Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Anak. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Desember 2012

Bulan Januari Minggu Pertama

Berikut ini kata-kata bijak yang berhubungan dengan pendidikan anak. Kata-kata ini dikutip dalam buku karya Jolene L Roshikepartain dengan judul Raising Healthy Children Day by Day (Membesarkan Anak-anak Secara Sehat Setiap Hari), Interaksara, Batam, sn :

"Hal terbaik mengenai masa depan adalah bahwa masa itu tiba sehari demi sehari"
(Abraham Lincoln)

"Ketrampilan dalam berbahasa merupakan sesuatu yang sangat penting ...
semua hal lainnya berasal dari situ"
(Linda Marsa)


Sabtu, 10 September 2011

Sembilan Tonggak Perkembangan si Golden Age


Menurut pakar psikologi perkembangan Elisabeth B. Hurlock, usia 0 – 5 tahun adalah saat perkembangan terbaik dalam kehidupan manusia.

Masa ini hanya terjadi sekali dan tidak akan terulang di kemudian hari.

Jadi, bagi kita sebagai orang tua, marilah kita sikapi masa emas ini dengan sebaik-baiknya atau buah hati kita akan kehilangan moment terbaik dalam hidupnya untuk menjadi manusia berkualitas.

Setiap anak adalah unik se unik perkembangannya yang akan selalu berbeda dalam setiap fasenya. Pada usia emas ini mereka, buah hati kita, akan mengalami perkembangan di antaranya perkembangan emosi dan kognisi. Ayah... Bunda, kita para orang tua, marilah kita sigap dengan perubahan dan perkembangan ini agar yang nantinya terkesan negatif dapat kita sikapi dengan bijaksana dan buah hati kita tetap nyaman.

Tonggak Pertama, Berkembangnya Egosentris

Sifat ini umumnya muncul pada anak usia sekitar 15 bulan. Tepatnya pada masa seorang anak sudah mulai aware dengan dirinya sendiri (self awareness). Pada masa ini sang buah hati mulai menyadari keberadaannya dan memandang dunia di sekelilingnya dari sudut pandang dirinya saja (egosentris). Dia belum mampu memandang dari sudut pandang atau kacamata orang lain. Segala sesuatu adalah miliknya, begitu pandangannya, maka harus saat itu juga didapatkannya, Ini berimbas pada sosialisasi dengan lingkungannya. Pada masa ini akan sering sekali terjadi konflik karena berebut mainan, makanan, dan sering tidak bisa menahan keinginan ketika meminta sesuatu. Bila tidak bijak, maka ini cepat membuat kita emosi.

Tahapan tadi biasanya akan berakhir pada usia anak 6 tahun, namun bila kita biarkan bisa menjadi menetap atau malah membesar. Kita harus mulai mengenalkan aturan apa yang boleh dan apa yang dilarang. Apa yang bisa segera dipenuhi dan apa pula yang bisa ditunda. Kita harus memberi pengertian dan contoh nyata untuk mengurangi sifat egosentris. Tentunya semua itu sebaiknya disampaikan dengan disertai bahasa kasih sayang.

Tidak semua keinginan harus dituruti, “here and now”. Ada saat di mana keinginan itu harus ditunda atau bahkan ditolak, sehingga anak bisa belajar untuk menekan sifat egois. Ini sangat berguna kelak ketika mereka dewasa. Anak akan dapat belajar menerima kekalahan dan kegagalan tanpa depresi, sehingga anak kita akan tangguh dan memiliki kecerdasan emosi (EQ) yang baik.

Tonggak Kedua, Berkembangnya Konsep Diri

Pada periode ini pada diri sang anak mulai timbul kesadaran akan keberadaan dirinya. Diawali dengan nama, usia, jenis kelamin, anak dari siapa (bapak/ibu) dan berlanjut kepada hal-hal lainnya. Lingkungan sangat berperan penting bagi pembentukan konsep diri anak. sangat penting bagi kita, para orang tua untuk menyediakan lingkungan yang kondusif sehingga akan terbentuk pribadi yang positif. Jauhkan pada diri anak label-label dan contoh perilaku yang negatif karena pada masa ini sang anak sedang melakukan proses modelling atau meniru.

