Cari Blog Ini

Senin, 18 November 2024

Indikator Utama Pembangunan (IUP) RPJPD Tahun 2025-2045 untuk Kabupaten/Kota : Indikator : Angka keberhasilan pengobatan tuberkulosis (treatment success rate)

 No. 8
Indikator : Angka keberhasilan pengobatan tuberkulosis (treatment success rate)
Satuan : %
Definisi Operasional : Persentase pasien tuberkulosis yang sembuh dan menyelesaikan pengobatan lengkap
Formulasi Perhitungan : Jumlah pasien tuberkulosis yang sembuh dan menyelesaikan pengobatan dibandingkan dengan semua kasus tuberkulosis yang diobati dan dilaporkan
Intepretasi : Ini adalah indikator penting dalam evaluasi pengobatan tuberkulosis dan merupakan penjumlahan dari angka kesembuhan dan angka pengobatan lengkap. Angka ini dapat memberikan gambaran tentang efektivitas program pengobatan tuberkulosis di suatu wilayah.
Sumber Data : Pelaporan (Dinkes)

Posting by Mohammad Nurdin

Indikator Utama Pembangunan (IUP) RPJPD Tahun 2025-2045 untuk Kabupaten/Kota : Indikator Cakupan penemuan dan pengobatan kasus tuberkulosis (treatment coverage)

 No. 7
Indikator Cakupan penemuan dan pengobatan kasus tuberkulosis (treatment coverage)
Satuan : %
Definisi Operasional : Persentase kasus tuberkulosis yang berhasil ditemukan dan mendapatkan pengobatan di suatu wilayah dalam periode tertentu
Formulasi Perhitungan : Cakupan penemuan dan pengobatan kasus tuberkulosis dihitung berdasarkan jumlah seluruh kasus tuberkulosis yang berhasil ditemukan dan mendapatkan pengobatan dibandingkan dengan perkiraan jumlah kasus tuberkulosis yang ada di suatu wilayah dalam periode tertentu.
Intepretasi : Indikator ini adalah ukuran penting dalam penanggulangan tuberkulosis, karena menunjukkan sejauh mana upaya penemuan dan pengobatan kasus tuberkulosis berhasil dilakukan. Indikator ini mencakup dua aspek penting:
1. Penemuan Kasus: Ini merujuk pada kemampuan sistem kesehatan untuk mengidentifikasi dan mendiagnosis individu yang menderita tuberkulosis.
2. Pengobatan Kasus: Ini merujuk pada kemampuan sistem kesehatan untuk memberikan pengobatan yang tepat dan efektif kepada individu yang didiagnosis dengan tuberkulosis.
Sumber Data : Pelaporan (Dinkes)

Posting by Mohammad Nurdin

Indikator Utama Pembangunan (IUP) RPJPD Tahun 2025-2045 untuk Kabupaten/Kota : Indikator Prevalensi Stunting (pendek dan sangat pendek) pada balita

