Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label ibnu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ibnu. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Januari 2016

Kajian Kitab Shahih Tafsir Ibnu Katsir oleh Hasan al-Jaizy di Cililitan Kecil, Jakarta Timur



Berikut iki kajian tafsir Ibnu Katsir yang saya suka ikuti. Kitab terjemahannya memang saya punya tetapi menurut saya lebih baik lagi tidak hanya baca kitab/buku tersebut tetapi juga kajiannya oleh orang/ustadz yang berkompeten. Selamat mengikuti.

Diterbitkan tanggal 20 Des 2015
Kajian Tafsir Ibnu Katsir (tahun 2014) bersama Hasan al-Jaizy di Cililitan Kecil, Jakarta Timur

Posting by Mohammad Nurdin

Jumat, 11 November 2011

BIOGRAFI IMAM IBNU TAIMIYAH

“Demi Allah, tidaklah benci kepada Ibnu Taimiyah melainkah orang yang bodoh atau pengikut hawa nafsu.”1)

NAMA DAN NASAB

Beliau adalah imam, Qudwah, ‘Alim, Zahid dan Da’i ila Allah, baik dengan kata, tindakan, kesabaran maupun jihadnya; Syaikhul Islam, Mufti Anam, pembela dinullah dan penghidup sunah Rasul shalallahu’alaihi wa sallam yang telah dimatikan oleh banyak orang, Ahmad bin Abdis Salam bin Abdillah bin Al-Khidhir bin Muhammad bin Taimiyah An-Numairy Al-Harrany Ad-Dimasyqy.

Lahir di Harran, salah satu kota induk di Jazirah Arabia yang terletak antara sungai Dajalah (Tigris) dengan Efrat, pada hari Senin 10 Rabiu’ul Awal tahun 661H.

Beliau berhijrah ke Damasyq (Damsyik) bersama orang tua dan keluarganya ketika umurnya masih kecil, disebabkan serbuan tentara Tartar atas negerinyaa. Mereka menempuh perjalanan hijrah pada malam hari dengan menyeret sebuah gerobak besar yang dipenuhi dengan kitab-kitab ilmu, bukan barang-barang perhiasan atau harta benda, tanpa ada seekor binatang tunggangan-pun pada mereka.

Suatu saat gerobak mereka mengalami kerusakan di tengah jalan, hingga hampir saja pasukan musuh memergokinya. Dalam keadaan seperti ini, mereka ber-istighatsah (mengadukan permasalahan) kepada Allah Ta’ala. Akhirnya mereka bersama kitab-kitabnya dapat selamat.

PERTUMBUHAN DAN GHIRAHNYA KEPADA ILMU

Semenjak kecil sudah nampak tanda-tanda kecerdasan pada diri beliau. Begitu tiba di Damsyik beliau segera menghafalkan Al-Qur’an dan mencari berbagai cabang ilmu pada para ulama, huffazh dan ahli-ahli hadits negeri itu. Kecerdasan serta kekuatan otaknya membuat para tokoh ulama tersebut tercengang.

Ketika umur beliau belum mencapai belasan tahun, beliau sudah menguasai ilmu Ushuluddin dan sudah mengalami bidang-bidang tafsir, hadits dan bahasa Arab.

Pada unsur-unsur itu, beliau telah mengkaji musnad Imam Ahmad sampai beberapa kali, kemudian kitabu-Sittah dan Mu’jam At-Thabarani Al-Kabir.

Suatu kali, ketika beliau masih kanak-kanak pernah ada seorang ulama besar dari Halab (suatu kota lain di Syria sekarang, pen.) yang sengaja datang ke Damasyiq, khusus untuk melihat si bocah bernama Ibnu Taimiyah yang kecerdasannya menjadi buah bibir. Setelah bertemu, ia memberikan tes dengan cara menyampaikan belasan matan hadits sekaligus. Ternyata Ibnu Taimiyah mampu menghafalkannya secara cepat dan tepat. Begitu pula ketika disampaikan kepadanya beberapa sanad, beliaupun dengan tepat pula mampu mengucapkan ulang dan menghafalnya. Hingga ulama tersebut berkata: “Jika anak ini hidup, niscaya ia kelak mempunyai kedudukan besar, sebab belum pernah ada seorang bocah seperti dia.

Sejak kecil beliau hidup dan dibesarkan di tengah-tengah para ulama, mempunyai kesempatan untuk mereguk sepuas-puasnya taman bacaan berupa kitab-kitab yang bermanfaat. Beliau infakkan seluruh waktunya untuk belajar dan belajar, menggali ilmu terutama kitabullah dan sunah Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam.

Lebih dari semua itu, beliau adalah orang yang keras pendiriannya dan teguh berpijak pada garis-garis yang telah ditentukan Allah, mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Beliau pernah berkata: ”Jika dibenakku sedang berfikir suatu masalah, sedangkan hal itu merupakan masalah yang muskil bagiku, maka aku akan beristighfar seribu kali atau lebih atau kurang. Sampai dadaku menjadi lapang dan masalah itu terpecahkan. Hal itu aku lakukan baik di pasar, di masjid atau di madrasah. Semuanya tidak menghalangiku untuk berdzikir dan beristighfar hingga terpenuhi cita-citaku.”

Begitulah seterusnya Ibnu Taimiyah, selalu sungguh-sungguh dan tiada putus-putusnya mencari ilmu, sekalipun beliau sudah menjadi tokoh fuqaha’ dan ilmu serta dinnya telah mencapai tataran tertinggi.

PUJIAN ULAMA

Al-Allamah As-Syaikh Al-Karamy Al-Hambali dalam Kitabnya Al-Kawakib AD-Darary yang disusun kasus mengenai manaqib (pujian terhadap jasa-jasa) Ibnu Taimiyah, berkata: “Banyak sekali imam-imam Islam yang memberikan pujian kepada (Ibnu Taimiyah) ini. Di antaranya: Al-Hafizh Al-Mizzy, Ibnu Daqiq Al-Ied, Abu Hayyan An-Nahwy, Al-Hafizh Ibnu Sayyid An-Nas, Al-Hafizh Az-Zamlakany, Al-Hafidh Adz-Dzahabi dan para imam ulama lain.

Al-Hafizh Al-Mizzy mengatakan: “Aku belum pernah melihat orang seperti Ibnu Taimiyah ….. dan belum pernah kulihat ada orang yang lebih berilmu terhadap kitabullah dan sunnah Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam serta lebih ittiba’ dibandingkan beliau.”

Al-Qadhi Abu Al-Fath bin Daqiq Al-Ied mengatakan: “Setelah aku berkumpul dengannya, kulihat beliau adalah seseorang yang semua ilmu ada di depan matanya, kapan saja beliau menginginkannya, beliau tinggal mengambilnya, terserah beliau. Dan aku pernah berkata kepadanya: “Aku tidak pernah menyangka akan tercipta manasia seperti anda.”

Al-Qadli Ibnu Al-Hariry mengatakan: “Kalau Ibnu Taimiyah bukah Syaikhul Islam, lalu siapa dia ini ?”

Syaikh Ahli nahwu, Abu Hayyan An-Nahwi, setelah beliau berkumpul dengan Ibnu Taimiyah berkata: “Belum pernah sepasang mataku melihat orang seperti dia …..” Kemudian melalui bait-bait syairnya, beliau banyak memberikan pujian kepadanya.

Penguasaan Ibnu Taimiyah dalam beberapa ilmu sangat sempurna, yakni dalam tafsir, aqidah, hadits, fiqh, bahasa arab dan berbagai cabang ilmu pengetahuan Islam lainnya, hingga beliau melampaui kemampuan para ulama zamannya. Al-‘Allamah Kamaluddin bin Az-Zamlakany (wafat th. 727 H) pernah berkata: “Apakah ia ditanya tentang suatu bidang ilmu, maka siapa pun yang mendengar atau melihat (jawabannya) akan menyangka bahwa dia seolah-olah hanya membidangi ilmu itu, orang pun akan yakin bahwa tidak ada seorangpun yang bisa menandinginya. Para Fuqaha dari berbagai kalangan, jika duduk bersamanya pasti mereka akan mengambil pelajaran bermanfaat bagi kelengkapan madzhab-madzhab mereka yang sebelumnya belum pernah diketahui. Belum pernah terjadi, ia bisa dipatahkan hujahnya. Beliau tidak pernah berkata tentang suatu cabang ilmu, baik ilmu syariat atau ilmu lain, melainkan dari masing-masing ahli ilmu itu pasti terhenyak. Beliau mempunyai goresan tinta indah, ungkapan-ungkapan, susunan, pembagian kata dan penjelasannya sangat bagus dalam penyusunan buku-buku.”

Imam Adz-Dzahabi rahimahullah (wafat th. 748 H) juga berkata: “Dia adalah lambang kecerdasan dan kecepatan memahami, paling hebat pemahamannya terhadap Al-Kitab was-Sunnah serta perbedaan pendapat, dan lautan dalil naqli. Pada zamannya, beliau adalah satu-satunya baik dalam hal ilmu, zuhud, keberanian, kemurahan, amar ma’ruf, nahi mungkar, dan banyaknya buku-buku yang disusun dan amat menguasai hadits dan fiqh."

Pada umurnya yang ke tujuh belas beliau sudah siap mengajar dan berfatwa, amat menonjol dalam bidang tafsir, ilmu ushul dan semua ilmu-ilmu lain, baik pokok-pokoknya maupun cabang-cabangnya, detailnya dan ketelitiannya. Pada sisi lain Adz-Dzahabi mengatakan: “Dia mempunyai pengetahuan yang sempurna mengenai rijal (mata rantai sanad), Al-Jarhu wat Ta’dil, Thabaqah-Thabaqah sanad, pengetahuan ilmu-ilmu hadits antara shahih dan dhaif, hafal matan-matan hadits yang menyendiri padanya ….. Maka tidak seorangpun pada waktu itu yang bisa menyamai atau mendekati tingkatannya …..". Adz-Dzahabi berkata lagi, bahwa: “Setiap hadits yang tidak diketahui oleh Ibnu Taimiyah, maka itu bukanlah hadist."


DA’I, MUJAHID, PEMBASMI BID’AH DAN PEMUSNAH MUSUH

Sejarah telah mencatat bahwa bukan saja Ibnu Taimiyah sebagai da’i yang tabah, liat, wara’, zuhud dan ahli ibadah, tetapi beliau juga seorang pemberani yang ahli berkuda. Beliau adalah pembela tiap jengkal tanah umat Islam dari kedzaliman musuh dengan pedannya, seperti halnya beliau adalah pembela aqidah umat dengan lidah dan penanya.

Dengan berani Ibnu Taimiyah berteriak memberikan komando kepada umat Islam untuk bangkit melawan serbuan tentara Tartar ketika menyerang Syam dan sekitarnya. Beliau sendiri bergabung dengan mereka dalam kancah pertempuran. Sampai ada salah seorang amir yang mempunyai diin yang baik dan benar, memberikan kesaksiannya: “…… tiba-tiba (di tengah kancah pertempuran) terlihat dia bersama saudaranya berteriak keras memberikan komando untuk menyerbu dan memberikan peringatan keras supaya tidak lari …” Akhirnya dengan izin Allah Ta’ala, pasukan Tartar berhasil dihancurkan, maka selamatlah negeri Syam, Palestina, Mesir dan Hijaz.

Tetapi karena ketegaran, keberanian dan kelantangan beliau dalam mengajak kepada al-haq, akhirnya justru membakar kedengkian serta kebencian para penguasa, para ulama dan orang-orang yang tidak senang kepada beliau. Kaum munafiqun dan kaum lacut kemudian meniupkan racun-racun fitnah hingga karenanya beliau harus mengalami berbagai tekanan di pejara, dibuang, diasingkan dan disiksa.

KEHIDUPAN PENJARA

Hembusan-hembusan fitnah yang ditiupkan kaum munafiqin serta antek-anteknya yang mengakibatkan beliau mengalami tekanan berat dalam berbagai penjara, justru dihadapi dengan tabah, tenang dan gembira. Terakhir beliau harus masuk ke penjara Qal’ah di Dimasyq. Dan beliau berkata: “Sesungguhnya aku menunggu saat seperti ini, karena di dalamnya terdapat kebaikan besar.”

Dalam syairnya yang terkenal beliau juga berkata:

Apakah yang diperbuat musuh padaku !!!!
Aku, taman dan dikebunku ada dalam dadaku
Kemanapun ku pergi, ia selalu bersamaku
dan tiada pernah tinggalkan aku.
Aku, terpenjaraku adalah khalwat
Kematianku adalah mati syahid
Terusirku dari negeriku adalah rekreasi.

Beliau pernah berkata dalam penjara:

“ Orang dipenjara ialah orang yang terpenjara hatinya dari Rabbnya, orang yang tertawan ialah orang yang ditawan orang oleh hawa nafsunya.”

Ternyata penjara baginya tidak menghalangi kejernihan fitrah islahiyah-nya, tidak menghalanginya untuk berdakwah dan menulis buku-buku tentang aqidah, tafsir dan kitab-kitab bantahan terhadap ahli-ahli bid’ah.

Pengagum-pengagum beliau di luar penjara semakin banyak. Sementara di dalam penjara, banyak penghuninya yang menjadi murid beliau, diajarkannya oleh beliau agar mereka iltizam kepada syari’at Allah, selalu beristighfar, tasbih, berdoa dan melakukan amalan-amalan shahih. Sehingga suasana penjara menjadi ramai dengan suasana beribadah kepada Allah. Bahkan dikisahkan banyak penghuni penjara yang sudah mendapat hak bebas, ingin tetap tinggal di penjara bersamanya. Akhirnya penjara menjadi penuh dengan orang-orang yang mengaji.

Tetapi kenyataan ini menjadikan musuh-musuh beliau dari kalangan munafiqin serta ahlul bid’ah semakin dengki dan marah. Maka mereka terus berupaya agar penguasa memindahkan beliau dari satu penjara ke penjara yang lain. Tetapi ini pun menjadikan beliau semakin terkenal. Pada akhirnya mereka menuntut kepada pemerintah agar beliau dibunuh, tetapi pemerintah tidak mendengar tuntutan mereka. Pemerintah hanya mengeluarkan surat keputusan untuk merampas semua peralatan tulis, tinta dan kertas-kertas dari tangan Ibnu Taimiyah.

Namun beliau tetap berusaha menulis di tempat-tempat yang memungkinkan dengan arang. Beliau tulis surat-surat dan buku-buku dengan arang kepada sahabat dan murid-muridnya. Semua itu menunjukkan betapa hebatnya tantangan yang dihadapi, sampai kebebasan berfikir dan menulis pun dibatasi. Ini sekaligus menunjukkan betapa sabar dan tabahnya beliau. Semoga Allah merahmati, meridhai dan memasukkan Ibnu Taimiyah dan kita sekalian ke dalam surganya.

WAFATNYA

Beliau wafatnya di dalam penjara Qal’ah Dimasyq disaksikan oleh salah seorang muridnya yang menonjol, Al-‘Allamah Ibnul Qayyim Rahimahullah.

Beliau berada di penjara ini selama dua tahun tiga bulan dan beberapa hari, mengalami sakit dua puluh hari lebih. Selama dalam penjara beliau selalu beribadah, berdzikir, tahajjud dan membaca Al-Qur’an. Dikisahkan, dalam tiap harinya ia baca tiga juz. Selama itu pula beliau sempat menghatamkan Al-Qur’an delapan puluh atau delapan puluh satu kali.

Perlu dicatat bahwa selama beliau dalam penjara, tidak pernah mau menerima pemberian apa pun dari penguasa.

Jenazah beliau dishalatkan di masjid Jami’ Bani Umayah sesudah shalat Zhuhur. Semua penduduk Dimasyq (yang mampu) hadir untuk menshalatkan jenazahnya, termasuk para Umara’, Ulama, tentara dan sebagainya, hingga kota Dimasyq menjadi libur total hari itu. Bahkan semua penduduk Dimasyq (Damaskus) tua, muda, laki, perempuan, anak-anak keluar untuk menghormati kepergian beliau.

Seorang saksi mata pernah berkata: “Menurut yang aku ketahui tidak ada seorang pun yang ketinggalan, kecuali tiga orang musuh utamanya. Ketiga orang ini pergi menyembunyikan diri karena takut dikeroyok masa. “ Bahkan menurut ahli sejarah, belum pernah terjadi jenazah yang dishalatkan serta dihormati oleh orang sebanyak itu melainkan Ibnu Taimiyah dan Imam Ahmad bin Hambal.

Beliau wafat pada tanggal 20 Dzul Hijjah th. 728 H, dan dikuburkan pada waktu Ashar di samping kuburan saudaranya Syaikh Jamal Al-Islam Syarafuddin. Semoga Allah merahmati Ibnu Taimiyah, tokoh Salaf, da’i, mujahidd, pembasmi bid’ah dan pemusnah musuh.
Wallahu a’lam.

1) Dinukil dari buku: Ibnu Taimiyah, Bathal Al-Islah Ad-Diny. Mahmud Mahdi Al-Istambuli, cet II 1397 H/1977 M. Maktabah Dar-Al-Ma’rifah-Dimasyq. hal. Depan.


