Cari Blog Ini

Memuat...

Senin, 12 Maret 2012

MUHAMMAD DALAM PERJANJIAN BARU - "SIBGHATULLAH" ATAU PEMBAPTISAN DENGAN RUH SUCI DAN API

BAB 16. "SIBGHATULLAH" ATAU PEMBAPTISAN DENGAN RUH SUCI DAN API

Satu diantara fenomena agama yang sedikit yang tak dapat saya terangkan ialah: Bagaimana orang-orang Sabiin, begitu predominan di peninsula Arab dan Mesopotamia, tidak memeluk agama Kristen jika Nabi Yahya Pembaptis telah dengan sebenarnya dan secara terbuka menyatakan dan memperkenalkan Jesus sebagai Nabi yang "lebih berkuasa" daripada beliau sendiri, dan Al Masih yang beliau menyatakan dirinya tidak patut untuk membuka tali kasutnya? Jika seperti diramalkan oleh Yahya, Jesus adalah Nabi Allah yang datang untuk membaptis dengan Ruh Suci dan api, jutaan orang yang telah beliau "celup" di perairan sungai Jordan dan tempat lainnya, mengapa Nabi Jesus tidak dengan segera membaptis mereka dengan Ruh Suci dan api dan lalu menghapuskan penyembahan berhala di semua tanah yang dijanjikan Allah bagi anak cucu Nabi Ibrahim dan mendirikan Kerajaan Allah dengan kekuatan dan api?
Secara mutlak tidak dapat dipikirkan bahwa para murid dan orang-orang beriman pada misi suci Nabi Yahya tidak harus mematuhi Jesus bila saja kepada khalayak beliau telah diperkenalkan sebagai Tuannya atau Superior-nya di tempat itu. Para pengikut Yahya mungkin saja telah dimaafkan atas penolakan mereka untuk masuk ke dalam gereja Kristen jika Jesus Kristus telah datang, katakanlah, satu abad kemudian daripada Pembaptis, tetapi untunglah yang begitu itu bukan masalahnya. Mereka berdua adalah merupakan rekan semasa (kontemporer) dan dilahirkan dalam tahun yang sama. Mereka keduanya membaptis dengan air atas pertobatan dosa, dan menyiapkan pemeluk agama yang telah bertobat bagi Kerajaan Allah yang mendekat tiba tetapi tidak telah berdiri di zaman mereka.

Kaum Sabiin, para "Pencelup" atau "Pembaptis" adalah pengikut setia Yahya. Mungkin saja mereka telah jatuh ke dalam perbuatan salah dan takhayul; namun mereka mengetahui dengan baik bahwa bukanlah Jesus yang dimaksudkan di dalam ramalan Nabi mereka. Mereka memeluk Islam ketika Nabi Muhammad saw tiba. Orang Haran di Syria bukanlah sisa orang Sabiin kuno seperti yang disangkakan. Di tanah yang dijanjikan hanya ada tiga agama non Muslim yang diakui dan dibiarkan adanya oleh Al Qur'an yaitu agama Yahudi, agama Kristen dan agama kaum Sabiin. Disebutkan bahwa orang-orang Haran berpura-pura adalah sisa kaum Sabiin kuno, karena itu mereka diizinkan untuk mengamalkan agama mereka yang aneh tanpa perlakuan tidak baik oleh pemerintah Turki.

Konsepsi Kristen tentang Ruh Suci sama sekali berbeda dengan konsepsi Islam dan Yahudi. Ruh Suci bukan seorang pribadi yang suci dengan atribut dan fungsi suci yang bukan milik pribadi suci lain salah satu dari tiga tuhan. Ummat Kristen mempercayai bahwa ruh suci yang sama ini, pribadi ketiga yang suci, turun dari tahtanya di sorga (his atau her atau its throne) atas permintaan yang diajukan setiap pendeta - dalam upacara hariannya dari beberapa sakramen - untuk mensucikan unsurnya dan mengubah esensi dan mutu mereka menjadi beberapa unsur supranatural yang dianggap amat sangat menjijikkan bagi sentimen keagamaan setiap kaum Unitarian, apakah dia seorang Yahudi atau seorang Muslim. Tak suatupun dapat menakutkan perasaan seorang Muslim selain daripada keyakinan bahwa Ruh Suci -selalu melalui intervensi seorang pendeta - mengubah air pembaptisan menjadi darah tuhan yang disalib dan menghapuskan apa yang disebut dosa asal; atau keyakinan bahwa operasi ajaib atas unsur material dari Eucharist merubah substansi unsur itu menjadi darah dan tubuh tuhan inkarnasi. Keyakinan itu mutlak bertolak belakang dengan ajaran Perjanjian Lama dan (merupakan) pemalsuan atas doktrin asli Yahya dan Jesus. Pengakuan orang Kristen bahwa Ruh Suci melalu mantera-mantera pendeta, mengisi dan memenuhi orang-orang tertentu dan memberkati mereka, tetapi tidak menjamin kesucian hati dan kebodohan mereka, adalah tidak berarti apapun.

