Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label tausiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tausiyah. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 November 2019

Umur Lima Puluh Tahun

Berusia lima puluh tahun adalah suatu nikmat yang patut disukuri. Bila angka harapan hidup penduduk indonesia adalah 71 tahun 2 bulan (71,20 tahun) menurut sumber www.bps.go.id maka masih ada sisa waktu rata-rata 21 tahun 2 bulan lagi. Lalu apa yang perlu dilakukan dengan sisa umur tadi. Berikut ini adalah saran atau nasehat yang saya dapat dari WAG (Whatsapp Group) :

BERAPA UMURMU?  -  SUDAH 50 TAHUN?

"Allah tidak lagi memberi alasan bagi siapa yang telah dipanjangkan umurnya hingga 50 tahun."
(Hadits Riwayat Bukhari)

Kamis, 07 November 2019

Jenis-jenis Cinta Dalam Al-Quran

Oleh : Dr. H. Agus Setiawan, Lc. MA
 ( Dewan Pengawas IZI )

Allah azza wa jalla menyebutkan beberapa kata cinta dalam al-Quran al-Karim.
Pertama, Mawaddah
Mawaddah dikenal dengan arti penuh cinta. Cinta yang menggebu. Mawaddah bukan hanya sekedar cinta, tapi cinta plus. Seseorang yang merasakan cinta akan tertutup kekurangan lahir dan batin orang yang dicinta nya. Cinta jenis ini harus diupayakan oleh suami dan istri. Pada saat suami dan atau istri sudah mulai membandingkan pasangan nya dengan orang lain, di situlah bisikan setan bermula.
Kedua, Rahmah
Rahmah adalah rasa yang muncul setelah melihat ketidakberdayaan, suami-istri pasti akan mengupayakan kebaikan dan kebahagian bagi pasangannya. Rahmah melahirkan kesabaran, lemah lembut dan menutupi segalanya. Manusia adalah makhluk yang paling sempurna, namun dibalik kesempurnaan itu pasti ada kekurangannya. Begitu pula pasangan suami-istri, yang mana saling diciptakan untuk melengkapi kekurangan masing-masing.

Kamis, 31 Oktober 2019

Zuhud Terhadap Urusan Dunia

Oleh : Ustadz H. Mohammad Suharsono,Lc.,ME
(Biro Kepatuhan Syariah, Inisiatif Zakat Indonesia)

Suatu ketika seseorang yang ditanya tentang pekerjaannya, ia dengan spontan
 menjawab : ”Dunia semua itu, ga usah kita pikirkan…”
tidak berapa lama iapun dikeluarkan dari tempatnya bekerja dan hidupnya bergantung dari pemberian orang lain.
Begitulah sebagian orang mengartikan zuhud dengan cara meninggalkan semua urusan dunia, sampai pekerjaannya seolah-olah itulah zuhud yang sesungguhnya.

4 (Empat) golongan dalam beribadah, yang manakah kita?

Ustadz Iwan Setiawan, BIL
(Biro Kepatuhan Syariah IZI)

Sesungguhnya dalam beribadah mengandung 2 (dua) prinsip, yaitu puncak kecintaan dan puncak ketundukan atau merendahkan diri. Keduanya terangkum dalam firman Allah:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya kepada-Mu kami menyembah/beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.” (QS Al-Fatihah: 5)
Hikmah “ibadah” disebutkan terlebih dahulu daripada “isti’anah” adalah mendahulukan tujuan daripada wasilah (sarana), karena ibadah merupakan tujuan diciptakannya manusia, sedangkan isti’anah merupakan wasilah kepada ibadah itu. Atau karena iyyaka na’budu adalah ibadah kepada Allah, sedangkan iyyaka nasta’in adalah permohonan pertolongan kepada-Nya, sehingga apa yang untuk Allah harus didahulukan atas sesuatu yang dimintakan kepada-Nya.

Kamis, 08 Agustus 2013

Nashaihul Ibad 221 : Tiga faktor Pembentuk Kepribadian

Ali ra berkata :
1. "Jadilah manusia paling baik di sisi Allah;
2. Jadilah manusia paling buruk dalam pandangan dirimu; dan
3. Jadilah manusia biasa di hadapan orang lain."