Posting by Mohammad Nurdin

Selasa, 08 November 2011

Biografi Imam Ibnu Katsir

Nama Lengkap

Nama lengkap beliau adalah Abul Fida’, Imaduddin Ismail bin Umar bin Katsir al-Qurasyi al-Bushrawi ad-Dimasyqi, lebih dikenal dengan nama Ibnu Katsir. Beliau lahir pada tahun 701 H di sebuah desa yang menjadi bagian dari kota Bashra di negeri Syam. Pada usia 4 tahun, ayah beliau meninggal sehingga kemudian Ibnu Katsir diasuh oleh pamannya. Pada tahun 706 H, beliau pindah dan menetap di kota Damaskus.

Riwayat Pendidikan

Ibn Katsir tumbuh besar di kota Damaskus. Di sana, beliau banyak menimba ilmu dari para ulama di kota tersebut, salah satunya adalah Syaikh Burhanuddin Ibrahim al-Fazari. Beliau juga menimba ilmu dari Isa bin Muth’im, Ibn Asyakir, Ibn Syairazi, Ishaq bin Yahya bin al-Amidi, Ibn Zarrad, al-Hafizh adz-Dzahabi serta Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Selain itu, beliau juga belajar kepada Syaikh Jamaluddin Yusuf bin Zaki al-Mizzi, salah seorang ahli hadits di Syam. Syaikh al-Mizzi ini kemudian menikahkan Ibn Katsir dengan putrinya.

Selain Damaskus, beliau juga belajar di Mesir dan mendapat ijazah dari para ulama di sana.

Prestasi Keilmuan

Berkat kegigihan belajarnya, akhirnya beliau menjadi ahli tafsir ternama, ahli hadits, sejarawan serta ahli fiqih besar abad ke-8 H. Kitab beliau dalam bidang tafsir yaitu Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim menjadi kitab tafsir terbesar dan tershahih hingga saat ini, di samping kitab tafsir Muhammad bin Jarir ath-Thabari.

Para ulama mengatakan bahwa tafsir Ibnu Katsir adalah sebaik-baik tafsir yang ada di zaman ini, karena ia memiliki berbagai keistimewaan. Keistimewaan yang terpenting adalah menafsirkan al-Qur’an dengan al-Qur’an (ayat dengan ayat yang lain), menafsirkan al-Qur’an dengan as-Sunnah (Hadits), kemudian dengan perkataan para salafush shalih (pendahulu kita yang sholih, yakni para shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in), kemudian dengan kaidah-kaidah bahasa Arab.

Karya Ibnu Katsir

Selain Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, beliau juga menulis kitab-kitab lain yang sangat berkualitas dan menjadi rujukan bagi generasi sesudahnya, di antaranya adalah al-Bidayah Wa an-Nihayah yang berisi kisah para nabi dan umat-umat terdahulu, Jami’ Al Masanid yang berisi kumpulan hadits, Ikhtishar ‘Ulum al-Hadits tentang ilmu hadits, Risalah Fi al-Jihad tentang jihad dan masih banyak lagi.

Kesaksian Para Ulama

Kealiman dan keshalihan sosok Ibnu Katsir telah diakui para ulama di zamannya mau pun ulama sesudahnya. Adz-Dzahabi berkata bahwa Ibnu Katsir adalah seorang Mufti (pemberi fatwa), Muhaddits (ahli hadits), ilmuan, ahli fiqih, ahli tafsir dan beliau mempunyai karangan yang banyak dan bermanfa’at.

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani berkata bahwa beliau adalah seorang yang disibukkan dengan hadits, menelaah matan-matan dan rijal-rijal (perawinya), ingatannya sangat kuat, pandai membahas, kehidupannya dipenuhi dengan menulis kitab, dan setelah wafatnya manusia masih dapat mengambil manfa’at yang sangat banyak dari karya-karyanya.

Salah seorang muridnya, Syihabuddin bin Hajji berkata, “Beliau adalah seorang yang paling kuat hafalannya yang pernah aku temui tentang matan (isi) hadits, dan paling mengetahui cacat hadits serta keadaan para perawinya. Para sahahabat dan gurunya pun mengakui hal itu. Ketika bergaul dengannya, aku selalu mendapat manfaat (kebaikan) darinya.

Akhir Hayat

Ibnu Katsir meninggal dunia pada tahun 774 H di Damaskus dan dikuburkan bersebelahan dengan makam gurunya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Meski kini beliau telah lama tiada, tapi peninggalannya akan tetap berada di tengah umat, menjadi rujukan terpercaya dalam memahami Al Qur’an serta Islam secara umum. Umat masih akan terus mengambil manfaat dari karya-karyanya yang sangat berharga.

(SUMBER: Majalah Tashfia, edisi 03/2006, hal.63-64)
www.alsofwah.or.id

Posting by Mohammad Nurdin

Kamis, 06 Oktober 2011

50 Arti Kata Cinta : Al-Mahabbah (Cinta)

Al-Mahabbah atau Cinta.

Berikut ini pendapat yang dikemukakan di kalangan ahli bahasa sehubungan dengan definisi mahabbah atau cinta :
1. Cinta adalah kecenderungan permanen yang dialami oleh kalbu orang yang dimabuk asmara.
2. Cinta adalah sikap memprioritaskan orang yang dikasihi lebih dari semua teman.
3. Cinta ialah menuruti kemauan yang dicintai, baik di hadapannya maupun di belakangnya.
4. Cinta adalah menuruti kehendak antara pihak yang mencintai dan pihak yang medicintai dalam hal selera.
5. Cinta ialah menyajikan pelayanan disertai menjaga kesucian.
6. Cinta ialah banyak berkorban untuk orang yang Anda cintai dan enggan merepotkan orang yang Anda cintai.
7. Cinta ialah bilamana kalbu seseorang selalu ingat kepada orang yang dicintai.
8. Cinta pada hakekatnya ialah bila Anda menyerahkan diri Anda secara total kepada orang yang Anda Cintai tanpa menyisakan barang sedikit pun bagi diri Anda.
9. Cinta ialah bilamana kalbu Anda tidak mengingat apa pun selain orang yang Anda cintai.
10. Cinta ialah kecemburuan yang muncul dalam kalbu bila kehormatan kekasih ada yang melecehkan dan cemburu bila hati kekasih diberikan kepada orang lain.
11. Cinta adalah maksud hati yang tidak berkurang meskipun dijauhi dan tidak bertambah meskipun didekati.

12. Cinta ialah memelihara kesetiaan. Oleh karena itu, tidaklah benar orang yang mengakui cinta kepada sesorang sedang dia tidak memelihara kesetiaan.

13. Cinta ialah bilamana Anda mau melakukakn apa yang disukai oleh orang yang Anda cintai.

14. Cinta ialah menjauhi hiburan dalam keadaan apapun.

Barang siapa yang merasakan hiburan karena telah lama dimabuk asmara, maka sesungguhnya cintaku kepada Laila belum pernah merasakannya. Kebanyakan dari apa yang kuperoleh untuk berhubungan dengannya hanyalah angan-angan belaka yang tidak pernah terwujudkan seperti halnya kilauan cahaya kilat.

bersambung.....

Sumber : Ibnu Qayyim Al-Juziyah, Taman Jatuh Cinta dan Rekreasi Orang-orang Dimabuk Rindu, Irsyad Baitus Salam, Bandung, 2006 hal. 46 – 51.

Catatan : Judul Asli “Raudhatul Muhibbiin Wanuzhatul Musytaaqiin”, Penulis : Ibnu Qayyim Al-Juziyah atau Al-Imam Syamsyud Din atau Muhammad bin Abi Bakar bin Ayyub Ad-Dimasyqi Al-Hambali yang wafat tahun 751 H. Pujian : Al-Imam Burhanud Din Az-Zar'iy, telah mengatakan “Di kolong langit ini tiada seorang pun yang lebih luas ilmunya daripada Ibnu Qayyim Al-Juziyah”.