Diceriterakan kepada kita bahwa Hananiah (Ananias) dan isterinya Shapirah telah dibaptis, yang berarti telah diisi dengan Ruh Suci. Dengan begitu mereka memperoleh inspirasi dari pribadi ketiga yang suci untuk menjual ladang mereka dan meletakkan harganya dalam bentuk tunai di kaki Apostel Peter, tetapi pada saat bersamaan dirayu oleh setan untuk menyembunyikan sebagian dari uang itu. Akibatnya ialah bahwa pasangan communist yang malang itu mati mengenaskan dengan cara yang ajaib (Kisah Para Apostel v.)

Coba pikirkan tentang keyakinan bahwa pribadi ketiga dari trinitas turun atas orang, memberkati mereka, dan lalu membiarkan mereka jatuh ke dalam kesalahan, penyelewengan dalam keyakinan, dan ketidak percayaan pada tuhan, dan membiarkan mereka melakukan perang dan pembantaian yang mematikan.

Mungkinkah ini? Dapatkah iblis merayu orang yang telah diisi dengan dan dijaga oleh Ruh Suci dan merubahnya menjadi seekor setan? Al Qur'an yang suci sangat mengesankan dalam hal ini. Allah berfirman kepada setan:
"Dia berfirman: "Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban Aku-lah untuk menjaganya. Sesungguhnya atas hamba-hambaKu engkau tidak memiliki kekuasaan terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat" Q. 15 : 41-42

Kita dapat percaya, atau bahkan membayangkannya sesaatpun, bahwa seorang hamba Allah, seorang beriman yang lurus yang telah menerima Ruh pensucian, dapat jatuh ke dalam dosa yang mematikan dan musnah dalam neraka. Tidak, seorang yang suci, selama dia masih ada dalam dunia yang nyata ini, harus memerangi dan berjuang melawan dosa dan kejahatan; dia mungkin saja jatuh, tetapi dia akan bangkit lagi dan tidak akan pernah ditinggalkan oleh Ruh murni yang menjaganya. Pertobatan dosa yang sejati adalah hasil karya Ruh yang baik yang ada dalam diri kita. Jika seorang Kristen dibaptis dengan Ruh Suci dan api, dalam arti seperti digambarkan dalam "Kisah Para Apostel" dan gereja-gereja menerimanya, maka setiap orang Latino, Yunani, atau Abesinia bukan saja harus menjadi seorang suci yang tidak berdosa tetapi juga seorang nabi linguist dan polyglot!

Kebenarannya adalah bahwa agama Kristen tidak mempunyai sebuah konsepsi yang pasti atau tepat mengenai Ruh Suci memenuhi seorang Kristen yang dibaptis. Jika itu Tuhan, maka betapa beraninya setan mendekati, menggoda dan merayu orang yang telah disucikan atau lebih baik yang telah bersifat tuhan (deified)? Dan tambahan lagi, apa yang lebih serius ialah: Bagaimana setan itu dapat mengusir Ruh Suci dan menempatkan dirinya dalam hati seorang heretic atau atheist yang telah dibaptis. Pada pihak lain, jika Ruh Suci itu berarti malaikat Jibril atau malaikat lainnya, makan gereja-gereja Kristen mengarungi pada pasir ketakhayulan; sebab malaikat itu tidak bersifat bisa hadir di semua tempat dalam satu waktu (omni-present). Jika Ruh yang memurnikan dan mengisi hati seorang Kristen yang telah dibaptis itu adalah Tuhan Sendiri, karena yang demikian itu adalah kepercayaan mereka pada pribadi ketiga dalam Trinitas, maka semua orang Kristen yang telah dibaptis harus mengaku dirinya suci dan bersifat tuhan (deified)!

