Cari Blog Ini

Memuat...

Sabtu, 09 Juni 2012

Cerita Anak : Si Pelit

 oleh : Aesop (620 - 560 SM)

Seorang yang sangat pelit mengubur emasnya secara diam-diam di tempat yang dirahasiakannya di tamannya. Setiap hari dia pergi ke tempat dimana dia mengubur emasnya, menggalinya dan menghitungnya kembali satu-persatu untuk memastikan bahwa tidak ada emasnya yang hilang. Dia sangat sering melakukan hal itu sehingga seorang pencuri yang mengawasinya, dapat menebak apa yang disembunyikan oleh si Pelit itu dan suatu malam, dengan diam-diam pencuri itu menggali harta karun tersebut dan membawanya pergi.
Ketika si Pelit menyadari kehilangan hartanya, dia menjadi sangat sedih dan putus asa. Dia mengerang-erang sambil menarik-narik rambutnya.


Satu orang pengembara kebetulan lewat di tempat itu mendengarnya menangis dan bertanya apa saja yang terjadi.
"Emasku! oh.. emasku!" kata si Pelit, "seseorang telah merampok saya!"
"Emasmu! di dalam lubang itu? Mengapa kamu menyimpannya disana? Mengapa emas tersebut tidak kamu simpan di dalam rumah dimana kamu dapat dengan mudah mengambilnya saat kamu ingin membeli sesuatu?"
"Membeli sesuatu?" teriak si Pelit dengan marah. "Saya tidak akan membeli sesuatu dengan emas itu. Saya bahkan tidak pernah berpikir untuk berbelanja sesuatu dengan emas itu." teriaknya lagi dengan marah.
Pengembara itu kemudian mengambil sebuah batu besar dan melemparkannya ke dalam lubang harta karun yang telah kosong itu.
"Kalau begitu," katanya lagi, "tutup dan kuburkan batu itu, nilainya sama dengan hartamu yang telah hilang!"
Sumber : www.ceritakecil.com

***

Sungguh aneh orang pelit atau kikir itu. Dia bekerja keras untuk memiliki harta tetapi tidak menguasainya. Dia memiliki harta tetapi tidak memperoleh manfaat baik di dunia maupun di akhirat. Buktinya dia tidak bisa membelanjakannya karena takut hartanya berkurang. Sebetulnya dia tidak memiliki harta tersebut tetapi dia menjadi milik hartanya (budak harta). Setahu saya banyak orang kaya di Jakarta yang memiliki rumah di Puncak (Cisarua-Bogor). Dia bisa katakan ke banyak orang bahwa itu, itu, dan itu adalah rumah saya tetapi faktanya pembantu-pembantu yang dia pekerjakanlah yang menguasai rumah tersebut meski tentu saja dia bukan pemiliknya. Jadi ... bijaklah dalam memiliki harta karena di akhirat kelak akan kita pertanggungjawabkan dari mana kita peroleh dan dipergunakan untuk apa. (masding)

Posting by Mohammad Nurdin

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar