Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label ketika cinta bertasbih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ketika cinta bertasbih. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Agustus 2010

Habiburrahman El Shirazy dengan Novel

Beberapa karya Habiburrahman El Shirazy atau kadang dipanggil Kang Abik, yang salah satu karyanya yaitu Ketika Cinta Bertasbih (terbit dalam dua buku) dibuat filmnya dan sekuelnya (versi sinetron) ditayangkan di Televisi Swasta, RCTI setelah buka puasa (sekitar 17.30 – 19.30 wib) adalah sebagai berikut :

Posting by Mohammad Nurdin

Jumat, 20 Agustus 2010

Di Atas Sajadah Cinta


Belum lama saya dapat download file karya Habiburahman El Shirazy yang berjudul Di Atas Sajadah Cinta. Di Atas Sajadah Cinta adalah judul buku yang diambil dari Judul Cerpen pembuka dari buku antologi cerpen ini.
Berikut ini adalah prolog pembuka cerita :

KOTA KUFAH terang oleh sinar purnama. Semilir angin yang bertiup dari utara membawa
hawa sejuk. Sebagian rumah telah menutup pintu dan jendelanya. Namun geliat hidup kota
Kufah masih terasa.
Di serambi masjid Kufah, seorang pemuda berdiri tegap menghadap kiblat. Kedua matanya
memandang teguh ke tempat sujud. Bibirnya bergetar melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Hati
dan seluruh gelegak jiwanya menyatu dengan Tuhan, Pencipta alam semesta. Orang-orang
memanggilnya Zahid atau Si Ahli Zuhud, karena kezuhudannya meskipun ia masih muda.
Dia dikenal masyarakat sebagai pemuda yang paling tampan dan paling mencintai masjid di kota
Kufah pada masanya. Sebagian besar waktunya ia habiskan di dalam masjid, untuk ibadah dan
menuntut ilmu pada ulama terkemuka kota Kufah. Saat itu masjid adalah pusat peradaban, pusat
pendidikan, pusat informasi dan pusat perhatian.
Pemuda itu terus larut dalam samudera ayat Ilahi. Setiap kali sampai pada ayat-ayat azab,
tubuh pemuda itu bergetar hebat. Air matanya mengalir deras. Neraka bagaikan menyala-nyala
dihadapannya. Namun jika ia sampai pada ayat-ayat nikmat dan surga, embun sejuk dari langit
terasa bagai mengguyur sekujur tubuhnya. Ia merasakan kesejukan dan kebahagiaan. Ia bagai
mencium aroma wangi para bidadari yang suci.
Tatkala sampai pada surat Asy Syams, ia menangis,
fa alhamaha fujuuraha wa taqwaaha.
qad aflaha man zakkaaha.
wa qad khaaba man dassaaha
(maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketaqwaan,
sesungguhnya, beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,
dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya)
Hatinya bertanya-tanya. Apakah dia termasuk golongan yang mensucikan jiwanya. Ataukah
golongan yang mengotori jiwanya? Dia termasuk golongan yang beruntung, ataukah yang
merugi?
Ayat itu ia ulang berkali-kali. Hatinya bergetar hebat. Tubuhnya berguncang. Akhirnya ia
pingsan.
Ingin tahu kelanjutan cerita ini. Anda bisa download pada alamat di bawah ini :

Senin, 02 Agustus 2010

Ketika Cinta Bertasbih 2

Katalog Dalam Terbitan (KDT)

Ketika Cinta Bertasbih / Habiburrahman El Shirazy Jakarta, Penerbit Republika

halaman 20,5 x 13,5 cm,

Ketka Cinta Bertasbih 813

ISBN

Hak Cipta 0 Habiburrahman El Shirazy Cetakan ke-1, Nopember 2007

Penulis : Habiburrahman El Shirazy

Editor : Ahmad Mujib El Shirazy, Abdul Basith El Qudsy

Desain Sampul dan Isi : Abdul Basith El Qudsy

Percetakan : Tamaprinter Indonesia


PAGI BERTASBIH DI DESA WANGEN

Langit dini hari selalu memikatnya. Bahkan sejak ia masilh kanak-kanak. Bintang yang berkilauan di matanya tampak seumpama mata ribuan malaikat yang mengintip penduduk bumf. Bulan terasa begitu anggun menciptakan kedamaian di dalam hati. la tak bisa melewatkan pesona ayat-ayat kauni yang maha indah itu begitu saja.

Sejak kecil Abahnya sudah sering membangunkannya jam tiga pagi. Abah menggendong dan mengajaknya menikmati keindahan surgawi. Keindahan pesona langit, bintang gemintang, dan bulan yang sedemikian fitri.