Lalu ada pula konsepsi Protestant mengenai Ruh Suci, yang - which atau who -1) mengisi hati mereka yang pada saat tertinggi dari kegairahan dan ekstasi selama khotbah yang membakar dari seorang pembicara yang bodoh atau terpelajar, mempercayai dirinya sendiri menjadi "dilahirkan kembali"; namun banyak di antara mereka yang meluncur kembali dan menjadi apa yang mereka sebelumnya, bajingan dan penipu!

Nah sekarang sebelum saya terangkan, menurut pengertian saya yang hina ini, pembaptisan spiritual dan berapi-api itu, saya ingin membuat pengakuan bahwa banyak orang-orang saleh dan takut terhadap Tuhan di antara orang Yahudi dan Kristen. Karena betapapun pandangan dan keyakinan agama mereka itu mungkin berbeda dengan pandangan dan keyakinan kita, mereka mencintai Tuhannya dan berbuat baik atas namanya. Kita tidak dapat memahami dan menentukan perlakuan terhadap Tuhan dengan orang-orang yang berbeda agama. Konsepsi Kristen tentang Ketuhanan hanyalah merupakan kesalahan definisi tentang Tuhan yang sejati kepada siapa mereka meyakini dan mencintaiNya. Jika mereka memuliakan Jesus dan mempertuhankannya, hal itu bukan karena mereka ingin tidak menghormati Tuhan, tetapi karena mereka melihat keindahanNya pada Ruh Allah itu, yaitu Jesus. Sudah barang tentu mereka tidak bisa menghargai kerasulan Nabi Muhammad saw, bukan karena mereka mengingkari jasanya yang tak dapat ditandingi terhadap wasiyat Allah dengan memberikan pukulan terbesar kepada setan dan kultur penyembahan berhalanya, tetapi karena mereka tidak mengerti sebagaimana Nabi Muhammad saw memahami sifat sesungguhnya dari misi dan pribadi Jesus Kristus. Alasan yang sama bisa diajukan atas sikap orang-orang Yahudi terhadap Nabi Jesus dan Nabi Muhammad saw. Allah Maha Pemurah dan Pengampun!

Ruh Suci dengan definite article "the" menunjuk khusus kepada malaikat Jibril, atau salah satu dari ruh-ruh "yang murni" yang begitu banyak yang diciptakan oleh Allah, dan diangkat untuk melaksanakan misi tertentu. Turunnya Ruh Suci kepada seorang manusia ialah untuk mengungkapkan kepadanya kehendak Allah, dan untuk membuatnya seorang nabi. Orang yang demikian itu tak akan pernah dapat dirayu oleh setan.

Apa yang dikenal sebagai pembaptisan sebelum masa Nabi Muhammad saw kini disebut "sibghatullah" yaitu pemberian tanda keagamaan yang bersifat permanen yang disebut dalam Al Qur'an yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw, diterangkan kepada kita oleh Wahyu Suci hanya dalam satu ayat Al Qur'an surah 2 ayat 138.

"Pemberian tanda - pencelupan - (yang bersifat tetap bagi orang-orang yang beriman kepada) Allah. Dan pemberian tanda siapakah yang lebih baik daripada Allah? KepadaNya kita semua menyembah."
Komentator (ahli tafsir) Muslim mengerti dengan benar kata "sibghat" bukan dalam arti harfiah "mencelup", tetapi dalam pengertian spiritual atau metaforikal agama. Ayat Al Qur'an ini membatalkan dan menghapuskan agama dari "Sab'utha" dan "Ma'muditha" atau kedua-duanya kaum Sabiin dan Nasara.

