Oleh : Ustadz H. Mohammad Suharsono,Lc.,ME
(Biro Kepatuhan Syariah, Inisiatif Zakat Indonesia)
Suatu ketika seseorang yang ditanya tentang pekerjaannya, ia dengan spontan
menjawab : ”Dunia semua itu, ga usah kita pikirkan…”
tidak berapa lama iapun dikeluarkan dari tempatnya bekerja dan hidupnya bergantung dari pemberian orang lain.
Begitulah sebagian orang mengartikan zuhud dengan cara meninggalkan semua urusan dunia, sampai pekerjaannya seolah-olah itulah zuhud yang sesungguhnya.
Cari Blog Ini
Tampilkan postingan dengan label Terhadap. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Terhadap. Tampilkan semua postingan
Kamis, 31 Oktober 2019
Selasa, 01 Juli 2014
Nashaihul Ibad : Tiga Macam Sikap Terhadap Dunia
Yahya bin Mua'adz berkata :
1. "Barang siapa dapat meepaskan dunia seuruhnya, maka ia teah mengambi akhirat seuruhnya.
2. Barang siapa mengambi dunia seuruhnya, berarti ia teah meepaskan akhirat seuruhnya.
3. Mencintai akhirat menjadi sebab meepaskan dunia, tidak menyukai dunia menjadi sebab mencintai akhirat."
Sumber : Imam Nawawi Al-Bantani, Nashaihul Ibad : Nasihat-nasihat untuk Para Hamba menjadi Santun dan Bijak, Irsyad Baitus Salam, Bandung, 2005, cet. 3
Posting by Mohammad Nurdin
1. "Barang siapa dapat meepaskan dunia seuruhnya, maka ia teah mengambi akhirat seuruhnya.
2. Barang siapa mengambi dunia seuruhnya, berarti ia teah meepaskan akhirat seuruhnya.
3. Mencintai akhirat menjadi sebab meepaskan dunia, tidak menyukai dunia menjadi sebab mencintai akhirat."
Sumber : Imam Nawawi Al-Bantani, Nashaihul Ibad : Nasihat-nasihat untuk Para Hamba menjadi Santun dan Bijak, Irsyad Baitus Salam, Bandung, 2005, cet. 3
Posting by Mohammad Nurdin
Senin, 30 Juni 2014
Do'a-do'a Pilihan : Do’a Agar Dijauhkan dari Sifat Ingkar Terhadap Allah dan Rasul-Nya
Aamanar
rasuulu bimaa unzila ilaihi mirrabbihi wal mukminuun. Kullun aamana billaahi wa
malaa-ikatihi wa kutubihi wa rusuli. La nufarriqu baina ahadim mir rusulih. Wa
qaaluu sami’naa wa ‘atha’naa ghufraanaka rabbana wa ilaikal mashiir. La
yukallifullaahu nafsan illa wus’aha. Lahaa ma kasabat wa ilaihaa maktasabat.
Rabbana laa tu-akhidznaa innasinaa au-akhthakna. Rabbana wa hamaltahuu ‘alal
ladziina ming qablina. Rabbana wa laa tuhammilnaa maa laa thaaqatha lanaa bih.
Wa’fuannaa waghfirlanaa warhamna anta maulaanaa fansurnaa ‘alal qaumil
kaafiriin.
“Rasul
telah beriman kepada al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya,
demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah juga
beriman pada malaikat-malaikat Allah, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya.
Mereka mengatakan, ‘Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan
yang lain) dari rasul-rasul-Nya’ dan mereka mengatakan, ‘kami dengar dan kami
taat,’ (mereka berdo’a), ‘Ampunilsh kami, ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah
tempat kembali.’ Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya. (Mereka berdo’a), ‘Yan
Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau membuat kesalahan.
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kami beban yang berat sebagaimana
Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah
Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Berilah
kami maaf, ampunilah kami dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami maka
tolonglah kami terhadap kaum kafir.”
(QS.
Al-Baqarah [2]: 285-286)
Posting by Mohammad Nurdin
Langganan:
Postingan (Atom)