Posting by Mohammad Nurdin

Minggu, 17 April 2011

Makna-makna Kata Al-Ummah Dalam Al-Qur’an

Kata al-ummah digunakan di dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah, untuk makna yang bermacam-macam yaitu sebagai berikut :

1. Jangka Waktu

Kata al-ummah yang bermakna jangka waktu yang disebutkan dalam ayat : “Dan sesungguhnya jika Kami undurkan adzab dari mereka sampai kepada suatu waktu yang ditentukan, niscaya mereka akan berkata ‘Apakah yang menghalanginya?’ Ingatlah, di waktu adzab itu datang kepada mereka, maka (adzab itu) tidaklah dapat dipalingkan dari mereka, dan mereka diliputi oleh adzab yang dahulunya mereka selalu memperolok-olokannya.” ( QS. Hud : 8 )

Demikian juga firman Allah SWT dalam surat Yusuf : “Dan orang yang selamat di antara mereka berdua dan teringat (kepada Yusuf) sesudah beberapa waktu lamanya.” (QS. Yusuf : 45)

2. Imam Yang Menjadi Panutan

Kata al-ummah yang bermakna imam yang menjadi panutan disebutkan dalam ayat “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan yang patuh kepada Allah da hanif. Dan sekali-kali bukanlah ia termasuk orang-orang yang menyekutukan (Allah).” ( QS An-Nahl : 120 )

3. Al-Millah dan Ad-Din (agama)

Kata al-ummah yang bermakna al-millah atau ad-din sebagaimana firman Allah SWT tentang orang-orang musyrik, mereka mengatakan : “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami adalah para pengikut jejak mereka.” ( QS Az-Zukhruf : 23 )

dan juga firman Allah SWT : “Tiap-tiap umat mempunyai Rasul, maka apabila telah datang Rasul Mereka, diberikan lah keputusan antara mereka dengan adil dan mereka tidak dianiaya sedikit pun.” ( QS Yunus : 47 ). Yang dimaksud dengan al-ummah dalam ayat ini adalah orang-orang yang diutus kepada mereka seorang Rasul, baik mereka beriman maupun kafir. Sebagaimana disebutkan dalam Shahiih Muslim, bahwa Rasulullah SAW bersabda :

Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya! Tidaklah seorang dari umat ini, baik Yahudi maupun Nasrani, yang mendengar tentang diriku, lalu ia tidak beriman kepadaku, kecuali ia akan masuk Neraka.” (Muslim I/134. [Muslim (no. 153) dari Abu Hurairah ra]

4. Pengikut

Adapun al-ummah yang maknanya adalah pengikut yaitu orang-orang yang membenarkan para Rasul, sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah SWT : “Kalian adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan bagi umat manusia.” (QS Ali ‘Imran : 110 )

Dan di dalam hadits yang shahih disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda :

Maka aku berkata : ‘Umatku, umatku.’” (Muslim I/183). [Muslim (no. 193). Diriwayatkan juga oleh al-Bukhari (no. 7510]

5. Kelompok atau Golongan

Kata al-ummah juga digunakan untuk makna kelompok dan golongan, sebagaimana firman Allah SWT :

“Dan di antara kaum Musa terdapat sekelompok orang yang memberi petunjuk dengan kebenaran dan menggunakannya untuk menetapkan keadilan,” (QS Al-A’raaf : 159)

Dan juga firman Allah SWT : “Di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus” ( QS Ali ‘Imran : 113 )

Sumber : Syaikh Shafiyyur al-Mubarak Furi, Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 4, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, 2008 hal. 489 – 491

Website : www.tafsiribnukatsir.com

Posting by Mohammad Nurdin

Sabtu, 05 Maret 2011

Akhir Kehidupan Seseorang

Penilaikan kita terhadap seseorang tidak bisa hanya pada saat sekarang tetapi pada saat akhir hayatnya, karena akhir kehidupan seseorang dinilai pada hasil akhir bukan pada proses. Hasil akhir itu jelas karena satu kali yaitu pada ujungnya sedangkan proses itu panjang, sepanjang umur seseorang.
Berikut kutipan yang saya ambil dalam Syaikh Shafiyyur al-Mubarak Furi, Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 4, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, 2006 sebagai berikut :

Imam al-Bukhari berkata : “Aisyah ra berkata : “Jika engkau kagum terhadap bagusnya amal muslim, maka bacalah ‘Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-oarng mukmin akan melihat perbuatanmu itu.”(Fa-hul Baari XIII/512). Juga disebutkan dalam hadits yang semisal dengannya, yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Anas, bahwa Rasulullah saw bersabda :

Janganlah kalian kagum dengan (amal) seseorang sampai kalian melihat dengan apa ia menutup umurnya, sebab bisa jadi seseorang beramal shalih sepanjang umurnya atau sebagian besar dari usianya, yang seandainya saja ia mati dalam keadaandemikian maka ia akan masuk Surga. Tetapi kemudian ia berubah dan beramal dengan amal buruk. (Jangan pula kalian memvonis seseoarang masuk neraka), sebab bisa jadi seseorang hamba beramal keburukan pada sebagian besar umurnya, yang jika ia meninggal dalam keadaan demikian , ia masuk Neraka. Tetapi kemudian ia berubah dan mengerjakan amalan shalih (di akhir hayatnya). Jika Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, maka Allah akan memberikan taufik sebelum wafatnya.”

Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah bagaimana cara Allah memberikan taufik kepadanya?”

Beliau menjawab: “Allah memberinya petunjuk untuk beramal shalih kemudian mewafatkannya dalam keadaan demikian.”

(Ahmad III/120 [Shahih : Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shaahiihul Jaami'(no. 305)] Imam Ahmad meriwayatkannya sendirian.

Website : http://ibnukatsir.com


Posting by Mohammad Nurdin

Senin, 29 November 2010

Jesus' Sayings and Stories in Islamic Literatures (20)

191/303: Isa berkata: "Ya ulama, ambilah pelajaran dari pengetahuan yang tidak kau ketahui, dan ajarkanlah apa yang telah kau pelajari kepada kaum yang tidak mengetahui."
Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar adab dan teori kekuasaan (Abu al-Hasan 'Ali bin Muhammad al-Basri) Al-Mawardi (... - 450 H), Adab al-Dunya wa al-Din.

192/303: Orang bertanya kepada Isa: "Mengapa engkau tidak menikah?" Isa menjawab: "Hanya di tempat tinggal yang abadilah beranak pianak itu terpuji."
Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar adab dan teori kekuasaan (Abu al-Hasan 'Ali bin Muhammad al-Basri) Al-Mawardi (... - 450 H), Adab al-Dunya wa al-Din.

193/303: Isa berkata: "Sebagaimana kalian tidur, begitulah kalian [akan] mati. Sebagaimana kalian bangun, begitulah kalian [akan] dibangkitkan."
Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar adab dan teori kekuasaan (Abu al-Hasan 'Ali bin Muhammad al-Basri) Al-Mawardi (... - 450 H), Adab al-Dunya wa al-Din.

194/303: Isa berkata: "Hindarilah melihat perempuan terus menerus, karena itu membangkitkan nafsu syahwat di dalam hati; sebuah godaan yang cukup besar bagi yang melakukannya!"
Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh pakar adab dan teori kekuasaan (Abu al-Hasan 'Ali bin Muhammad al-Basri) Al-Mawardi (... - 450 H), Adab al-Dunya wa al-Din.
Rujukan silang atas ucapan di atas:

* (Abu al-Faraj 'Abd ar-Rahman bin 'Ali) Ibn al-Jauzi (... - 597 H), Damm al-Hawa.

195/303: Diriwayatkan bahwa Almasih diberi pertanyaan: "Sampai umur berapakah orang pantas menuntut ilmu?" Dia menjawab: "Selama hidup itu sendiri masih pantas."
Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh ulama Andalusia (Abu 'Umar Yusuf) Ibn 'Abd al-Barr al-Qurthubi (... - 463 H), Jami' Bayan al-'Ilm wa Fadlihi, 1:96.

196/303: Isa berkata: "Ya qurra' dan 'ulama, mengapa kalian menjadi tersesat setelah kalian menimba ilmu? Dan mengapa kalian menjadi buta setelah mata kalian mendapat penerangan? Dan semua ini hanya demi dunia yang hina dan nafsu serakah? Celakalah kalian di dunia ini, dan celakalah dunia ini gara-gara kalian!"
Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh ulama Andalusia (Abu 'Umar Yusuf) Ibn 'Abd al-Barr al-Qurthubi (... - 463 H), Jami' Bayan al-'Ilm wa Fadlihi, 1:190.

197/303: Almasih berkata: "Janganlah bersedih karena apa yang dikatakan orang tentang kalian. Bila apa yang dikatakan mereka itu salah, maka itu adalah amal shalih tanpa kalian harus menjalankannya. Bila apa yang dikatakan mereka itu benar, maka itu adalah perbuatan dosa yang balasannya telah ditimpakan."
Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh ulama Andalusia (Abu 'Umar Yusuf) Ibn 'Abd al-Barr al-Qurthubi (... - 463 H), Bahjat al-Majalis, 1:405.

198/303: Isa mengunjungi sebuah pekuburan. Ia memanggil seorang yang telah mati, dan Allah pun membangkitkannya. Isa bertanya kepadanya: "Siapakah kamu?" "Aku dulu seorang pengangkut barang," jawab orang itu, "aku memikul kayu bakar untuk seseorang, dan mematahkan sebuah ranting untuk membersihkan gigiku. Sejak aku meninggal aku terus ditanyai tentang ranting itu."
Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh tokoh sufi, qadi, dan 'ulama (Abu al-Qasim) Al-Qusyairi (... - 465 H), Al-Risala al-Qusyairiyya fil 'Ilm al-Tasawwuf.

199/303: Isa berkata: "Betapa banyak jenis pepohonan, tetapi tidak semuanya mengeluarkan buah-buahan. Betapa banyak jenis buah-buahan, tetapi tidak semuanya enak dimakan. Betapa banyak jenis ilmu pengetahuan, tetapi tidak semuanya bisa berguna."
Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (... - 505 H), Ihya' 'Ulum al-Din, 1:38.