"Sibghatullah" adalah tanda tetap bagi orang-orang beriman kepada Allah, bukan dengan air tetapi dengan Ruh Suci dan api! Agama yang dipeluk oleh siapapun dari para sahabat Nabi Allah pada tahun-tahun pertama Hijriyah kini dipeluk dalam keseluruhannya oleh setiap Muslim. Hal ini tidak berlaku bagi agama yang mengenal pembaptisan. Lebih dari enam belas Konsili Ekumeni telah diundang untuk mendefinisikan agama Kristen, hanya untuk ditemukan oleh Sinode Vatikan dalam abad sembilan belas bahwa misteri dari 'The Infallibility" dan "The Immaculate Conception" adalah dua dari dogma utama, keduanya tidak dikenal oleh Apostel Peter dan Perawan Maryam Yang Diberkati! Keyakinan atau agama apapun yang bergantung pada pertimbangan dan keputusan Sinode Umum - suci ataupun menyimpang (heretical) - adalah artifisial dan manusiawi. Agama Islam ialah keyakinan pada Satu Tuhan (Allah) dan penyerahan mutlak kepada kehendakNya, dan agama ini dipeluk oleh para malaikat di langit dan oleh Muslimin dan Muslimat di bumi. Ini adalah agama pemberkatan dan pencerahan, dan merupakan benteng yang tak dapat ditembus oleh penyembahan berhala. Marilah kita kembangkan hal ini sedikit lebih lanjut.

Pencelupan tetap yang bersifat spiritual adalah Karya langsung Tuhan Sendiri. Sebagaimana halnya tukang cuci mencuci kain atau obyek lainnya dengan air; seperti halnya tukang celup memberi warna pada wool atau katoen dengan bahan pewarna untuk memberikan nuansa baru; dan seperti halnya penandaan tetap menutup dosa-dosa yang lalu dari seorang beriman sejati yang telah bertobat, begitulah Allah Yang Maha Berkuasa memberikan tanda, bukan tubuh, tetapi ruh dan jiwa dari dia (hambaNya) yang Allah dengan RakhmatNya memberi arah dan petunjuk kepada agama suci Islam. Inilah "Sibghatullah" pemberian tanda oleh Allah yang membuat orang sesuai dan mulia menjadi warga Kerajaan Allah dan seorang hamba dalam agamaNya. Ketika untuk pertama kalinya malaikat Jibril menyampaikan Kalimat Allah kepada Nabi Muhammad saw, kedalam dirinya diberikan anugerah ramalan. Ruhnya disucikan dan diperbesar dengan Ruh Suci hingga sampai pada tingkat dan luas yang sedemikian yang memutuskan waktu dan malaikat Jibril membuka dada dan hatinya serta mencucinya, dengan mana menghilangkan dasar-dasar yang memungkinkan bisikan setan. Sekali, yaitu ketika beliau masih kanak-kanak dan sedang bermain di padang pasir, dan yang kedua di Kaaba sebelum mi'raj, dan hingga sampai pada suatu batas yang ketika pada gilirannya beliau mendakwahkan Kalimat itu kepada mereka yang Allah berkenan untuk memberikan petunjukNya, mereka (ummat Muahmmad saw)itupun disucikan, diberi tanda. Jadi merekapun menjadi perwira-perwira suci dalam barisan baru tentara yang terdiri dari orang-orang Muslim. Pemberian tanda spiritual ini tidak menjadikan orang-orang Muslim itu nabi-nabi, orang-orang suci yang tidak berdosa, atau penjaja keajaiban. Karena sesudah Kehendak dan Firman Allah itu diungkapkan dalam Al Qur'an, maka itulah akhir daripada kenabian dan wahyu. Mereka tidak dijadikan orang-orang suci yang tidak berdosa, karena kealiman dan amalan baik mereka bukan merupakan hasil usaha dan perjuangannya melawan kejahatan dan karena itu tidak sepantasnya dihargai. Mereka tidak diangkat menjadi pekerja-pekerja keajaiban supernatural karena mereka memiliki keyakinan yang mantap dan sehat pada Penciptanya, Allah.

Selanjutnya, "sibghatullah" ini membuat orang-orang Muslim sejati itu khidmat, konsisten dalam menjalankan kewajibannya kepada Allah dan terhadap rekan-rekan semasyarakat, terutama keluarga mereka. Sibghatullah itu tidak menyebabkan mereka gila untuk mempercayai diri mereka lebih suci daripada rekan-rekan seagama, dan dengan begitu bersombong dengan jabatan kependetaan bagi mereka sendiri terhadap rekan-rekan lainnya, seakan-akan mereka itu jamaah dan gembalaan mereka. Kefanatikan, ego keagamaan dan sejenisnya bukanlah hasil dari Ruh Suci. Setiap orang Muslim mendapatkan sibghatullah yang sama pada saat penciptaannya, agama yang sama dan pemberian tanda spiritual keagamaan yang tidak dapat dihapuskan, dan harus bersaing dalam masa hidup dunianya yang singkat dengan sebaik-baik kemampuan dan daya upayanya agar dapat memenangkan mahkota kemuliaan di dunia yang akan datang. Setiap orang Muslim hanya memerlukan pendidikan dan pelatihan keagamaan sesuai dengan kebijakan Firman Allah. Namun dia tidak memerlukan campur tangan seorang pendeta, sakramen, atau orang suci. Setiap orang beriman yang tercerahkan dapat menjadi seorang Imam (pemimpin dalam beribadah), misionaris, khotib sesuai dengan ajaran yang diperolehnya serta semangat keagamaannya, tidak untuk kemuliaan yang sia-sia atau hasil yang menguntungkan.

