Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label yahya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label yahya. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Oktober 2019

Tombo Ati : Siapa Perumus Tombo Ati Limang Perkoro?

Kitab Shifat Ash Shafwah mengungkap siapa perumus "Obat Hati Lima".
Siapa Perumus Tombo Ati Limang Perkoro?
SYAIR “Tombo Ati” alias obat hati yang berjumlah lima amalan ibadah adalah syair berbahasa Jawa yang populer secara turun-temurun. Syair yang berisi nasihat ini semakin booming setelah masuk ke dunia rekaman yang dilantunkan seniman Muslim Emha Ainun Najib dan dilanjutkan oleh penyanyi Opick dengan versi bahasa Indonesianya.
Ada pihak yang menyebutkan bahwa syair Tombo Ati ini berasal dari Sunan Bonang salah satu ulama shalih penyebar Islam di tanah Jawa, di mana beliau menggunakan syair itu dalam sebagai media dakwah.
Meski demikian, apakah bisa dikatakan bahwa otomatis beliau perumus Tombo Ati? Bisa jadi, namun kemungkinan hal itu kecil, karena Wali Songo adalah ulama yang dikenal menganut metode sanad dalam ajarannya hingga kemungkinan besar ajaran yang disampaikan merujuk kepada ulama sebelumnya.
Jika seandainya bukan Sunan Bonang, lalu siapa ulama sebelum beliau yang merumuskannya?
Pertanyaan itu terjawab oleh kitab Shifat Ash Shafwah karya Ibnu Al Jauzi (597 H) ulama besar madzhab Hanbali, di mana saat beliau menulis biografi Yahya Bin Muadz Ar Razi ulama yang wafat di Naishabur tahun 258 H, beliau menuliskan bahwa Yahya menyampaikan 5 obat hati (lihat, Shifat Ash Shafwah, 4/92).
Dalam kitab itu Yahya bin Muadz menyatakan, ”dawa’ al qalb khomsah asya’” (obat hati ada 5 perkara), yang dalam bahasa Jawa, ”tombo ati iku limo perkarane” (obat hati ada 5 perkara).
Dari lima perkara itu Yahya bin Muadz merinci, ”qira’ah Al Qur’an bi at tafakkur” (membaca Al Qur’an dengan perenungan), yang dalam bahasa Jawa, ”moco Quran angen-angen sakmaknane”.
Yang kedua adalah “khala’ al bathn” (kosongkan perut atau berpuasa), yang dalam bahasa jawa, ”weteng siro kudu luwe”.
Obat hati selanjutnya adalah, ”qiyam al lail” kalau dijawakan menjadi, ”sholat wengi lakonono”.
Selanjutnya adalah, ”tadzarru’ indza as sahr” (merendahkan diri saat waktu sahur) kalau dalam versi Jawa, ”dzikir wengi ingkang suwe”.
Sedangkan obat hati yang terakhir yang disebut Yahya bin Mu’adz adalah, ”mujalasah as shalihin” (bermajelis dengan orang-orang shalih) yang dalam versi Jawanya, ”wong kang sholeh kumpulono.”
Jika demikian, maka hal ini merupakan salah satu indikator bahwa ajaran Walisongo bersumber kepada ulama terdahulu, tinggal generasi Islam saat ini, tidak hanya bisa manghafal, namun juga dituntut untuk mengamalkan 5 perkara yang amat dianjurkan itu, hingga hati menjadi tenang.*
Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar

Sumber : https://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2012/12/05/2157/siapa-perumus-tombo-ati-limang-perkoro.html


Posting by Mohammad Nurdin

Senin, 12 Maret 2012

MUHAMMAD DALAM PERJANJIAN BARU - PEMBAPTISAN YAHYA DAN JESUS HANYA SEJENIS TANDA KEAGAMAAN SIBGHATULLAH

BAB 15. PEMBAPTISAN YAHYA DAN JESUS HANYA SEJENIS TANDA KEAGAMAAN "SIBGHATULLAH"1)

 "Tanda (keagamaan) Allah (yang tak terhapuskan)! Siapakah yang lebih baik memberi tanda selain daripada Allah? Dan kepadaNyalah kita menyembah". 
Al Qur'an 2 : 138

Sangat disayangkan bahwa para Pengabar Injil tidak meninggalkan kepada kita ceritera yang lengkap dan rinci tentang khotbah Yahya Pembaptis; dan dengan asumsi mereka pernah melakukannya, bukanlah suatu jenis kejahatan bagi pihak gereja yang tidak menyimpan teksnya. Karena tidak mungkin membayangkan kalimat Yahya Pembaptis yang misterius dan mengandung teka-teki dalam bentuknya yang sekarang ini dapat difahami meskipun oleh yang paling terpelajar di antara para pendengarnya. Kita tahu bahwa doktor dan ahli hukum Yahudi minta kepadanya untuk menerangkan sendiri berbagai hal dan membuat pernyataan-pernyataannya lebih eksplisit dan terang (Yohanes i. 19-23 dan v. 33).

MUHAMMAD DALAM PERJANJIAN BARU - YAHYA PEMBAPTIS MENGUMUMKAN TENTANG SEORANG NABI YANG SANGAT BERKUASA

BAB 13. YAHYA PEMBAPTIS MENGUMUMKAN TENTANG SEORANG NABI YANG SANGAT BERKUASA

John Pembaptis atau Yahya Pembaptis, menurut ceritera empat orang Pengabar Injil, adalah sepupu dan hidup semasa dengan Jesus, hanya kira-kira enam bulan lebih tua daripada Jesus. Al Qur’an tidak menyebutkan apa-apa tentang kehidupan dan karya Nabi ini kecuali bahwa Tuhan melalui para malaikat, telah memberitahu ayahnya Zakariya: "Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu tentang (lahirnya) Yahya. Yang membenarkan sebuah Kalimat dari Allah. Seorang yang mulia, suci. Seorang Nabi di antara orang yang saleh." (Q.3 : 39). Tidak ada yang diketahui tentang masa bayinya, kecuali bahwa beliau seorang dari Nazareth yang hidup di belantara, memakan belalang dan madu liar, menutup tubuhnya dengan secarik kain dari bulu onta, yang diikat dengan korset kulit.