200/303: Isa berkata: "Memberikan hikmah kepada orang selain dari yang pantas menerimanya adalah hal yang bathil, dan menyembunyikannya dari mereka yang pantas menerimanya sama dengan menzhalimi mereka. Bersikaplah seperti dokter baik hati yang meletakkan obat [tepat] pada bagian tubuh yang sakit." Menurut riwayat lain Isa berkata: "Barang siapa yang memberikan hikmah kepada orang selain dari yang pantas menerimanya adalah orang yang sombong, dan yang menyembunyikan hikmah dari orang yang pantas menerimanya sama dengan berbuat bathil. Hikmah mempunyai upahnya sendiri yang pantas, dan ada manusia yang pantas menerimanya, maka berikanlah kepada setiap orang upah yang pantas untuk mereka."
Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (... - 505 H), Ihya' 'Ulum al-Din, 1:43.
Rujukan silang atas ucapan di atas:

* (Abu 'Utsman 'Amr bin Barr) Al-Jahiz (... - 255 H), Al-Bayan wa al-Tabyin, 2:35;
* Ikhwan al-Safa' (nama sebuah kelompok di penghujung abad ke-4 H), Rasa'il Ikhwan al-Safa' wa Khillan al-Wafa', 4:215 [sebagian];
* (Abu al-Hasan 'Ali bin Muhammad al-Basri) Al-Mawardi (... - 450 H), Adab al-Dunya wa al-Din;
* (Abu 'Umar Yusuf) Ibn 'Abd al-Barr al-Qurthubi (... - 463 H), Jami' Bayan al-'Ilm wa Fadlihi, 1:109 [sebagian];
* (Abu al-Qasim 'Ali bin al-Hasan) Ibn 'Asakir (... - 571 H), Sirat al-Sayyid al-Masih, 225 [variasi].

Catatan:

Biasanya Tarif Khalidi memasukkan di daftar rujukan para peulis yang hidup terkemudian daripada si penulis utama. Dalam "Jesus' Sayings ..." nomer 200 ini dia memasukkan Imam al-Ghazali sebagai penulis utama, dan memasukkan tokoh-tokoh lain yang hidup sebelum al-Ghazali --kecuali Ibn 'Asakir-- sebagai rujukan.

Sumbangan: Jajang Kurniawan [Jajang.Kurniawan@Allianz.co.id] melalui milis hikmah@isnet.org

Sumber : http://media.isnet.org/antar/jsi/index.html

Posting by Mohammad Nurdin

Jesus' Sayings and Stories in Islamic Literatures (19)

181/303: Kaum hawariyyun bertanya kepada Isa: "Bagaimana pendapat engkau atas penguasa?" Isa menjawab: "Penguasa itu menjadi godaan bagi kalian. Jangan biarkan kecintaan kalian pada mereka membuat kalian berbuat kesalahan terhadap Allah; dan jangan biarkan kebencian kalian pada mereka membuat kalian membangkang Allah. Apabila kalian melaksanakan kewajiban kalian pada mereka, kalian akan terhindar dari kesalahan-kesalahan mereka, dan keimanan kalian tidak akan ternodai."
Keterangan:

Percakapan di atas diriwayatkan oleh wazir Daula Syiah Bujiah (Abu Sa'd Mansur bin al-Husain) Al-Abi (... - 421 H), Natsr al-Durr, 7:33.

182/303: Isa senantiasa berkata: "Kebanyakan makanan bisa membinasakan ruhani seperti halnya kebanyakan air membinasakan tanaman."
Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh wazir Daula Syiah Bujiah (Abu Sa'd Mansur bin al-Husain) Al-Abi (... - 421 H), Natsr al-Durr, 7:35.

183/303: Isa berkata kepada para pengikutnya: "Serahkanlah diri kalian kepada kelaparan dan kehausan, berjalanlah telanjang, dan lemahkanlah diri kalian sendiri, agar hati kalian bisa mengenal Allah Yang Mahakuasa."
Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh biograf tentang para wali dan sufi (Ahmad bin 'Abdallah) Abu Nu'aim al-Isbahani (... - 430 H), Hilyat al-Auliya' wa Tabaqat al-Asfiya, 2:370.
Rujukan silang atas ucapan di atas:

* (Abu Hamid Muhammad bin Muhammad) Al-Ghazali (... - 505 H), Ihya' 'Ulum al-Din, 3:79.

184/303: Isa berkata: "Barangsiapa yang merasa tidak perlu nasihat, akan bertindak tanpa keberhasilan."
Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh biograf tentang para wali dan sufi (Ahmad bin 'Abdallah) Abu Nu'aim al-Isbahani (... - 430 H), Hilyat al-Auliya' wa Tabaqat al-Asfiya, 5:237.

185/303: Isa berkata: "Jika kalian mampu, ikhlaslah seperti burung merpati dalam menghadapi Allah." Orang berkata bahwa tidak ada makhluk yang lebih ikhlas daripada burung merpati. Kalian bisa mencuri anak-anak burung merpati dari bawah badannya, membunuh anak-anaknya, dan si burung merpati akan [tetap] kembali ke tempat itu untuk tidur.
Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh biograf tentang para wali dan sufi (Ahmad bin 'Abdallah) Abu Nu'aim al-Isbahani (... - 430 H), Hilyat al-Auliya' wa Tabaqat al-Asfiya, 5:239.
Rujukan silang atas ucapan di atas:

* (Abu 'Utsman 'Amr bin Barr) Al-Jahiz (... - 255 H), Al-Bayan wa al-Tabyin, 2:242.

Catatan:

Bandingkan Matius 10:16.