Nashaihul Ibad 220 : Tiga Sunnah Yang Harus Dimiliki Setiap Muslim

Ali ra pernah mengatakan :
"Barang siapa tidak memiliki :
1. Sunnatullah;
2. Sunnah rasul-Nya; dan
3. Sunnah para wali,
maka dia tidak punya kebaikan sedikit pun."

Nashaihul Ibad 219 : Tiga Ciri Keberuntungan

Yahya bin Muadz Ar-Razi pernah berkata : "Sungguh beruntung orang yang :
1. meninggalkan harta sebelum harta meninggalkannya;
2. membangun kuburan sebelum ia memasukinya; dan
3. membuat ridha Tuhannya sebelum menemui-Nya."

Nashaihul Ibad 218 : Tiga Penyebab Kerusakan

Ibrahim An-Nakhiy ra mengatakan : "Penyebab rusaknya orang-orang sebelum kalian ada tiga hal yaitu :
1. karena terlalu banyak bicara;
2. karena trlalu banyak makan; dan
3. karena terlalu banyak tidur."


Sumber : Imam Nawawi Al-Bantani, Nashaihul Ibad : Nasihat-nasihat untuk Para Hamba menjadi Santun dan Bijak, Irsyad aitus Salam, Bandung, 2005

Posting by Mohammad Nurdin

Nashaihul Ibad 217 : Tiga Ciri Manusia Paling Bahagia

Dikatakan bahwa manusia yang paling bahagia adalah orang yang memiliki :
1. hati yang meyakini bahwa Allah senantiasa bersamanya;
2. jiwa raga yang sabar; dan
3. sikap qana'ah dengan apa yang dimiliki.
Qana'ah adalah menerima pemberian Allah dengan hati ridha dan tidak risau dengan apa yang luput darinya.

Sumber : Imam Nawawi Al-Bantani, Nashaihul Ibad : Nasihat-nasihat untuk Para Hamba menjadi Santun dan Bijak, Irsyad aitus Salam, Bandung, 2005

Posting by Mohammad Nurdin

Nashaihul Ibad 216 : Tiga Kalimat Munajat Abu Sulaiman Ad-Darani

Nama asli Abu Sulaiman Ad-Darani adalah Abdurrahman bin Athiyah, sedangkan Ad-Darani berasal dari kata daran, yaitu nama sebuah tempat di kota Damaskus, Syria, Beliau meninggal dunia pada tahun 215 Hijriyah. Beliau pernah berkata dalam nunajatnya kepada Allah sebagai berikut :
1. "Wahai Tuhanku, jika Engkau menuntutku karena dosaku, maka aku akan mencari-Mu karena ampunan-Mu (sebab ampunan-Mu jauh lebih luas daripada dosaku);
2. Jika Engkau menuntutku karena kekikiranku, maka aku akan mencari-Mu karena kemurahan-Mu;
3. Jika Engkau melemparkan aku ke dalam neraka, maka aku akan memberitahukan kepada penduduk neraka bahwa aku mencintai-Mu."

Sumber : Imam Nawawi Al-Bantani, Nashaihul Ibad : Nasihat-nasihat untuk Para Hamba menjadi Santun dan Bijak, Irsyad aitus Salam, Bandung, 2005

Posting by Mohammad Nurdin

Selasa, 06 Agustus 2013

Nashaihul Ibad 215 : Tiga Azas Agar Ilmu Bermanfaat

 Diceritakan dalam suatu riwayat bahwa dahulu pada masa kaum bani Israil terdapat seorang lelaki punya 80 buah peti yang penuh dengan kitab-kitab ilmu yang telah dibacanya, namun ia tidak beroleh manfaat dari ilmunya. Allah pun menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya untuk menyampaikan kepada lelaki tersebut:
"Meskipun engkau mengumpulkan ilmu yang banyak, niscaya ilmu itu tidak akan memberi manfaat bagimu, kecuali jika engaku mengerjakan tiga hal berikut :
1. jangan engkau mencintai dunia, karena dunia bukan tempat orang-orang beriman menerima pahala-Nya;
2. jangan berteman dengan setan, karena setan bukan teman orang-oarng beriman; dan
3. Jangan mengganggu seseoarang, karena mengganggu orang lain bukanlah pekerjaan orang-orang beriman."