"Di atas sana ada jutaan malaikat yang sedang bertasbih." Begitu kata Abahnya yang tak lain adalah Kiai Lutfi sambil menggendongnya. Ia tidak mungkin melupakannya.

"Jutaan malaikat itu mendoakan penduduk bumi yang tidak lalai. Penduduk bumi yang mau tahajjud saat jutaan manusia terlelap lalai." Sambung Abah sambil membawanya ke masjid pesantren.

Abah lalu mengajaknya untuk akrab dengan dinginnya mata air desa Wangen. Setelah mengambil air wudhu, Abah mengajaknya keliling pesantren, mengetok kamar dem i kamar sambil berkata, "shalat, shalat, shalat!" Setelah semua kamar diketuk, sang Abah mengajaknya kembali ke masjid untuk shalat. Beberapa orang santri ada yang sudah shalat. Ada yang masih mendengur berselimut sarung.

Setelah shalat sebelas rakaat Abah mengajaknya berdoa. "Ayo Nduk, kita berdoa biar diamini jutaan malaikat."

Dan tatkala fajar merekah kemerahan di sebelah timur, Abah bertasbih dan mengajaknya menikmati keindahan yang menggetarkan itu. Lalu dengan menggendongnya kembali, Abah mengajaknya keliling pesantren untuk kedua kalinya. Kali ini Abah membangunkan para santri dengan suara lebih keras, dengan nada sedikit berbeda,

"Subuh, subuh, shalat! Subuh, subuh, shalat!" Lalu azan subuh berkumandang.

Azan subuh selalu menggetarkan kalbunya. Alam seperti bersahut-sahutan mengagungkan asma Allah. Fajar yang merekah selalu mengalirkan ke dalam hatinya rasa takjub luar biasa kepada Dzat yang menciptakannya. Setiap kali fajar itu merekah ia rasakan nuansanya tak pernah sama. Setiap kali merekah selalu ada semburat yang baru. Ada keindahan baru. Keindahan yang berbeda dari fajar hari-hari yang telah lalu. Rasanya tak ada sastrawan yang mampu mendetilkan keindahan panorama itu dengan bahasa pena. Tak ada pelukis yang mampu melukiskan keindahan itu dalam kanvasnya. Tak ada! Keindahan itu bisa dirasakan, dinikmati dan dihayati

dengan sempurna oleh syaraf-syarafjiwa orang-orang yang tidak lalai akan keagungan Tuhannya.

Langit dini hari selalu memikatnya. Bahkan sejak ia masih kanak-kanak. Azan subuh selalu menggetarkan kalbunya. Dan fajar yang merekah selalu mengalirkan kedalam hatinya rasa takjub luar biasa kepada Dzat yang menciptakannya.

Anna berdiri di depan jendela kamarnya yang ia buka lebar-lebar. Ia memandangi langit. Menikmati fajar. Dan menghayati tasbih alam desa Wangen pagi itu. Dengan dibalut mukena putihnya ia menikmati keindahannya dari jendela kamarnya. Ia hirup dalam-dalam aromanya yang khas. Aroma yang sama dengan aroma yang ia rasakan saat ia kecil dulu. Tidak jauh berbeda. Aroma daun padi dari persawahan di barat desa. Goresan yang indah bernuansa surgawi. Angin pagi yang mengalir sejuk menyapa rerumputan yang bergoyang-goyang seolah bersembahyang.

Ingin tahu lanjutan cerita ini. Anda bisa beli novelnya di toko buku terdekat di kota Anda. Bila Anda ingin novel ini dalam versi E-Book gratis maka Anda bisa download pada alamat di bawah ini :

www.4shared.com/file/61028333/3ef447e9/Habiburrahman_El_Shirazy_-_Ketika_Cinta_Bertasbih_2_full_.html

Posting by Mohammad Nurdin

Ketika Cinta Bertasbih 1

Katalog Dalarn Terbitan (KDT)

Ketika, Cinta Bertasbih f Habiburrahman El Shirazy. Jakarta, Penerbit Republika

Halaman 20,5 x 13,5 crn

KetikaCintaBertasbih 813

ISBN: 978-979-3210-84-1

Penulis : Habiburrahman El Shirazy

Editor, : Anif Sirsaeba El Shirazy

Disain Sampul dan Isi : Abdul Basith El Qudsy (Basmala-Art)

Percetakan : Tama Print Indonesia

Hak Cipta © Habiburrahman El Shirazy

Cetakan ke-10, Pebruari 2008

Cetakan ke-11, Pebruari 2008


SENJA BERTASBIH DI ALEXANDRIA

Di matanya, Kota Alexandria sore itu tampak begitu memesona Cahaya mataharinya yang kuning keemasan seolah menyepuh atap-atap rumah, gedung-gedung, menara-menara, dan kendaraan-kendaraan yang lalu lalang di jalan. Semburat cahaya kuning yang terpantul dari riak gelombang di pantai menciptakan aura ketenangan dan kedamaian.

