Cari Blog Ini
Jumat, 28 Desember 2012
Bulan Januari Minggu Pertama
"Hal terbaik mengenai masa depan adalah bahwa masa itu tiba sehari demi sehari"
(Abraham Lincoln)
"Ketrampilan dalam berbahasa merupakan sesuatu yang sangat penting ...
semua hal lainnya berasal dari situ"
(Linda Marsa)
Sabtu, 10 September 2011
Sembilan Tonggak Perkembangan si Golden Age

Menurut pakar psikologi perkembangan Elisabeth B. Hurlock, usia 0 – 5 tahun adalah saat perkembangan terbaik dalam kehidupan manusia.
Masa ini hanya terjadi sekali dan tidak akan terulang di kemudian hari.
Jadi, bagi kita sebagai orang tua, marilah kita sikapi masa emas ini dengan sebaik-baiknya atau buah hati kita akan kehilangan moment terbaik dalam hidupnya untuk menjadi manusia berkualitas.
Setiap anak adalah unik se unik perkembangannya yang akan selalu berbeda dalam setiap fasenya. Pada usia emas ini mereka, buah hati kita, akan mengalami perkembangan di antaranya perkembangan emosi dan kognisi. Ayah... Bunda, kita para orang tua, marilah kita sigap dengan perubahan dan perkembangan ini agar yang nantinya terkesan negatif dapat kita sikapi dengan bijaksana dan buah hati kita tetap nyaman.
Tonggak Pertama, Berkembangnya Egosentris
Sifat ini umumnya muncul pada anak usia sekitar 15 bulan. Tepatnya pada masa seorang anak sudah mulai aware dengan dirinya sendiri (self awareness). Pada masa ini sang buah hati mulai menyadari keberadaannya dan memandang dunia di sekelilingnya dari sudut pandang dirinya saja (egosentris). Dia belum mampu memandang dari sudut pandang atau kacamata orang lain. Segala sesuatu adalah miliknya, begitu pandangannya, maka harus saat itu juga didapatkannya, Ini berimbas pada sosialisasi dengan lingkungannya. Pada masa ini akan sering sekali terjadi konflik karena berebut mainan, makanan, dan sering tidak bisa menahan keinginan ketika meminta sesuatu. Bila tidak bijak, maka ini cepat membuat kita emosi.
Tahapan tadi biasanya akan berakhir pada usia anak 6 tahun, namun bila kita biarkan bisa menjadi menetap atau malah membesar. Kita harus mulai mengenalkan aturan apa yang boleh dan apa yang dilarang. Apa yang bisa segera dipenuhi dan apa pula yang bisa ditunda. Kita harus memberi pengertian dan contoh nyata untuk mengurangi sifat egosentris. Tentunya semua itu sebaiknya disampaikan dengan disertai bahasa kasih sayang.
Tidak semua keinginan harus dituruti, “here and now”. Ada saat di mana keinginan itu harus ditunda atau bahkan ditolak, sehingga anak bisa belajar untuk menekan sifat egois. Ini sangat berguna kelak ketika mereka dewasa. Anak akan dapat belajar menerima kekalahan dan kegagalan tanpa depresi, sehingga anak kita akan tangguh dan memiliki kecerdasan emosi (EQ) yang baik.
Tonggak Kedua, Berkembangnya Konsep Diri
Tonggak Ketiga, Rasa Ingin Tahu Yang Besar
Tonggak Keempat, Imajinasinya Berkembang Hebat
Tonggak Kelima, Perasaannya Mulai Terasah
Tonggak keenam, berkembangnnya konsep berpikir
Tonggak ketujuh, Imitasi Modelling
Tonggak kedelapan, bereksperimen dengan bahasa.
Tonggak kesembilan, Munculnya Kontrol Internal
Posting by Mohammad Nurdin
Kamis, 09 Desember 2010
Game Pendidikan : RekenTest
RekenTest mendukung operasi aritmatika dasar seperti penambahan dan pengurangan, tabel perkalian dan seterusnya,Di situs ini Anda akan menemukan informasi lebih lanjut tentang RekenTest, termasuk screenshot untuk mendapatkan kesan tentang apa yang dapat Anda harapkan. Atau Anda mungkin ingin langsung ke halaman-download dan mendapatkan hari ini juga.
Persyaratan sistem
Program ini membutuhkan setidaknya
- Windows 95 atau lebih tinggi. Program ini tidak akan berjalan pada Windows 3.x.