Sumber : Imam Nawawi Al-Bantani, Nashaihul Ibad : Nasihat-nasihat untuk Para Hamba menjadi Santun dan Bijak, Irsyad aitus Salam, Bandung, 2005
Posting by Mohammad Nurdin

Nashaihul Ibad 214 : Tiga Nasihat

 Diceritakan dalam suatu riwayat bahwa ada seorang lelaki dari kalangan Bani Israil yang hendak menuntut ilmu dan kebetulan berita itu samapi kepada Nabi mereka, lalu ia dipanggil untuk menghadap. Setelah datang, sang Nabi berkata kepadanya, "Wahai oarng muda, camkanlah! Aku akan memberimu beberapa wejangan dari ilmu orang-orang terdahulu dan orang-orang terkemudian, yaitu :
1. Takutlah kepada Allah, baik sewaktu berada di tempat sepi maupun tempat ramai;
2. Jaga lisanmu, jangan sampai engkau berkata sembarangan kepada orang lain, kecuali hal-hal yang baik;
3. Perhatikan makananmu. jangan sampai kamu memakannya, kecuali dari hasil yang halal."

Karena beratnya pesan tersebut, sedang tiada kemampuan bagi pemuda itu untuk menunaikannya bila jauh dari nabinya, akhirnya dia mengurungkan niatnya menvcari ilmu ke negeri lain.

Sumber : Imam Nawawi Al-Bantani, Nashaihul Ibad : Nasihat-nasihat untuk Para Hamba menjadi Santun dan Bijak, Irsyad aitus Salam, Bandung, 2005
 Posting by Mohammad Nurdin

Nashaihul Ibad 213 : Tiga Ciri Orang Yang Dijauhi

Hasan Al-Bashri ra, seoarang tokoh tabi'in berkata :
1. "Orang yang tidak punya etika adalah orang yang tak berilmu;
2. Orang yang tidak punya kesabaran menanggung derita menjauhi kedurhakaan dan beratnya menunaikan kewajiban adalah orang yang tidak beragama;
3. Orang yang tidak punya sifat wara' (keapikan) adalah orang yang punya kedudukan yang dekat di sisi Allah."

Nashaihul Ibad 212 : Tiga Cara Menghilangkan Kesusahan

 Seorang pakar ketabiban kalbu mengatakan bahwa kiat untuk menghilangkan kecemasan ada tiga macam yaitu :
1. Mengingat Allah;
2. Menemui para wali Allah; dan
3. Mendengar nasihat orang-orang bijak.

Nashaihul Ibad 211 : Tiga Penyebab Ibrahim Menjadi Khalilullah (Kekasih Allah)

 Nabi Ibrahim as pernah ditanya : "Wahai Ibrahim, apa sebabnya Allah menjadikamu orang kesayangan-Nya?"
Nabi Ibrahim as menjawab : "Karena tiga perkara, yaitu :
1. Aku selalu mengutamakan perintah Allah di atas perintah selainnya;
2. Aku tidak pernah mengkhawatirkan sesuatu (rejeki) yang urusannya telah ditanggung oleh Allah; dan
3. Aku tidak senang makan, baik pada sore hari maupun pagi hari, kecuali bersama tamu."

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Ibrahim as pernah berjalan sejauh satu atau dua mil untuk mencari orang yang mau menemaninya makan.

Sumber : Imam Nawawi Al-Bantani, Nashaihul Ibad : Nasihat-nasihat untuk Para Hamba menjadi Santun dan Bijak, Irsyad aitus Salam, Bandung, 2005

Posting by Mohammad Nurdin

Senin, 05 Agustus 2013

Nashaihul Ibad 210 : Tiga Golongan Dalam Naungan Arsy

"Tiga golongan yang akan dinaungi oleh Allah di bawah naungan 'Arsy-Nya pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya, yaitu :
1. orang yang tetap menyempurnakan wudhu-nyameskipun keadaannya tidak menyenangkan;
2. orang yang tetap berangkat ke masjid meskipun cuacanya gelap; dan
3. orang yang senang memberi makan orang kelaparan."