186/303: Diriwayatkan --wallahu 'alam-- bahwa Isa pada suatu hari melewati sebuah lembah yang bernama Lembah Kebangkitan dan melihat sebuah tengkorak yang sudah memutih dari sebuah badan yang tulang-tulangnya sudah hancur membusuk. Isa mengagumi warna putih tengkorak ini. Orang ini mati tujuh puluh dua tahun sebelumnya. Isa berdoa: "Ya Allah Yang tidak bisa dilihat mata, Yang tidak bisa dijatuhkan oleh kekacauan, Yang tidak bisa digambarkan oleh siapapun, aku memohon kepadaMu agar tengkorak ini mengatakan kepadaku termasuk kaum mana dia." Allah berfirman: "Ya Isa, berbicaralah kepada tengkorak ini, dan dia akan menjawab berkat kekuasaanKu, karena Aku berkuasa atas segala sesuatu." Isa mengucapkan lafaz yang diwajibkan, mendekati tengkorak itu dan berkata: "Bismillahirrahmanirrahim." Tengkorak itu menjawab dengan lugas: "Ya Ruhullah, engkau telah menyebut nama yang terbaik dari semua nama." Isa berkata: "Aku memohon kepadamu demi Allah Yang Mahakuasa untuk mengatakan kepadaku di mana keindahan dan kebersihanmu, di mana daging dan lemakmu, di mana belulang dan nyawamu." Tengkorak itu menjawab: "Ya Ruhullah, tanah telah mengubah keindahan dan kebersihanku. Daging dan lemakku telah dimakan cacing. Belulangku hancur membusuk. Jiwaku hari ini berada di dalam api neraka di dalam siksaan yang besar." Isa berkata: "Aku bertanya kepadamu demi Allah Yang Mahakuasa termasuk kaum mana engkau ini?" Tengkorak itu menjawab: "Aku termasuk kaum yang memperoleh azab Allah di dunia ini." Isa bertanya: "Mengapa azab Allah menimpa kalian?" Tengkorak itu menjawab: "Ya Ruhullah, Allah mengutus seorang nabi yang menyampaikan kebenaran kepada kami, tetapi kami menyebutnya pendusta. Dia memerintahkan kami untuk mematuhi Allah, tetapi kami tidak mematuhiNya. Maka kemudian Allah mengirimkan hujan dan petir kepada kami selama tujuh tahun tujuh bulan dan tujuh hari. Kemudian pada suatu hari turun kepada kami malaikat-malaikat penyiksa. Tiap malaikat mempunyai dua cambuk, yang satu terbuat dari besi, yang lainnya dari api. Malaikat-malaikat itu tidak berhenti untuk menarik nyawaku dari tiap anggota tubuhku dan dari tiap urat nadiku, hingga nyawaku sampai di tenggorokan. Dan pada saat itu malaikat maut mengulurkan tangannya mencabut nyawaku." Isa berkata: "Aku mohon demi Allah Yang Mahakuasa, gambarkanlah malaikat maut itu!" Tengkorak itu menjawab: "Ruhullah, malaikat maut mempunyai satu tangan di barat dan satu lagi di timur. Kepalanya mencapai lapisan langit tertinggi, dan kakinya mencapai wilayah ketujuh dan terbawah dari bumi. Bumi sendiri terletak di antara dua lututnya, dan semua makhluk berada di antara matanya." Tengkorak itu meneruskan: "Ya Nabiyullah, tidak sampai satu jam [kemudian] datang dua malaikat hitam pekat menghampiriku. Mereka berbicara seperti guruh yang menggelegar, dan mata mereka menyambar laksana petir. Mereka berambut ikal, dan merambah bumi dengan gigi-gigi taring mereka. Mereka berkata kepadaku: 'Siapakah tuhanmu? Siapakah nabimu? Siapakah imammu?' Ya Ruhullah, aku merasa takut dan berkata: 'Aku tidak mempunyai tuhan, nabi, dan imam selain Allah.' 'Kamu bohong,' kata mereka, 'kamu adalah musuh Allah dan musuhmu sendiri.' Kemudian mereka memukulku dengan sebuah tongkat besi dengan keras sekali hingga aku merasakan bagaimana tulang-tulangku remuk dan daging tubuhku terpental. Lalu mereka melemparkanku ke dasar neraka dan menyiksaku sesuai kehendak Allah. Ketika aku berada di dalam keadaan ini datang dua malaikat pencatat yang menulis semua amal para makhluk dunia ini; dan mereka berkata kepadaku: 'Hai musuh Allah, ikutlah kami mengunjungi tempat penghuni surga.' Aku pun mengikuti mereka ke pintu surga yang pertama, dan menyaksikan bahwa surga mempunyai delapan pintu. Surga itu terbuat dari bebatuan yang sebagiannya adalah emas dan perak. Ubinnya terdiri dari muska. Rumputnya adalah za'faran. Kerikilnya adalah mutiara dan rubin. Sungai-sungainya berisi susu, air, dan madu. Penghuninya adalah remaja-remaja muda seumur yang mempesona dan saleh. Ya Ruhullah, aku benar-benar terpesona. Kemudian kedua pencatat itu berkata kepadaku: 'Hai musuh Allah dan musuhmu sendiri, di kehidupan duniamu kau tidak beramal saleh untuk bisa menikmati semua ini. Sekarang ikutlah kami pergi ke tempat penghuni neraka.' Akupun pergi bersama malaikat pencatat itu ke pintu neraka pertama, di mana ular-ular dan kalajengking mendesis-desis; dan akupun bertanya: 'Disediakan untuk siapakah siksaan ini?' 'Untukmu,' jawab mereka, 'dan untuk orang yang memakan harta anak yatim dengan bathil.' Aku pergi bersama mereka ke pintu kedua, di mana para lelaki digantung pada janggut mereka, dan anjing-anjing menjilati darah dan nanah dari tangan mereka. Aku berkata ke malaikat pencatat: 'Disediakan untuk siapakah siksaan ini?' 'Untukmu,' jawab mereka, 'dan untuk orang yang meminum khamr dan memakan makanan haram di kehidupan dunia.' Aku pergi bersama mereka ke pintu ketiga dan melihat bagaimana api menyembur masuk ke mulut orang-orang dan keluar dari punggung mereka. 'Disediakan untuk siapakah siksaan ini?' 'Untukmu,' jawab mereka, 'dan untuk orang yang memfitnah wanita baik-baik di kehidupan dunianya.' Akupun pergi bersama mereka ke pintu yang keempat dan melihat wanita-wanita yang digantung pada lidah mereka, dan api keluar dari mulut mereka. 'Disediakan untuk siapakah siksaan ini?' 'Untukmu,' jawab mereka, 'dan untuk orang yang tidak mendirikan shalat.' Aku pergi bersama mereka ke pintu yang kelima dan melihat wanita-wanita yang digantung pada rambut mereka, dan api menyembur ke kepala mereka. 'Disediakan untuk siapakah siksaan ini?' 'Untukmu,' jawab mereka, 'dan untuk mereka yang bersolek untuk orang lain selain suaminya.' Akupun pergi bersama mereka ke pintu yang keenam dan melihat wanita-wanita yang digantung pada rambut dan lidah mereka dan api menyembur ke kepala mereka. 'Disediakan untuk siapakah siksaan ini?' 'Untukmu,' jawab mereka, 'dan untuk kaum pendosa yang sesat di dunia.' Aku pergi bersama mereka ke pintu yang ketujuh dan melihat laki-laki yang di bawahnya terdapat sebuah sumur yang disebut Sumur Falaq. Aku dilemparkan ke sana, ya Ruhullah. Di dalamnya aku mendapat siksaan yang keras dan menjadi saksi atas banyak sekali hal-hal yang mengerikan. Kemudian Isa berkata: "Hai tengkorak, kalau kau mau, mintalah kepadaku sesuatu yang kau inginkan, insya Allah." Tengkorak itu menjawab: "Ya Ruhullah, mintakanlah agar Allah mengembalikan kehidupan duniaku." Isa berdoa kepada Allah yang kemudian menghidupkan kembali tengkorak itu. Dengan qadrat Allah Yang Mahakuasa wanita itu hidup kembali dan bertemu dengan Isa. Kemudian dia beribadah bersama Isa dua belas tahun lamanya, sehingga kepastian --artinya: kematian-- menemuinya. Dia meninggal sebagai muminah yang sebenarnya, dan Allah dalam kemurahanNya memberikan tempat baginya di antara para penghuni surga.
Keterangan:

Kisah di atas diriwayatkan oleh biograf tentang para wali dan sufi (Ahmad bin 'Abdallah) Abu Nu'aim al-Isbahani (... - 430 H), Hilyat al-Auliya' wa Tabaqat al-Asfiya, 6:10-12.

187/303: Di dalam kitab-kitab injil tertulis: "Satu saja batu salah [terpasang] akan membuat tembok runtuh."
Keterangan:

Kalimat di atas diriwayatkan oleh biograf tentang para wali dan sufi (Ahmad bin 'Abdallah) Abu Nu'aim al-Isbahani (... - 430 H), Hilyat al-Auliya' wa Tabaqat al-Asfiya, 6:95.

188/303: Isa berkata: "Bicaralah banyak kepada Allah, bicaralah sedikit kepada manusia." Orang bertanya kepadanya: "Bagaimana kami bisa berbicara banyak kepada Allah?" Isa menjawab: "Bicaralah kepadaNya di dalam kesunyian, berdoalah kepadaNya di dalam kesendirian."
Keterangan:

Percakapan di atas diriwayatkan oleh biograf tentang para wali dan sufi (Ahmad bin 'Abdallah) Abu Nu'aim al-Isbahani (... - 430 H), Hilyat al-Auliya' wa Tabaqat al-Asfiya, 6:195.
Rujukan silang atas ucapan Isa di atas:

* (Abu al-Qasim) Al-Qusyairi (... - 465 H), Al-Risala al-Qusyairiyya fil 'Ilm al-Tasawwuf [variasinya, di sini dinisbatkan kepada sahabat Nabi: Mu'adz bin Jabal].

189/303: Jika kalian ingin, kalian bisa mencontoh apa yang senantiasa diucapkan oleh orang yang memiliki "kalima" dan "ruh", yaitu Isa ibnu Maryam: "Lapar adalah bumbu makananku, takut adalah pakaianku, kulit domba adalah bajuku, cahaya fajar adalah penghangatku di musim dingin, bulan adalah lenteraku, kakiku adalah tungganganku, dan hasil bumi adalah makanan dan buah-buahanku. Aku tidur di malam hari tidak dengan apa-apa kecuali namaku, dan aku terbangun di pagi hari tidak dengan apa-apa kecuali namaku. Dan tidak ada seorang pun di dunia ini yang lebih kaya daripada aku."
Keterangan:

Hal di atas diriwayatkan oleh biograf tentang para wali dan sufi (Ahmad bin 'Abdallah) Abu Nu'aim al-Isbahani (... - 430 H), Hilyat al-Auliya' wa Tabaqat al-Asfiya, 6:314.

190/303: Isa berkata: "Ya Bani Israil, Musa telah melarang kalian untuk berzina, dan memang baguslah larangan dia itu. Aku melarang kalian bahkan untuk membayangkan berzina, karena orang yang membayangkannya [meski] tanpa melakukannya adalah seperti rumah yang terbuat dari tanah lumpur yang di dalamnya dinyalakan api: meski rumahnya tidak terbakar, rumah ini toh akan menghitam oleh asap." [Isa juga berkata:] "Ya Bani Israil, Musa telah melarang kalian untuk bersumpah palsu dengan nama Allah, dan baguslah larangan dia itu. Aku melarang kalian sama sekali untuk bersumpah dengan nama Allah, tidak peduli apakah sumpah kalian benar atau salah."
Keterangan:

Ucapan di atas diriwayatkan oleh biograf tentang para wali dan sufi (Ahmad bin 'Abdallah) Abu Nu'aim al-Isbahani (... - 430 H), Hilyat al-Auliya' wa Tabaqat al-Asfiya, 8:145-146.
Catatan:

Bandingkan Matius 5:27-28 dan 5:33-35.