 No. 6
Indikator : Prevalensi Stunting (pendek dan sangat pendek) pada balita
Satuan : %
Definisi Operasional : Stunting (pendek/sangat pendek) adalah kondisi kurang gizi kronis yang diukur berdasarkan indeks tinggi badan menurut umur (TB/U) dibandingkan dengan menggunakan standar WHO tahun 2005. Data tinggi badan pada menjadi analisis untuk status gizi dan tinggi badan setiap anak balita dikonversikan ke dalam nilai terstandar (Z-score) menggunakan baku
antropometri anak balita WHO 2005. Klasifikasi berdasarkan indikator TB/U adalah sebagai berikut standar dari WHO dan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor : 1995/MENKES/SK/XII/2010.
a. Sangat pendek: Zscore < -3,0
b. Pendek: Zscore ≥ -3,0 s/d Zscore < -2,0
Formulasi Perhitungan : Cara perhitungan
(1) Jumlah anak balita pendek pada waktu tertentu dibagi dengan jumlah anak balita pada waktu yang sama dan dinyatakan dalam satuan persen (%).
(2) Jumlah anak balita sangat pendek pada waktu tertentu dibagi dengan jumlah anak balita pada periode yang sama dan dinyatakan dalam satuan persen (%).
Intepretasi : Prevalensi stunting yang tinggi di suatu wilayah menggambarkan beberapa masalah serius, termasuk :
1. Kekurangan Gizi: Stunting adalah indikator kekurangan gizi kronis. Prevalensi stunting yang tinggi menunjukkan bahwa banyak anak di wilayah tersebut menderita kekurangan gizi dalam jangka waktu yang lama.
2. Akses Pelayanan Kesehatan: Prevalensi stunting yang tinggi dapat mencerminkan akses yang terbatas ke pelayanan kesehatan berkualitas, termasuk pelayanan gizi dan kesehatan ibu dan anak.
3. Kemiskinan: Stunting sering kali terkait dengan kemiskinan. Keluarga yang miskin mungkin tidak mampu menyediakan makanan bergizi untuk anak-anak mereka, yang pada gilirannya dapat menyebabkan stunting.
4. Pendidikan: Tingkat pendidikan orang tua, khususnya ibu, juga berpengaruh terhadap prevalensi stunting.Orang tua yang berpendidikan cenderung lebih memahami pentingnya gizi dan kesehatan bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.
5. Faktor Lingkungan: Faktor lingkungan seperti sanitasi yang buruk dan akses terbatas ke air bersih juga dapat berkontribusi terhadap prevalensi stunting.
Sumber Data : SSGI

Keterangan :

Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 adalah survei yang dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan untuk mengetahui status gizi balita di Indonesia. Survei ini dilakukan di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota di Indonesia.
Berikut beberapa hal yang perlu diketahui tentang SSGI 2024 :
SSGI 2024 dilaksanakan pada 30 September 2024–16 November 2024.
Survei ini akan dilakukan dengan wawancara terhadap responden dan pengukuran antropometri.
Antropometri dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai berat badan, tinggi/panjang badan, serta lingkar lengan atas (LILA) pada balita dan pengukuran berat badan dan tinggi badan ibu balita.
SSGI 2024 akan berkolaborasi dengan BRIN, BPS, universitas dan lembaga survei.
SSGI 2024 menjadi acuan untuk percepatan penurunan prevalensi stunting.
SSGI dilaksanakan setiap lima tahun sekali.


Posting by Mohammad Nurdin

Indikator Utama Pembangunan (IUP) RPJPD Tahun 2025-2045 untuk Kabupaten/Kota : Angka Kematian Ibu (AKI)

 No : 5
Indikator : Angka Kematian Ibu (AKI)
Satuan : Per 100.000 Kelahiran Hidup
Definisi Operasional : Angka Kematian Ibu
Formulasi Perhitungan : Jumlah kematian ibu yang berkaitan dengan kehamilan, persalinan, dan masa nifas yang tercatat atau hasil estimasi pada tahun tertentu dibagi jumlah kelahiran hidup pada periode yang sama dan dikali 100.000.
Intepretasi : Indikator Angka Kematian Ibu (AKI) adalah ukuran yang  digunakan untuk memantau jumlah kematian ibu yang terjadi sebagai akibat langsung dari komplikasi kehamilan, persalinan, dan masa nifas. AKI sangat penting karena memberikan gambaran tentang kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak di suatu negara atau wilayah. Angka Kematian Ibu (AKI) yang rendah di suatu wilayah mencerminkan beberapa hal penting :
1. Kualitas Pelayanan Kesehatan: AKI yang rendah biasanya mencerminkan kualitas pelayanan kesehatan yang baik, termasuk pelayanan kesehatan ibu dan anak, pelayanan antenatal, persalinan, dan pascapersalinan.
2. Akses Pelayanan Kesehatan: AKI yang rendah juga bisa mencerminkan akses yang baik ke pelayanan kesehatan. Ini bisa berarti bahwa fasilitas kesehatan mudah dijangkau dan terjangkau oleh masyarakat.
3. Pendidikan Kesehatan: AKI yang rendah bisa mencerminkan tingkat pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang kesehatan reproduksi dan pentingnya pelayanan kesehatan selama kehamilan dan persalinan.
4. Status Gizi: AKI yang rendah juga bisa mencerminkan status gizi ibu yang baik. Gizi yang baik selama kehamilan sangat penting untuk mencegah komplikasi yang bisa mengancam nyawa ibu.
5. Kesadaran Masyarakat: AKI yang rendah juga bisa mencerminkan tingkat kesadaran masyarakat tentang pentingnya perawatan kesehatan selama kehamilan dan persalinan.
Sumber Data : Pelaporan (Dinkes)