- 6 MB ruang disk + ruang yang dibutuhkan untuk file pengguna
- Setidaknya geheugen 64MB RAM
- Tampilkan dengan resolusi 800x600 pixel, 256 warna
Namun untuk server disarankan setidaknya
- Sebuah workstation berbasis NT atau edisi server
- Sebuah Pentium 400 MHz dengan 256 MB RAM
- Server klaim 200 MB ruang harddisk menggunakan pengaturan default
Berminat? Anda dapat download. Klik di sini !
Rabu, 06 Oktober 2010
Syair Nasihat : Anak Bertanya Pada Bapaknya
Selasa, 07 September 2010
Edugames Childsplay 1.4

Senin, 09 Agustus 2010
Software Pendidikan : ABC Kid Genius v2.21

Senin, 02 Agustus 2010
Anak Akan Belajar dari Kehidupannya
(oleh : Dorothi Law Nolte)
Bila anak dibesarkan dengan celaan, ia akan belajar memaki
Bila anak dibesarkan dengan permusuhan, ia akan belajar berkelahi
Bila anak dibesarkan dengan cemoohan, ia akan belajar rendah diri
Bila anak dibesarkan dengan penghinaan, ia akan belajar menyesali diri
Bila anak dibesarkan dengan toleransi, ia akan belajar menahan diri
Bila anak dibesarkan dengan motivasi, ia akan belajar percaya diri
Bila anak dibesarkan dengan pujian, ia akan belajar menghargai
Bila anak dibesarkan dengan perlakuan yang baik, ia akan belajar keadilan
Bila anak dibesarkan dengan rasa aman, ia akan belajar menaruh kepercayaan
Bila anak dibesarkan dengan dukungan, ia akan meyayangi diri
Bila anak dibesarkan dengan kasih saying dan persahabatan, ia akan belajar menemukan cinta dalam kehidupannya
Sabtu, 17 Juli 2010
Guru Berkualitas Hasilkan Anak Didik Berkualitas


Hasilnya bisa dilihat pada grafik di atas ini.
Mengapa ini terjadi? Beberapa hal mungkin menjadi penyebabnya yaitu sebagai berikut :
- Pertama, pada SDN (tempat bersekolah anak saya. Ini tidak dapat digeneralisasikan untuk seluruh SDN kota saya apalagi di Indonesia) Guru-gurunya kurang professional. Profesional dalam arti kapabilitas mengajar. Bayaran (upah/gaji) yang tidak semuanya mendapatkan yang layak. Perlu dicatat di sini tidak semua guru yang mengajar di SDN atempat sekolah anak saya adalah pegawai negeri. Sebagian masih honorer dengan upah/gaji yang masih jauh dari kata layak. Entah di garis kemiskinan atau malah di bawahnya. Saya tidak tahu. Bagaimana ia mau peduli dengan nasib anak didiknya bila nasib dirinya pun tiada tentu. Bagaimana ia akan bangga sebagai pengajar, bila menjadi pengajar dengan pendapatan yang tidak bisa dibanggakan. Uang bukan segalanya tetapi kalau masih hidup di bawah garis merah kemiskinan, bagaimana bisa tetap bisa istiqomah untuk profesianal. Rasanya jauh panggang dari api. Hanya manusia-manusia pilihan saja yang bisa demikian. Sebagian besar, tidak! Ini berbeda dengan SDIT swasta tempat anak saya pindah sekolah (ini juga tidak bisa digeneralisasikan semua SDIT swasta Indonesia mesti lebih baik). Pada sekolah ini sistemnya fullday (dari jam 07.00 wib – 15.30). Guru-gurunya (di sini biasa dipanggil Ustadz atau Ustadzah) terlihat bangga sebagai guru. Tidak terlalu kaya tetapi tidak miskin-miskin amat. Masih bisa pakai sepeda motor baru atau lama. Kebanggaan dan rasa percaya diri tampak waktu berhadapan dengan siswa dan orang tua yang bisa jadi sangat kaya (terindikasi dari mobil yang dipakai menjemput sang buah hati yang harganya antara 9 atau 10 digit. Satuan milyar maksudnya).