Tonggak Ketiga, Rasa Ingin Tahu Yang Besar

Pada masa ini anak banyak berekplorasi dengan hal-hal di sekelilingnya baik secara fisik maupun verbal. Mungkin anak akan memanjat tempat yang tinggi, memegang benda-benda berbahaya seperti gunting, pisau, atau kabel. Bertanya tentang hal-hal yang tabu atau bahkan sesekali kita memergoki sang anak sedang bermain dengan alat kelaminnya sendiri. Sebagai orang tua, kita harus bijak menyikapinya. Tidak perlu panik apalagi emosi. Jawab pertanyaan secara santai tetapi tegas. Beri penjelasan sederhana, misalnya ketika sang anak memegang alat kelaminnya, bahwa perbuatan tersebut tiada manfaatnya bahkan bisa membuat gatal atau pipisnya bisa sakit bila tangannya kotor dan mengandung kuman.

Tonggak Keempat, Imajinasinya Berkembang Hebat

Pada tahap ini, imajinasinya akan berkembang hebat. Imajinasinya akan mendominasi perilaku anak di usia ini, sehingga anak sering sulit membedakan antara khayalan dan kenyataan. Terkadang anak akan melebih-lebihkan perkataannya. Bahkan imajinasi ini akan melahirkan tokoh imajiner yang membuat anak bicara sendiri dengan benda-benda di sekelilingnya. Ingat tokoh Tasya dengan tokoh imajiner 3 boneka yaitu Baron dkk pada sebuah acara televisi? Orang tua tidak perlu cemas karena hal ini adalah normal dalam perkembangan anak sepanjang tidak berlebihan dalam menunjukkan abnormalitas. Imajinasi justru akan memacu daya kreatifitas dan biasanya meningkatkan kemampuan berkomunikasi anak.


Tonggak Kelima, Perasaannya Mulai Terasah


Anak akan mulai memperhatikan lingkungan, muncul minat bermain dengan teman meski nantinya akan muncul konflik, sampai muncul rasa empati. Saat ini adalah momen yang tepat untuk mengasah kecerdasan emosional (EQ). Orang tua dapat mengenalkan macam-macam bentuk emosi : senang, sedih, marah, dll bagaimana mengelolanya dan mengungkapkannya dengan baik dan memunculkan empati terhadap orang lain.

Tonggak keenam, berkembangnnya konsep berpikir

Pada masa sebelumnya konsep berpikir masih belum sempurna, saat ini konsep berpikir mulai berkembang misalnya konsep waktu antara kemarin, sekarang dan nanti akan mulai dipahami anak. Akan semakin berkembang jika orang tua sering menggunakan dalam percakapan sehari-hari, sehingga anak terbiasa mendengarkan penggunaan tata urutan waktu dari contoh orang tua.

Tonggak ketujuh, Imitasi Modelling

Pada fase ini lingkungan adalah rule model bagi anak, sehingga kewajiban orang tua untuk bersikap dan berkata dengan baik serta memberikan lingkungan yang kondusif termasuk lingkungan rumah, teman bermain, pengasuh yang baik, tontonan bergizi di televisi atau di mana pun, karena ketika anak sudah menyukai sesuatu atau punya tokoh idola baik di televisi maupun real dalam lingkungannya maka perilakunya akan senantiasa meniru tokoh idolanya.

Tonggak kedelapan, bereksperimen dengan bahasa.