Sumber : Imam Nawawi Al-Bantani, Nashaihul Ibad : Nasihat-nasihat untuk Para Hamba menjadi Santun dan Bijak, Irsyad aitus Salam, Bandung, 2005

Posting by Mohammad Nurdin

Nashaihul Ibad 209 : Tiga Kepastian

Jibril as pernah berkata kepada Rasulullah saw :
1. "Wahai Muhammad, hiduplah engkau seberapapun lamanya, namun engkau pasti akan mati.
2. Cintailah siapa saja yang engkau sukai, namun engkau pasti akan berpisah dengannya.
3. Beramallah semaumu, namun engkau pasti akan mendapat balasannya."

Setiap perbuatan baik akan dibalas dengan kebaikan (berupa pahala di surga); begitu pula sebaliknya. setiap amal buruk pasti akan dibalas dengan keburukan (dalam bentuk siksaan di neraka)

Sumber : Imam Nawawi Al-Bantani, Nashaihul Ibad : Nasihat-nasihat untuk Para Hamba menjadi Santun dan Bijak, Irsyad aitus Salam, Bandung, 2005
 

 Posting by Mohammad Nurdin

Kamis, 25 Agustus 2011

Akankah Ini Ramadhan Terakhirku???

Setiap hari kita menumpuk dosa, hingga dosa kita menggunung dan kita tak tahu apa yang harus kita perbuat untuk memperbaikinya.
Terkadang kita berputus asa dan akhirnya kembali ke lubang yang sama.

Ramadha kembali datang dan memberikan hawa segar untuk kita mencari maghfirah Allah datang dengan dibukanya pintu-pintu surga dan setan-setan pun dibelenggu.

Maka untuk menyambut bulan yang penuh hikmah ini sudah selayaknya kita mendekatkan diri kita kepada Allah dan memperbaiki hubungan kita dengan sesama, dengan melaksanakan amalan-amalan kebaikan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW, maka mari kita berlomba-lomba dalam kebaikan karena kita tidak tahu kapan Malaikat Izrail datang menjemput, dan mungkin saja ini adalah Ramadhan terakhir kita.

Posting by Mohammad Nurdin

Rabu, 10 Agustus 2011

Orang Pinggiran

Dalam sebuah acara pada sebuah Stasiun Televisi menceritakan tentang Orang Pinggiran atau Orping. Pada suatu kesempatan saya berdialog dengan anak saya yang bernama Azzam, kelas lima Sekolah Dasar. Berikut dialognya :

Ayah : Apa itu orang pingiran?
Anak : Orang yang berada di pinggiran.

Ayah : Kenapa berada di pinggiran?
Anak : Karena tidak di tengah.

Ayah : Kenapa tidak berada di tengah-tengah
Anak : Tidak tahu.

Ayah : Kalau orang nampeni (memilah beras dengan kulit padi dengan alat tampah/nyiru), mana yang berada di pinggir, beras atau kulit padi?
Anak : Kulit padi.

Ayah : Kenapa?
Anak : Tidak tahu.

Ayah : Berat mana beras dengan kulit padi?
Anak : Beras.

Ayah : Jadi yang berada di pinggir adalah kulit padi karena ringan.
Anak : Berarti orang pinggiran karena ringan.

Ayah : Tepat. Lalu apanya yang ringan?
Anak : Tidak tahu.

Ayah : Yang ringan adalah kualitasnya. Berat ringan seseorang tidak hanya diukur fisik tetapi yang utama adalah kualitasnya. Orang yang berkualitas adalah orang yang kuat. Kekuatan bisa berwujud banyak seperti kekuatan fisik (otot), kekuatan harta, kekuatan ilmu, kekuatan mental (sabar dan gigih), dan lain-lain. Jadi pesan ayah adalah jadilah orang kuat tapi bukan untuk sendiri tetapi untuk melindungi yang lemah. Kalau kita kaya berilah sedekah untuk orang miskin(orang pinggiran). Kalau kita berilmu maka ajarkan ilmu itu kepada orang yang tidak tahu. Kalau kita kuat fisik maka lindungi oarang-orang yang lemah. Kalau kita kuat mental maka ajaklah orang lain menuju akhlaqul karimah, akhlak yang mulia. Nilai diri seseorang bukan banyaknya yang kita miliki tetapi seberapa besar kemanfaatan kita untuk orang lain. Pandangan yang sekarang mendunia adalah bagaimana masing-masing kita bisa berbagi (sharing) dengan orang lain. Makanya ayah juga punya blog yang bertema berbagi informasi berharap berkah illahi yaitu http://mohnurdin.wordpress.com Lihatlah bagaimana Wikipedia (ensiklopedia gratis) menjadi besar, program Linux (Operating System yang Open Source), dan juga program-program open source yang lain yang didukung orang-orang yang saling berbagi (share) dan saling melengkapi.
Akhirnya ayah berharap kamu bisa menjadi orang yang demikian. Amien.

