Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label sistem. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sistem. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Oktober 2019

Sembilan Cara Meningkatkan Sistem Kekebalan Tubuh

Musim hujan terbilang identik dengan musim penyakit flu. Cuaca dan suhu udara yang naik turun, menjadi penyebab penyakit seperti pilek dan demam mudah menular ke orang-orang di sekitar kita.
Jika Anda ingin menghindari flu yang kerap menghampiri, maka solusinya bukanlah menyiapkan sekotak tisu. Mengasup obat pencegah deman di saat gejala flu mulai terasa dan juga mencuci tangan lebih sering juga dapat menjadi cara untuk menangkal flu.
Namun, di antara itu sebenarnya masih banyak cara untuk meningkatkan imun tubuh kita. Bukan dengan obat-obatan, namun dengan menggalakkan kebiasaan hidup sehat.
Seperti dilansir dari Huffington Post, ada sembilan cara alami yang dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Kesembilan cara itu di antaranya:
1. Tidur dengan benar.
Menyaksikan serial televisi favorit pada jam lewat tengah malam memang sangat menarik dilakukan sepulang kerja. Namun ternyata, para periset telah menemukan bahwa terjaga sepanjang malam dapat merusak sistem kekebalan tubuh. Nantinya, mereka yang tidak memberikan tubuhnya waktu istirahat yang layak akan mudah diserang virus. Jika hal itu terus menerus dilakukan, maka kekebalan tubuh pun semakin lemah dan tak mampu melawan virus.

5 Penyebab Sistem Imun Lemah dan Tubuh Mudah Sakit

Mengapa beberapa orang menjadi lebih mudah sakit? Mungkin mereka mengalami penurunan kemampuan untuk melawan bakteri, virus, dan benda asing lain yang dapat menyebabkan penyakit. Kemampuan tubuh dalam melawan infeksi penyakit adalah fungsi dari sistem imun atau kekebalan tubuh. Jika sistem imun lemah, tubuh tidak dapat mempertahankan diri dari berbagai ancaman kesehatan. Lalu apa yang menyebabkan sistem imun lemah? Simak ulasannya di sini.
Berbagai penyebab sistem imun lemah
1. Stres
Hampir semua orang pernah merasakan efek stres di beberapa titik dalam hidup. Sakit kepala, rasa sakit di dada, rasa gelisah, dan perasaan tegang secara keseluruhan merupakan gejala stres.
Faktor-faktor tersebut semua bergabung sehingga menyebabkan sistem kekebalan tubuh harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan tubuh dari ancaman kesehatan.

Kamis, 05 Januari 2017

Sistem Organisasi Tata Kerja (SOTK) Pemerintah Daerah Kab. Brebes 2017

BeritaBREBES- Puluhan SKPD di lingkungan Pemkab Brebes mengalami perombakan besar-besaran. Sejumlah instansi pemerintahan itu dibongkarmuat dalam aturan Sistem Organisasi Tata Kerja (SOTK) yang baru seperti diatur dalam Perda tentang tentang Pembentukan Susunan Perangkat Daerah (SPD) yang ditetapkan melalui rapat paripurna DPRD Brebes, Rabu 12 Oktober 2016.
Bupati Brebes Idza Priyanti bilang walaupun perdanya sudah ditetapkan, tapi penerapan SOTK baru itu baru bisa diterapkan tahun 2017 karena Brebes mau Pilkada jadi tidak boleh ada kegiatan mutasi pegawai.

Minggu, 05 Juni 2011

Tiga Pilar Penyangga Sistem Perbankan Internasional

Bagi Anda yang kurang mengetahui tentang ekonomi moneter mungkin agak bingung kenapa terjadi inflasi. Ini sulit dipahami tetapi mudah dirasakan. Kenapa harga-harga bisa melambung tinggi. Apalagi bagi yang berpenghasilan tetap, kesulitan makin terasa karena uang yang diperoleh semakin berkurang nilainya.Itulah pencuri yang tidak kelihatan yaitu apa yang disebut dengan inflasi.