Ada kalanya akan muncul kata-kata kasar, jorok, bahkan tabu dari mulut anak karena ia sedang banjir kosakata setelah baru saja mampu berkomunikasi dengan baik karena sebelumnya masih terbata-bata. Dengan kemampuannya ini kan menyerap banyak hal dari lingkungannnya : orangtua, teman, tetangga, pengasush, kakak, televisi, dll. Ironisnya justru banyak kata-kata negatif yang sangat senang ia serap karena jarang terdengar dan menimbulkan respon lingkungan ketika mengucapkannya. Maka kita sebagai orang tua hendaknya senantiasa berkata baik, mengontrol kata-kata ketika emosi dan tidak cepat panik bahkan emosi ketika anak berkata tidak baik, karena tahukah Anda bahwa sebenarnya anak tidak tahu maksud dari kata-kata yang diucapkan maka ketika muncul respon emosi atau kaget dari lingkungannya ia malah justru akan semakin senang mengulanginya karena merasa mendapat perhatian ketika mengucapkannya. Terkadang kita juga perlu untuk mengabaikan respon sebagaimana ia inginkan sehingga lama-kelamaan akan berhenti dengan sendirinya. Yang lebih penting lagi adalah bersikap santai sambil menjelaskan bahwa apa yang diucapkan tidak baik, bisa membuat orang lain marah atau tersinggung atau tidak bermanfaat. Katakan ini setiap anak mengulangi perbuatan tersebut. Insya Allah anak akan berhenti bereksplorasi dengan kata-kata negatif.

Tonggak kesembilan, Munculnya Kontrol Internal

Kontrol internal akan muncul di akhir masa pra sekolah, sekitar 5-6 tahun seiring dengan berkembangnya kemampuan kognisinya, anak akan mulai memahami aturan-aturan ynag berlaku dalam lingkungannya. Mulai muncul rasa malu jika melakukan kesalahan. Lingkungan yang positif kan membentuk perilaku positif pada anak.

Posting by Mohammad Nurdin

Kamis, 09 Desember 2010

Game Pendidikan : RekenTest

RekenTest mendukung operasi aritmatika dasar seperti penambahan dan pengurangan, tabel perkalian dan seterusnya,
serta yang lebih canggih seperti operasi aritmatika desimal, masalah uang, persentase dan pecahan.

Di situs ini Anda akan menemukan informasi lebih lanjut tentang RekenTest, termasuk screenshot untuk mendapatkan kesan tentang apa yang dapat Anda harapkan. Atau Anda mungkin ingin langsung ke halaman-download dan mendapatkan hari ini juga.


Persyaratan sistem

Program ini membutuhkan setidaknya
- Windows 95 atau lebih tinggi. Program ini tidak akan berjalan pada Windows 3.x.
- 6 MB ruang disk + ruang yang dibutuhkan untuk file pengguna
- Setidaknya geheugen 64MB RAM
- Tampilkan dengan resolusi 800x600 pixel, 256 warna

Namun untuk server disarankan setidaknya
- Sebuah workstation berbasis NT atau edisi server
- Sebuah Pentium 400 MHz dengan 256 MB RAM
- Server klaim 200 MB ruang harddisk menggunakan pengaturan default

Berminat? Anda dapat download. Klik di sini !

Posting by Mohammad Nurdin

Rabu, 06 Oktober 2010

Syair Nasihat : Anak Bertanya Pada Bapaknya

Posting Berikut ini syair nasihat dalam lagu Bimbo yang saya kutp dari www.ilirik.com Syair berisi pelajaran sang Bapak kepada Anak tentang Islam. Mudah-mudahan bisa menjadi kita ingat akan kewajiban kita kepada Sang Khalik, Allah swt.

Anak Bertanya Pada Bapaknya

ada anak bertanya pada bapaknya
buat apa berlapar-lapar puasa
ada anak bertanya pada bapaknya
tadarus tarawih apalah gunanya

lapar mengajarmu rendah hati selalu
tadarus artinya memahami kitab suci
tarawih mendekatkan diri pada Ilahi

lihat langit keanggunan yang indah
membuka luas dan anginpun semerbak
nafsu angkara terbelenggu dan lemah
ulah ibadah dalam ikhlas sedekah