Di atas pasir pantai yang putih, anak-anak: masih asyik bermain kejar-kejaran. Ada juga yang bermain rumah-rumahan dari pasir. Di tangan anak-anak itu pasir-pasir putih tampak sumpama butir-butir emas yang lembut berkilau diterpa sinar matahari senja.

Di mana-rnana muda-mudi yang sedang jatuh cinta sama. Senja menjadi waktu istimewa bagi mereka. Waktu untuk bertemu, saling memandang, duduk berdampingan dan bercerita yang indah-indah. Saat itu yang ada di hati dan pikiran mereka adalab pesona sang kekasih yang dicinta. Tak terlintas sedikit pun bahwa senja yang indah yang mereka lalui itu akan menjadi saksi sejarah bagi mereka kelak. Ya, kelak ketika masa muda mereka harus dipertanggungjawabkan di hadapan Sang Pencipta Cinta. Dan jatuh cinta mereka pun harus dipertanggungjawabkan kepada-Nya: Di hadapan pengadilan Dzat Yang Maha Adil, yang tidak ada seclikit pun kezaliman dan ketidakadilan di sana.

Di matanya, Kota Alexandria sore itu tampah begitu indah.Ia memandang ke arah pantai. Ombaknya berbuih putih. Bergelombang naik turun. Berkejar-kejaran menampakan keriangan yang sangat menawan. .Semilir angin mengalirkan kesejukan. Suara desaunya benar-benar terasa seumpama desau suura zikir alam yang menciptakan suasana tenteram.

Dan jendela karnarnya yang terletak di lantai lima Hotel Al Haram ia menyaksikan sihir itu. Di matanya, Alexandria sore itu telah membuatnya seolah tak lagi berada di dunia. Namur di sebuah alam yang hanya dipenuhi keindahan dan kedamaim saja.

Sesuargguhnya bukan semata-mata cuaca dan suasana menjelang musim semi yang membuat Alexandria senja itu begitu mempesona. Bukan semata-mata sihir matahari senja yang mernbunt Alexandria begun menakjubkan. Bukan sema‑ta-mwta pasir putihnya yang bersih yang membuat Alexandria begitu menawan. Akan tetapi, lebih dari itu, yang mernbuat segala yang dipandangnya tampak menakjubkan adalah karena musim semi sedang bertandang di hatinya. Matahari kebahagiaan sedang bersinar terang di sana. Bunga-bunga kesturi sedang menebar wanginya. Tembang-tembang cinta mengalun di dalam hatinya, memperdengarkan irama terindahnya. Dan penyebab itu semua, tak lain dan tak bukan adalah seorang gadis pualam, yang di matanya memiliki kecantikan bunga mawar putih yang sedang merekah. Gadis yang di matanya seurnparan permata safir yang paling indab.

Gadis itu adalah kilau matahari di musim semi. Sosok yang sedang menjadi buah bibir di kalangan mahasiswa dan masyarakat Indonesia di Mesir. Gadis yang pesonanya dikagumi banyak orang. Dikagumi tidak hanya karena kecantikan fisiknya, tapi juga karena kecerdasan dan prestasi-prestasi yang telah diraihnya. Lebih dari itu, gadis itu adalah putri orang nomor satu bagi masyarakat Indonesia di Mesir.

Dialah Eliana Pramesthi Alam. Putri satu-saturrya Bapak Duta Besar Republik Indonesia di Mesir. Hampir genap satu tahun gadis itu tinggal di Mesir. Selain untuk menemani kedua orangtuanya, keberadaannya di Negeri Pyramid itu untuk melanjutkan S.2-nya di American University in in Cairo (AUC).

Ingin cerita selengkapnya bisa anda beli bukunya di toko buku terdekat di kota Anda. Ketika Cinta Bertasbih Episode 2 versi sinetron bisa Anda saksikan di layer televise di channel RCTI, sebagai acara unggulan menjelang dan saat Ramadhan. Ingin Novel ini versi E-Book yang gratis, Anda bisa download pada alamat di bawah ini :

www.4shared.com/file/105879106/5a7c4501/3922395-Ketika-Cinta-Bertasbih-Episode-1-Full-bab-130-only-1-9MB.html

Posting by Mohammad Nurdin