Hal ini tidak terlepas dari sistem perbankan di negara kita yang juga merupakan bagian dari sistem perbankan Internasional. Untuk lebih jelasnya kita akan coba pelajari apa penyangga sistem perbankan dan keuangan Internasional itu.
Sistem perbankan dan keuangan Internasional mempunyai tiga pilar penyangga yaitu sebagai berikut :

Pilar Pertama yaitu fiat money atau uang kertas dan logam yang diterbitkan pemerintah. Dengan sistem ini rakyat dipaksa untuk menggantungkan nilai ekonomi kekayaan dan keringat kerja keras mereka hanya pada uang kertas (bank notes). Dalam keadaan tertentu pemerintah bisa mencetak uang lebih untuk membiayai kebutuhannya. Namun itu berdampak pada penurunan nilai mata uang itu sendiri. Pada masa pemerintahan orde lama ini pernah terjadi. Dampaknya adalah pemotongan nilai mata uang seribu rupiah menjadi satu rupiah. Ini dikenal sebagai sanering. Pada masa sekarang juga hampir terjadi hal serupa namun dengan nama berbeda yaitu denominasi. Namun tidak mudah diterapkan karena terjadi pro kontra di dalam masyarakat. Bandingkan dengan satu dollar yang tetap bernilai satu dollar karena sistem keuangan dunia menjadikan dollar sebagai rujukan. Sistem ini sangat tidak adilkan? Memang dunia jauh dari keadilan. Makanya alakah tidak bijaknya kita bila menyimpan seluruh kekayaan untuk bekal hari tua hanya dalam wujud uang kertas atau tabungan hari tua di bank. Bisa-bisa saat kita membutuhkan uang itu sudah tidak ada baik diambil atau dicuri orang yang bekerja di perbankan atau yang tahu sistem perbankan. Contohnya banyak disekitar kita, baik diberitakan di media cetak maupun elektronik. Wujud lain uang kertas adalah uang riil seperti emas yang nilainya cenderung stabil. Atau bisa juga berupa barang baik itu rumah, tanah, ataupun hewan ternak.

Pilar kedua, Fractional Reserve Requirement (FRR) atau persentase cadangan minimal. Bank-bank di seluruh dunia termasuk bank central, tidak terkecuali bank Indonesia hanya perlu menyediakan cadangan minimal sebesar 10 persen dari seluruh uang yang diproduksi dan diedarkan. Hanya perlu 10 trilyun untuk mendapatkan kekayaan masyarakat sebesar 100 trilyun.

Pilar ketiga, Interest atau bunga bank. Dengan adanya bunga bank, masyarakat diiming-imingi untuk menyimpan uangnya di bank baik berupa tabungan atau deposito. Sebaliknya bank memutar uang titipan masyarakat dengan cara meminjamkan kepada mereka yang membutuhkan dengan bunga yang tentunya lebih tinggi daripada bunga tabungan.

Tulisan ini bukan ditujukan sebagai gerakan anti menabung di bank tetapi agar kita menjadi lebih bijak dalam berhubungan dengan bank. Meski ada sisi baiknya, tetapi kita harus berhati-hati dengan sisi negatif lainnya. Ada pengusaha besar di Indonesia yang tidak suka meminjam di bank. Alasannya, bank hanya dipakai sebagai tempat menyimpan dan bertransaksi bukan berhutang. Sebab tradisinya berhutang dengan bank tidak kenal kasihan, kalau kita bangkrut maka jaminan kita akan disita. Maka beliau lebih suka berhutang dengan orang tua, saudara, atau teman. Masih jelas teringat dalam benak kita kasus anggota dewan yang mati dianiaya oleh debt collector. Dan kalaupun menyimpan di bank perlu diingat batas simpanan yang dijamin oleh pemerintah. Selebihnya tidak ditanggung lagi oleh pemerintah.


Posting by Mohammad Nurdin