Posting by Mohammad Nurdin

Selasa, 07 September 2010

Edugames Childsplay 1.4


Edugames Childsplay 1.4
Size : 33,8 mb

Childsplay adalah software berorientasi pada pengguna rumahan tetapi juga dapat digunakan di sekolah-sekolah PAUD (pendidikan anak usia dini) dan TK (taman kanak-kanak). Program inibisa dipakai sebagai sarana pembelajaran yang menyenangkan. Program ini dibuat berdasarkan Python dan PyGame, Program ini menyediakan framework untuk kegiatan permainan yang lebih menyenangkan karena memiliki animasi dan gambar bergerak.
Berikut adalah beberapa fitur kunci dari "Childsplay":
Memory adalah kegiatan yang menyenangkan dalam permainan mengingat dan belajar suara, gambar, huruf dan angka. Ada juga kegiatan yang melatih anak untuk menggunakan mouse dan keyboard. Ditambah beberapa permainan seperti teka-teki, pingpong, pacman dan biliar.
Dukungan Multilingual. Solid data logging untuk memantau kemajuan anak-anak lokal (SQLite) atau melalui jaringan (MySQL atau database (db) lain yang didukung oleh SQLAlchemy).
OpenOffice dipakai untuk dapat mencetak laporan data yang diinginkan.
Framework berorientasi Obyek untuk development berdasar pemrograman Python / PyGame.
Anda berminat mendownload edugames ini. Klik di sini!

Posting by Mohammad Nurdin

Senin, 09 Agustus 2010

Software Pendidikan : ABC Kid Genius v2.21

Spesifikasi :
System Requirements.
ABC Kid Genius software Minimum system requirements
PC Pentium 166 with 512mb memory, sound card, screen
ABC Kid Genius is designed to work with screen resolution set at 800x600 or 1024x768 or Higher
XP, Vista, Win7, Microsoft VB6 runtime files, Windows Media Player.
ABC Kid Genius Start software requires 47mb free hard disk space.
Kid Genius Software License Agreement

FREE WORDS and FREE STORY:
Install the ABC Kid Genius software first
AFTER ABC Kid Genius is installed and working, download FREE words and FREE story pages
Click on 30 free Words or 20 free Story Pages
Download files to a temporary directory. Click on the downloaded exe file to install.
New words are automatically added to ABC Kid Genius Spelling and Flash Words areas.

UPDATE VERSION:
If you have ABC Kid Genius v2.15 or higher installed on your computer, you can Update to v2.21

Software ABC Kid Genius ini adalah program freeware. Software ini mengajarkan anak Abjad, Bilangan, Menghitung, Membaca dan Ejaan dalam Bahasa Inggris dengan menggunakan suara, gambar dan klip video. Dengan menggunakan metode pengajaran langsung maka bayi dan balita bisa belajar dengan menonton pelajaran yang diputar.
Kita dapat mengenalkan anak-anak kita bagaimana caranya menggunakan keyboard. Anak-anak kita di usia sangat muda sekitar 18 bulan sudah dapat kita ajarkan menggunakan keyboard. Caranya dengan menginstal program ABC Kid Genius (versi terakhir yang saya tahu adalah versi 2.21). Program ini dibuat dalam Bahasa Inggris. Meski demikian tiada salahnya anak-anak kita belajar Bahasa Inggris di samping belajar mengenal huruf dan kata yang juga dalam Bahasa Inggris.
Diharapkan anak-anak akan memperoleh kemajuna dalam belajar untuk mengetik alfabet. Di samping itu juga dari membaca Cerita, maka anak diajarkan bagaimana kata-kata yang digunakan dalam kalimat.
Flash kata-kata, menunjukkan kata dan gambar yang berhubungan dengan itu.
Ejaan menunjukkan gambar kata dan menempatkan kosong di bawahnya.
Ada juga tombol bantuan yang muncul kata di bawah strip memungkinkan anak untuk menyalin kata huruf demi huruf. Jika kata dieja dengan benar video akan diputar sebagai hadiah. Kata-kata dapat ditambahkan atau dihapus untuk ejaan. Anda juga dapat membuat kata-kata Anda sendiri atau nama Ejaan digunakan dengan Kid Genius Spelling dan Flash Kata-kata, menggunakan gambar Anda sendiri, suara dan klip video. Software dapat diatur untuk AS atau Inggris. Ada 20 kata bebas dan 20 halaman cerita bebas dalam Bahasa Inggris tersedia untuk di download dari situs http://kidgen.com Genius Kid.
Anda berminat, ada versi gratis (free) dan juga bila ingin lebih maka Anda bisa mendaftar sebagai Member. Tentu saja sudah tidak gratis lagi. Bila berminat untuk mendownload, Anda bisa download dari alamat di bawah ini :