Dengan singkat seorang Muslim, apakah pada saat kelahirannya atau pada saat kepindahan agamanya, diberi tanda secara spiritual, dan menjadi seorang warga dari Kerajaan Tuhan, seorang yang bebas merdeka, dan memiliki hak dan kewajiban yang sama, sesuai dengan kemampuannya, kebaikan, pengetahuan, kekayaan, kedudukan.

Yahya Pembaptis yang suci merujuk pemberian tanda spiritual dan igneous (sesuatu yang panas yang dihasilkan oleh magma, atau seperti bara api) kepada Nabi Allah Yang Besar, bukan sebagai mahluk yang keramat, Tuhan, atau anak Tuhan, tetapi sebagai seorang agen yang suci, dan suatu instrumen melalui mana pemberian tanda itu dilaksanakan. Nabi Muhammad saw menyampaikan Wasiyat Allah yang adalah FirmanNya; beliau memimpin peribadatan, melaksanakan upacara suci, dan berjihad melawan orang-orang kafir dan penyembah berhala untuk mempertahankan perjuangannya (menegakkan agama Allah). Namun kejayaan dan kemenangan yang diperolehnya adalah milik Allah. Dengan cara yang sama Yahya berdakwah dan membaptis, tetapi penyesalan yang mendalam, penebusan dosa, dan pengampunan dosa hanya dapat dilakukan oleh Tuhan. Ramalan Nabi Yahya bahwa "dia yang datang sesudah aku lebih berkuasa daripada aku; dia akan membaptismu dengan Ruh dan api" adalah sangat mudah untuk dimengerti, karena pemberian tanda secara spiritual ini hanya diberikan dan dilaksanakan melalui Nabi Muhammad saw.

Harus dicatat bahwa bentuk dan materi sibghatullah (pencelupan) ini adalah Sakral dan sekaligus Supernatural. Kita merasakan dan melihat akibat dari jalan yang tidak tampak tetapi nyata yang mewujudkan akibat itu. Tiada lagi air sebagai materi ataupun tanda untuk memimpin dalam upacara atau bentuk. Allah itulah yang melalui Ruh, melaksanakannya. Materi Sibghatullah dalam kalimatPemberi Tanda (Allah) adalah Ruh Suci dan api. Bentuk itu secara eksklusif milik Allah. Kita tidak dapat memberikan atribut itu kepada Allah dalam bentuk apapun kecuali KalimatNya: "Kun" atau "Jadilah" dan PerintahNya diturut atau dicipta. Hasilnya ialah bahwa seorang Muslim menjadi diberkati, dicerahkan, dan menjadi seorang prajurit yang dipersenjatai untuk bertempur melawan setan dan berhala-berhalanya. Tiga akibat dari Sibghatullah in patut memperoleh pertimbangan dan studi yang serius.