Sumbangan: Jajang Kurniawan [Jajang.Kurniawan@Allianz.co.id] melalui milis hikmah@isnet.org

Posting by Mohammad Nurdin

Kamis, 16 September 2010

Sejarah Singkat Imam Hanbali

Berikut ini sejarah singkat Imam Ahmad Ibn Hanbali yang saya ambil dari Hadist Web 3.0 Beliau adalah pendiri Madzhab Hanbali, sebuah madzhab yang banyak diikuti di wilayah Timur Tengah. Mulai mengajar di usia yang sama dengan Rasulullah SAW yaitu 40 tahun, karena keinginan kuat meneladani Nabi SAW. Beliau mendapat cobaan sangat berat karena hidup dan berdakwah di zaman khalifah yang menganut paham Mu'tazilah yang sangat memuja akal dan menyingkirkan sunnah. Ketabahannya berbuah harum. Namanya tetap abadi dan menjadi suri tauladan bagi generasi selanjutnya. Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari peri kehidupan beliau. Berikut cerita ini dituturkan :

"Ia murid paling cendekia yang pernah saya jumpai selama di Baghdad. Sikapnya menghadapi sidang pengadilan dan menanggung petaka akibat tekanan khalifah Abbasiyyah selama 15 tahun karena menolak doktrin resmi Mu'tazilah merupakan saksi hidup watak agung dan kegigihan yang mengabdikannya sebagai tokoh besar sepanjang masa." Penilaian ini diungkapkan oleh Imam Syafi'i, yang tak lain adalah guru Imam Hanbali. Menurut Syafi'i, perjuangan mempertahankan keyakinan yang tak sesuai dengan pemikiran seseorang, selalu menghadapi risiko antara hidup dan mati. Dan Imam Hanbali membuktikan hal itu.

Imam Hanbali yang dikenal ahli dan pakar hadits ini memang sangat memberikan perhatian besar pada ilmu yang satu ini. Kegigihan dan kesungguhannya telah melahirkan banyak ulama dan perawi hadits terkenal semisal Imam Bukhari, Imam Muslim, dan Imam Abu Daud yang tak lain buah didikannya. Karya-karya mereka seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim atau Sunan Abu Daud menjadi kitab hadits standar yang menjadi rujukan umat Islam di seluruh dunia dalam memahami ajaran Islam yang disampaikan Rasulullah SAW lewat hadits-haditsnya.

Kepakaran Imam Hanbali dalam ilmu hadits memang tak diragukan lagi sehingga mengundang banyak tokoh ulama berguru kepadanya. Menurut putra sulungnya, Abdullah bin Ahmad, Imam Hanbali hafal hingga 700.000 hadits di luar kepala.

Hadits sejumlah itu, diseleksi secara ketat dan ditulisnya kembali dalam kitab karyanya Al Musnad. Dalam kitab tersebut, hanya 40.000 hadits yang dituliskan kembali dengan susunan berdasarkan tertib nama sahabat yang meriwayatkan. Umumnya hadits dalam kitab ini berderajat sahih dan hanya sedikit yang berderajat dhaif. Berdasar penelitian Abdul Aziz al Khuli, seorang ulama bahasa yang banyak menulis biografi tokoh sahabat, sebenarnya hadits yang termuat dalam Al Musnad berjumlah 30 ribu karena ada sekitar 10 ribu hadits yang berulang.

Kepandaian Imam Hanbali dalam ilmu hadits, bukan datang begitu saja. Tokoh kelahiran Baghdad, 780 M (wafat 855 M) ini, dikenal sebagai ulama yang gigih mendalami ilmu. Lahir dengan nama Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, Imam Hanbali dibesarkan oleh ibunya, karena sang ayah meninggal dalam usia muda. Hingga usia 16 tahun, Hanbali belajar Al-Qur'an dan ilmu-ilmu agama lain kepada ulama-ulama Baghdad.

Setelah itu, ia mengunjungi para ulama terkenal di berbagai tempat seperti Kufah, Basrah, Syam, Yaman, Mekkah dan Madinah. Beberapa gurunya antara lain Hammad bin Khalid, Ismail bil Aliyyah, Muzaffar bin Mudrik, Walin bin Muslim, dan Musa bin Tariq. Dari merekalah Hanbali muda mendalami fikih, hadits, tafsir, kalam, dan bahasa. Karena kecerdasan dan ketekunannya, Hanbali dapat menyerap semua pelajaran dengan baik.

Kecintaannya kepada ilmu begitu luar biasa. Karenanya, setiap kali mendengar ada ulama terkenal di suatu tempat, ia rela menempuh perjalanan jauh dan waktu lama hanya untuk menimba ilmu dari sang ulama. Kecintaan kepada ilmu jua yang menjadikan Hanbali rela tak menikah dalam usia muda. Ia baru menikah setelah usia 40 tahun.

Pertama kali, ia menikah dengan Aisyah binti Fadl dan dikaruniai seorang putra bernama Saleh. Ketika Aisyah meninggal, ia menikah kembali dengan Raihanah dan dikarunia putra bernama Abdullah. Istri keduanya pun meninggal dan Hanbali menikah untuk terakhir kalinya dengan seorang jariyah, hamba sahaya wanita bernama Husinah. Darinya ia memperoleh lima orang anak yaitu Zainab, Hasan, Husain, Muhammad, dan Said.

Tak hanya pandai, Imam Hanbali dikenal tekun beribadah dan dermawan. Imam Ibrahim bin Hani, salah seorang ulama terkenal yang jadi sahabatnya menjadi saksi akan kezuhudan Imam Hanbali. ''Hampir setiap hari ia berpuasa dan tidurnya pun sedikit sekali di waktu malam. Ia lebih banyak shalat malam dan witir hingga Shubuh tiba,'' katanya.

Mengenai kedermawanannya, Imam Yahya bin Hilal, salah seorang ulama ahli fikih, berkata, ''Aku pernah datang kepada Imam Hanbali, lalu aku diberinya uang sebanyak empat dirham sambil berkata, 'Ini adalah rezeki yang kuperoleh hari ini dan semuanya kuberikan kepadamu.'''

Imam Hanbali juga dikenal teguh memegang pendirian. Di masa hidupnya, aliran Mu'tazilah tengah berjaya. Dukungan Khalifah Al Ma'mun dari Dinasti Abbasiyah yang menjadikan aliran ini sebagai madzhab resmi negara membuat kalangan ulama berang. Salah satu ajaran yang dipaksakan penganut Mu'tazilah adalah paham Al-Qur'an merupakan makhluk atau ciptaan Tuhan. Banyak umat Islam yang menolak pandangan itu.

Imam Hanbali termasuk yang menentang paham tersebut. Akibatnya, ia pun dipenjara dan disiksa oleh Mu'tasim, putra Al Ma'mun. Setiap hari ia didera dan dipukul. Siksaan ini berlangsung hingga Al Wasiq menggantikan ayahnya, Mu'tasim. Siksaan tersebut makin meneguhkan sikap Hanbali menentang paham sesat itu. Sikapnya itu membuat umat makin bersimpati kepadanya sehingga pengikutnya makin banyak kendati ia mendekam dalam penjara.

Sepeninggal Al Wasiq, Imam Hanbali menghirup udara kebebasan. Al Mutawakkil, sang pengganti, membebaskan Imam Hanbali dan memuliakannya. Namanya pun makin terkenal dan banyaklah ulama dari berbagai pelosok belajar kepadanya. Para ulama yang belajar kepadanya antara lain Imam Hasan bin Musa, Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Daud, Imam Abu Zur'ah Ad Dimasyqi, Imam Abu Zuhrah, Imam Ibnu Abi, dan Imam Abu Bakar Al Asram.

Sebagaimana ketiga Imam lainnya; Syafi'i, Hanafi dan Maliki, oleh para muridnya, ajaran-ajaran Imam Ahmad ibn Hanbali dijadikan patokan dalam amaliyah (praktik) ritual, khususnya dalam masalah fikih. Sebagai pendiri madzhab tersebut, Imam Hanbali memberikan perhatian khusus pada masalah ritual keagamaan, terutama yang bersumber pada Sunnah.

Menurut Ibnu Qayyim, salah seorang pengikut madzhab Hanbali, ada lima landasan pokok yang dijadikan dasar penetapan hukum dan fatwa madzhab Hanbali. Pertama, nash (Al-Qur'an dan Sunnah). Jika ia menemukan nash, maka ia akan berfatwa dengan Al-Qur'an dan Sunnah dan tidak berpaling pada sumber lainnya. Kedua, fatwa sahabat yang diketahui tidak ada yang menentangnya.