Posting by Mohammad Nurdin

Senin, 02 Agustus 2010

Anak Akan Belajar dari Kehidupannya

(oleh : Dorothi Law Nolte)

Bila anak dibesarkan dengan celaan, ia akan belajar memaki

Bila anak dibesarkan dengan permusuhan, ia akan belajar berkelahi

Bila anak dibesarkan dengan cemoohan, ia akan belajar rendah diri

Bila anak dibesarkan dengan penghinaan, ia akan belajar menyesali diri

Bila anak dibesarkan dengan toleransi, ia akan belajar menahan diri

Bila anak dibesarkan dengan motivasi, ia akan belajar percaya diri

Bila anak dibesarkan dengan pujian, ia akan belajar menghargai

Bila anak dibesarkan dengan perlakuan yang baik, ia akan belajar keadilan

Bila anak dibesarkan dengan rasa aman, ia akan belajar menaruh kepercayaan

Bila anak dibesarkan dengan dukungan, ia akan meyayangi diri

Bila anak dibesarkan dengan kasih saying dan persahabatan, ia akan belajar menemukan cinta dalam kehidupannya


Posting by Mohammad Nurdin

Sabtu, 17 Juli 2010

Guru Berkualitas Hasilkan Anak Didik Berkualitas



Kini, saya tambah percaya bahwa Guru berkualias akan menghasilkan anak didik yang berkualitas pula. Hal ini saya alami sendiri. Berikut ceritanya.

Saya memiliki tiga orang anak yang semuanya laki-laki. Cerita ini akan berfokus pada anak pertama saya yang baru saja lulus SD dan sekarang menduduki SLTP. Anak saya bersekolah di dua tempat. Kelas 1 sampai dengan kelas 3 di sekolah SDN (Sekolah Dasar Negeri), sedangkan kelas 4 sampai dengan kelas 6 di SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu) Swasta. Dulu pandangan saya terlalu naïf, sekolah di mana saja toh hasilnya sama saja. Kalau anaknya pintar dan cerdas di manapun bersekolah akan tetap pintar dan cerdas. Oleh karena itu, saya masukkan anak saya di sekolah SDN di dekat rumah. Cukup jalan kaki sampai sekolah, seperti saya dulu bersekolah. (hal ini bukan didorong SDN sekarang gratis, bebas uang sekolah, SPP dan BP3 karena sudah ada BOS, Bantuan Operasional Sekolah).

Hasilnya bisa dilihat pada grafik di atas ini.

Dalam grafik terlihat nilai anak saya cenderung terus menurun dari rata-rata 78 pada kelas 1 semester 1 menjadi 6,8 pada kelas 3 semester 2. Demikian juga dengan mata pelajaran UASBN (ujian Akhir Semester Berstandar Nasional) menurun dari 85 pada kelas 1 semester 1 menjadi 72 pada kelas 3 semester 2. Dalam prediksi saya yang terbiasa dengan data statistik maka terlihat tren data adalah kecenderngan terus terjadi penurunan. Bisa jadi di akhir kelas 6 keadaan bisa lebih parah, tidak lulus SD.
Maka dari itu saya bulatkan tekad (dengan mencari-cari alasan) untuk memindahkan anak saya ke sekolah yang lebih berkualitas, yang bisa mendidik murid (terutama anak saya) menjadi lebih baik dari sebelumya yaitu saya pindahkan ke SDIT swasta. Hasilnya bisa dilihat pada gambar. Nilai anak saya berangsur-angsur naik dari rata-rata semua mata pelajaran 68 pada kelas 4 semester 1 menjadi 81 pada kelas 6 semester 2. Demikian juga dengan mata pelajaran UASBN meningkat dari 71 pada kelas 4 semester1 menjadi 79 kelas 6 semester 2.

Meski tidak juara saya cukup puas. Alhamdulillah, saya bersyukur kepada Allah SWT. Ternyata saya belum terlambat untuk berubah haluan.