1. Ruh Suci , apakah itu malaikat Jibril atau Ruh-Ruh Superior lainnya yang diciptakan, melalui perintah Allah mensucikan jiwa seorang Muslim pada saat kelahirannya atau pada saat bertukar agama, sesuai dengan peristiwanya, dan pensucian ini berarti:
a. Ke dalam hatinya dipahatkan suatu keyakinan yang sempurna akan adanya Satu Tuhan Yang Sejati. "Sibghatu'llah" itu menjadikan jiwa seorang Muslim sejati mempercayai Keesaan Tuhan yang mutlak, untuk menyandarkan diri padaNya, dan untuk mengerti bahwa Dia sendirilah Tuannya, Pemiliknya dan Tuhannya. Keyakinan terhadap Tuhan Yang Sejati itu tampak pada diri setiap orang yang mengaku dirinya seorang Muslim. Tanda dan bukti atas keyakinan yang telah terpahatkan dalam diri seorang Muslim itu bersinar dengan gemilang ketika dia menegaskan: "Aku seorang Muslim, Alkhamdulillaah." Apakah yang lebih berkesan dan secara sendiri jelas sebagai sebuah tanda dari keyakinan yang suci selain daripada kebencian dan ketidak sukaan yang dirasakan seorang Muslim terhadap obyek sesembahan lain di samping Allah? Mana dari yang dua ini yang lebih suci dalam Pandangan Allah: dia yang menyembah Penciptanya dalam sebuah bangunan sederhana Mesjid, atau dia yang menyembah empat belas gambar dan lukisan yang mewakili pemandangan penyaliban dalam sebuah bangunan yang dinding dan altarnya dihiasi dengan patung-patung berhala, tanahnya menutupi tulang belulang orang-orang yang sudah mati, dan kubahnya dihiasi dengan tokoh-tokoh malaikat dan orang-orang suci? 

b. Pensucian oleh Ruh Suci dan api yang Allah kerjakan atas jiwa seorang Muslim adalah bahwa Dia mengisinya dengan rasa cinta akan dan penyerahan diri kepada Dia. Seorang suami yang terhormat lebih suka menceraikan isteri tercintanya daripada melihatnya membagi cintanya kepada seorang laki-laki lain. Yang Maha Berkuasa akan melemparkan setiap "orang beriman" yang ternyata menyekutukan Dia dengan obyek atau mahluk lain. Cinta seorang Muslim akan Allah tidak teoritis atau idealistik namun bersifat praktis dan nyata. Tidak sesaatpun dia ragu untuk mengusir isteri, anak atau temannya dari rumahnya jika dia menghujat Nama atau Pribadi Suci. Seorang penyembah berhala atau seseorang dari agama lain bisa saja menunjukkan kemarahan hati yang sama untuk obyek yang disembahnya. Tetapi cinta yang ditunjukkan untuk Satu Tuhan Sejati adalah suci dan diberkati: dan cinta yang demikian itu hanya bisa ada dalam hati seorang Muslim. Formula yang bersifat isyarat tanda baik dan kidung suci "Bismillaah" dan "Alkhamdulillaah" yang masing-masing berarti: "Dengan Menyebut Asma Allah" dan "Puji dan Syukur bagi Allah" pada awal dan akhir setiap kegiatan atau upaya, adalah sebuah pernyataan tulus dari jiwa seorang Muslim yang telah disucikan, terkesan dan dimabukkan dengan "cinta akan Tuhan" yang memancar dan melebihi semua cinta lainnya. Seruan-seruan ini bukan suatu pernyataan yang artifisial dan hipokritikal dalam mulut orang Muslim, tetapi kata-kata itu adalah do'a dan pujian dari jiwa yang telah disucikan tanpa dapat terhapus lagi yang menempati tubuhnya. Dan jika seorang Kristen dan seorang Yahudi dicelup dengan keyakinan dan ketaatan yang sama, dan jika jiwa mereka tergelitik dengan sungguh-sungguh akan pernyataan itu yang benar-benar dirasakan oleh jiwa seorang Muslim, maka dia (orang Kristen atau Yahudi) itu adalah seorang Muslim meskipun dia tidak menyadarinya. 

c. Penandaan pemberkatan yang tak terhapuskan yang diinspirasikan ke dalam ruh seorang Muslim melalui "sibghatullah", di samping keyakinan dan cinta akan Allah, adalah sebuah penyerahan diri dan kepasrahan diri yang menyeluruh kepada Kehendak Allah Yang Suci. Penyerahan diri yang mutlak ini memancar bukan saja dari keyakinan dan cinta, akan tetapi juga dari rasa takut yang suci dan dari rasa hormat yang mendalam yang begitu latent dalam jiwa dan ruh setiap orang beriman yang sebenarnya. Yang demikian itu adalah karakteristik utama dari penandaan spiritual yang tak terhapuskan, dan tidak dijumpai di manapun kecuali di antara penganut agama Islam. Yahya Pembaptis, Jesus Kristrus dan para apostel mempercayai, mencintai dan merasa takut pada Allah yang sama seperti setiap orang Muslim melakukannya sesuai dengan tingkat kelembutan dan rahmat yang suci. Ruh Suci, atau seperti dikenal dalam Islam sebagai Ruh Yang Disucikan, berarti malaikat Jibril sendiri, yang, juga memegang jabatan sebagai Utusan, juga seorang mahluk serta mencintai dan merasa takut pada Allah sebagaimana anda dan saya juga demikian.