Posting by Mohammad Nurdin

Minggu, 17 November 2024

Indikator Utama Pembangunan (IUP) RPJPD Tahun 2025-2045 untuk Kabupaten/Kota : Usia Harapan Hidup (UHH)

No. 4

Indikator : Usia Harapan Hidup (UHH)
Satuan : Tahun
Definisi Operasional : Rata-rata jumlah tahun hidup yang akan dijalani oleh bayi yang baru lahir pada suatu tahun tertentu
Formulasi Perhitungan : Idealnya dihitung berdasarkan Angka Kematian Menurut Umur (Age Specific Death Rate/ASDR) yang datanya diperoleh dari catatan registrasi kematian secara bertahun-tahun sehingga dimungkinkan dibuat tabel kematian. Namun, karena catatan registrasi tidak tersedia dengan baik, maka dihitung dengan cara tidak langsung dengan paket program Micro Computer Program for Demographic Analysis (MCPDA) atau Mortpack
Intepretasi : Semakin tinggi usia harapan hidup di suatu daerah, menandakan semakin baik pula derajat kesehatan dan kesejahteraan masyarakat di daerah tersebut. Ini menunjukkan adanya perbaikan status kesehatan masyarakat, termasuk peningkatan akses dan kualitas pelayanan kesehatan."
Sumber Data : BPS
www.bps.go.id

Posting by Mohammad Nurdin

Indikator Utama Pembangunan (IUP) RPJPD Tahun 2025-2045 untuk Kabupaten/Kota : Indeks Ketahanan Pangan (IKP)

No. 3

Indikator : Indeks Ketahanan Pangan (IKP)
Satuan : Angka
Definisi Operasional : Ukuran dari beberapa indikator yang digunakan untuk menghasilkan skor komposit kondisi ketahanan pangan di suatu wilayah
Formulasi Perhitungan :
1. Standarisasi nilai indikator dengan menggunakan z-score dan distance to scale (0-100)
2. Menjumlahkan hasil perkalian antara masing-masing nilai indikator yang sudah distandarisasi dengan bobot indikator
3. Mengelompokkan wilayah ke dalam 6 kelompok berdasarkan cut off point IKP"
Intepretasi : Semakin tinggi nilai Indeks Ketahanan Pangan menggambarkan semakin baik kondisi ketahanan pangan di suatu wilayah
Sumber Data : Badan Pangan Nasional (Bapanas)
https://badanpangan.go.id/

Posting by Mohammad Nurdin

Kamis, 14 November 2024

Padi Trisakti

 Padi Trisakti ini memiliki ciri unik berbiji besar, tapi lonjong simetris, berbobot. Padi Trisakti bulir bernas sampai pangkal, jumlah bulir per malai 250-an, tiap rumpun terdiri dari 33 batang dan yang paling jempol padi ini GENJAHNYA umur 70 HST (hari setelah tanam) bisa dipanen.. Rasa dari Nasi Trisakti ini pulen, produksinya sekitar 7-14 ton/Ha.

Berikut ini Cara Tanam Padi Trisakti - 70 Hari Panen

A. Persiapan Benih.
i. Siapkan benih Padi TRISAKTI sesuai dengan kebutuhan.
ii. Kebutuhan benih untuk lahan sawah 1 Ha memerlukan benih padi TRISAKTI 25 Kg.