Mengapa ini terjadi? Beberapa hal mungkin menjadi penyebabnya yaitu sebagai berikut :

  1. Pertama, pada SDN (tempat bersekolah anak saya. Ini tidak dapat digeneralisasikan untuk seluruh SDN kota saya apalagi di Indonesia) Guru-gurunya kurang professional. Profesional dalam arti kapabilitas mengajar. Bayaran (upah/gaji) yang tidak semuanya mendapatkan yang layak. Perlu dicatat di sini tidak semua guru yang mengajar di SDN atempat sekolah anak saya adalah pegawai negeri. Sebagian masih honorer dengan upah/gaji yang masih jauh dari kata layak. Entah di garis kemiskinan atau malah di bawahnya. Saya tidak tahu. Bagaimana ia mau peduli dengan nasib anak didiknya bila nasib dirinya pun tiada tentu. Bagaimana ia akan bangga sebagai pengajar, bila menjadi pengajar dengan pendapatan yang tidak bisa dibanggakan. Uang bukan segalanya tetapi kalau masih hidup di bawah garis merah kemiskinan, bagaimana bisa tetap bisa istiqomah untuk profesianal. Rasanya jauh panggang dari api. Hanya manusia-manusia pilihan saja yang bisa demikian. Sebagian besar, tidak! Ini berbeda dengan SDIT swasta tempat anak saya pindah sekolah (ini juga tidak bisa digeneralisasikan semua SDIT swasta Indonesia mesti lebih baik). Pada sekolah ini sistemnya fullday (dari jam 07.00 wib – 15.30). Guru-gurunya (di sini biasa dipanggil Ustadz atau Ustadzah) terlihat bangga sebagai guru. Tidak terlalu kaya tetapi tidak miskin-miskin amat. Masih bisa pakai sepeda motor baru atau lama. Kebanggaan dan rasa percaya diri tampak waktu berhadapan dengan siswa dan orang tua yang bisa jadi sangat kaya (terindikasi dari mobil yang dipakai menjemput sang buah hati yang harganya antara 9 atau 10 digit. Satuan milyar maksudnya).
  2. Kedua, rasio siswa dengan guru. Di tempat lama anak saya, jumlah murid 46 orang. Secara administarsi terbagi 2 kelas. Diampu oleh 2 guru. Kenyataannya, waktu saya cek, digabung menjadi satu dan diampu oleh satu guru. Bayangkan rasio 1 : 46. Saya sendiri yang beberapa kali menjadi instruktur pelatihan petugas sensus/survey agak kesulitan mengajar kelas di atas 30 orang, yang notabene meraka adalah orang-orang dewasa. Bagaimana dengan anak-anak yang keseriusan menerima pelajaran masih kurang dan masih suka main-main. Rasio ini di atas yang ditetapkan Depdiknas yaitu 1 : 40 . yang ideal seperti di Negara Australia yaitu rasio 1 : 10. Sebuah rasio yang sangat ideal. Sedangkan di sekolah kedua 1 kelas berisi 26 siswa dan diampu oleh dua orang guru. Jadi rasionya 1 : 13. sangat mendekati rasio Negara Australia. Memang di sekolah yang kedua adalah termasuk SIBI (Sekolah Islam Berwawasan Internasional).
  3. Ketiga, di SDN harus gratis. Saya sebagai orang tua sebenarnya tidak keberatan membayar. “Jer besuki mowo beo”, kata orang Jawa. Karena gratis, maka sekolah harus pandai-pandai mengatur dana BOS agar mencukupi kebutuhan operasional sekolah. Pemerintah merasa bahwa dana BOS akan mencukupi tetapi pada kenyataan bisa tidak mencukupi bila ada agenda di luar pendidikan masuk seperti interest Kepala Sekolah dan Dinas P dan K setempat. Ini bukan rahasia lagi, di jaman serba buka-bukan seperti ini. Sedang di sekolah kedua harus bayar (menurut persepsi saya tidak mahal tetapi istri saya menganggap mahal bila dibandingkan dengan SD negeri). Karena memiliki dana mereka bisa berbuat lebih banyak lagi. Uang bukan jaminan semua lancar. Tetapi keikhlasan bekerja, kecintaan pada profesi, digabung dengan uang akan menghasilkan hasil yang optimal. Saya yakin Anda akan setuju bahwa Anda akan bekerja optimal bila pekerjaan yang Anda lakukan adalah pekerjaan yang anda cintai di samping Anda mendapat bayaran yang pantas untuk itu. Para pemain sepokbola kelas dunia juga membuktikan hal itu.
