Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label harta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label harta. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Mei 2015

Nashaihul Ibad : Tiga Sandaran Yang Rapuh

Seorang ulama bijak mengatakan :
1. "Barang siapa hanya berpegang teguh pada akalnya, niscaya ia akan sesat jalan hidupnya.
2. Barang siapa mengandalkan hartanya, berarti dia orang yang miskin, karena berapapun banyak harta yang dimilikinya, ia tidak akan merasa puas dengannya.
3. Barang siapa menggantungkan kemuliaannya kepada mahluk, dia adalah orang terhina."

Keterangan : Nama asli penulis adalah Muhammad Nawawi bin 'Umar Al-Jawi dan dikenal sebagai Muhammad Nawawi Al-Bantani
Syarh Al-Munabbihaat 'Alal Isti'daad Li Yaumil Ma'aad karya Ibnu Hajar Al-Asqalani

Sumber : Imam Nawawi Al-Bantani, Nashaihul Ibad : Nasihat-nasihat Untuk Para Hamba Menjadi Santun dan Bijak, Irsyad Baitus Salam, Bandung, 2005

Posting by Mohammad Nurdin

Sabtu, 09 Juni 2012

Cerita Anak : Si Pelit

 oleh : Aesop (620 - 560 SM)

Seorang yang sangat pelit mengubur emasnya secara diam-diam di tempat yang dirahasiakannya di tamannya. Setiap hari dia pergi ke tempat dimana dia mengubur emasnya, menggalinya dan menghitungnya kembali satu-persatu untuk memastikan bahwa tidak ada emasnya yang hilang. Dia sangat sering melakukan hal itu sehingga seorang pencuri yang mengawasinya, dapat menebak apa yang disembunyikan oleh si Pelit itu dan suatu malam, dengan diam-diam pencuri itu menggali harta karun tersebut dan membawanya pergi.
Ketika si Pelit menyadari kehilangan hartanya, dia menjadi sangat sedih dan putus asa. Dia mengerang-erang sambil menarik-narik rambutnya.


Senin, 23 Mei 2011

Carilah Harta Untuk Akhiratmu!

Kita tidak boleh iri, kata Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhori, kecuali kepada dua kelompok manusia. Salah satunnya adalah orang kaya yang dengan kekayaannya itu ia banyak membantu sesamanya.

Tentu saja iri kepada orang kaya, sebagaimana perkataan Rasulullah tadi, harus diletakkan dalam kerangka positif. Yakni, kita iri, merasa ingin seperti dia, mencari harta dengan cara yang halal, untuk memberi manfaat kepada orang lain.

Dengan kata lain, kita mencari harta untuk akhirat. Otomatis, kita akan habiskan harta itu untuk akhirat juga. Bukan untuk dunia semata.

Disarikan dari Majalah Suara Hidayatullah, Mei 2011/ Jumadil Awal 1432
Website : http://www.hidayatullah.com


Posting by Mohammad Nurdin