B. Perendaman Benih Padi TRISAKTI 70-75 HST Panen
i. Pertama membersihkan benih yang tidak bernas, caranya cukup direndam air saja... (boleh juga untuk memisahkan gabah bernas dan hampa dengan pake garam yang dilarutkan dengan air, tapi setelah itu benih dicuci sampai bersih)
ii. Bagi yang langsung direndam air saja, setelah benih di tuang ke wadah yang sudah berisi air bersih sambil di obok - obok, gabah yang mengapung dibuang saja dan yang tenggelam tetap dalam bak air tersebut. Atau bisa juga benih direndam bersama kemasan plastiknya, dengan catatan ditusuk/diberi lubang-lubang pada kemasannya, supaya air bisa masuk kedalam kemasan benih.
iii. Perendaman benih ini selama 2x24 jam.. benih akan lebih baik dan kuat apabila air rendaman ditambah larutan pupuk organik cair, setelah itu baru diangkat dan ditiriskan, selanjutnya diperam selama 2x24 jam juga dengan cara dibungkus dengan karung yang dilapisi daun pisang supaya benih berkecambah.
iv. Sambil menunggu benih berkecambah sebaiknya menyiapkan "pawinian" bedengan persemaian, buat sesuai kebutuhan dengan kondisi lahan yang drenase airnya mudah diatur agar kecambah tidak tergenang air atau kekeringan.

C. Penyemaian dan pemeliharaan Padi Trisakti
i. Tabur benih secara merata : Bagi benih sesuai dengan jumlah bedengan kemudian taburkan masing-masing bagian benih secara merata pada setiap bedengan. penaburan benih TRISAKTI jangan terlalu berdempetan/lakukan secara jarang - jarang.
ii. Lakukan pemupupukan persemaian pada waktu 10 HSS (hari setelah sebar). Untuk sistem pengairan macak-macak. Pemupukan menggunakan Urea.
iii. Semaian padi Trisakti sudah 20 HSS saatnya pindah tanam. Namun sebelumnya kita perlu mencabutnya dari media persemaian tadi, dan orang Sunda menyebutnya “Babut“. Benih di cabut sampai akar-akarnya, perlunya ke-hati-hatian agar benih tidak putus. Agar lebih mudah, maka pada waktu pencabutan, area persemaian sebaiknya di rendam air dengan ketinggian air sekitar 3-4 Cm atau setinggi 1/4 batang padi.
iv. Setelah benih-benih di cabut, lalu benih diikat, agar kita mudah membawanya. Satu ikatan seukuran satu genggaman tangan besar. Ikatan-ikatan ini nantinya di taruh/disebar di area lahan yang akan di tanam, untuk mempermudah penanaman.

D. Persiapan lahan Padi TRISAKTI 70 HST Panen
Tanah sawah dibajak menggunakan traktor atau tenaga sapi atau kerbau. Tujuan pembajakan adalah untuk pembalikan tanah, memberantas gulma, hama penyakit terbawa tanah, serta membenamkan dan mnguraikan biji-biji padi yang tertinggal dalam tanah. Pengolahan tanah sempurna 3-7 Hari sebelum tanam. Buat parit kecil ( kamalir ) di pertengahan memotong panjang dan lebar petakan atau disekeliling pematang sawah.
Berikan pupuk dasar sebelum tanam atau pada saat pengolahan tanah dengan pupuk Organik / Pupuk Kandang yang sudah di permentasi 100 kg/500M2 ( ini untuk sawah pribadi saja kalau untuk sawah sewa sebaiknya jangan. Karena biasanya pupuk kandang akan maksimal setelah tanam ke-2 dan 3). Atau pupuk dasar bisa menggunakan pupuk NPK sebelum tanam.

E. Penanaman Padi Trisakti
Penanaman dilakukan pada waktu bibit berumur 17-20 HSS (hari setelah semai).

F. Jarak Tanam Padi Trisakti
Jarak tanam yaitu 30 Cm x 30 Cm dengan legowo per 6 Rumpun.

G. Waktu Pemupukan Padi Trisakti
Pupuk pertama pada umur 10-12 HST, dengan NPK Phonska dan Urea dengan perbandingan 3:1. (3 Phonska : 1 Urea)

Pupuk susulan ke-1 pada umur 20- 24 HST atau setelah melakukan penyiangan, dengan NPK Phonska atau menggunakan Urea saja atau menggunakan Mutiara.