2. Pencerahan adalah tanda kedua dari penandaan spiritual yang tak terhapuskan. Pengetahuan yang sebenarnya tentang Allah dan KehendakNya, sebanyak yang dapat dimiliki oleh seorang manusia, hanya dapat dilihat dan secara eksklusif ada pada diri orang-orang Muslim. Pengetahuan ini bersinar dengan cemerlang pada roman muka dan tingkah laku setiap Muslim. Mungkin dia tidak mengerti esensi Tuhan, seperti halnya seorang anak kecil tidak dapat mengerti sifat dan mutu kedua orang tuanya; namun seorang bayi bisa mengenali ibunya di antara wanita-wanita lainnya. Analogi itu jauh di bawah kenyataan, dan perbandingan itu bersifat inferior tanpa batas antara seorang Muslim baik yang telah tercerahkan dalam hubungannya kepada Penciptanya dan seorang bayi yang menangis di belakang ibunya sendiri. Seorang Muslim, betapapun dia bodoh, miskin, dan berdosa, melihat tanda-tanda Allah pada setiap gejala alam. Apapun yang menimpanya, dalam kebahagiaan atau penderitaan, Allah tetap ada dalam hatinya. Seruan sholat seorang Muslim adalah bukti hidup dari pencerahannya. "Tidak ada apapun yang patut disembah kecuali Allah," merupakan protes abadi terhadap semua mereka yang menyekutukan Tuhan dengan obyek apapun yang tidak patut disembah. Setiap Muslim mengakui: "Saya bersaksi bahwa Allah ialah Sesuatu yang patut disembah." Dalam hubungan ini saya bisa memberi jejak pada kenyataan bahwa jiwa manusia itu sangat berbeda dengan ruh manusia. Ruh yang suci itu yang mencerahkan jiwa dan menanamkan ke dalamnya pengetahuan tentang kebenaran. Sekali lagi adalah ruh jahat yang mendorong jiwa kepada kesalahan, penyembahan berhala, dan penghujatan terhadap Tuhan. 

3. "Sibghatullah" adalah penandaan suci dengan api yang mempersenjatai dan melengkapi seorang Muslim untuk menjadi benteng terhadap kesalahan dan ketakhayulan, terutama terhadap kemusyrikan dalam segala bentuknya. Tanda dari api itulah yang melebur jiwa dan ruh seorang Muslim, begitulah dipisahkan substansi yang emas dari segala kekotoran dan korupsi. Kekuatan Tuhan inilah yang memperkuat dan mengkonsolidasikan hubungan antara Dia dengan hambaNya yang beriman, dan mempersenjatainya untuk berjuang demi agama Tuhan. Gairah dan semangat seorang Muslim terhadap Allah dan agamaNya adalah unik dan suci. Orang-orang biadab juga berjuang untuk jimat mereka, si musyrik untuk berhalanya, dan orang-orang Kristen untuk salib mereka; akan tetapi betapa kontrasnya antara obyek-obyek yang tidak patut disembah itu dengan Tuhan agama Islam!

Kesimpulannya, saya harus meminta perhatian saudara-saudara saya orang-orang Muslim untuk memikirkan siapa diri mereka itu; untuk mengingat pahala Allah; dan hidup sesuai dengan semua itu.

Catatan kaki
(1) Ruh Suci dalam semua literatur Kristen dalam berbagai bahasa yang berbeda tidak memiliki gender yang tertentu. He, she, it semuanya biasa dipergunakan sebagai nama personal dari Ruh Suci.
bersambung ...

Diambil dari :
"WHAT EVERY CHRISTIAN AND JEW SHOULD KNOW"
Oleh :
PROFESOR DAVID BENJAMIN KELDANI, B.D.
Alih Bahasa Oleh :
H.W. Pienandoro SH

Sumber :
website milik HIRA AL KAHFI dengan alamat :
http://www.mosque.com/goodial.html

Versi CHM diambil dari situs :
http://www.pakdenono.com



Posting by Mohammad Nurdin

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar