ke daerah lain, selain untuk bertahan hidup juga demi mencari takdir yang lebih baik.
"Kok malah bengong Dik."
"E... tidak, saya ke Malaysia mungkin untuk dua-duanya. Ya untuk cari kerja dan untuk sekolah lagi."
"Baguslah. Sudah ada pandangan mau kerja di mana? Atau sudah ada agen yang mengurus semuanya."
"Belum sih Mbak. Nanti saya cari di sana saja. Mbak kerja di mana?"
"Saya kerja di sebuah kilang di kawasan Subang Jaya. Kalau adik mau, saya bisa bantu. Saya punya banyak teman yang bisa membantu. O ya kenalkan, nama saya Siti Martini. Biasa dipanggil Mar atau Mari."
Perempuan muda itu mengulurkan tangan kanannya.
Pemuda itu juga mengulurkan tangannya dan menjabat tangan perempuan muda itu.
"Terima kasih. Nama saya Ahmad Zul. Oleh teman-teman saya selama ini saya biasa dipanggil Zul Einstein."
"Wah keren sekali. Memang namanya Zul Einstein?"
"Ya tidak Mbak. Saya diberi nama tambahan
Einstein oleh teman-teman saya karena mereka melihat saya banyak melamun. Ya saya terima saja. Kalau tidak terima ya tetap akan dipanggil begitu. Jadi, panggil saja saya Zul Mbak."
"Ya baik. Saya panggil Dik Zul. Gitu ya," kata perempuan muda itu sambil melepaskan jabatan tangannya.
"Jadi Mbak kerja di kilang minyak ya Mbak?"
Perempuan muda itu malah tertawa kecil.
"Kamu memang masih asli Indonesia. Kilang itu artinya pabrik. Di Indonesia disebut pabrik. Sedangkan di Malaysia disebut kilang. Jadi bukan bermakna kilang minyak.
Saya kerja di kilang kertas di kawasan Subang Jaya. Itu maknanya saya kerja di pabrik kertas."
"O begitu ya."
Ingin tahu kelanjutan cerita ini? Anda bisa beli novelnya di took terdekat di kota Anda atau Anda bisa download di sini. Klik di sini

.jpg)

Katalog Dalam Terbitan (KDT)
Ketika Cinta Bertasbih / Habiburrahman El Shirazy
halaman 20,5 x 13,5 cm,
Ketka Cinta Bertasbih 813
ISBN
Hak Cipta 0 Habiburrahman El Shirazy Cetakan ke-1, Nopember 2007
Penulis : Habiburrahman El Shirazy
Editor : Ahmad Mujib El Shirazy, Abdul Basith El Qudsy
Desain Sampul dan Isi : Abdul Basith El Qudsy
Percetakan : Tamaprinter
PAGI BERTASBIH DI DESA WANGEN
Langit dini hari selalu memikatnya. Bahkan sejak ia masilh kanak-kanak. Bintang yang berkilauan di matanya tampak seumpama mata ribuan malaikat yang mengintip penduduk bumf. Bulan terasa begitu anggun menciptakan kedamaian di dalam hati. la tak bisa melewatkan pesona ayat-ayat kauni yang maha indah itu begitu saja.
Sejak kecil Abahnya sudah sering membangunkannya jam tiga pagi. Abah menggendong dan mengajaknya menikmati keindahan surgawi. Keindahan pesona langit, bintang gemintang, dan bulan yang sedemikian fitri.
"Di atas
"Jutaan malaikat itu mendoakan penduduk bumi yang tidak lalai. Penduduk bumi yang mau tahajjud saat jutaan manusia terlelap lalai." Sambung Abah sambil membawanya ke masjid pesantren.
Abah lalu mengajaknya untuk akrab dengan dinginnya mata air desa Wangen. Setelah mengambil air wudhu, Abah mengajaknya keliling pesantren, mengetok kamar dem i kamar sambil berkata, "shalat, shalat, shalat!" Setelah semua kamar diketuk, sang Abah mengajaknya kembali ke masjid untuk shalat. Beberapa orang santri ada yang sudah shalat.
Setelah shalat sebelas rakaat Abah mengajaknya berdoa. "Ayo Nduk, kita berdoa biar diamini jutaan malaikat."
Dan tatkala fajar merekah kemerahan di sebelah timur, Abah bertasbih dan mengajaknya menikmati keindahan yang menggetarkan itu. Lalu dengan menggendongnya kembali, Abah mengajaknya keliling pesantren untuk kedua kalinya. Kali ini Abah membangunkan para santri dengan suara lebih keras, dengan nada sedikit berbeda,
"Subuh, subuh, shalat! Subuh, subuh, shalat!" Lalu azan subuh berkumandang.
Azan subuh selalu menggetarkan kalbunya. Alam seperti bersahut-sahutan mengagungkan asma Allah. Fajar yang merekah selalu mengalirkan ke dalam hatinya rasa takjub luar biasa kepada Dzat yang menciptakannya. Setiap kali fajar itu merekah ia rasakan nuansanya tak pernah sama. Setiap kali merekah selalu ada semburat yang baru.
dengan sempurna oleh syaraf-syarafjiwa orang-orang yang tidak lalai akan keagungan Tuhannya.
Langit dini hari selalu memikatnya. Bahkan sejak ia masih kanak-kanak. Azan subuh selalu menggetarkan kalbunya. Dan fajar yang merekah selalu mengalirkan kedalam hatinya rasa takjub luar biasa kepada Dzat yang menciptakannya.
Anna berdiri di depan jendela kamarnya yang ia buka lebar-lebar. Ia memandangi langit. Menikmati fajar. Dan menghayati tasbih alam desa Wangen pagi itu. Dengan dibalut mukena putihnya ia menikmati keindahannya dari jendela kamarnya. Ia hirup dalam-dalam aromanya yang khas. Aroma yang sama dengan aroma yang ia rasakan saat ia kecil dulu. Tidak jauh berbeda. Aroma daun padi dari persawahan di barat desa. Goresan yang indah bernuansa surgawi. Angin pagi yang mengalir sejuk menyapa rerumputan yang bergoyang-goyang seolah bersembahyang.
Ingin tahu lanjutan cerita ini. Anda bisa beli novelnya di toko buku terdekat di