H. Penyiangan Padi Trisakti
Dilakukan sebanyak 2 kali saat tanaman berumur 15 HST dan 34 HST.

I. Penyulaman Padi Trisakti
Penyulaman dimaksudkan untuk mengisi rumpun yang mati atau kurang baik pertumbuhannya, agar diperoleh populasi yang optimum. Penyulaman dilakukan yaitu sekitar 10 - 17 HST.

J. Pengairan Padi Trisakti.
Air merupakan syarat mutlak bagi pertumbuhan tanaman padi sawah termasuk padi TRISAKTI meskipun padi ini minim memerlukan air. Masalah pengairan bagi tanaman padi merupakan salah satu factor penting yang harus mendapat perhatian penuh demi mendapat hasil panen yang akan datang.

Air yang dipergunakan untuk pengairan padi di sawah adalah air yang berasal dari sungai, sebab air sungai banyak mengandung lumpur dan kotoran-kotoran yang sangat berguna untuk menambah kesuburan tanah dan tanaman. Air yang berasal dari mata air kurang baik untuk pengairan sawah, sebab air itu jernih, tidak mengandung lumpur dan kotoran. Tanaman padi Trisakti tidak menyukai air yang tergenang, untuk itu sebaiknya menggunakan pengairan berselang. Tapi sesuai percobaan yang saya lakukan sekarang ternyata padi TRISKTI tahan juga di lahan sawah rawa / sawah tergenang terus.

Untuk menjaga agar genangan air didalam petakan sawah itu

tetap, jangan lupa dibuat pula lubang pembuangan. Lubang pemasukan dan lubang pembuangan tidak boleh dibuat lurus. Hal ini dimaksudkan agar ada pengendapan lumpur dan kotoran-kotoran yang sangat berguna bagi pertumbuhan tanaman. Apabila lubang pemasukan dan lubang pembuangan itu dibuat lurus, maka air akan terus mengalir tanpa adanya pengendapan.
Lakukan pergiliran air selang 3 hari. Pada hari pertama tanaman diairi selama 3 hari. Terus dikeringkan selama 3 hari. Cara pengairan ini berlangsung sampai fase anakan maksimal.
Pada waktu mengairi tanaman padi di sawah, dalamnya air harus diperhatikan dan disesuaikan dengan umur tanaman tersebut.
Kedalaman air hendaknya diatur dengan cara sebagai berikut:
i. Tanaman Padi Trisakti yang berumur 0-7 hari kedalaman air cukup 5 cm saja.
ii. Tanaman yang berumur 7-47 hari kedalaman air dapat ditambah hingga 10-15 cm.

K. Tanaman padi Trisakti 41 HST sudah bunting muda
Tanaman TRISAKTI sudah bunting muda. Tanaman muda (tepi) masih membentuk anakan baru, sehingga terlihat perkembangan kanopi sangat cepat.
Warna daun dari tanaman padi TRISAKTI yaitu hijau muda seperti daun padi muda. Tanaman padi TRISAKTI jarang terserang hama wereng, tanaman padinya tumbuh subur tidak ada yang tumbuh kuntet atau mengerdil.

L. Padi TRISAKTI Umur 48 HST sudah bunting besar, keluar malai dan berbunga
Perkembangan tanaman pada tahapan ini diawali dengan inisiasi bunga. Bakal malai terlihat berupa kerucut berbulu putih panjang 1,0-1,5 mm. Pertama kali muncul pada ruas buku utama kemudian pada anakan dengan pola tidak teratur. Ini akan berkembang hingga bentuk malai terllihat jelas sehingga bulir terlihat dan dapat dibedakan.
Malai muda meningkat dalam ukuran dan berkembang ke atas di dalam pelepah daun bendera menyebabkan pelepah daun menggembung. Penggembungan daun bendera ini disebut bunting.

i. Tahap Bunting.
Bunting terlihat pertama kali pada ruas batang utama. Pada tahap bunting, ujung daun layu (menjadi tua dan mati) dan anakan non-produktif terlihat pada bagian dasar tanaman.
ii. Tahap Keluar Malai
Tahap selanjutnya dari fase ini adalah tahap keluar malai. Heading ditandai dengan kemunculan ujung malai dari pelepah daun bendera. Malai terus berkembang sampai keluar seutuhnya dari pelepah daun. Dan ada juga yang sudah tahap pembungaan yang dimulai ketika serbuk sari menonjol keluar dari bulir dan terjadi proses pembuahan.
iii. Tahap Pembungaan
Pada pembungaan, kelopak bunga terbuka, antera menyembul keluar dari kelopak bunga karena pemanjangan stamen dan serbuksari tumpah. Kelopak bunga kemudian menutup. Serbuk sari atau tepung sari jatuh ke putik, sehingga terjadi pembuahan.

Proses pembungaan berlanjut sampai hampir semua spikelet pada malai mekar. Pembungaan terjadi sehari setelah heading. Pada umumnya, floret membuka pada pagi hari.
Anakan pada tanaman padi ini telah dipisahkan pada saat dimulainya pembungaan dan dikelompokkan ke dalam anakan produktif dan nonproduktif.
Pemberian zat pengatur tumbuh atau penambahan hormon tanaman dan pemeliharaan tanaman dari serangan penyakit sangat diperlukan pada fase ini dengan melakukan penyemprotan menggunakan fungisida dengan tujuan merangsang pertumbuhan malai pada anakan produktif, karena diharapkan semua anakan produktif bisa menghasilkan malai yang baik

M. Padi TRISAKTI Umur 60 HST Tahap Matang Susu
Pada tahap matang susu ini, gabah mulai terisi dengan bahan serupa susu. Gabah mulai terisi dengan larutan putih susu, dapat dikeluarkan dengan menekan/menjepit gabah di antara dua jari. Malai hijau dan mulai merunduk.

N. Padi Trisakti Umur 65 HST Gabah Mulai Menguning
Padi TRISAKTI umur 65 HST sudah mulai menguning biasanya tidak lama lagi padi bisa di panen.

O. Padi TRISAKTI umur 70 HST sudah bisa dipanen.

_______________________

Benih padi unggul TRISAKTI
Usia : 70 hari panen

Padi TRISAKTI ini jenis Galur Lokal - bukan hibrida , bisa ditanam ulang berkali-kali dan bisa dijadikan benih kembali.

Padi TRISAKTI ini mirip dengan padi Ciherang tetapi warnanya mirip padi ketan, Rasanya pulen dan agak wangi.

Benih padi TRISAKTI yang baru menjadi topik perbincangan di daerah kami ini karena diklaim tahan terhadap penyakit dan cepat panen dalam waktu 70 hari bisa dipanen. Benih padi TRISAKTI ini telah di rilis sebagai benih padi super genjah.

Dekripsi padi TRISAKTI

- Padi Trisakti umur pendek / Genjah dapat di panen 70 Hari Setelah Tanam.
- Jumlah gabah/bulir padi per malai rata - rata 250-an
- Semai Maksimal 20 HSS untuk pindah tanam dan Panen 75 HST
- Berdaun bendera tegak sehingga aman dari burung pipit
- Tinggi tanaman 80-90 cm
- Cocok di tanam di sawah Irigasi dan lahan kering / sawah tadah hujan / sawah tidak tergenang atau sawah yang pengairannya bisa diatur ( BURSAT Sunda)
- Produktifitas : 7 ton/ ha potensi 11 ton/ha
- Toleran terhadap Penyakit Blast, Kerdil Rumput (Klowor), Wereng Batang Coklat (WBC) dll.
- Rasa nasi enak, pulen.
- Sebagai saran gunakan jarak tanam 30 x 30 cm dan legowo tiap 6 baris.

Harga per sak : Rp. 150.000,-
Berat isi : 5 kg

Sumber Data :
www.tanimakmurnusantara.com

Posting by Mohammad Nurdin