Ketiga, jika para sahabat berbeda pendapat, ia akan memilih pendapat yang dinilainya lebih sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah Nabi SAW. Jika ternyata pendapat yang ada tidak jelas persesuaiannya dengan Al-Qur'an dan Sunnah, maka ia tidak akan menetapkan salah satunya, tetapi mengambil sikap diam atau meriwayatkan kedua-duanya.

Keempat, mengambil hadits mursal (hadits yang dalam sanadnya tidak disebutkan nama perawinya), dan hadits dhaif (hadits yang lemah, namun bukan 'maudu', atau hadits lemah). Dalam hal ini, hadits dhaif didahulukan daripada qias. Dan kelima adalah qias, atau analogi. Qias digunakan bila tidak ditemukan dasar hukum dari keempat sumber di atas.

Pada awalnya madzhab Hanbali hanya berkembang di Baghdad. Baru pada abad ke-6 H, madzhab ini berkembang di Mesir. Perkembangan pesat terjadi pada abad ke-11 dan ke-12 H, berkat usaha Ibnu Taimiyyah (w. 728 H) dan Ibnu Qayyim (w. 751 H). Kedua tokoh inilah yang membuka mata banyak orang untuk memberikan perhatian pada fikih madzhab Hanbali, khususnya dalam bidang muamalah. Kini, madzhab tersebut banyak dianut umat Islam di kawasan Timur Tengah.

Hasil karya Imam Hanbali tersebar luas di berbagai lembaga pendidikan keagamaan. Beberapa kitab yang sampai kini jadi kajian antara lain Tafsir Al-Qur'an, An Nasikh wal Mansukh, Jawaban Al-Qur'an, At Tarikh, Taat ar Rasul, dan Al Wara. Kitabnya yang paling terkenal adalah Musnad Ahmad bin Hanbal.


Posting by Mohammad Nurdin

Senin, 13 September 2010

Perintah Berwudhu

"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit[403] atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh[404] perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur." (QS Surat Al-Maa-idah (5) : 6)
[403]. Maksudnya: sakit yang tidak boleh kena air.
[404]. Artinya: menyentuh. Menurut jumhur ialah: menyentuh sedang sebagian mufassirin ialah: menyetubuhi.

Ayat ini berisi perintah untuk berwudhu. Tidak sah shalat kita bila kita tidak dalam keadaan suci. Bersuci yang utama adalah berwudhu. Bila keadaan terpaksa karena beberapa halangan maka berwudhu bisa digantikan dengan tayamum. Mengetahui bagaimana cara berwudhu yang benar akan menjadikan shalat kita diterima Allah SWT sebagai amal ibadah. Shahabat Nabi SAW yang ketahuan berwudhu tidak benar, terlihat di kakinya menempel uang logam, maka Rasulullah memerintahkannya untuk mengulang wudhu dan juga shalatnya. Bagaimana jika wudhu kita belum benar sehingga dampaknya shalat kita tidak sah? Naudzu billah min dzalik. Maka tulisan ini yang diambil dari Kitab Tafsir yang banyak menjadi rujukan Umat Islam di seluruh dunia, sebuah kitab tafsir yang disusun sekitar abad XII dan mampu bertahan terhadap tempaan jaman karena mengangkat ilmu yang tidak lekang oleh zaman yaitu ibadah yang hanya mencontoh dari suri tauladan Nabi SAW tercinta yaitu Tafsir Ibnu Katsir.
Ingatlah! Semua orang akan merugi kecuali yang berilmu. Semua orang berilmu akan merugi kecuali yang beramal. Semua orang yang beramal akan merugi kecuali yang ikhlas. Itulah amal shalih, yaitu amal yang berdasar ilmu dan dilandasi keikhlasan hati. Semoga kita bisa menjadi yang demikian.
Marilah bersama-sama kita mengkaji. Berikut ini uraian bab perintah berwudhu dalam Tafsir Ibnu Katsir :

Firman-Nya, Apabila kamu hendak mengerjakan shalat. Ayat ini memerintahkan untuk berwudhu ketika hendak mendirikan shalat. Perintah ini wajib bagi orang yang berhadats. Sedangkan bagi orang yang masih suci hukumnya anjuran (sunnah). Ada yang berpendapat bawa perintah berwudhu’ padasetiap shalat adalah wajib di permulaan Islam, kemudian ketentuan ini dihapuskan. Imam Ahmad bin Hambal meriwayatkan dari Sulaiman bin Buraidah, dari ayahnya , ia mengatakan, Dulu Nabi SAW berwudhu pada tiap-tiap shalat. Namunketika pada hari penaklukan kota Makkah, beliau berwudhu dan mengusap bagian atas kedua khufnya (sepatu kulit) , serta melakukan beberapa shalat dengan sekali wudhu. Melihat hal itu , ‘Umar bertanya, ‘Wahai Rasulullah, engkau melakukan sesuatu yang belum pernah engkau lalukan sebelumnya.’ Beliau mengatakan, ‘Aku sengaja melakukannya, wahai ‘Umar’’’(Ahmad (V/358)) Demikian diriwayatkan Muslim dan para penulis as-Sunan (Muslim (I/232); Abu Dawud (I/20); Tuhfatul Ahwadzi (I/194); an-Nasa-I (I/86); dan Ibnu Maja (I/170). [Muslim(no. 277), Abu Dawud (no. 172), at-Tirmidzi (no. 61), Ibnu Majah (no. 510)]

Ibnu Jarir meriwayatkan bahwa al-Fadhl bin al-Mubasysyir menuturkan kepadanya, Aku melihat Jabir bin ‘Abdillah mengerjakan beberapa shalat dengan sekali wudhu. Jika ia buang air kecil atau berhadats, maka ia berwudhu dan mengusap kedua sepatunya dengan bekas bersucinya. Aku bertanya, ‘Wahai Abu ‘Abdillah, apakah engkau melakukan hal itu dengan pendapatmu?’ Ia menjawab, ‘Bahkan aku melihat Nabi SAW melakukannya.(Ath-Thabari (X/11)) Demikian pula hats ini diriwayatkan Ibnu Majah.(Ibnu Majah (I/70). [Ibnu Majah (no. 511). Shahih lighairi: Lihat Shahiih Sunan Ibni Majah (I/162)].

Ahmad meriwayatkan dari ‘Ubaidullah bin Abdillah bin ‘Umar, ia mengatakan,Tahukah kamu wudhu Abdullah bin Umar untuk tiap-tia shalat, baik dalam keadaan masih suci atau tidak suci, dari siapakah dia? Ia mengatakan,Asma binti Zaid bin al_Khattab menuturkan kepadanya bahwa Abdullah bin Hanzhalah bin Abi Amir al-Ghasil menuturkan kepadanya bahwa Rasulullah SAW memerintahkan berwudhu untuk tiap-tiap shalat, baik dalam keadaan suci maupun tdak suci. Ketika hal itu dirasakan berat, beliau memerintahkan bersiwak pada tiap-tiap shalat, dan wudhu digugurkan darinya kecuali bagi siapa yang berhadats. Abdullah merasa masih kuat untuk melakukan hal itu, sehingga ia melakukannya hingga wafat.(Ahmad (V/225).[hasan : Dihasankan oleh Syaikh al-Arna-uth (no. 21960). Cet. Ar-Risalah]. Perbuatan Ibnu Umar dan konsistensinya menyempurnakan wudhu untuk tiap-tiap shalat mengandung dalilatas dianjurkannya hal itu, sebagaimana yang dianut madzhab jumhur.
Abu Dawud memerintahkan dari Abdullah bin Abbas ra bahwa Rasulullah SAW keluar dari tempat buang hajat, lalu makanan dihidangkan kepada beliau, maka mereka mengatakan, Sudikah kiranya kami bawakan air wudhu kepadamu? Beliau menjawab, Sesungguhnya aku hanya diperintahkan untuk berwudhu ketika aku hendak melaksanakan shalat.(Abu Dawud (IV/36). [Abu Dawud (no. 3760)] Hadits ini juga diriwayatkan at-Tirmidzi dan an-Nasa-i. (Tuhfatul Ahwadzi (V/579); danan-Nasa-I (I/85). {At-Tirmidzi (no. 1847).Shahih : Lihat shahiihul Jaami’ (no. 2337)] At-Tirmidzi mengatakan , Ini hatis hasan.

Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, ia mengatakan, Kami di sisi Nabi SAW, lalu beliau menuju tempat buang hajat. Kemudian ketika beliau kembali, makanan dihidangkan, maka ditanya:, Wahai Rasulullah , apakah Anda hendak berwudhu? Beliau menjawab Untuk apa? Apakah aku akan shalat, sehingga aku harus berwudhu?(Muslim (I/283). [Muslim (no. 374)]
Sumber : Shahih Tafsir Ibnu Katsir Jilid 3, Pustaka Ibnu Katsir, 2006

Posting by Mohammad Nurdin