Posting by Mohammad Nurdin

Senin, 23 Mei 2011

Kaya Mental, Kunci Kaya Finansial

Suatu hari seseoarang pemuda memutuskan untuk meninggalkan kampung halamannya. Gempa bumi telah merenggut nyawa semua keluarganya. Rumahnya hancur, rata dengan tanah.

“Aku kini tidak memiliki apa-apa lagi,” katanya di dalam hati.

Setelah berjalan cukup jauh,ia menghentiksn langkahnya di tepi sebuah danau karena kakinya serasa tidak bisa diajak untuk mengayun lagi. Di situ dia melamun.Pandangannya kosong. Tanpa disadari ada seorang kakek yang telah lama memperhatikannya.

Orang tua itudatang dan kemudian menegurnya, “Dari mana engkau wahai anak muda?Mau ke mana? Mengapa tatapanmu kosong?”

Setelah pemuda itu bercerita panjang lebar, ia mengakhirinya dengan mengatakan, ”Aku sudah tidak punya apa-apa lagi.”

Mendengar pernyataan pemuda itu, kemudian Sang Kakek pun berpura-pura kehausan. Ia meminta tolong kepada pemuda tersebut untuk mengambilkan sepincuk air danau untuk diminum.

Dengan senang hati,pemuda itu mengambil daun pisang lalu mengambil air jernih untuk Sang Kakek.

Setelah minum, Kakek itu berkata, ”Apakah saat ini engkau masih tidak punya apa-apa, wahai anak muda? Sadarlah, dengan tanganmu yang sehat, badanmu yang kuat, umurmu yang masih muda, engakau masih memiliki segalannya. Buktinya, dengan segala keterabatasan, engakau masih bisa membantuku mengambilkan air minum yan sejuk dan jernih. Tentunya engkau pasti bisa menolong diri sendiri.”

Kita Semua Berpotensi Kaya

Banyak orang yang merasa tidak memiliki apa-apa setelah hartanya ludes dilalap si jago merah (terbakar) atau hilang dibobol pencuri, atau musibah lainnya. Padahal ia masih memiliki tubuh ysng sehat, akal yang cerdas, dan teman-teman yang menjadi koneksinya.

Lalu mengapa ia berputus asa dan ingkar terhadap rahmat Allah Subhanahu wa Ta'ala? Inilah yang disebut fakir kuadrat (ganda). Sudah miskin finansial, miskin mental pula.


Diawali Kaya Mental

Ternyata untuk menjadi kaya secara finansial harus dimulai dengan kaya mental. Banyak orang yang gagal menjadi kaya karena mentalnya miskin. Terasa berat melangkah ke tempat kerja. Kalaupun bekerja, maka biasanya asal kerja, karena rendah motivasinya. Dengan sendirinya, kemiskinan mental ini akan menjelma menjadi miskin finansial.

Penting Bagi Orang Kaya

Orang yang bermental kaya akan selalu tawadhu'. Ia sadar bahwa kekayaan itu hanyalah amanah dari Allah Ta'ala untuk didistribusikan lagi kepada orang lain. Ia membagi hasil kerjanya, sebagian untuk keluarganya, sebagian untuk masyarakatnya, dan sebagaian lagi untuk agamanya. “Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta, akan tetapi sesungguhnya kekayaan ituadalah kaya hati”, demikian sabda Rasulullah SAW riwayat Abu Ya'la.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Disarikan dari Majalah Suara Hidayatullah, Mei 2011/ Jumadil Awal 1432
Website : http://www.hidayatullah.com

Posting by Mohammad Nurdin