  4. Keempat, ini hampir terjadi di intansi manapun khususnya yang berkaitan dengan pegawai negeri. Balas jasa sangat tergantung lembaran-lembaran seperti ijazah dan sertifikat. Banyak teman saya yang memiliki ijazah S1 (sarjana) tetapi saya lihat kemampuannya tidak beda dengan lulusan SMA. Demikian juga yang S2 (pasca sarjana) yang tidak beda dengan waktu dia masih S1. Banyak guru-guru yang pegawai negeri memburu sertifikat. Acara seminar penuh sesak oleh mereka. Bukan ilmunya yang dicari. Kalau perlu tidak hadir bisa dapat sertifikat. Demikian juga dengan karya tulis. Berapa banyak yang copy paste karya orang kemudian diakui sebagai karya sendiri. Ini adalah dampak sertifikasi guru. Guru yang sudah sertifikasi memperoleh tunjangan hampir sebesar gaji pokok. Produk murid seperti apa yang akan dihasilkan oleh guru-guru yang bermental seperti ini. Meski saya akui tidak semua guru demikian. Masih banyak mereka yang istiqomah, jujur, dan ikhlas menjadi pendidik. Sedangkan di sekolah SDIT swasta tempat anak saya bersekolah, guru juga dididik untuk menjadi pendidik yang baik. Bukan banyaknya sertifikat yang dimiliki yang menjadi dasar penilaian. Lagi pula orang tua yang menyekolahkan anak tidak akan melihat berapa banyak sertifikat yang dimiliki. Berapa banyak karya tulis yang dihasilkan. Tidak. Bukan itu concern orang tua. Yang mereka inginkan anak dididik mejadi anak yang berakhlak terpuji, berilmu, percaya diri, dan mampu memaksimalkan potensi diri. Ibarat kita punya mobil rusak maka kita percayakan kepada montir yang bisa memperbaiki mobil kita terlepas montir itu punya seabrek ijazah atau sertifikat atau otodidak tanpa satu pun sertifikat. Yang penting montir itu bisa memperbaiki mobil kita. Itu saja harapan mereka, menurut saya. Mudah-mudahan saya tidak keliru.
Jadi dalam pandangan saya bukan pendidikan murah yang diharapkan tetapi pendidikan yang berkualitas itulah yang penting. Saran saya adalah dalam menyekolahkan anak kita harus dipertimbangkan baik-baik kualitas sekolah juga kualitas gurunya. Jangan nanti kita menyesal di kemudian hari. Seperti kata ucapan bijak, "Sesal kemudian tiada berguna."

Kalau boleh memberi gambaran biaya sekolah anak seperti membangun Piramida. Dengan pondasi yang kuat, kita bisa berharap anak kita akan bisa menyelesaikan pendidikan tertinggi (S3 misalnya) dengan biaya murah. Maksudnya karena anak kita pintar dan cerdas maka mereka layak mendapat beasiswa dari Negara atau Perusahaan atau Institusi lain atau mereka bisa membiayai dirinya sendiri. Keduanya sama dalam pandangan saya bahwa biaya yang akan kita keluarkan menjadi rendah. Lihat gambar di atas ini. Bayangkan apa yang terjadi bila piramida itu kita balik. Jelas akan labil dan tidak tahan diterpa angin, badai gurun, dan apalagi waktu.
Hanya dengan pendidikan yang berkualitas saja maka negeri ini akan maju dan bisa bersaing dengan tenaga kerja dari negera lain. Bukan malah menjadi pengangguran di negeri sendiri. Kalah sebagai pecundang. Mudah-mudahan itu tidak terjadi pada anak-anak kita.

Posting by Mohammad Nurdin