- Kedua, rasio siswa dengan guru. Di tempat lama anak saya, jumlah murid 46 orang. Secara administarsi terbagi 2 kelas. Diampu oleh 2 guru. Kenyataannya, waktu saya cek, digabung menjadi satu dan diampu oleh satu guru. Bayangkan rasio 1 : 46. Saya sendiri yang beberapa kali menjadi instruktur pelatihan petugas sensus/survey agak kesulitan mengajar kelas di atas 30 orang, yang notabene meraka adalah orang-orang dewasa. Bagaimana dengan anak-anak yang keseriusan menerima pelajaran masih kurang dan masih suka main-main. Rasio ini di atas yang ditetapkan Depdiknas yaitu 1 : 40 . yang ideal seperti di Negara Australia yaitu rasio 1 : 10. Sebuah rasio yang sangat ideal. Sedangkan di sekolah kedua 1 kelas berisi 26 siswa dan diampu oleh dua orang guru. Jadi rasionya 1 : 13. sangat mendekati rasio Negara Australia. Memang di sekolah yang kedua adalah termasuk SIBI (Sekolah Islam Berwawasan Internasional).
- Ketiga, di SDN harus gratis. Saya sebagai orang tua sebenarnya tidak keberatan membayar. “Jer besuki mowo beo”, kata orang Jawa. Karena gratis, maka sekolah harus pandai-pandai mengatur dana BOS agar mencukupi kebutuhan operasional sekolah. Pemerintah merasa bahwa dana BOS akan mencukupi tetapi pada kenyataan bisa tidak mencukupi bila ada agenda di luar pendidikan masuk seperti interest Kepala Sekolah dan Dinas P dan K setempat. Ini bukan rahasia lagi, di jaman serba buka-bukan seperti ini. Sedang di sekolah kedua harus bayar (menurut persepsi saya tidak mahal tetapi istri saya menganggap mahal bila dibandingkan dengan SD negeri). Karena memiliki dana mereka bisa berbuat lebih banyak lagi. Uang bukan jaminan semua lancar. Tetapi keikhlasan bekerja, kecintaan pada profesi, digabung dengan uang akan menghasilkan hasil yang optimal. Saya yakin Anda akan setuju bahwa Anda akan bekerja optimal bila pekerjaan yang Anda lakukan adalah pekerjaan yang anda cintai di samping Anda mendapat bayaran yang pantas untuk itu. Para pemain sepokbola kelas dunia juga membuktikan hal itu.
- Keempat, ini hampir terjadi di intansi manapun khususnya yang berkaitan dengan pegawai negeri. Balas jasa sangat tergantung lembaran-lembaran seperti ijazah dan sertifikat. Banyak teman saya yang memiliki ijazah S1 (sarjana) tetapi saya lihat kemampuannya tidak beda dengan lulusan SMA. Demikian juga yang S2 (pasca sarjana) yang tidak beda dengan waktu dia masih S1. Banyak guru-guru yang pegawai negeri memburu sertifikat. Acara seminar penuh sesak oleh mereka. Bukan ilmunya yang dicari. Kalau perlu tidak hadir bisa dapat sertifikat. Demikian juga dengan karya tulis. Berapa banyak yang copy paste karya orang kemudian diakui sebagai karya sendiri. Ini adalah dampak sertifikasi guru. Guru yang sudah sertifikasi memperoleh tunjangan hampir sebesar gaji pokok. Produk murid seperti apa yang akan dihasilkan oleh guru-guru yang bermental seperti ini. Meski saya akui tidak semua guru demikian. Masih banyak mereka yang istiqomah, jujur, dan ikhlas menjadi pendidik. Sedangkan di sekolah SDIT swasta tempat anak saya bersekolah, guru juga dididik untuk menjadi pendidik yang baik. Bukan banyaknya sertifikat yang dimiliki yang menjadi dasar penilaian. Lagi pula orang tua yang menyekolahkan anak tidak akan melihat berapa banyak sertifikat yang dimiliki. Berapa banyak karya tulis yang dihasilkan. Tidak. Bukan itu concern orang tua. Yang mereka inginkan anak dididik mejadi anak yang berakhlak terpuji, berilmu, percaya diri, dan mampu memaksimalkan potensi diri. Ibarat kita punya mobil rusak maka kita percayakan kepada montir yang bisa memperbaiki mobil kita terlepas montir itu punya seabrek ijazah atau sertifikat atau otodidak tanpa satu pun sertifikat. Yang penting montir itu bisa memperbaiki mobil kita. Itu saja harapan mereka, menurut saya. Mudah-mudahan saya tidak keliru.
Posting by Mohammad Nurdin