Katalog Dalarn Terbitan (KDT)
Ketika, Cinta Bertasbih f Habiburrahman El Shirazy.
Halaman 20,5 x 13,5 crn
KetikaCintaBertasbih 813
ISBN: 978-979-3210-84-1
Penulis : Habiburrahman El Shirazy
Editor, : Anif Sirsaeba El Shirazy
Disain Sampul dan Isi : Abdul Basith El Qudsy (Basmala-Art)
Percetakan : Tama Print
Hak Cipta © Habiburrahman El Shirazy
Cetakan ke-10, Pebruari 2008
Cetakan ke-11, Pebruari 2008
SENJA BERTASBIH DI
Di matanya, Kota Alexandria sore itu tampak begitu memesona Cahaya mataharinya yang kuning keemasan seolah menyepuh atap-atap rumah, gedung-gedung, menara-menara, dan kendaraan-kendaraan yang lalu lalang di jalan. Semburat cahaya kuning yang terpantul dari riak gelombang di pantai menciptakan aura ketenangan dan kedamaian.
Di atas pasir pantai yang putih, anak-anak: masih asyik bermain kejar-kejaran.
Di mana-rnana muda-mudi yang sedang jatuh cinta sama. Senja menjadi waktu istimewa bagi mereka. Waktu untuk bertemu, saling memandang, duduk berdampingan dan bercerita yang indah-indah. Saat itu yang ada di hati dan pikiran mereka adalab pesona sang kekasih yang dicinta. Tak terlintas sedikit pun bahwa senja yang indah yang mereka lalui itu akan menjadi saksi sejarah bagi mereka kelak. Ya, kelak ketika masa muda mereka harus dipertanggungjawabkan di hadapan Sang Pencipta Cinta. Dan jatuh cinta mereka pun harus dipertanggungjawabkan kepada-Nya: Di hadapan pengadilan Dzat Yang Maha Adil, yang tidak ada seclikit pun kezaliman dan ketidakadilan di
Di matanya, Kota Alexandria sore itu tampah begitu indah.Ia memandang ke arah pantai. Ombaknya berbuih putih. Bergelombang naik turun. Berkejar-kejaran menampakan keriangan yang sangat menawan. .Semilir angin mengalirkan kesejukan. Suara desaunya benar-benar terasa seumpama desau suura zikir alam yang menciptakan suasana tenteram.
Dan jendela karnarnya yang terletak di lantai
Sesuargguhnya bukan semata-mata cuaca dan suasana menjelang musim semi yang membuat
Gadis itu adalah kilau matahari di musim semi. Sosok yang sedang menjadi buah bibir di kalangan mahasiswa dan masyarakat Indonesia di Mesir. Gadis yang pesonanya dikagumi banyak orang. Dikagumi tidak hanya karena kecantikan fisiknya, tapi juga karena kecerdasan dan prestasi-prestasi yang telah diraihnya. Lebih dari itu, gadis itu adalah putri orang nomor satu bagi masyarakat Indonesia di Mesir.
Dialah Eliana Pramesthi Alam. Putri satu-saturrya Bapak Duta Besar Republik Indonesia di Mesir. Hampir genap satu tahun gadis itu tinggal di Mesir. Selain untuk menemani kedua orangtuanya, keberadaannya di Negeri Pyramid itu untuk melanjutkan S.2-nya di American University in in